Namaku Saliya, aku disukai seorang pria bernama Rizal, yang menurutku terlalu sempurna, aku sempat menolak saat ia mengajakku menjalin hubungan serius sampai ke jenjang pernikahan. Aku justru memilih mantan pacarku, tapi Rizal tidak menyerah hingga akhirnya kami menikah.
namun, kebahagiaan rumah tanggaku ternyata menyedihkan.
Ayo baca kisah ku di sini, ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabar Mengurus Istri
Sabar Mengurus Istri
“Eh! Jadi, mau dikasih nama siapa anak kita?” tanyanya, dengan mata yang berbinar menatapku.
Tuh, kan. Baru saja aku memikirkan kesetiaan Rizal, dia sudah membuatku semakin yakin kalau dia tipe pria hanya dengan satu cinta di hatinya. Dalam benakku bersyukur sekali, buktinya dia buru-buru mengalihkan pembicaraan tentang wanita lain kepada pembicaraan tentang anak kami.
“Terserah kamu saja, Bang!”
“Aku punya niat kasih anak kita nama Zidan Arroziq!” katanya, aku mengangguk setuju dengan nama yang diberikan suamiku. Aku tahu maksud nama itu baik karena sesuai dengan harapan kami, yang artinya kesungguhan dalam rezeki.
“Iya, itu nama yang bagus, Alhamdulillah!”
“Jadi, kamu setuju, kan?”
Sekali lagi aku mengangguk, tidak lagi ingin membahas masalah wanita lain walau sedikit penasaran dengan sikap Nariya yang aneh itu, masih menghantuiku.
“Abang pinter cari namanya!” kataku lagi dan kini Rizal yang tersenyum puas.
Keadaan anak kami yang membutuhkan perawatan intensif di inkubator, masih menjadi prioritas utama. Apalagi, kesehatanku sendiri, aku harus memulihkan diri sebelum bisa mengurus bayi. Melahirkan dan mengurus anak diluar perkiraan, mau tidak mau aku harus siap. Ini pengalaman yang berbeda karena dari sekian wanita, rata-rata melahirkan secara normal.
Manusia selalu mempunyai kisahnya sendiri bukan?
Kalau soal wanita lain, mungkin memang perasaanku yang terlalu polos atau cintaku terlalu besar pada Rizal. Aku mampu mengesampingkan, masalah yang bagi sebagian wanita itu sungguh menyakitkan. Melihat suaminya sering berdekatan dengan wanita yang hanya berstatus sebagai teman.
Tiba-tiba aku teringat ucapan Tina beberapa waktu lalu, saat aku menanyakan bagaimana Nariya dan Rizal kalau bekerja. Kata Tina mereka jarang terlihat bersama atau terlibat dalam pekerjaan, dia bilang juga kalau aku wanita beruntung memiliki suami seperti dia.
“Ada yang bilang,” kata Tina waktu itu, “kalau lelaki itu tidak bisa dipaksa untuk setia, mereka mau setia atau tidak adalah pilihan mereka sendiri.”
“Jadi, karena itu kamu belum menikah karena takut dapet suami yang nggak setia?” tanyaku sambil tertawa.
“Ya, bisa dibilang begitu,” kata Tina lagi, “Sebab banyak laki-laki yang punya istri cantik, bisa punya anak, pintar, seksi penurut, tapi tetap menikah lagi!”
“Terus?”
“Banyak juga yang istrinya, mandiri, kaya, sukses dan cerdas, tapi dia tetap diselingkuhi!”
“Wah, jadi aku bingung harus gimana?”
“Jadilah dirimu sendiri, Saliya! Sebab laki-laki kalau sudah memilih untuk setia, maka digoda oleh perempuan yang kecantikannya bagai putri raja sekalipun, dia akan tetap mencari istrinya, dia tidak akan mencari yang lain lagi tapi mempertahankan apa yang sudah dia miliki!”
Mengingat hal itu, aku tersenyum dan berusaha untuk miring, lalu mencium pipi pria yang duduk di sisi sambil mengusap kepalaku.
“Aku jangan digoda, ya! Bisa-bisa aku nggak tahan harus nunggu 40 hari, biar bisa bikin anak lagi!” katanya sambil berkelakar. Aku cubit saja pinggangnya biar sadar kalau dia juga menggodaku, gemas, sih.
Candaan kami berhenti saat makan malam tiba, petugas rumah sakit masuk sambil membawa nampan berisi sepiring nasi dan beberapa temannya seperti tahu, sayur dan lainnya. Rizal membantuku untuk duduk bersandar tanpa banyak bergerak karena bagian bawah tubuhku masih sakit.
