Ketika Diana, gadis yatim piatu yang terjebak dalam sebuah novel yang baru saja ia baca dan membuat ia masuk ke dalam raga seorang wanita yang sudah bersuami. Namun, pernikahan mereka dalam ending cerita akan berakhir perceraian.
Lalu, apakah alur akan berubah ketika Diana menempati raga wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon windanor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A & D: Putus
Tidak ada seseorang yang baik-baik saja saat harus mengakhiri hubungan asmaranya sedangkan hatinya sangat mencintai orang tersebut.
Diana kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Alvaro yang masih setia berdiri di sana. Mata pria itu menatap kepergian Diana sampai menghilang dari pandangan matanya. Wajah pria itu tampak keruh.
Diana masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintunya Ia menyandarkan punggungnya di sana dengan perasaan pedih kala mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan hatinya. Ia tidak tahu kenapa hatinya seolah tak terima ia mengatakan itu. Diana mencengkram bagian dadanya yang terasa semakin sesak.
Mentari pagi kembali muncul dengan pesonanya yang begitu indah. Para pelayan dalam mansion sudah sibuk dengan tugas-tugas mereka di pagi hari.
"Selamat pagi Nona Ayara..." sapa Selly ketika memasuki kamar nona mudanya. Pelayan pribadi itu mengambil pakaian kotor yang ada di dalam keranjang dan nanti akan di serahkan pada pelayan lain yang bertugas mencuci pakaian.
Diana menggeliat dari balik selimut ketika cahaya sinar matahari membias ke wajahnya. Perlahan pemilik mata coklat gelap itu membuka matanya. Ia menatap Selly yang sibuk menyingkap gorden di kamarnya.
"Pukul berapa?" Diana bertanya sambil menguap karna rasa kantuk yang masih tersisa.
Selly yang mendengar pertanyaan nona mudanya berbalik badan. Ia melirik jam dinding." Sudah pukul 8 pagi, Nona."
Tubuh Diana tersentak mendengarnya. Wanita itu buru-buru bangkit dari tempat tidurnya. Ia hampir lupa hari ini ada janji dengan seseorang. Selly yang melihat nona mudanya begitu buru-buru ke kamar mandi mengkerutkan keningnya.
"Selly siapkan pakaian pergiku!" teriak Diana dari dalam kamar mandi.
"Siap Nona," balas Selly sedikit mengeraskan suaranya.
•
•
Diana menuruni tangga dengan pakaian yang tampak rapi dan membiarkan rambut panjangnya yang sedikit basah terurai. Langkah Diana terhenti dan kini melangkah pelan kala mendapati Alvaro tengah duduk di ruang tamu. Pria itu tampak serius mengobrol dengan Hendrik yang menatap sinis ke arahnya ketika pandangan mereka berdua tak sengaja bertubrukan. Entah ada masalah orang tersebut pada Ayara.
Diana berusaha mengabaikan tatapan dua orang pria tersebut terutama pada Alvaro yang menatap intens padanya. Kejadian tadi malam tentang pernyataan Alvaro yang sudah memutuskan hubungan dengan Arina, membuat ia menjadi canggung.
Diana menundukkan kepalanya dan melangkah cepat melewati keduanya.
"Entah sampai mana dia bertahan dengan drama bodohnya..." sindir Hendrik. Alvaro menatap Diana yang tampak tak memperdulikan ucapan Hendrik dan semakin mempercepat langkahnya.
"Jaga ucapanmu," tegur Alvaro dengan kilatan tajamnya. Hendrik langsung mengantupkan bibirnya.
Diana memejamkan matanya sejenak, menetralkan emosi yang menggebu-gebu dalam benaknya atas ucapan Hendrik. Rasanya ia ingin mencabik-cabik wajah pria itu.
"Dasar pria gila!" umpat Diana.
Setelah mengatakan itu Diana segera memasuki mobil sedan hitam yang sudah menunggu kedatangannya. Sopir mulai menjalankan mobilnya menuju ke tempat yang nona mudanya perintahkan. Sepanjang perjalanan Diana menatap kosong keluar jendela mobil dan sesekali memeriksa notifikasi yang masuk di ponselnya.
Sekitar 20 menitan Diana sudah sampai di tempat tujuan walaupun ada sedikit kemacetan di jalan. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah cafe yang lumayan ramai oleh pengunjung di sana.
"Evan..."
Panggilan Diana membuat pria yang duduk termenung di kursi cafe menoleh ke arah Diana. Evan tersenyum lebar mendapati sosok Ayara berdiri di belakangnya.
"Silahkan duduk, Ayara," ucap Evan yang buru-buru bangkit dari tempat duduknya lalu menarik kursi untuk Diana. Pria itu bersikap manis walau hanya perhatian kecil.
