Aku masih berusia 17 tahun dan mereka dengan santainya mengatakan niatnya untuk menjodohkanku dengan putra sahabat ibuku. Apakah dunia hanya sebesar daun kelor? Bagaimana tidak. Calon suamiku adalah wali kelasku sendiri! Dimanakah aku harus menyembunyikan wajahku dari anak-anak satu sekolah? Bagaimana mungkin seorang Carlina Deani menikah dengan Krisan Yosia yang adalah wali kelasnya?
Tak pernah terpikir bahwa aku akan kehilangan masa remajaku. Semua orang seusiaku umumnya baru mengenal cinta -meskipun itu cinta monyet, berpacaran, ya menjalani masa penjajakan. Tapi aku sekarang sudah harus menikah? Apakah aku bisa menjadi istri yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eunike lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Semua telah berakhir. Begitu pula penantian. Pria itu menarik kopernya dengan hati yang berbunga. Ia segera memesan taksi online, mengetikkan destinasi dan tempat penjemputannya lalu menekan order. Tak lama mobil itu datang. Ia membuka pintu lalu duduk di kursi samping kemudi. Mobil itu segera melaju membelah kepadatan kota Surakarta yang sudah sangat berbeda dengan empat tahun lalu.
Winda. Satu nama yang terus terngiang di benaknya sejak empat tahun lalu. Ia selalu tak bisa lepas dari nama itu. Satu hal yang membuatnya sangatlah khawatir pada kekasihnya yaitu begitu ia sampai di sana nomor Winda tak dapat dihubuhgi lagi. Kesalahan sinyal kah? Atau ponselnya yang kurang canggih di sana?
Ah lupakan. Yang terpenting sekarang ia sudah sampai di Indonesia dan di kota Surakarta. Ia segera turun saat ia telah sampai di tujuan yang dimintanya. Ia mengucapkan terimakasih pada si sopir. Ia membayar tentunya, tapi sudah cashless. Maklum jaman sudah maju!
Ia berjalan menuju sebuah rumah sederhana namun masih layak huni. Ia memencet sebuah tombol bel di sana. Dan tak lama seorang wanita paruh baya keluar dari huniannya.
“Alfian?”
Al tersenyum. Ia sangat senang bisa bertemu wanita di hadapannya yang sebentar lagi akan menyandang gelar ibu mertua. “Winda ada, Tante?”
Hening.
Seketika raut wajahnya berubah. Tiba-tiba perasaannya berubah tidak nyaman ketika melihat wajah Carlina, ibunda Winda. “Ah, ya masuk dulu yuk, Al!”
Ada apa ini? Dimana Winda?
“Tante ke atas sebentar ya!”
Al merasa hatinya mulai mencium hal tidak baik. Semua foto Winda di dinding teras rumahnya menghilang entah kemana. Hanya tinggal sebuah foto keluarga dan selebihnya adalah foto Natan dan Carlina.
Tak lama wanita paruh baya itu turun dari lantai atas. Ia membawa sebuah kotak biru. Carlina duduk di samping Al kemudian memberikan kotak itu.
“Kotak apa ini, Tan?”
Dibukanya kotak itu. Ia terkejut. Di dalam kotak itu ada setangkai mawar putih dengan pita merah dan sebuah amplop bertuliskan beasiswa Xiamen University China. Bukan kedua benda itu yang menyebabkan air matanya mengalir. Namun noda-noda merah di kedua benda itulah yang membuat hatinya hancur. Al segera berteriak, “Dimana Winda, Tante?!!”
Carlina mengelus pundak Al. “Jangan diam saja, Tante! Saya butuh penjelasan Tante Lina soal ini semua!”
“Winda sudah meninggal, Nak.” katanya pelan. “Sebulan setelah kepergianmu ke Papua.”
Deg!
