Di Benua Tianxu, setiap orang terlahir dengan kemampuan menyerap Qi untuk berkultivasi. Namun Xiao Yun, bocah yatim dari Desa Kabut, lahir tanpa memiliki Qi sedikit pun dan hidup sebagai bahan hinaan seluruh desa.
Setelah kakek angkatnya meninggal, Xiao Yun bertahan hidup seorang diri dengan mencari tanaman obat di Hutan Terlarang. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan membawanya ke Lembah Iblis — tempat ia bertemu roh petapa kuno bernama Luo Hai.
Tanpa disadari siapa pun, di dalam tubuh Xiao Yun tersegel kekuatan kuno bernama Nadi Kekosongan, kekuatan terlarang yang bahkan ditakuti langit.
Dari bocah tanpa Qi yang dipandang sampah, Xiao Yun memulai perjalanan untuk mengguncang dunia kultivasi.
{ Update setiap hari }
Mohon dukungannya 👍🏻⭐🔁
Terima kasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.33 — Menjual Hasil Buruan
Di tempat lain, beberapa pedagang menjajakan kulit hewan iblis, taring, tanduk, dan berbagai bahan hasil perburuan yang terlihat jauh lebih beragam daripada yang pernah ia lihat bersama Han Wei.
"Begitu banyak barang..." gumam Xiao Yun.
"Itu baru sebagian kecil," ujar Luo Hai. "Kota ini menjadi tempat persinggahan para pemburu dan pedagang sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke wilayah yang lebih dalam. Karena itulah berbagai macam barang berkumpul di sini."
Xiao Yun terus berjalan tanpa terburu-buru. Setiap sudut kota terasa menarik untuk diamati. Baginya, semua yang ada di tempat ini merupakan pengalaman baru.
Beberapa anak seusianya tampak berlarian di jalan sambil tertawa riang. Di sisi lain, para pekerja memanggul peti-peti besar menuju gudang penyimpanan. Sesekali tampak kultivator melintas dengan langkah tenang, memancarkan wibawa yang membuat orang-orang biasa memilih menepi.
Tanpa sadar, Xiao Yun membandingkan semuanya dengan Desa Kabut.
Di sana, kehidupan berjalan lambat dan sederhana. Sementara di Kota Batu Hitam, setiap orang tampak sibuk mengejar tujuan masing-masing. Dunia luar benar-benar bergerak jauh lebih cepat.
Langkahnya akhirnya melambat ketika cahaya matahari mulai menghilang dari langit. Lampu-lampu minyak di sepanjang jalan mulai dinyalakan satu per satu, membuat suasana kota berubah menjadi hangat meski malam perlahan turun.
Xiao Yun memandang sekeliling.
"Guru, malam akan segera tiba."
Luo Hai mengangguk pelan.
"Kalau begitu, hal pertama yang harus kau lakukan bukan berkeliling kota."
Xiao Yun langsung memahami maksud gurunya.
"Aku harus mencari tempat bermalam."
"Tepat. Besok masih ada banyak waktu untuk mengenal Kota Batu Hitam. Malam ini, istirahatlah terlebih dahulu agar tenagamu pulih sepenuhnya."
Xiao Yun menganggukkan kepala. Dengan tujuan yang kini jelas, ia mulai menyusuri jalan utama kota, mencari sebuah penginapan sederhana untuk beristirahat sebelum memulai langkah berikutnya di Kota Batu Hitam.
Keesokan paginya, sinar matahari yang hangat mulai menyinari Kota Batu Hitam. Jalan-jalan utama yang semalam masih diterangi cahaya lampu minyak kini kembali dipenuhi oleh kesibukan para pedagang, pemburu, pengembara, dan penduduk kota. Suara roda kereta yang bergesekan dengan jalan berbatu berpadu dengan teriakan para pedagang yang menawarkan dagangan mereka, menciptakan suasana yang hidup sejak pagi hari.
Di dalam kamar penginapan sederhana tempatnya bermalam, Xiao Yun telah bersiap melanjutkan kegiatannya. Setelah merapikan pakaian dan memastikan seluruh barang bawaannya tersimpan dengan baik, ia mengangkat kantong penyimpanan yang berisi hasil buruan dari pertempuran melawan kawanan Serigala Bulan Perak bersama Han Wei beberapa hari sebelumnya.
Luo Hai melirik kantong itu sekilas sebelum berkata dengan tenang, "Hari ini kau harus mengubah semua hasil buruan itu menjadi bekal perjalanan. Membawanya terus hanya akan merepotkan."
Xiao Yun menganggukkan kepala. Ia memang memiliki tujuan yang sama. Hasil buruan tersebut jauh lebih berguna jika ditukar dengan uang atau sumber daya yang dapat digunakan selama perjalanan menuju Lembah Langit.
