NovelToon NovelToon
Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Status: tamat
Genre:System / Sistem / Pemain Terhebat / Kegiatan Olahraga Serba Bisa / Tamat
Popularitas:725.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Triple-A

[Tamat, perjalanan panjang pun berakhir dengan indah. Nantikan novel lainnya dari Triple-A!]

Berawal dari kegagalan sebagai Kiper dimasa Sekolah Menengah Pertama, Reza Kusuma, akhirnya terbangun dari mimpi buruknya dengan mendapatkan sebuah berkah yang diluar nalar.

Dengan sebuah Sistem Sepakbola, Reza bertekad menjadi Kiper Legendaris yang berasal dari Indonesia.

***

Arc 1 : Youth Tournament Dimulai (Chapter 01 - Chapter 31)
Arc 2 : Kualifikasi Piala Asia U-17 2023 ( Chapter 32 - Chapter 48)
Arc 3 : Perjalanan Karir yang Mulai Maju (Chapter 51 - Chapter 64)
Arc 4 : Match In Slovakia (Chapter 65 - Chapter 84)
Arc 5 : Piala Asia AFC U-17 2023 (Chapter 85 - Chapter 101)
Arc 6 : Kiper Legendaris (Chapter 102 - Chapter 172)

~

Novel ini karya orisinil dari nama pena Triple-A. Dilarang melakukan penyalinan, plagiarisme dan lain sebagainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triple-A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 - Murid Baru

“Hei, Vania. Kenapa langit berwarna biru?” tanya Cipto yang langsung duduk di samping gadis berambut sebahu tersebut.

“Tinggalkan saya,” ucap Vania seraya menatap tajam Cipto.

“Hahaha! Kena kau!” Hafid langsung tertawa terbahak-bahak.

Reza menatap kawannya yang berjalan seperti tanpa nyawa tersebut ke kursinya. Cipto merasa dirinya seperti tertusuk ribuan pedang.

“Hei, Cipto! Jangan cuma fokus dengan itu. Kau harus mendukung Kak Bagus saat dia memegang bola!” Reza menyela dan mengganti pembahasan.

“Iya! Saya lihat kau seperti boneka yang hilang arah, hahaha!” Haikal ikut berucap.

“Huft! Jadi winger forward itu sulit, tau!”

Sementara mereka saling berbincang, beberapa teman kelas lainnya mulai masuk satu persatu diikuti seorang guru pria. Tubuh tinggi tegap dengan berwibawa, wajahnya yang terlihat ramah tanpa dibuat-buat, rambutnya tersisir rapi ke belakang.

Guru tersebut bernama Armyn. Dia adalah wali kelas 10-A.

“Anak-anak … duduklah, akan ada murid baru yang ingin berkenalan dengan kalian!” Suara serak-serak basah terdengar.

Semuanya pun duduk sesuai tempat masing-masing. Mereka menunggu siapakah murid baru tersebut. murid laki-laki mulai membayangkan anak baru seorang gadis cantik. Sedangkan murid perempuan membayangkan anak baru seorang laki-laki tampan.

“Mari masuk, Nak!”

Pintu terbuka, langkah kaki pertama muncul dari balik pintu. Sosok gadis cantik yang berpakaian lengkap, rambut segelap malam bergelombang dibiarkan terurai begitu saja.

Senyuman penuh sukacita terpatri. Dia mulai masuk dan langsung berdiri di samping Guru Armyn.

“Perkenalkan nama kamu dan … terserah,” ucap Armyn sembari duduk di kursinya.

“Emm … hai?”

“Woooo!” Para murid laki-laki mulai berseru dalam sukacita.

Bayangan mereka semakin jelas. Gadis yang begitu cantik sudah ada di depan mereka. Sementara itu, pada gadis di kelas mulai terdiam memandang fokus ke arah murid baru tersebut.

“Nama saya … Vera Saskia! Salam kenal. Saya pindahan dari Luwuk. Ya … ikut orangtua yang kerja di sini!”

Reza satu-satunya yang tak bisa berkata-kata. Dia benar-benar tak percaya, gadis yang dia temui semalam telah berada di depannya. Anak sahabat ibunya ternyata masuk di sekolahnya dan secara kebetulan berada di kelasnya.

“Vera?” ucap Reza tanpa dia sadari.

“Oh! Hai Reza!” Vera melambaikan tangannya ke arah Reza.

Murid laki-laki mulai menaruh rasa iri kepada Reza.

