Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Dengan satu sentakan kuat terakhir, Deacon berhasil menarik tubuh Jihan melewati bibir jurang.
Napas Deacon memburu hebat, dadanya kembang kempis karena seluruh tenaganya terkuras habis.
Tanpa membuang waktu, ia segera melepaskan ikatan tali, membopong tubuh Jihan yang sudah tak sadarkan diri ke dalam mobilnya, dan melesat membelah sisa malam menuju rumah sakit daerah terdekat.
Semua proses administrasi dan penanganan dilakukan Deacon secara tertutup dan sembunyi-sembunyi.
Ia menggunakan nama samaran dan membayar tunai agar kedatangan Jihan tidak terendus oleh pihak mana pun, terutama oleh Andre dan Riko.
Setelah beberapa jam pemeriksaan intensif di ruang darurat, dokter yang menangani Jihan keluar dengan raut wajah serius.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Deacon langsung, menyeka keringat di dahinya.
"Pasien beruntung karena benturan di kepalanya tidak fatal. Namun, akibat benturan keras saat terlempar dari mobil, kaki kanan Ibu Jihan mengalami patah tulang yang cukup serius," jelas dokter tersebut.
"Dia membutuhkan operasi dan perawatan intensif agar bisa pulih total."
Deacon mengangguk paham. Ia tahu, membiarkan Jihan tetap berada di rumah sakit lokal ini terlalu berbahaya. Andre, Riko, atau bahkan Albert bisa saja menemukan keberadaannya dan menyelesaikan apa yang belum tuntas. Jihan harus dibawa jauh dari jangkauan mereka.
Sambil berjalan di koridor rumah sakit yang sepi, Deacon merogoh ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya di Kanada.
"Siapkan jet pribadi di bandara internasional sekarang juga," perintah Deacon dengan suara bariton yang dingin dan penuh otoritas.
"Urus jalur penerbangan medis darurat ke Kanada secara rahasia. Jangan gunakan nama Bramantyo Corporation dalam manifes. Aku akan membawa Jihan ke sana untuk pengobatan dan perlindungannya."
Setelah memastikan anak buahnya bergerak cepat, Deacon segera memacu mobilnya kembali ke rumah lama Jihan di perkampungan.
Matahari pagi mulai terbit, menyiram desa dengan cahaya kekuningan saat Deacon melangkah masuk ke dalam rumah untuk berpamitan kepada Darren, agar sang CEO dan kedua anak tirinya tidak menaruh curiga.
Di ruang tengah, Andre dan Riko tampak terkejut melihat Deacon baru kembali dengan pakaian yang sedikit berantakan.
"Deacon? Kamu dari mana saja semalam? Kenapa baru kembali?" tanya Riko, matanya menyipit penuh selidik.
Deacon memasang wajah lelah yang dibuat-buat, lalu menghela napas panjang.
"Mobilku sempat mogok di jalan raya semalam, dan aku harus menunggu montir sampai subuh," bohong Deacon dengan rapi.
Ia kemudian melangkah masuk ke dalam kamar utama, di mana Darren baru saja siuman dengan wajah yang masih sangat pucat dan tatapan kosong.
"Darren," panggil Deacon lembut, mendekati ranjang sahabatnya.
"Aku harus meminta maaf. Ada urusan bisnis yang sangat mendesak dan mendadak di Kanada yang tidak bisa ditunda lagi. Pagi ini juga aku harus segera terbang kembali ke Kanada."
Darren menoleh lambat, lalu mengangguk lemah tanpa curiga.
"Pergilah, Deacon. Terima kasih sudah membantuku semalam. Maaf aku merepotkanmu," bisik Darren dengan suara parau yang sarat akan kepedihan.
Deacon menepuk bahu Darren, menyembunyikan kebenaran besar di balik matanya.
"Aku pergi dulu. Tetaplah kuat, Darren."
Saat Deacon melangkah keluar dari kamar, Andre dan Riko diam-diam saling melempar senyum puas.
Bagi mereka, kepergian Deacon adalah berkah. Tanpa adanya si bule Kanada yang ketat itu, mereka bisa dengan bebas mengontrol Darren yang sedang depresi dan menikmati kemenangan mereka atas hilangnya Jihan selamanya.
Mereka sama sekali tidak sadar, bahwa Deacon justru sedang menerbangkan kartu as Jihan menuju tempat yang paling aman.
Begitu langkah kakinya keluar dari gerbang rumah tua itu, ekspresi lelah di wajah Deacon seketika menguap, digantikan oleh ketegangan yang pekat.
Ia langsung memacu mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi kembali menuju rumah sakit, tempat Jihan dipersiapkan untuk evakuasi medis rahasia.
Sesampainya di ruang rawat, ambulans khusus milik bandara sudah bersiap.
Jihan perlahan dipindahkan ke atas brankar ambulans.
Deacon duduk di samping tubuh subur wanita itu selama perjalanan menuju landasan pacu bandara internasional.
Di dalam kabin ambulans yang bergerak cepat, Deacon menatap wajah Jihan yang masih pucat pasi dengan mata yang terpejam rapat.
