Rima selalu disudutkan keluarga mertua karena belum juga hamil setelah menikah 4 tahun dengan Arjun. Dari hasil pemeriksaan, ternyata yang bermasalah bukanlah dirinya, melainkan sang suami. Arjun tak dapat memiliki keturunan.
Rasa cintanya yang besar terhadap suami dan tidak tega melihat Arjun sedih membuat Rima ragu mengatakan kebenarannya. Tanpa sengaja sang ayah mertua mengetahui kenyataan itu. Memiliki ketertarikan pada Rima sejak lama, membuat ide licik Sandi bermain. Berkedok rasa simpati, ia membujuk Rima untuk melakukan hubungan terlarang dengannya agar bisa hamil. Ia berjanji akan merahasiakan segalanya dari keluarga.
Kebimbangan telah membutakan mata Rima. Ia menerima tawaran sang ayah mertua dan melakukan hubungan terlarang dengannya. Satu bulan kemudian, Rima dinyatakan hamil. Ia mengandung benih ayah mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Meyakinkan Hati
Arjun berjalan melewati ruangan khusus bayi yang dindingnya terbuat dari kaca. Ia bisa melihat belasan bayi yang diletakkan di dalam box-box kaca. Beberapa di antaranya ada yang tengah menangis dan sebagian lainnya tertidur dengan tenang.
Tatapan mata Arjun tertuju pada satu box bayi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Di sana tertulis dengan jelas nama orang tua dari bayi tersebut, Rima dan Arjun.
Dada Arjun seakan bergemuruh. Ada perang batin yang sangat hebat di dalam dirinya. Seharusnya ia menjadi seorang ayah yang sangat bahagia, namun kelahiran bayi lelaki itu ternyata melukai perasaannya.
"Permisi, apa Anda mau melihat bayi Bapak?" tanya seorang perawat yang kebetulan lewat dan bertemu Arjun.
Arjun menghela napas mencoba menetralkan perasaannya. "Ah, iya. Aku ingin melihat putraku. Apa boleh?" tanyanya.
"Tentu saja boleh, Pak. Mari ikut saya. Putra Anda yang mana?"
Sang perawat membawa Arjun masuk ke dalam. Ia menemani Arjun menghampiri box bayi yang bernama Renjun.
"Oh, jadi bayi tampan ini putra Anda? Semalam saya ikut membantu proses persalinannya," kata sang perawat.
Arjun memandangi wajah bayi yang telah Rima lahirkan. Bayi itu tampak membuka mata saat ia datang. Tak ada yang bisa dilakukan oleh bayi sekecil itu selain menggerakkan lidahnya seakan tengah mencari ASI.
"Sepertinya dia tahu kalau ayahnya datang makanya sudah bangun lagi," ujar sang perawat. "Bayi Anda termasuk bayi yang tenang jika dibandingkan bayi lain. Dia agak susah dilahirkan, istri Anda sampai mengalami pendarahan setelah melahirkan. Untunglah keduanya sama-sama sehat."
Setelah beberapa saat mengajak Arjun mengobrol, perawat tersebut pamit undur diri untuk membawa salah satu bayi yang memiliki jadwal untuk disusui.
Arjun masih berdiri memandangi bayi yang diberi nama Renjun itu. Nama yang sudah jauh ia pikirkan bersama Rima sebelum bayi itu lahir.
Arjun menggerakkan jari telunjuknya menyentuh pipi lembut bayi itu. Lidah Renjun terjulur mengira jari Arjun adalah tempat keluarnya ASI.
Tiba-tiba air mata Arjun tak tertahan untuk keluar. Ia menangis terisak sampai punggungnya tampak bergetar.
"Ini anakku, Renjun anakku. Aku yakin dia anakku. Dia pasti anakku. Huhuhu ...."
Kaki Arjun terasa lemas. Ia sampai berjongkok sembari berpegangan pada box bayi Renjun. Arjun terus berbicara sendiri meyakinkan bahwa bayi itu adalah anaknya, bukan anak dari lelaki lain.
Arjun menegarkan hati. Ia sudah bertekad untuk menerima bayi lucu itu sebagai putranya. Ia tidak mau tahu seandainya ada kenyataan lain yang tak diketahuinya.
Ia mengusap air matanya. Arjun kembali bangkit. Diambilnya Renjun dari dalam box bayi secara hati-hati lalu menimangnya dengan penuh kasih sayang.
"Halo, anakku ... Aku adalah ayahmu," ucapnya seraya mendaratkan sebuah ciuman di pipi Renjun.
Ia memeluk bayi itu untuk beberapa saat lalu mengembalikannya lagi ke dalam box bayi.
"Papa pergi dulu mau menemui ibumu, Sayang. Jangan rewel di sini," pesannya pada Renjun.
Usai bercengkrama dengan bayinya, Arjun kembali ke ruang perawatan Rima. Di sana terlihat sepi, kedua tantenya telah pergi.
"Tante Gina dan Tante Sania mana?" tanya Arjun.
"Mereka sudah pulang, Mas," kata Rima. "Bagaimana? Kamu sudah melihat anak kita?" tanyanya dengan raut wajah antusias. Ia tak sabar untuk mendengarkan respon dari suaminya.
Arjun tersenyum sembari mengangguk. "Putra kita sangat manis dan tampan," katanya.
Rima merasa lega dengan jawaban Arjun.
jujur lebih bsik