“Ya … gimana, ya? Dia adalah anak sahabat ibuku, jadi kami berdua sudah saling kenal.” Reza menjelaskannya agar tak ada yang salah paham.

“Baiklah, kamu duduk di tempat yang kosong saja! Pelajaran Matematika segera dimulai!” Pak Guru Armyn dengan tegas mengucapkan kata tanpa dibantah siapapun.

Vera pun duduk di kursi kosong yang berada di samping Haikal. Barisan ke tiga dari depan, urutan ke lima dari kanan.

“Salam kenal, Haikal!” Dengan memasang wajah cool, Haikal memperkenalkan dirinya.

“Saya Vera!”

Pelajaran Matematika yang dibawakan Pak Guru Armyn pun telah usai pada pukul 8:30. Mereka kemudian melanjutkan pelajaran selanjutnya hingga pukul 10:00. Setelah itu istirahat.

Di kantin, para siswa saling berbicara tentang ekskulnya. Ada yang merasa bangga ketika menciptakan poin penting saat pertandingan bola basket, ada yang juga merasa sedih ketika dikalahkan pada pertandingan bola voli.

Suka dan duka mengisi suasana di kantin. Sementara itu Reza, Haikal dan juga Cipto duduk bersama di meja yang paling sudut.

Beberapa saat, segerombolan murid mendatangi ketiganya. Mereka sesama anggota klub sepakbola.

“Hai, Kak Bagus!” sapa Haikal.

Mereka semua pun duduk hingga mengisi kekosongan kursi kantin di tempat mereka.

“Gimana, sebentar sore kita akan melanjutkan latihan di gym. Itu harus diselesaikan, kata pelatih Sofyan.” Bagus membuka percakapan terlebih dahulu.

Makanan sehat di depan mereka dibiarkan terlebih dahulu.

“Ya … jalani aja dulu,” ucap Jaka.

“Ini punyaku!”

“Punyaku!”

Terlihat Danar dan Dennis yang serupa saling berebut sebuah makanan ringan. Mereka berdua adalah kembar seiras.

Sifat mereka sedikit saling bertolakbelakang. Danar, 5 menit lebih awal memiliki sifat yang berdominasi, tak ingin ucapannya dibantah.

Sementara itu, Dennis, 5 menit lebih lambat memiliki sifat yang tak ingin mengalah kepada siapapun.

“Ini punya kakak! Adik itu saja! Titik!”

“Sudah, diam! Kalian berdua terlalu berisik!” Bagus berdiri seraya menunjuk Danar dan Dennis.

“Ya, kita harus membahas taktik yang paling cocok dalam melawan SMA 1. Kita harus membantu para pelatih dalam membangun taktik terbaik.” Jaka juga berseru.

Sementara yang lain mengangguk pelan, Reza menatap sosok gadis yang menjadi murid baru di kelasnya. Vera, dia berjalan dengan kebingungan mencari tempat duduk yang sudah dipenuhi oleh murid-murid lainnya.

“Vera! Di sini kosong!” seru Reza seraya melambaikan tangan.

Vera yang menyadarinya pun langsung bergegas menuju kursi di samping Reza yang kebetulan masih kosong. Dengan nampan dipenuhi makanan sehat, Vera pun duduk di samping Reza.

Semua rekan setim Reza menatap heran pada kiper mereka. Seorang kiper yang diketahui sulit untuk mengenali gadis atau mencoba mendekati gadis tiba-tiba saja mendapatkan panggung pada gadis asing di mata mereka, kecuali Haikal dan Cipto yang sudah mengenali Vera.

“Oh, dia ini–”

“Hai, teman-teman Reza! Salam kenal, saya Vera Saskia, panggil aja Vera.” Dengan senyuman manisnya, sontak semuanya langsung merasa seperti melihat bidadari.

“Hmmm … hai? Kenapa hanya diam aja?” Vera kebingungan.

“Oh–Ah! Ini … saya Bagus, ini Jaka, ini Teguh.” Bagus mulai memperkenalkan semua anggota tim kepada Vera.

“Bagaimana bisa?” tanya Amin seraya menatap Reza.

“Begini …”

Reza menjelaskan kepada mereka semua tentang pertemuan pertama keduanya saat di rumah. Dari awal hingga tak terasa masing-masing makanan mereka ludes sebab mendengar cerita panjang milik Reza.

“Oh, begitu,” ucap secara serentak mereka semua.

