Sandra tidak menyangka, jika kedekatannya dengan Kinan, justru akan berakibat fatal pada dirinya. Ibu Kinan, Cleo Moren telah menuduh Sandra menggoda suaminya, Raka Prayoga. Sampai tega, berbuat sesuatu yang akhirnya menghancurkan masa depan Sandra.
Mengetahui itu, Raka marah, dan memutuskan menikahi Sandra diam-diam tanpa sepengetahuan Cleo ataupun Kinan.
Namun, seiring berjalannya waktu, Cleo mengetahui pernikahan kedua suaminya, dan mengatur siasat untuk kembali mengambil simpati Raka.
Lalu, bagaimana dengan nasip Sandra?
Akankah Raka memilih kembali padanya?
Atau justru kembali pada Cleo?
Ikuti cerita mereka hingga akhir, hanya di Noveltoon ..
sak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Damaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
"Hari ini kita akan pindah dek, kamu siap-siap ya," ucap Raka setelah mereka duduk bersisian dimeja makan.
"Iya mas.."
"Tidak perlu mengemasi apapun, karena disana semua sudah disiapkan termasuk pakaian kita."
"Iya mas," jawab Sandra lagi.
Setelah jawaban singkatnya Sandar kembali menikmati sarapannya dengan lahap, dan hal itu cukup menarik perhatian Raka yang duduk di sebelahnya.
"Pelan-pelan sayang, mas tidak akan meminta makananmu," gurau Raka disertai usapan lembut di puncak kepala Sandra yang langsung menghentikan makannya.
"Kenapa berhenti?"
"Mas tidak makan?" Pandangan Sandra beralih pada piring Raka yang masih belum berkurang sedikitpun.
"Melihatmu begitu lahap, mas ikut kenyang. Makanlah lagi, mas mau menghubungi seseorang sebentar."
"Iya mas.."
Raka tersenyum hangat lalu beranjak bangun dan meninggalkan kecupan di kepala Sandra, sebelum akhirnya melangkah pergi setelah meraih ponsel yang diletakkan diatas meja bar. Tidak ingin tahu siapa yang hendak Raka hubungi, Sandra memilih melanjutkan makannya. Karena rasanya Sandra ingin sekali melahap semua hidangan yang ada. Selain lezat, rupanya pergulatan panjang semalam serta pagi tadi cukup menguras tenaga, sehingga membuat kadar lapar wanita yang kini tak lagi gadis itu meningkat drastis.
"Apa ada," ujar Raka dingin begitu sambungan telepon terhubung.
"Kau benar-benar tidak ingin pulang?" Sahut seseorang dari seberang sana.
"Tidak! Lakukan saja apa yang kamu inginkan, bahkan jika kamu ingin menghabiskan tenagamu di ranjang gig*l* itu. Aku tidak lagi peduli," ucap Raka yang langsung memutus sambungan tidak mau lagi mendengar ocehan Cleo yang hanya akan merusak moodnya pagi itu.
"Kamu memang tidak pernah merasa puas hanya denganku, Cleo. Untuk itu sekarang aku akan benar-benar membebaskanmu," gumamnya menatap layar ponselnya yang masih menyala sebelum akhirnya perlahan meredup dan mati.
***
Sementara itu di kediaman Prayoga, teriak melengking lebih dulu menjadi sarapan semua orang yang berada di hunian mewah itu, tak terkecuali Kinan. Ia yang hendak menyuapkan makanan ke dalam mulut, berdecak sebal mendengar kegilaan sang mommy yang kembali kambuh sejak kepergian daddynya beberapa hari yang lalu.
"Ck. Merusak selera makan saja, lebih baik tidak usah pulang kalau hanya bikin huru-hara." Kinan memilih meminum air dan beranjak berdiri seraya meraih tas punggungnya.
"Non udah mau berangkat?" Tanya bik Mira yang baru muncul dari dapur.
"Iya bik, bibi hati-hati ya jika singa betina itu kembali meraung, lebih baik bibi menghindar, cari amannya saja."
Bik Mira hanya tersenyum hangat menanggapi nasehat Kinan, lalu berkata, "non juga hati-hati ya dijalan ya."
"Iya bik, sudah ya.. Key berangkat dulu, sudah siang." Setelah meninggalkan kecupan di pipi keriput wanita yang selama ini merawatnya, Kinan sedikit berlari meninggalkan meja makan.
"Semoga non Kinan akan tumbuh menjadi wanita yang lembut, serta santun," ucap bik Mira disertai menghela nafas kasar seraya mendongak sebentar ke lantai dua dimana teriak Cleo masih terdengar nyaring dan disusul barang-barang berjatuhan.
***
"Beb.." Kinan menoleh begitu keluar dari pagar, dan seketika tersenyum merekah saat tahu siapa yang sudah menunggunya. Tanpa membuang waktu ia pun segera berlari mendekat.
