Sekuel Ketos Itu Suamiku.
🍁🍁
"Nikah yuk, Bi!" ajak seorang cowok pada seorang gadis yang berjalan di dekatnya.
"Nggak mau!" balas gadis berkerudung lengkap dengan cadarnya tersebut. Menolak mentah-mentah ajakan menikah dari seorang cowok yang dia ketahui bernama Alther Davindra Bagaskara.
🍁
Siapa yang tidak mengenal cowok bernama Alther Davindra Bagaskara? Murid pindahan yang langsung menjadi most wanted di SMA Mahardika.
Wajahnya yang tampan paripurna, postur tubuhnya sesuai idaman para kaum hawa, serta praupannya yang dingin itu sungguh menjadikannya seorang pangeran di sekolah barunya. Bahkan statusnya sebagai ketua geng motor semakin menjadikan Al sebagai cowok idaman mereka.
Namun, siapa sangka jika cowok keren dan brandalan seperti Al malah jatuh hati kepada perempuan bercadar dan sangat menutup penampilan serta menjaga batasannya? Tidak akan ada yang percaya, bukan?
Siapakah perempuan yang berhasil menarik hati Al?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 26. Miliki Dia
Bab. 26
"Terus menurut Papi yang ini gimana? Harus banget ya Al akuisisi mereka!" tanya Al pada pria yang tengah duduk di kursi kerjanya dengan raut tampak begitu serius.
Pria yang masih terlihat sangat muda dan wajahnya sering berseliweran di majalah bisnis dan juga di banyak media itu kini menatap putra semata wayangnya.
"Kalau menurutmu?" pria itu bertanya balik kepada Al.
Helaan napas berat terdengar dari arah Al. Pria muda itu sepertinya juga sulit menentukan pilihannya.
"Masalahnya itu Al nggak tau pasti keadaan di sana, Pi. Cuma dengar dari asisten dan orang kepercayaan Papi aja," ujar Al.
"Lalu?" desak papi Ghani menatap putranya dengan sangat serius.
Ingin tahu sejauh mana Al dalam menyikapi permasalahan seperti ini. Hitung-hitung menguji putranya tersebut. Agar ia nanti bisa menilai kemampuan Al dan harus mengambil langkah apa untuk mempercepat putranya dalam menduduki posisinya di perusahaan.
"Kalau Al cek ke perusahaannya dulu gimana, Pi? Baru nanti Al bisa mutusin harus gimana. Bukan karena Al nggak percaya begitu aja pada Pak Indra. Tapi sekalian buat Al melakukan kunjungan kerja. Tapi nggak perlu di umumkan. Kirim saja Al sebagai pegawai magang di sana. Kalau memang perusahaan itu benar-benar bermasalah, Al bisa cari tau akarnya. Tapi kalau ternyata orang ya Pali ikut terlibat, Papi nggak boleh ikut campur kalau Al ambil keputusan buat mereka. Gimana?" usul Al mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat ini.
Bukan karena tidak percaya dengan orang yang sudah bekerja dengan keluarga mereka selama puluhan tahun. Namun tidak ada salahnya Al menyelidikinya secara langsung. Hitung-hitung juga buat mempelajari struktur perusahaan yang sedang mereka bahas saat ini.
Papi Ghani tidak langsung menjawab. Pria itu terdiam, seolah memikirkan usulan yang diberikan oleh Al barusan. Memang tidak ada salahnya Al terjun langsung ke lapangan untuk mencari sumber permasalahannya. Hanya saja usia Al masih sangat muda. Putranya itu juga masih sekolah.
"Gimana dengan sekolahmu?"
"Al bisa minta ijin. Kan Kakek yang punya sekolahan itu. Tinggal suruh Kakek aja yang urus semuanya. Sama bilang ke Kakek suruh jagain Bina, Pi. Jangan sampai gadis itu tersentuh laki-laki lain selama Al nggak ada," jawab Al membuat papi Ghani memicingkan matanya.
"Bina?" ulang papi Ghani yang memang tidak tahu menahu mengenai gadis yang baru saja Al sebutkan.
Al menggaruk kepalanya. Ia memang dekat dengan mami nya, tetapi untuk permasalahan asmara dan bertukar pikiran, Al lebih suka bercerita kepada papinya. Karena papinya selalu menempatkan diri sebagai seorang rekan.
"Kamu punya pacar?" tanya papi Ghani lagi karena tidak mendapat jawaban dari Al.
Al menggelengkan kepala. "Cuma ada cewek yang Al pingin, Pi," aku Al jujur.
Papi Ghani menutup laptop yang ada di depannya.
"Kenapa nggak kamu miliki sekalian, Al? Jangan membuang waktu dengan sesuatu yang akan membuatmu menyesal nantinya," ucap papi Ghani.
Ia memang tidak melarang Al untuk pacaran. Juga tidak menaruh target wanita yang akan menjadi pasangan Al itu harus seperti apa. Tidak. Ia dan sang istri tidak pernah memberi batasan. Hanya saja jika itu akan merugikan Al sendiri, kalau bisa ya dihindari.
"Maksud Papi?" tanya Al mulai sedikit santai. Tidak lagi tegang seperti ketika membahas permasalahan perusahaan yang akan mereka akuisisi.
"Nikahin dia. Biar kamu tenang dalam melakukan sesuatu. Toh, sekolahmu juga tinggal tiga bulan, kan?"
Al terdiam memikirkan ucapan papinya.
Yuta aja yang dinikahi, Mas Aaaallll😍
pengen tau kelanjutannya