Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Membuat mereka berpisah adalah tujuan utamaku, merebut posisi Lilian juga adalah tujuan utamaku, jadi membantunya mendapatkan tanda tangan bukanlah hal yang mustahil, aku akan dengan senang hati membantu," ucap Tasya yang kemudian membawa dokumen tersebut bersamanya.
Siang itu pukul sepuluh pagi ...
Alen tidak tenang, dia masih merasa bersalah karena sudah melayangkan pukulan ke pipi Lilian, hal ini membuat hati dan pikirannya berkecamuk, ia pun memutuskan untuk pergi ke kamar Lilian untuk menemuinya dan berniat meminta maaf.
Tok ... Tok ... Tok ...
Tiga kali ketukan, Lilian langsung membuka pintu tersebut dan mendapati Alen yang berdiri di hadapannya.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf, apakah pipimu masih sakit?" ucap Alen yang kemudian hendak memegang pipi Lilian.
"Aku sudah baik-baik saja," jawab Lilian menghindar dan juga tanpa ekspresi sedikit pun.
"Itu, bagaimana kalau sekarang kita ke rumah sakit? Bukankah kau selalu mengajakku periksa kesehatan? Sekalian memeriksa luka di sudut bibirmu," ucap Alen berusaha membujuk dan membuat hubungan mereka kembali hangat.
Akan tetapi dia tidak tahu kalau semua itu sia-sia dan waktu bersama Lilian hanya tersisa beberapa jam lagi.
"Aku rasa tidak perlu," ucap Lilian singkat.
"Tidak, bukankah kau selalu berharap aku mau periksa kesehatan? Ayo sekarang kita pergi," ucap Alen lagi, ia terlihat sangat memaksa.
Awalnya Lilian kembali ingin menolak, tapi seperti yang dia harapkan selama ini, dia selalu penasaran dengan siapa yang sebenarnya bermasalah di antara mereka berdua, dirinya yang sudah berkali-kali melakukan pemeriksaan terbukti tidak punya masalah kesehatan, sedangkan Alen ...
"Mungkin ini kesempatan terakhirku untuk mengungkap siapa yang sebenarnya mandul di antara aku dan Mas Alen," batin Lilian.
"Baik, aku siap-siap dulu," jawab Lilian akhirnya setuju, namun seperti biasa dia memutuskan untuk tidak mengizinkan Alen masuk ke dalam kamar kosong itu dan membiarkannya menunggu di luar.
Dalam waktu tiga puluh menit, mereka pun akhirnya tiba di rumah sakit yang notabenenya memang tidak terlalu jauh dari rumah Alen.
Mereka menemui dokter yang biasanya memeriksa Lilian dan melakukan pemeriksaan secara keseluruhan.
"Hasilnya akan keluar dalam setengah jam lagi, silakan ditunggu," ucap sang dokter.
"Baik Dok," jawab Lilian.
"Kenapa Lilian beberapa hari ini tampak sangat dingin dan acuh, dia seratus persen berbeda dari sebelumnya, biasanya dia selalu menempel padaku dan banyak bicara, apakah dia masih belum bisa menerima kehadiran Tasya?" batin Alen yang menyadari perubahan besar di diri Lilian.
Sementara itu di rumah.
"Bibi, di mana Mas Alen?" tanya Tasya yang sudah memeriksa setiap ruangan di rumah tersebut tapi tidak menemukan keberadaan Alen.
"Kau tidak tahu? Dia membawa Lilian ke rumah sakit," jawab Bu Sinta sambil sibuk memainkan ponselnya.
"Apa? Kenapa?" tanya Tasya sedikit kaget sekaligus kesal dan cemburu.
"Bukankah dia tidak sengaja menampar Lilian? Ya dia membawa Lilian untuk memeriksa luka di sudut bibirnya," ucap Sinta lagi yang tidak terlalu tahu tentang keseluruhan dari tujuan mereka ke rumah sakit itu.
"O-oh," jawab Tasya sambil menahan sebal di hatinya.
Dia pun memilih untuk kembali ke kamar dan memikirkan cara agar Alen segera kembali.
