Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Ruang Rawat Steril dan Deklarasi Perang
Bau tajam cairan antiseptik, alkohol, dan uap dari mesin sterilisasi langsung menusuk indra penciuman begitu pintu geser baja klinik pribadi Mansion Ketiga tertutup rapat. Ruangan rawat darurat bernuansa putih dan perak itu mendadak menjelma menjadi ruang operasi darurat yang dipenuhi oleh ketegangan yang pekat. Di tengah ruangan, di bawah pendar lampu bedah halogen yang menyala menyilaukan, tubuh Alana terbaring telungkup di atas ranjang medis khusus. Dua dokter bedah kepercayaan faksi ketiga, yang diikat oleh sumpah darah dan pasokan euro tanpa batas dari Xavier, bergerak dengan kecepatan tinggi namun penuh kehati-hatian. Jemari mereka yang dibalut sarung tangan lateks dengan cekatan membantu membersihkan luka-luka sabetan cambuk berkepala sembilan di punggung Alana yang tampak mengerikan, menggunting sisa kain gaun yang telah menyatu dengan daging, lalu mulai menjahit jaringan kulit yang koyak satu demi satu.
Di sudut ruangan, bersandar pada dinding panel baja dengan kedua lengan terlipat di depan dada, Xavier Garrick berdiri mematung bagaikan patung marmer yang bernyawa. Pangeran kasino yang biasanya selalu tampil necis, flamboyan, dan penuh senyuman sinis itu kini tampak begitu berbeda. Kemeja putih sutra berharga ribuan euro yang dikenakannya kini hancur; bagian depannya koyak dan dikotori oleh noda darah pekat milik Alana yang mulai mengering dan menghitam. Wajah tampannya mengeras, sepasang mata hazelnya memancarkan aura kegelapan yang begitu pekat, tidak sedetik pun beralih dari sosok gadis yang sedang berjuang melawan maut di atas ranjang bedah.
Ketika salah seorang dokter bedah mencoba menyarankan agar Xavier menunggu di luar demi menjaga sterilitas ruangan, Xavier hanya meliriknya sekilas dengan tatapan mata yang begitu dingin dan mematikan, cukup untuk membuat sang dokter menelan kembali kata-katanya dan memilih bungkam seribu bahasa. Obsesi, rasa kepemilikan, dan rasa penasaran gila yang dipicu oleh kata-kata Alana tepat sebelum gadis itu kehilangan kesadaran telah mencengkeram akal sehat Xavier sepenuhnya.
Monitor jantung di samping ranjang terus mengeluarkan bunyi bip yang teratur namun cepat, berkejaran dengan grafik suhu tubuh Alana yang menyentuh angka tinggi akibat infeksi akut dari racun sisa cambuk kulit faksi pertama. Setiap kali tubuh Alana tersentak pelan di bawah pengaruh anestesi akibat rasa sakit yang menembus obat bius, rahang Xavier menegang semakin keras. Di dalam benaknya, sebuah daftar pembalasan finansial dan militer sedang disusun dengan rapi. Eleanor Rossi telah menyentuh sesuatu yang kini dideklarasikan Xavier sebagai miliknya, dan dalam hukum tidak tertulis yang dianut oleh sang penguasa kasino, setiap tetes darah yang keluar dari tubuh Alana malam ini harus dibayar dengan kehancuran total seluruh aset faksi pertama di Monaco.
Sementara faksi ketiga sibuk menyelamatkan nyawa Alana, badai amarah yang luar biasa hebatnya sedang melanda Mansion Utama. Sirine darurat berkekuatan penuh masih meraung-raung membelah sunyinya malam, memanggil seluruh unit pengawal bersenjata lengkap untuk berkumpul di halaman tengah. Di dalam ruang interogasi bawah tanah yang kini terasa begitu kosong, Eleanor Rossi berdiri menatap pintu sel nomor empat yang terbuka lebar dengan tubuh yang gemetar hebat menahan murka. Cambuk kulit yang digunakannya untuk menyiksa Alana beberapa jam lalu masih tergeletak di lantai marmer, kini terinjak oleh boots militer Cedric yang melangkah masuk dengan wajah memerah padam.
"Dia hilang! Anak haram itu diculik tepat dari bawah hidung kita!" bentak Cedric dengan suara menggelegar, menghantamkan tinjunya ke dinding beton hingga retak. Sepasang matanya berkilat penuh amarah primitif sekaligus frustrasi yang luar biasa. "Kepala sipir sialan itu mematikan radio komunikasinya dan menghilang tanpa jejak! Seseorang telah menyuapnya dengan angka yang tidak bisa dia tolak!"
Eleanor menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menstabilkan detak jantungnya dan menegakkan kembali mahkota kekuasaannya yang kini terasa mulai goyang dari fondasinya. Otaknya yang licik segera melakukan analisis taktis dengan kecepatan tinggi.
"Matinya sistem keamanan utama kita secara total selama tepat 180 detik bukanlah sebuah kebetulan teknis, Cedric. Itu adalah sebuah serangan siber yang terencana dengan sangat matang dan presisi tinggi. Di seluruh kompleks kediaman Garrick ini, hanya ada satu orang yang memiliki kemampuan meretas enkripsi militer faksi pertama kita dengan tingkat kebersihan seperti ini. Adrian Garrick. Anak haram kedua dari faksi Valerie."
"Faksi kedua?!" Cedric menggeram, tangannya langsung bergerak mencengkeram hulu belatunya. "Jadi si bajingan Julian itu yang merencanakan semua ini?!"