Dia menemani dan ingin menyuapi aku makan, tapi aku tidak enak kalau makan disuapi. Apalagi aku masih mampu kalau cuma makan sendiri. Jadi, aku menolak secara halus. Rizal memilih pergi cari makan sendiri, lalu ia membawa makanan yang sudah dibelinya di kantin rumah sakit, untuk makan malam bersamaku.
Lalu, malam harinya, Rizal tidur dalam satu ranjang di sampingku. Bagiku tak masalah karena ranjang rumah sakit ini cukup besar, untuk kami berdua asal tidak banyak bergerak.
Aku bersyukur karena suamiku itu begitu sabar dan telaten dalam mengurusku. Dia tidak mengeluh sama sekali. Semula aku mengira kalau dia akan bosan dalam beberapa hari saja, lalu mengabaikan aku. Namun, ternyata Rizal tidak seperti itu, semakin hari aku semakin kagum padanya. Dia akan jadi cinta pertama dan terakhir bagiku.
Aku mendengar sendiri dari cerita beberapa orang jauh sebelum aku menikah, tentang kebiasaan laki-laki. Namun, sekarang aku mendengar lebih banyak lagi, dari para wanita yang datang bersama ibu, pada keesokan harinya. Mereka—para tamu di kamar rawat inapku, memuji Rizal karena mereka melihat sendiri bagaimana sikapnya padaku.
Ya, aku berada di rumah sakit lebih dari sehari, tepatnya selama dua hari tiga malam. Semua bukan kemauanku melainkan pihak rumah sakit yang tidak mengizinkanku untuk pulang.
Kata para ibu yang datang untuk menjengukku di rumah sakit itu, biasanya para lelaki malas mengurus istrinya, kecuali kalau para istri memintanya membantu. Itu juga kalau mereka mau. Semua kurang peka. Atau para suami akan bersikap hangat-hangat tahi ayam, semangat cuma di awal saja dan kalau lama kelaman, maka cintanya akan hilang. Ada-ada saja. Aku berharap besar saat itu juga pada Allah sang penjaga hati manusia, agar suamiku tetap demikian adanya, tidak berubah sampai ajalnya tiba.
Kata Ibuku yang juga ada di sana selama Rizal bekerja, “Ya, kan masih orang mah nggak sama, atuh Buibu! Siapa tahu menantu saya ini baik hati sampai mereka tua nanti!”
Para wanita yang rata-rata berusia hampir sama dengan ibuku itu, mengangguk secara bersamaan dan mengaminkan kebaikan untuk keluargaku, seperti yang diinginkan ibu.
“Tapi, hati-hati, loh, Jeng! Kebanyakan pria tergoda itu ketika pertama kali istrinya melahirkan anak .. karena nggak tahan nunggu selama 40 hari, dari sinilah mereka sadar kalau memang butuh istri lain lagi!” kata salah seorang ibu yang duduk di sebelah ibuku.
Ucapan ibu itu seketika membuatku merinding karena pada kenyataannya, aku sudah mengalami hal itu. Aku tidak mungkin melayani keinginan biologis suamiku, mengingat masih dalam masa nifas.
“iya, ya? Apalagi, Nak Rizal itu selalu dikelilingi wanita-wanita cantik di kantornya! Makanya, nanti jangan kasih kesempatan buat main mata, Jeng! Suaminya orangnya ganteng dan kaya, pasti banyak yang mau, tuh!” ada seorang ibu lain yang menimpali, membuat aku merasa panas dingin mendengar ucapannya.
Tiba-tiba aku jadi ingat Nariya, dia punya bakat wanita penggoda. Aku harus telepon Rizal sekarang juga, mau video call, biar tahu dia sama siapa?
Aku tidak sabar menunggu ibu-ibu itu, cepat pergi dan meninggalkan aku serta ibu. Kan, waktu besuk juga sudah hampir habis. Aku ingin cepat-cepat menelepon Rizal sebab tidak mungkin kan mengatakan semua unek-unek atau membicarakan tentang pendaoat ibu-itu tadi, saat mereka masih ada di sini.
Aku menyambar ponselku di meja kecil, samping tempat tidurku begitu ibu-ibu yang menengok itu pergi. Lalu, aku klik nomor suamiku dengan cepat.
“Hallo, Bang? Kamu lagi ngapain sekarang? Sama siapa di sana?”
❤️❤️❤️❤️