Seorang pria muda yang meninggal karena kecelakaan, dan kemudian dilahirkan kembali kedunia fantasy. Dia kemudian dirawat dan diberi nama Giz oleh sang pahlawan sihir bernama Welin Vartos. Giz di besarkan dan diajari beberapa macam ilmu sihir. Welin sadar kalau cucunya itu mempunyai kekuatan sihir yang sangat besar. Bahkan kekuatannya melampaui kekuatan yang dimiliki Welin. Setelah Giz menginjak usia 16 tahun, Giz memulai perjalanannya sendiri kekota kerajaan Alsharen untuk masuk ke akademi sihir. Tapi, Welin lupa memberitahu Giz tentang bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anipri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter Twenty Six
Malam harinya tepat juga pertunjukan kembang api di mulai, Giz datang ke sebuah pohon besar untuk bertemu Virly. Setibanya di sana, Virly terlihat sedang berdiri di bawah pohon besar itu sambil memegang pedang yang ternyata pedang itu adalah pedang milik raja iblis ayah Giz dan Virly.
Virly menghampiri Virly, "Ada apa kau memanggilku?" Giz terkejut melihat pedang ayahnya bersama Virly. "Tunggu, itu adalah...." Giz terdiam melihat pedang yang di pedang Virly.
"Itu adalah pedang milik ayah, kakek Welin sudah pernah memberitahuku, sebenarnya apa yang akan Virly lakukan," batin Giz.
Virly berdiri menatap wajah Giz dengan tatapan kosong. "Aku akan membuatmu mati," ucap Virly.
Mendengar perkataan Virly, Giz terkejut. "A-pa yang akan kau lakukan."
Virly langsung menyerang Giz dengan pedang ayahnya itu, Giz hanya bisa berjalan mundur untuk menghindari serangan Virly. "Virly, apa yang kau lakukan. Aku tidak ingin menyerangmu."
Lalu Giz terbang dengan sihirnya, Virly ikut melompat ke atas dan menyerang Giz, "Hentikan, Virly! Kita bisa membicarakan ini secara baik-baik," ucap Giz yang mencoba untuk berbicara dengan Virly, tapi rasa balas dendam Virly cukup besar untuk menyelimuti hatinya.
"Aku akan menghabisimu! Apa gunanya iblis jika mereka hanya bisa membunuh saja!" ucap Virly sambil meneteskan air matanya.
Perkataan Virly membuat Giz berhenti dan terdiam, dan *Srehhhh.....* pedangnya mengenai tubuh Giz. Giz terjatuh dari atas dengan tubuhnya keluar darah.
Melihat Giz yang sudah terjatuh, Virly kembali meneteskan air matanya, "Apa aku berhasil membunuhnya?" Virly turun ke bawah.
Dia terduduk sambil meletakkan pedang itu, Virly menangis. "Giz sudah mati, tapi kenapa hatiku merasa sakit. Saat aku mengayunkan pedangku rasanya tubuhku bergetar ketakutan. Ada apa denganku, seharusnya aku senang karena akhirnya aku berhasil membunuhnya kan," ucap Virly sambil dia terus saja meneteskan air matanya.
Lalu sesuatu bersinar dan datang menghampiri Virly, dan tenyata dia adalah Giz. Giz duduk dan menyentuh kepala Virly, "Karena aku adalah kakakmu, Virly," ucap Giz tersenyum.
Virly terkejut sambil menatap wajah Giz. "Kau masih hidup? Kakak, apa maksudnya," Virly belum mengerti maksud dari perkataan Giz.
Giz mengusap air mata Virly, "Iya, aku adalah kakakmu. Kita adalah kakak beradik kandung, maafkan aku karena tidak memberitahumu. Karena saat ini ada orang yang ingin menghancurkan kita," ucap Giz.
Saat Virly ingin tidak mempercayai perkataan Giz, tiba-tiba saja Virly melihat bayangan ayah dan ibunya berada di dekat Giz. "Virly, dia adalah kakakmu. Kau harus mematuhi apa yang kakakmu katakan ya," ucap Ibunya tersenyum pada Virly dan kemudian menghilang pergi.
"Ayah, ibu," Virly meneteskan air matanya dan langsung memeluk Giz dengan erat.
Giz merasa lega dan senang karena adiknya sudah bersamanya. "Aku tidak akan meninggalkanmu, kita keluarga bukan," ucap Giz sambil mengelus-elus kepala Virly.
"Maafkan aku kakak! Seharusnya aku tidak egois, seharusnya aku melupakan rasa balas dendam ku," ucap Virly menangis.
"Aku mengerti, aku adalah kakakmu. Jadi, kita akan selalu bersama, maafkan aku. Karena aku tidak bersamamu saat kau sendirian kehilangan semuanya," ucap Giz.