"Terima kasih, Evan..."
Senyuman Evan semakin lebar mendengarnya. Jarang-jarang Ayara berterima kasih padanya.
"Sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu padamu," ucap Diana memulai pembahasannya. Sebenarnya ia ragu mengatakan ini, tapi bila di diamkan masalah ini akan semakin berlarut-larut.
Evan terlihat tak sabaran menunggu ucapan yang akan Diana lontarkan.
"Ayo kita akhiri hubungan ini, Evan. Karna kita tidak sepantasnya menjalin hubungan terlarang ini."
Evan yang mendengar itu sontak bangkit dari tempat duduknya. Kekecewaan membalut wajah pria itu. Ia mengepalkan kedua tangannya.
"Kenapa Ayara? Aku sudah berusaha menjadi kekasih yang sempurna untukmu. Dan aku setia menunggumu saat kamu menghilang tanpa kabar dalam waktu yang lama..." lirih Evan menahan mati-matian rasa sakit menghantam dadanya.
Diana mendongak menatap wajah kesedihan dan kekecewaan terpatri di wajah pria itu. Sebenarnya ia tak tega mengatakan ini, tapi bila hubungan ini tidak diakhiri, itu akan menciptakan harapan-harapan kosong bagi Evan yang berujung patah hati. Ia hanya tidak ingin menyakiti perasaan Evan semakin dalam. Walaupun ia tidak tahu sedekat apa hubungan Ayara dengan Evan sebelumnya. Tapi saat ini ia yang mengendalikan tubuh ini dan ia tidak ingin seseorang terluka karna berharap pada Ayara yang nyatanya sudah tidak ada lagi di dunia ini kecuali raganya.
Diana bangkit dari tempat duduknya lalu meraih tangan Evan. Ia menatap mata coklat terang itu."Aku sudah menikah dengan Alvaro."
Rasa kecewa Evan semakin berlipat-lipat mendengar kenyataan tersebut. Ia kira ucapan pria asing waktu itu hanya omong kosong saja.
"Semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik daripada aku, Evan. Maafkan aku." Ucapan Diana tersirat rasa bersalah di dalamnya.
Tubuh Diana tersentak kala Evan memeluknya begitu erat. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Diana. Lelehan cairan hangat Diana rasakan di bagian lehernya. Kedua tangan Diana mengusap-ngusap punggung Evan.
Kalau boleh memilih ia akan memilih bersama Evan. Tapi nyatanya ia tidak bisa karna ancaman Alvaro yang membuat ia tidak bisa berbuat banyak. Bahkan di dunia novel saja orang yang berkuasa seperti Alvaro bisa melakukan apapun yang pria itu inginkan.
Evan menguraikan pelukannya. Pria itu mengusap kasar cairan bening yang hampir tumpah dari pelupuk matanya. Rasanya sangat sakit sekali dan air mata sebagai bukti betapa pedihnya yang ia rasakan.
•
•
Diana pulang ke mansion dengan wajah yang di tekuk. Dengan malas-malasan ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion. Berbeda dengan pria yang tampak santai duduk di ruang tamu. Wajah Alvaro tampak berbinar dengan seraup kebahagiaan di wajahnya.
"Bagaimana dengan pertemuan?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Alvaro membuat Diana menoleh. kening wanita itu mengkerut.
"Maksud kamu apa?" Diana balik bertanya dan melangkah mendekati Alvaro.
Alvaro menghela napas pelan seraya meletakkan benda pipih yang sedari tadi ia utak-atik ke meja."Evan."
"Kamu mengikutiku!" Tuding Diana menunjuk Alvaro. Raut kekesalan terlihat di wajah wanita itu.
"Memang kenapa? Apa saya sebagai suamimu tidak boleh mengetahui apa yang kamu lakukan di luaran sana?"
Diana yang mendengar itu semakin menggeram kesal. Melihat wajahnya saja ia sudah muak apalagi mendengar ucapan yang terlontar dari mulutnya.
"Kamu bukan suamiku dan aku bukan istrimu!" pekik Diana.
Alvaro bangkit dari tempat duduknya lalu memangkas jarak diantara mereka berdua. Diana yang hendak mundur tak bisa ketika dengan cepat Alvaro menarik pinggangnya.
"Malam ini siap-siap lah..."
Tubuh Diana langsung menegang. Ia menatap horor pada Alvaro yang tersenyum menyeringai.
______
Kalau ada kekeliruan dan kekurangan dari cerita ini bisa komen ya Readers!
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. See you di part selanjutnya:)
jadi mau berak aku bacanya.
cerita taik ini
coba pemran tegas in mlm buat pemeran utama trsiksa