Tanpa membuang waktu, Xiao Yun meninggalkan penginapan dan berjalan menyusuri jalan utama Kota Batu Hitam. Udara pagi masih terasa sejuk, tetapi suasana kota telah dipenuhi aktivitas. Beberapa pemburu membawa hasil buruan di atas gerobak, sementara yang lain memikul kulit binatang dan tanduk hewan iblis menuju kawasan perdagangan.
Tidak lama kemudian, Xiao Yun menemukan sebuah toko yang khusus membeli berbagai hasil buruan dan bahan hewan iblis. Di depan toko itu sudah ada beberapa pemburu yang sedang menunggu giliran.
Xiao Yun ikut mengantre dengan sabar.
Ketika gilirannya tiba, pemilik toko, seorang pria paruh baya bertubuh kekar, memandang Xiao Yun dengan sedikit heran. Tatapannya kemudian beralih kepada kantong yang dibawa bocah itu.
"Kau ingin menjual hasil buruan?" tanyanya.
Xiao Yun mengangguk pelan.
Ia membuka kantong tersebut dan mengeluarkan satu per satu barang yang diperolehnya dari pertempuran sebelumnya. Taring Serigala Bulan Perak, kulit yang masih utuh, serta beberapa bagian tubuh hewan iblis lainnya segera memenuhi meja kayu.
Pria itu memeriksa semuanya dengan teliti. Ia membalik kulit serigala, mengamati kondisi taring, lalu menimbang seluruh bahan menggunakan timbangan logam yang berada di samping meja.
Beberapa saat kemudian, ia mengangguk pelan.
"Kualitasnya cukup bagus. Sebagian besar masih dalam keadaan utuh sehingga nilainya tidak berkurang banyak."
Ia segera melakukan perhitungan, kemudian mengambil sebuah kantong kain berisi Koin Emas. Setelah itu, ia meletakkan sebuah Batu Roh Rendah di atas meja sebagai bagian dari pembayaran.
"Ini harga seluruh barangmu."
Xiao Yun menerima pembayaran tersebut dengan tenang. Pandangannya sempat tertuju pada Batu Roh Rendah yang memancarkan cahaya lembut. Benda itu tidak lagi asing baginya. Luo Hai telah menjelaskan nilai dan kegunaannya ketika mereka masih berada di Kota Sungai Hijau. Meski demikian, inilah pertama kalinya ia memperoleh Batu Roh dari hasil perjuangannya sendiri.
Ia menghitung isi kantong kain itu secara singkat. Jumlah Koin Emas yang diterimanya jauh lebih banyak daripada seluruh harta yang pernah dimilikinya selama tinggal di Desa Kabut. Kini, ditambah sebuah Batu Roh Rendah sebagai bagian dari hasil penjualan, bekal perjalanannya menjadi jauh lebih memadai.
Luo Hai tersenyum tipis.
"Kau mulai memahami bahwa berburu bukan hanya melatih kemampuan bertarung. Jika dilakukan dengan benar, hasilnya juga dapat menjadi sumber daya untuk mendukung perjalanan dan kultivasi mu."
Xiao Yun mengangguk pelan.
"Aku mengerti, Guru."
Ia segera menyimpan seluruh Koin Emas dan Batu Roh Rendah itu dengan hati-hati ke dalam kantong penyimpanannya. Semua itu diperoleh bukan karena keberuntungan, melainkan dari keberanian menghadapi bahaya bersama kelompok Han Wei. Karena itulah, setiap keping Koin Emas dan setiap Batu Roh terasa jauh lebih berarti.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada pemilik toko, Xiao Yun keluar kembali ke jalan utama Kota Batu Hitam.
Keramaian kota masih berlangsung tanpa henti. Para pedagang terus menawarkan dagangan mereka, pembeli datang silih berganti, dan para pemburu memasuki berbagai toko untuk menjual hasil buruan ataupun membeli perlengkapan baru.
Xiao Yun berjalan perlahan sambil memperhatikan suasana di sekitarnya. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Desa Kabut, ia benar-benar merasakan bahwa dirinya telah mulai menapaki kehidupan di dunia luar.
Kini ia memiliki bekal yang cukup untuk melanjutkan perjalanan, tetapi Luo Hai tidak terburu-buru mengajaknya meninggalkan kota.
"Jangan terburu-buru," ucap Luo Hai dengan tenang. "Kota Batu Hitam masih memiliki banyak hal yang perlu kau pelajari. Semakin banyak yang kau lihat, semakin luas pula pemahamanmu mengenai dunia kultivator."
Xiao Yun mengangkat pandangannya ke arah jalan yang semakin ramai. Ia menganggukkan kepala dengan penuh semangat.
Perjalanan panjangnya baru saja dimulai, dan Kota Batu Hitam akan menjadi tempat pertama baginya untuk mengenal dunia yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang lain.
...BERSAMBUNG...