"Lilian, wanita sialan itu benar-benar tidak bisa dipercaya, bukankah dia sudah sepakat untuk meninggalkan keluarga Bayron dan bercerai dengan Mas Alen? Sekarang kenapa dia malah menarik perhatian Mas Alen seperti itu, menyebalkan, aku harus mencari cara, dia tidak boleh menyita perhatiannya, semua perhatian hanya boleh tertuju padaku saja," katanya sambil mondar-mandir di dalam kamar memikirkan cara.
Entah cara apa yang kali ini akan dijalankan oleh Tasya untuk menarik perhatian Alen dari Lilian. "Aku tahu caranya," ucap Tasya tersenyum miring.
Ia berjalan menghampiri nakas yang ada di ujung ranjangnya, di atas nakas terdapat semangkuk buah-buahan segar dan sebilah pisau sebagai alat pengupas. Senyum Tasya kembali merekah setelah tangannya menggenggam ulu dari pisau tersebut ia berjalan ke kamar mandi dan segera menutup pintu kamar mandi tersebut.
20 menit kemudian ...
Di rumah sakit ...
"Minggir! Minggir segera selamatkan dia, aku mohon dia sedang hamil," ucap Sinta bergegas mengikuti dokter yang saat itu sedang menarik brankar di mana Tasya terbaring di atasnya.
Kebetulan pada saat itu mereka melewati ruang pemeriksaan di mana di depannya, Alen dan Lilian sedang duduk menunggu hasil tes kesehatan yang akan keluar dalam sepuluh menit lagi.
"Ibu," ucap Alen terkejut dan segera berdiri dari duduknya.
Lilian yang menyadari wanita hamil yang dibawa dokter melewati mereka barusan adalah Tasya ikut berdiri.
"Alen syukurlah kau di sini, ayo cepat suruh dokter untuk menyelamatkan Tasya," ucap Sinta sang ibu, ia tampak sangat panik.
"Tenanglah Bu, apa yang terjadi? Ada apa dengan Tasya?" tanya Alen kebingungan sambil menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Ibu tidak tahu, tadinya dia mencarimu, Ibu bilang kau di rumah sakit bersama Lilian dan dia tampak sedih, lalu dia pergi ke kamar dan tidak lama kemudian Ibu yang ingin mengajaknya untuk makan siang menemukan dia di dalam bak mandi, di kamar mandi dengan tangan berlumuran darah, dia sepertinya berniat mengakhiri hidupnya," ucap Bu Sinta sambil memegang tangan Alen.
"Astaga, bagaimana bisa Tasya berpikir singkat seperti ini," ucap Alen.
"Semua ini pasti karena ulahmu, benar kan Lilian? Kau sengaja membuat Tasya cemburu dan akhirnya dia bunuh diri," ucap Sinta sambil menuding Lilian yang sedari tadi hanya diam dan menjadi pendengar.
"Membuatnya cemburu? Memangnya aku mengambil suaminya? Apa tidak sedikit terbalik?" jawab Lilian dengan senyum tipis.
"Sudahlah, Lilian kau sebaiknya diam saja, jangan melawan Ibu, dia sedang panik dan khawatir, Ibu selama ini selalu menginginkan seorang cucu, jadi wajar Ibu khawatir akan keadaan Tasya," ucap Alen yang tidak pernah memihak Lilian.
"Sudah, jangan pedulikan dia lagi, kau harus ikut Ibu untuk mengurus Tasya," ucap Sinta yang kemudian hendak menarik pergi Alen dari sana.
"Lilian kau tunggu hasil tesnya, aku akan mengurus Tasya dulu, nanti aku akan kembali," ucap Alen yang kemudian berlalu pergi dari hadapan sang istri bersama ibunya.
"Benar-benar sandiwara yang memukau," lirih Lilian.
"Lilian," panggil dokter yang saat ini menghampiri Lilian sambil membawa dua lembar kertas, di mana itu adalah hasil tes kesehatan Alen dan Lilian.
"Dokter, apakah hasilnya sudah keluar?" tanya Lilian.
"Ya, ini, kau bisa membacanya dengan teliti," ucap sang dokter sambil menyerahkan kertas tersebut.
Lilian menerimanya, pertama-tama dia membuka hasil tes untuk dirinya sendiri terlebih dahulu, hatinya lega menyadari kalau dirinya lolos dari kata mandul.
Bersambung....
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