***
Dengan frustasi Al meminta ijin untuk diam di kamar yang dulu dipakai Winda. Carlina tentu mengijinkan. Al kan kekasihnya. Segera saja tangisan Al pecah di sana. Ia tak menyangka dirinya begitu rapuh ketika kehilangan gadis yang sangat dicintainya. “Mengapa kamu pergi? Mengapa kamu nggak mengijinkanku menepati janjiku, Winda? Bahkan kamu tidak mengijinkanku memandangmu di saat terakhirmu?”
Al duduk di meja belajar Winda yang berada di dekat jendela kamarnya. Ia bisa melihat keluar dari sana. Ia menangis. Terus menangis. “Aku bodoh tidak menemanimu di pesta kelulusanmu.” katanya sambil memandangi piala dan medali yang tertata rapi dalam lemari kaca. “Bahkan aku belum sempat memuji atas kesuksesanmu meraih juara 1 nilai ujian.”
Kak?
Suara itu sungguh mengejutkannya. Al melihat ke sekeliling. Tidak ada siapapun. Tapi suaranya sangat mirip Winda. Aku di sini Kak. Al melihat Winda di sampingnya. “Dek?”
Al memiliki bakat indera keenam. Ia bisa melihat berbagai macam makhluk astral. Dari yang berwujud anak kecil, wanita, pria, sampai yang wujudnya kacau. Maka dari itulah ia bisa melihat keberadaan arwah kekasihnya itu.
Maaf.
“Kok maaf sih?”
Kan aku nggak bisa buat kamu mewujudkan janjimu.
“Justru aku yang maaf, Winda. Aku nggak bisa menemanimu di saat terakhirmu.” gadis itu yang telah berwujud makhluk astral tersenyum padanya.
Aku memang kecewa. Tapi semua sudah menjadi takdir. Tidak bisa diubah.
“Tapi –kenapa kamu pergi? Bukankah kamu sebelumnya baik-baik saja, dek?”
Sebuah kecelakaan. Kamu tidak tahu itu. Kamu sudah pergi duluan, Kak, sama supirmu ke airport. Sempat sih aku berusaha bertahan. Satu bulan lamanya. Maksudku menunggu kamu datang dan menemaniku. Aku nggak ingin kamu menyesal kalau kamu kembali aku udah nggak ada. Tapi takdir berkata lain.
Al menarik rambutnya, mengacak-acaknya dan memukul-mukul kepalanya. “Aku bodoh, Winda! Sangat bodoh!”
Jangan bilang begitu.
Al menatapnya. Matanya kembali berair. “Aku ingin kamu kembali, dek.”
Tidak bisa, Kak.
“Baiklah. Kalau nggak bisa aku akan seperti ini terus. Tidak akan membuka hati untuk siapapun.”
Apa?
“Iya. Aku nggak akan menikah. Karena aku hanya mencintaimu, Winda.”
Jangan, Kak. Semua orang itu sudah diciptakan sepasang. Pasti ada jodohnya. Kalau sekarang aku sudah nggak di sisimu itu artinya kita nggak berjodoh.
Air mata masih saja mengalir. Hingga Winda tersenyum kemudian hilang dari pandangannya. Mungkin karena ada yang mengetuk pintu.
“Kak?” panggil seorang. Ah, dia Laura adiknya dan Natan, kakaknya Winda.
“Eh, kalian!” katanya sambil mengusap air matanya.
“Ikhlaskan, Kak.” Al hanya diam. Matanya masih memandang fotonya dan Winda yang tertata rapi di dinding kamar itu.
Mengapa kamu pergi, Winda? Padahal banyak hal yang ingin aku ceritakan.
***
haii mampir ke karyaku yu.. ENDINGKU BERSAMAMU
kisah romansa dua insan manusia
jangan lupa like, vote, rate dan komennya..
sumpah bingung
thor klw penjelasaan ceritanya beraturan bagus loh critanya...ini kesannya dipotong2 critanya pingin cpt2 selesai kah thor?
sama judulnya jg jd g pas...
ujung2nya ke sana jg
g ada ketegangan nih...tp klw itu tulang sumsum krisan, jd dia g boleh capek2 loh..