"Sesuai aplikasi ya kak," gurau Kinan yang dibalas decakan oleh Roy yang duduk di atas motornya. Tapi tak urung pemuda itu langsung turun dan memakaikan helm ke kepala Kinan.
"Jangan lupa pakai helm ya dek, biar gak ditilang pak pol nanti di jalan," jawab Roy sebelum akhirnya mereka tergelak bersama.
"Udah gak ngambek lagi kan?" Tanya Roy mengingat kemarin gadis di hadapannya itu memilih pergi tanpa mau diantar seperti biasa.
"Sebenarnya masih sih, tapi berhubung kak ojolnya ganteng terus jemput tepat waktu, jadi ada keringanan sedikitlah," jawab Kinan sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Maaf ya.. Kemarin gue terlalu sibuk ngurusin anak-anak sampai gak peduliin lu. Sebagai gantinya bagaimana kalau hari ini gue seharian jadi kang ojek lu, hm?"
Kinan terlihat menimanang sesaat sebelum akhirnya mengangguk semangat.
"Kalau tawarannya semenggiurkan ini, mana mungkin ditolak sih. Jelas yes dong," seloroh Kinan yang di balas colekan di ujung hidungnya yang mancung ke depan.
"Udah yuk berangkat, nanti lu disuruh manjat panggar lagi loh."
"Gue juga heran banget tuh sama satpam ganteng, ngefans banget dia sama gue."
"Bukan ngefans dedek, tapi jengah karena lu sering datang di menit-menit terakhir sebelum bel."
"Ya bagaimana lagi, mimpi indah gue terlalu sayang untuk ditinggalkan," kelakar Kinan yang kesulitan menaiki motor gede Roy.
"Lu mah pinter banget ngelesnya, kaya bajaj." Kinan hanya terbahak disaat kaki pendeknya masih kesulitan untuk melangkahkan kaki menggapai jok belakang.
"Besok tolong siapin tangga Roy, biar gue gak serepot ini mau naik."
"Iya dedek, sini kakak bantu." Dengan sekali hentakan Roy sudah mendudukan Kinan di jok belakang. Setelah memastikan Kinan duduk nyaman, gantian dirinya melangkahkan kaki panjangnya dengan mudah.
"Orang panjang kaki mah gitu, naik motor setinggi ini gampang banget. Apa kabar gue yang masih masa pertumbuhan ini," gumam Kinan.
"Hmm.. lu ngomong sesuatu?" Roy yang sudah duduk menoleh kebelakang karena merasa Kinan mengatakan sesuatu padanya.
"Gak ada, udah jalan, entar gue telat loh."
"Let's go.. Pegangan ya," teriak Roy sebelum menutup helmnya.
Motor Roy membelah jalanan yang cukup padat pagi itu, Kinan yang hanya sebatas bahunya merangkul pinggang Roy dan menyandarkan kepala di bahu pria itu.
Mungkinkah hubungan mereka hanya sebatas sahabat atau kakak adik? Jika dilihat dari gestur keduanya saja, ada rasa kagum yang masing-masing rasakan pada satu sama lain. Roy bukan pemuda yang buruk, bahkan di usianya yang sudah terbilang dewasa, wajah pemuda itu masih setara remaja. Mungkin jika Roy mengenakan seragam sama seperti Kinan, putih abu-abu. Masih banyak orang yang percaya jika pemuda itu juga pelajar. Tapi bukan itu saja nilai plus seorang Roy Wijaya di mata Kinan, sikap dewasa Roy serta kesabarannya sungguh membuat pemikiran polos Kinan menganggap jika pemuda itu layak untuk dijadikan sahabat. Tanpa ia sadari jika tidak pernah ada yang namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Karena bisa saja hal itu melibatkan hati, entah nanti, besok ataupun lusa.
Kinan masih menikmati kenyaman bersandar di bahu lebar Roy, bahkan teriakan sang mommy yang sempat meresahkan tidak lagi tersisa di benaknya. Kini Kinan juga mulai terbiasa tanpa kehadiran daddynya. Sungguh kehadiran Roy mampu mengalihkan kesedihan Kinan, melupakan sejenak polemik keluarganya yang tak berkesudahan.
Apakah itu yang disebut bahagia pasti datang setelah kesedihan, atau seorang pelipur lara akan datang jika sudah waktunya?
Entahlah, otak polos Kinan belum cukup mampu untuk mencapai pemikiran serumit itu. Yang ia tahu, kini hidupnya terasa berarti setelah kehadiran Roy. Pemuda berandal yang tidak sengaja bertemu dengannya saat tengah malam.
See you
jngan terlalu lama update nya thor . jngan sampe ada kecewa tunggu terlalu lama