"Tidak hanya Julian," sela Eleanor dengan nada suara yang perlahan mendingin namun sarat akan racun kebencian. "Julian memiliki otak dan strategi, serta akses peretasan dari adiknya. Namun, Julian tidak memiliki likuiditas uang tunai yang cukup besar dalam waktu singkat untuk membuat kepala sipir kita yang setia membelot dalam hitungan detik. Yang memiliki kekuatan finansial tak terbatas seperti itu hanya Xavier Garrick. Bajingan kasino itu telah menyelaraskan langkah dengan faksi kedua. Mereka berdua telah mendeklarasikan perang terbuka terhadap kita dengan merebut Alana!"
Eleanor mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Kumpulkan seluruh pasukan perimeter, Cedric! Siapkan unit taktis gelombang pertama! Kita akan mendatangi Mansion Ketiga besok pagi jika mereka tidak menyerahkan Alana kembali!"
Kembali ke Mansion Ketiga, jam dinding digital telah menunjukkan pukul empat dini hari ketika operasi penjahitan luka Alana akhirnya selesai. Tubuh gadis itu kini telah dibalut oleh perban steril berlapis-lapis di bagian punggung dan bahunya, dan sebuah selang infus terpasang di vena lengan kirinya untuk menyalurkan antibiotik dosis tinggi. Dokter bedah berpamitan dengan membungkuk hormat kepada Xavier, meninggalkan sang pangeran kasino sendirian di dalam kamar rawat steril yang kini terasa begitu sunyi.
Namun, kesunyian itu tidak bertahan lama. Suara ketukan ringan sebanyak tiga kali di pintu utilitas belakang klinik membuat Xavier tidak perlu membalikkan tubuhnya untuk mengetahui siapa yang datang. Pintu bergeser terbuka, dan Julian Garrick melangkah masuk dengan mantel abu-abu panjangnya yang masih basah oleh embun malam. Wajah pucat sang ahli strategi faksi kedua tampak begitu tenang di balik kacamata berbingkai peraknya, kontras dengan Xavier yang berantakan dan bernoda darah.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Julian dengan nada suara yang teramat datar dan monoton, melangkah mendekati sisi ranjang untuk menatap Alana yang masih memejamkan mata di bawah pengaruh obat bius.
"Dia akan hidup," jawab Xavier pendek, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. Dia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Julian dengan sorot mata yang dipenuhi ancaman yang terselubung. "Dan sekarang setelah dia aman di wilayah kekuasaanku, aku ingin mengingatkanmu pada satu hal, Julian. Jangan pernah berpikir untuk menyentuhnya atau membawanya keluar dari Mansion Ketiga. Kata-kata terakhirnya sebelum pingsan telah menegaskan posisi siapa yang dia pilih di dalam permainan ini. Dia adalah milik faksi ketiga sekarang."
Julian menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat manipulatif dan dingin. Dia membetulkan posisi kacamatanya dengan jari tengah sebelum membalas tatapan Xavier tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Jangan biarkan egomu yang narsistik itu membutakan akal sehatmu, Xavier. Alana mengucapkan kata-kata itu murni untuk menyelamatkan nyawanya dan memanfaatkan sifat posesifmu yang mudah ditebak. Jangan lupa... tanpa analisis data strategiku dan tanpa peretasan 180 detik dari Adrian yang mematikan sirkuit faksi pertama, kamu dan ambisimu saat ini sudah membusuk di dalam sel isolasi bawah tanah Eleanor. Kita berada di dalam aliansi ini karena kita sama-sama membutuhkan bidak genius ini tetap hidup untuk menghancurkan dominasi militer Cedric. Jika kamu mencoba memonopolinya, aku tidak akan ragu untuk membocorkan seluruh data manipulasi keuangan kasinomu langsung ke meja kerja Ayah begitu dia mendarat di bandara."
Ketegangan verbal di antara kedua putra mahkota itu mendadak berada di titik tertinggi, mengunci mereka dalam perang dingin yang siap meledak menjadi benturan fisik. Namun sebelum salah satu dari mereka mengambil tindakan lebih jauh, sebuah suara erangan kecil yang teramat lirih memecah keheningan di antara mereka.
Di atas ranjang medis yang mewah namun steril, kelopak mata Alana bergerak perlahan. Setelah berjuang melewati pekatnya kegelapan rasa sakit, gadis itu akhirnya membuka sepasang matanya kembali. Sorot matanya yang jernih dan sedingin es seketika menyapu sekeliling ruangan, menilai situasi dengan kecepatan kalkulasi yang luar biasa. Meski tubuhnya masih teramat lemah, terikat oleh perban yang menahan pergerakannya, dan rasa perih yang membakar di punggungnya masih terasa nyata, tidak ada setitik pun air mata atau ratapan yang keluar dari dirinya.
Alana menatap langit-langit kamar rawat steril dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kilatan kecerdasan yang mematikan dan kepuasan yang teramat pekat. Dia melihat Xavier dan Julian yang berdiri di kedua sisi ranjangnya, saling melempar tatapan membunuh namun terikat oleh kehadirannya.
Sang Dalang telah kembali. Dari atas tempat tidur medis di sarang faksi ketiga ini, dengan tubuh yang penuh luka, Alana tahu betul bahwa dia telah berhasil memaksa ketiga faksi terbesar keluarga Garrick untuk berdansa tepat di bawah ketukan jeruji jarinya, siap saling membantai satu sama lain dalam perang saudara yang sesungguhnya.