Sedang direvisi.
Perjalanan hidup tak selamanya lurus mulus ke depan. Juga tidak melulu berbelok dan terjal. Adakalanya kita akan merasakan manisnya hidup saat berada di puncak. Namun tak urung juga kita merasakan pahitnya hidup saat terlempar ke dasar jurang terdalam.
Begitu pun kehidupan seorang pemuda bernama Andika Razka Pratama, yang sebenarnya adalah seorang Tuan Muda pewaris tahta Perusahaan terbesar Pratama Grup. Harus merasakan pahitnya dibuang dari kehidupan sesungguhnya.
Berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan juga membiayai pendidikannya sendiri. Menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan Nenek yang merawatnya di pengasingan. Hingga takdir merubahnya saat dipertemukan dengan seorang kepercayaan keluarganya.
Bagaimana kehidupan selanjutnya?
Temukan intrik menarik dari kisah hidup dan asmaranya. Dibubuhi konflik yang menambah rasa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Razka
Tak perlu HEBAT untuk MEMULAI sesuatu...
Tapi untuk menjadi HEBAT kita harus MEMULAI...
Andika Razka Pratama
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ini adalah hari di mana Razka akan datang di rapat redaksi yang diadakan di kantor pusat Pratama Grup. Rapat kali ini dihadiri oleh setiap pemimpin cabang dari Pratama Grup dan juga para investor. Rapat ini dipimpin langsung oleh Ferdi sebagai Cheo di kantor pusat Pratama Grup.
Saat ini mereka sudah berkumpul di ruangan meeting. Duduk berjejer di sana. Ferdi sudah duduk dengan bangga di kursi kebesarannya, ia sudah memulai meeting itu. Menjelaskan duduk perkara dari masalah yang sedang mereka hadapi. Semua hening mendengarkan. Tidak ada yang bicara sampai saat pintu ruangan itu terbuka, semua menatap ke arah pintu tersebut.
Dari pintu yang terbuka seorang pria muda berjalan dengan penuh wibawa dan kharisma diikuti dua orang laki-laki di belakangnya. Mereka berjalan beriringan. Dan saat itu semua orang terkejut melihat kedatangannya tak terkecuali Ferdi. Ferdi sampai membuka mulutnya menganga melihat siapa yang datang.
"Tu-Tuan Dika? Apa itu Tuan Dika?" Bisik seorang investor di sana.
"Kurasa bukan. Tuan Dika tidak akan terlihat semuda itu?" Bisik yang lain menimpali.
"Mungkinkah anaknya yang dikabarkan terbunuh dalam kebakaran?" Seseorang berbisik lagi.
"Mungkin saja melihat dari penampilannya yang masih begitu muda dan gagah."
Beberapa orang membicarakan menebak siapa yang datang bersama seorang yang mereka kenal.
"Bukankah itu Max?"
Seseorang yang melihat laki-laki paruh baya yang bersama pemuda itu.
"Benar. Itu Max! Selama ini dia menghilang dan tiba-tiba muncul dengan seorang pemuda." Kata yang lain menimpali.
Tiga orang berjalan masuk ke ruang meeting tersebut dan berdiri pada bangku kosong di sana. Paman Max menarik kursi di sana untuk diduduki pemuda itu. Sementara dirinya dan satu orang lainnya berdiri di belakang pemuda tersebut.
"Mohon maaf, Karena kami datang terlambat." Ucap Paman Max kepada semua orang. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya memberi hormat. Ferdi yang sudah bisa menguasai dirinya kembali menjadi gelisah, keringat bercucuran dari wajahnya tangannya bermain di atas meja ia merasa gugup sekali.
"Silahkan lanjutkan Tuan Ferdi."
Ucap Paman Max yang meminta Ferdi melanjutkan pembahasannya namun ia hanya berdiam diri di tempatnya. Terlihat Ferdi menghela nafas mencoba menguasai dirinya kembali. Kehadiran orang-orang tersebut mengusik ketenangan hidupnya selama ini.
"Bukankah kau sudah lama tidak mengikuti meeting Max?" Tanya Ferdi menatap Paman Max. Paman Max tersenyum mendengar ucapan Ferdi.
"Untuk kali ini dan kedepannya saya akan selalu datang untuk menemani Tuan Muda." Ucap Paman Max yang sontak saja mengejutkan semua orang di sana.
"Apa maksudmu?" Ferdi berusaha menahan amarahnya ia mengepalkan tangannya yang bertaut di atas meja.
"Saya ingin memperkenalkan kepada semua pimpinan cabang perusahaan dan juga para investor yang bekerja sama dengan perusahaan Pratama Grup. Seorang pewaris sah dari Pratama Grup putra dari Tuan Dika.
Andika Razka Pratama.
Ia adalah pemimpin sah perusahaan Pratama Grup saat ini telah kembali dari persembunyiannya. Karna seseorang ingin melenyapkannya. Untuk itu, Tuan Muda dan Neneknya harus bersembunyi dari kejaran mereka yang mengincar nyawanya." Ucapan Paman Max semakin mengejutkan semua orang yang saat ini hadir dalam meeting tersebut.