Vera pun hanya mengangguk pelan mengiyakan semua perkataan Reza. Dia juga tak henti-hentinya terus mencuri pandang kepada Reza.

Menyadari dirinya ditatap, Reza langsung membuka kembali suara.

“Kalian semua sudah siap latihan bersamaku? Hehehe, bantu saya di gym, itu melelahkan!” Reza dengan menggaruk kepalanya sedikit canggung.

“Ayolah, kita ini rekanmu, sekaligus senior yang baik hati. Kita akan membantu kau dalam memperkuat tubuhmu kurusmu!” Bagus langsung berdiri dengan semangat.

“Perkataan terakhir itu sedikit menyakitkan,” celetuk Reza kesal.

Tawaan langsung menggema dari sudut ruangan kantin tersebut. Di hadapan murid-murid lain, Vera seperti berada di sarang harimau. Seorang diri gadis cantik, bersama para laki-laki anggota klub sepakbola.

“Hei! Kalian asyik sendiri!” Putri, teman kelas Reza datang sembari membawa nampan.

“Ini dia, anggota pemandu sorak basket!” Bagus menyeru kuat.

Gadis bernama Putri, dengan tubuh yang molek, rambut panjang segelap malam tergerai indah. Tubuhnya yang proporsional benar-benar cocok sebagai pemandu sorak bola basket.

“Kak Bagus! Di mana Kak Leo?” tanya Putri.

“Dia di gedung olahraga.” Bagus menjawabnya dengan sedikit rasa kesal.

Leo sendiri adalah anggota klub bola basket. Putri sebagai pemandu sorak tentunya ingin bertemu dengan segera sosok laki-laki tampan bernama Leo tersebut.

“Halo, Vera! Gimana? Nyaman bersama para lelaki maniak lapangan hijau itu?” Putri menatap Vera yang sedang menyimak pembicaraan.

“Kalau tidak nyaman, kau bisa ke kita. Klub Pemandu Sorak!”

Vera mengendikkan bahunya sedikit bingung. Namun, Putri merasa tatapan dingin dari belasan lelaki anggota klub sepakbola.

“Gadis ini ….” Para lelaki tersebut hanya menggerutu kesal.

“Jiahahaha!” Putri pun menghindar sembari tertawa begitu lantang.

Reza berdiri seraya berkata, “Saya sudah selesai. Saya duluan ke lapangan!”

Beberapa rekannya juga mulai beranjak. Mereka hendak menuju lapangan, sebab dari jam 10:30 hingga jam 11:30 adalah waktu milik para anggota klub di sekolah untuk berkegiatan, entah itu sedikit latihan atau pengumuman masing-masing staf. Apapun itu, tergantung setiap klub ekskul.

“Tunggu!” Haikal segera mendahului Reza.

Sementara itu, Vera yang penasaran dengan klub Pemandu sorak pun langsung menuju ruangan di mana pemandu sorak berkegiatan, entah itu latihan atau apapun.

Reza sendiri sudah sampai di lapangan dengan memakai seragam latihan. Di sana sudah ada pelatih Sofyan dan juga pelatih Berto. Beberapa staf juga sedang berbincang, entah apa yang mereka bicarakan.

1
🔱⚜㊗️Raden J. Budi. H㊗️⚜🔱
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

di sindir ma si "Kip"

🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅😅
Zulfikar Martam
bagus
Zulfikar Martam
Mereka kan satu kandang cuma beda nama gak sih?
Ahmad Haz
terharu asli ...
orang_gabut16
wah.berani kali lah reza ini!
mantap!!!
orang_gabut16
mantap kali lah bang ini!
orang_gabut16
ajinomoto?macam kenal e?
orang_gabut16
OP cok/Scream/
orang_gabut16
lah iyaya /Slight/
orang_gabut16
macam kenal?
Go Anang
Luar biasa
Snaz Ts
bram dengan sistem lanjutan 😹
Snaz Ts
dunia nyata begitu juga pun
Snaz Ts
masih ga ngerti gw kenapa panggilannya Eca jir
Matt Lepi
Luar biasa
jhon teyeng
Indonesia semakin maju, bahkan beberapa hari yg lalu U20 kita dlm sebuah tournament mampu kalahkan Argentina 2-1
jhon teyeng
wah
jhon teyeng
menyusahkan
jhon teyeng
berpelukan
jhon teyeng
boleh berandai andai dan semoga bs terjadi, sebab skg timnas sdh berada dijalan yg benar, dg org2 yg memahami dan tdk mencari keuntungan semata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!