"Tapi bagaimana? Apa yang sebenarnya terjadi," ucap Virly yang masih belum mengerti tentang Giz yang merupakan kakak kandungnya.
"Sebaiknya kau belum tahu dulu ya," ucap Giz tersenyum manis pada Virly.
"Terimakasih sudah membuatku sadar akan satu hal," ucap Virly sambil memberikan pedang ayahnya pada Giz.
Giz menerima pedang itu dan menyimpannya dengan sihirnga. "Aku akan menyimpan pedan ayah," ucap Giz.
"Ngomong-ngomong Virly, seharusnya kau tidak menangis di malam yang indah ini," sambung Giz.
"Heh? Apa maksud kakak?" tanya Virly.
Gi berdiri dan mengulurkan tangannya pada Virly. "Ayo, ikut aku," Virly memegang tangan Giz dengan senang.
Giz mengajak Virly ke atas atap gedung akademi, di sana mereka akan bisa melihat pertunjukan kembang api dengan lebih dekat dan jelas lagi. "Jadi ini yang kakak maksud ya," ucap Virly sambil melihat kembang api dengan indahnya meluncur ke atas langit.
"Iya, kau harus menikmatinya bersamaku," ucap Giz sambil merangkul Virly.
"Iya, walau ayah dan ibu tidak ada. Tapi aku masih punya kakak bukan?" ucap Virly tersenyum senang.
"Akhirnya aku berhasil membuat Virly bahagia, sekarang tidak akan ada orang yang akan mencoba untuk memisahkan kami," batin Giz tersenyum sambil melihat kembang api yang terlihat indah itu.
Sementara Mayna yang melihat kembang api dari arah lain, "Aku harap Giz berhasil membuat adiknya berubah," ucap Mayna tersenyum.
Dan sementara Lea dan Rio yang melihat kembang api dari sungai itu yang biasa Lea datangi, "Kenapa kau mengajakku ke tempat ini untuk melihat kembang api sih," ucap Rio.
"Aku hanya ingin melinat pertunjukan kembang api di tempat ini bersamamu," ucap Lea tersenyum melihat Rio.
Wajah Rio memerah saat melihat wajah Lea bersinar sambil tersenyum manis. "Ehmm, i-ya kau benar juga," ucap Rio memalingkan wajahnya dan melihat kembang api yang indah itu.
Erika sensei melihat kembang api dari balik jendela ruangannya, dan Elly, Leyna Chels melihat kembang api dari taman akademi. Mereka semua terlihat sangat senang seperti kedamaian akan datang.
Tapi tidak untuk pria bertopeng itu, pria bertopeng itu berdiri di atas genteng akademi, dia marah melihat rencananya hancur. "Cih, ternyata percuma saja aku menggunakan gadis payah itu untuk menghabisi Giz. Tetap saja aku gagal."
"Aku pasti akan membuat dunia ini hancur lebur, terutama membuat Giz hancur, hahahha!" ucap pria bertopeng itu dan kemudian dia pergi menghilang.
Pria bertopeng itu pergi ke sebuah kastil yang ternyata kastil itu adalah kerjaaan ratu iblis di Lavenia, pria bertopeng itu menghampiri ratu iblis bernama Velyha itu, "Apakah kau ingin tahu di mana pria yang bernama Giz itu?" tanya pria bertopeng sambil berjalan dengan santainya ke tempat singgasana ratu iblis Velyha.
Velyha terkejut karena belum ada manusia ataupun ras apapun selain iblis yang bisa memasuki dunia para iblis, "Siapa kau! Kenapa kau bisa masuk ke Lavenia. Dan kenapa kau tahu kalau aku sedang mencari Giz?" tanya Velyha sambil duduk di singgasananya.
"Yah, aku adalah dewa kehancuran, kau bisa memanggilku dewa kehancuran," ucap Pria bertopeng.
"Cih, dewa kehancuran? Kau pasti bercanda," ucap Velyha tidak percaya.
"Kau percaya atau tidak itu bukanlah urusanku. Aku ke sini hanya untuk memberitahumu di mana Giz berada," ucap pria bertopeng itu.
"Kenapa kau memberitahuku tentang Giz? Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan itu?" tanya Velyha.
"Alasan satu hal yaitu, kita punya tujuan yang sama," lalu setelah pria bertopeng itu memberitahu di mana Giz berada, dia pun pergi menghilang.
"Akhirnya aku menemukanmu, Giz. Aku akan datang menjemputmu, hahaha!" ucap Velyha senang dan dia tidak terlihat mempedulikan maksud dari perkataan pria bertopeng itu.
maaf menganggu