"Tuan Ferdi bukankah Anda hanya sementara menjabat sebagai CEO disini sampai Tuan Muda kembali dan siap memimpin?" Ucapan Paman Max seketika membungkam mulut Ferdi. Tak ada kata-kata yang dapat ia keluarkan hingga beberapa saat. Ia menatap Paman Max dengan penuh kebencian.
"Apa kau yakin, dia adalah Razka keponakanku? Karna yang aku dengar mereka telah terbunuh dalam sebuah kebakaran di perkampungan kumuh?" Tanya nya meyakinkan. Sebenarnya siapa yang ingin diyakinkannya? Dirinya atau kah orang-orang di sana? Entahlah... Yang pasti saat ini dia tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya.
"Anda benar. Beberapa tahun lalu terjadi kebakaran hebat yang melahap hampir separuh perkampungan itu, namun percaya atau tidak aku telah membawa pergi Nyonya Sepuh dan Tuan Muda dari sana beberapa jam sebelum kebakaran terjadi?" Ucap Paman Max tersenyum tipis. Ferdi terkejut.
'*S*ialan... Bagaimana mereka bisa selamat? Bodoh. Bodoh sekali mereka. Lalu mayat siapa yang mereka katakan hangus terbakar di sana?' Ucapnya dalam hati, ia merapatkan giginya dan semakin mengeratkan tautan tangannya di atas meja.
"Apa kabar Paman? Perlu Paman ketahui aku tidak akan mati semudah itu Paman."
Ucapan Razka sontak membuat semua orang menoleh padanya lalu menoleh pada Ferdi sambil berbisik-bisik.
"Hahaha..." Ferdi tertawa canggung sebelum berbicara.
"Apa yang kau katakan Nak? Paman baik-baik saja selama ini."
'Aku bahagia sebelum kedatanganmu anak sialan..' Ia berucap dalam hati dengan geram.
"Dan siapa yang ingin membunuhmu? Paman bersyukur kau baik-baik saja." Ferdi berpura-pura tersenyum, menahan kegugupannya.
"Bagaimana kau selama ini hidup? Dan bagaimana kabar Nenekmu? Maafkan Paman yang tidak dapat menemukanmu. Tapi sungguh Paman selama ini mencarimu." Ucapnya masih menahan rasa gugupnya.
'Mencari untuk melenyapkanmu, sayangnya orang-orang bodoh itu tidak tepat sasaran. Awas saja mereka, akan aku beri pelajaran.' Ia bergumam dalam hati.
'*M*encari untuk membunuhku Paman? pandai sekali Paman berpura pura.' Razka hanya bergumam dalam hati ia menatap intens wajah Ferdi mengingat kembali bagaimana perlakuannya saat dulu sampai ia diusir dari rumahnya sendiri. Cerita Nenek kembali terngiang.
"Paman tidak perlu tau bagaimana selama ini aku hidup. Dan asal Paman tau saja Nenekku baik-baik saja." Razka tersenyum miring menatap tajam Pamannya itu.
"Baiklah. Silahkan lanjutkan meetingnya aku ingin mendengarkan dan akan mempelajarinya saat sudah selesai nanti." Ucapan Razka mengembalikan kesadaran semua orang bahwa seharusnya mereka kini sedang membahas permasalahan-permasalahan yang terjadi di berbagai cabang perusahaan yang mereka kelola.
Meeting kembali dimulai dengan Ferdi yang tetap memimpin. Sedangkan Razka hanya memperhatikan saja dengan seksama.
Ia harus benar-benar memperlajari semuanya, dan benar-benar harus mempersiapkan dirinya untuk ke depannya. Pada kenyataannya Razka sangat gugup ketika memasuki ruangan itu, namun ia sanggup menekan rasa gugupnya dan berhasil membuat Ferdi gelisah dengan kehadirannya.
Bagaimana selanjutnya dan apa yang akan terjadi setelah kejadian ini.?
Apapun yang akan terjadi Razka harus siap menghadapinya. Karena kini, ia secara terang-terangan menampakkan dirinya di perusahaan tersebut.
Dia berencana mengambil Emil dan membawanya pergi untuk tinggal bersamanya. Karena Razka sangat tau bagaimana kehidupan Emil dalam keluarga itu, meskipun mereka adalah Paman dan Bibi Emil sendiri.
Setelah keberadaannya diketahui oleh Ferdi ia sangat khawatir mereka akan semakin menyiksa Emil. Dan itu tidak Razka inginkan, dia harus mengambil Emil dari tangan-tangan kejam yang hanya mementingkan keuntungannya sendiri.
baca dari awal begitu bnyk kematian
tp aku masih gak terima dgn rendy pernah memberikan harapan palsu sama emil😭😭😭
itu namaku🤭🤭
itu namaku🤭🤭
walaupun cinta tdk bisa di paksakan,tp aku bisa merasakan apa yg di rasakan mirna
bukan kah razka sering mengantarkan emil pulang🤔