Sri Rahayu seorang gadis kampung yang terpaksa harus pergi kekota dan tinggal disana bersama dengan Tantenya yang bernama Halima.
Namun siapa sangka Halima meminta dirinya untuk menikah dengan pria yang tidak ia kenal hanya karena tidak ingin mengecewakan Halima dan sebagai bentuk dari rasa terima kasihnya karena Halima sudah menerima dirinya selama ini mau tidak mau ia pun mengikuti keinginan dari Halima.
Bahkan ia tidak pernah bertemu dengan pria tersebut dan sampai pada hari pernikahan itu tiba Sri belum juga melihat wajah yang akan menjadi suaminya tersebut.
Didetik-detik acara Akat nikah barulah ia bertemu langsung dengan pria yang bertubuh tinggi tegap yang merupakan calon suaminya itu.
Akankah Sri mendapat kebahagian didalam pernikahannya?
Yuk saksikan kelanjutan dari ceritanya Cinta didalam Perjodohan!!
Akankah Sri bertahan dengan kehidupannya yang baru atau malah menjadikan hidupnya semakin tersiksa?
Yuk saksikan kel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deby ria sitopu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
"Mampus aku." Gumam Rey didalam hati.
Ya, mobil yang baru saja tiba adalah mobil milik Gael dan sudah bisa dipastikan jika orang yang ada didalam mobil tersebut adalah orang yang sama dengan pemilik mobil tersebut.
"Pah.."
Rey melihat kearah belakang Gael namun ternyata Rey bisa bernafas lega ketika Gael hanya turun seorang diri yang artinya mama Nia tidak ikut pulang.
"Ada apa ini?" selidik Gael menatap tidak suka kepada Kalin.
"Om.."
Sapa Kalin diiringi dengan senyuman namun semua itu tak berlangsung lama karna Gael tidak membalas sapaan darinya bahkan Gael tidak melihat kearahnya.
"Jangan sampai Sri melihat ini semua! papa tidak ingin ada kesalah fahaman disini." tegas Gael berlalu meninggalkan keduanya.
"Kalin kau pulanglah!" Usir Rey dengan kesal.
"Rey, kau mengusir ku?"
"Kalin, kau lihat apa yang baru saja terjadi. Aku bisa dalam masalah jika mama ikut melihat kehadiran mu disini."
"Ck, kau sudah berubah Rey."
Kalin tidak percaya pria yang dulu begitu mencintai dirinya kini mengusir dirinya.
"Sudahlah Kalin kau tidak perlu mengeluhkan hal yang tidak penting." Potong Rey.
"Rey.. Kau banyak berubah, apa ini karna wanita itu?" tanya Kalin dengan lirih.
"Ini semua tidak ada hubungannya dengan Sri, kau lah yang sudah mencari masalah dengan datang kesini dan sekarang kau lihat papa Gael marah melihat mu tadi!" Terang Rey panjang lebar berusaha mengahadapi wanita itu dengan bersabar karena belum waktunya baginya membongkar semua kebusukan wanita itu.
"Baiklah jika begitu, sekarang kapan kau akan menceraikan wanita itu dan bertanggung jawab kepada ku?" Kalin mengubah topik pembicaraan mereka dengan tidak tau malunya padahal Rey sudah mengetahui kebenarannya.
"Aku tidak akan menceraikan istri ku dan masalah kau, akan aku pikirkan jalan keluarnya." Tegas Rey menekan kata istri pada kalimatnya.
" Apa yang kau bicarakan ini?" Kalin meninggikan suaranya.
"Apa aku harus mengulangi ucapan ku?"
"Rey kau..?" Kalin kehabisan kata-katanya.
"Tidak, tidak bisa seperti ini, bayi ini butuh sosok ayahnya dan itu kau Rey!" tegas Kalin memegangi perutnya masih berupaya membujuk Rey.
"Kalin.." Rey menarik nafas panjang untuk meredam amarahnya.
"Katakan jika kau tidak serius dengan ucapan mu barusan!"
"Kita bicara lain kali, sekarang aku harus menyusul papa masuk." Bujuk Rey penuh harap dan ternyata kali ini ia berhasil membujuk wanita itu.
"Baiklah, hubungi aku secepatnya." Putus Kalin mengalah karna wanita itu tidak punya pilihan lain.
"Umm." Hanya itu yang keluar dari mulut Rey sementara Kalin kini bergegas masuk kedalam mobilnya.
Setelah Kalin masuk kedalam mobil, Rey segera masuk kedalam rumah dan begitu ia masuk benar saja papa Gael sudah menunggu diruang tamu bahkan Sri pun sudah berada ditempat itu.
"Pah.."
"Duduklah!" suruh Gael dengan nada datar.
"Papa tidak mau hal semacam ini terjadi lagi Rey, kau itu sudah mempunyai istri." Peringat Gael kepada putra tersebut.
Rey yang sedang dinasehati pun melirik kearah Sri namun Sri tidak bereaksi sedikit pun seolah ia tidak tau apa yang sedang terjadi.
"Dan kau Sri, kau harus menjaga suami mu ini agar tidak ada wanita lain yang bisa mendekatinya." Titah Gael membuat Sri menatap kearah Gael.
"Rey bukan anak kecil lagi pah, lagian sekuat apa pun aku menjaganya jika Rey ingin berbuat aku bisa apa?" ucap Sri dengan santainya sementara Rey kini menatap kepadanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau benar juga!" Gael membenarkan ucapan menantunya itu.
"Oya pah, kenapa mama tidak ikut pulang?" tanya Sri mengalihkan pembicaraan.
"Mama mu masih menemani Monika dan papa pun kembali hanya untuk sebentar saja lusa papa akan kembali lagi."
"Lusa? sekalian saja papa dan mama tinggal disana sana tidak usah kembali." Pekik Rey merasa tidak senang jika lusa papa Gael akan kembali kerumah Monika.
"Rey, kakak mu itu mau melahirkan dan asal kau tau mama ingin memberikan ruang untuk kalian berdua." Terang Gael karna memang mereka sengaja meninggalkan Sri dan Rey berharap keduanya saling bisa mengenal lebih jauh lagi.
"Ya ya.. Jadi kapan kakak Monika akan melahirkan?" tanya Rey.
"Tinggal menunggu hari saja karna menurut perkiraan dokter Minggu - Minggu ini."
Dan setelah perbincangan itu Rey pun pergi kekantor bersama dengan papa Gael sementara Sri masih berada diruang tamu. Entah mengapa pikirannya kembali teringat bagaimana wanita itu memeluk Rey tadi.
"Semua usaha mama dan papa memberikan kami ruang untuk mengenal lebih jauh akan sia-sia jika Rey tidak menginginkannya. Karna kenyataan aku tidak bisa menggantikan wanita itu dihati Rey." Lirih Sri dengan mata yang berkaca-kaca.