Jemari kekar pria Kanada itu terulur, membelai rambut hitam Jihan dengan sangat lembut, penuh dengan rasa simpati dan proteksi yang mendalam sebagai seorang sahabat.
Hingga detik ini, benak Deacon masih dipenuhi oleh tanda tanya besar yang saling berkecamuk. Ia masih belum tahu pasti siapa dalang dari semua petaka ini.
Apakah ini perbuatan jahat dari Andre dan Riko—putra-putra Darren yang memang membenci Jihan? Atau justru Darren sendiri yang telah gelap mata dan kehilangan akal sehatnya karena terbakar cemburu buta setelah menerima kiriman foto-foto semalam?
Deacon bersumpah akan mengorek kebenaran itu begitu mereka tiba di tempat yang aman.
Beberapa saat kemudian, ambulans tiba di area tarmac landasan pacu pribadi.
Di depan mereka, sebuah jet medis privat bernuansa putih perak sudah berdiri kokoh dengan mesin yang mulai menderu halus, siap lepas landas kapan saja.
Begitu pintu ambulans terbuka, Deacon tidak membiarkan petugas bandara menyentuh Jihan. Dengan penuh kehati-hatian, pria Kanada bertubuh kekar itu perlahan-lahan membopong sendiri tubuh Jihan yang masih belum sadarkan diri, menaiki tangga jet dengan langkah kaki yang mantap.
Ia melangkah masuk ke dalam kabin jet yang luas, lalu merebahkan tubuh Jihan dengan sangat lembut ke atas ranjang medis khusus yang telah disiapkan dengan matang oleh anak buah kepercayaannya.
Kaki kanan Jihan yang patah tampak terfiksasi dengan rapi oleh gips dan penyangga medis.
Seorang perawat pribadi yang ikut dalam penerbangan itu bergerak dengan cekatan.
Dengan gerakan terlatih, perawat tersebut kembali menggantung dan memasang botol infus baru, mengalirkan cairan nutrisi dan obat penahan rasa sakit ke dalam pembuluh darah Jihan melalui selang kecil.
Deacon berdiri di samping ranjang, menatap ke luar jendela pesawat saat pintu jet perlahan mulai tertutup rapat dan terkunci otomatis.
Burung besi itu mulai bergerak perlahan menuju runway, siap menerbangkan Jihan sejauh belasan ribu kilometer menuju Kanada—meninggalkan Darren yang meratapi penyesalannya, serta dua anak tirinya yang mengira mereka telah menang di atas genangan darah.
Burung besi itu perlahan bergerak meninggalkan landasan pacu, lalu melesat membelah langit pagi yang kelabu.
Mesinnya menderu kuat, membawa kabin medis mewah itu menembus gumpalan awan, semakin tinggi menjauh dari bumi Indonesia.
Deacon berdiri mematung di samping jendela kecil jet pribadi.
Matanya menatap hamparan daratan di bawah sana yang perlahan mengecil dan menghilang di balik kabut putih.
Tatapan mata elang pria Kanada itu tampak begitu dingin, sedalam samudra yang sebentar lagi akan mereka seberangi.
"Selamat tinggal, Darren," bisik Deacon sangat lirih, hampir tak terdengar di antara deru halus mesin pesawat.
Kalimat itu terucap bukan sebagai ucapan perpisahan biasa, melainkan sebuah maklumat senyap.
Ada kilatan kekecewaan yang mendalam di matanya untuk sang sahabat karib.
Darren yang ia kenal sebagai pria tangguh, kini telah gagal melindungi harta paling berharga dalam hidupnya hanya karena hasutan dan ego cemburu yang picik.
Deacon membalikkan tubuh kekarnya, melangkah mendekati ranjang medis tempat Jihan terbaring lemah.
Di bawah pendar lampu kabin yang temaram, ia menatap wajah pucat istri sahabatnya yang masih bernapas teratur dengan bantuan selang oksigen tipis di hidungnya.
Secara perlahan, Deacon mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang.
Jemari tangannya yang kokoh terulur, menyentuh ujung jemari Jihan yang terasa dingin, lalu menggenggamnya dengan kepalan yang mantap.
Sebuah janji baru kini terpatri kuat di dalam lubuk hatinya.
"Mulai sekarang, aku yang akan menjaga istrimu, Darren. Aku yang akan memastikan dia aman, pulih, dan tidak akan ada lagi air mata yang tumpah dari matanya karena kebodohanmu atau kelicikan anak-anakmu. Aku berjanji akan menjagamu, Jihan dan aku akan membalas mereka yang sudah membuatmu seperti ini," bisik Deacon.
Di atas ketinggian tiga puluh ribu kaki, rencana baru mulai tersusun rapi di kepala Deacon.
Sementara di Indonesia Darren mungkin sedang menangisi nisan kosong dan Andre-Riko sedang berpesta di atas kebohongan mereka, Deacon akan membangun benteng pelindung yang tak tertembus untuk Jihan di Kanada.
Waktu untuk pembuktian dan pembalasan dendam akan tiba, namun untuk saat ini, keselamatan wanita berhati malaikat ini adalah segalanya bagi Deacon.