Pada 2 dimensi waktu yang berbeda, 2 gadis sedang terpana pd takdirnya masing masing. Serasa mimpi yang melintasi waktu, apa yang mereka alami seperti siklus kejadian yang sama untuk dilakoni.
Menjalani takdir cinta untuk kebaikan keluarga.
Melepas keinginan hati untuk mencintai belahan jiwa.
Tapi memgapa rasa takdir itu semakin menunjukkan keserakahannya.
Apakah 1 belahan hati tidak memuaskanmu, wahai takdirku ?
Tidakkah kamu tau, jika rasa yang terlalu banyak akan menghancurkan jiwaku ?
Membusuk oleh beratnya amarah dendamku.
Aku tak tau.
dan biarkanlah aku menjadi diriku.
Drupadi dan Drew Araceli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AntiSmg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIA YANG KEMBALI
Setelah terbebas dari ikatan, segera ditariknya tangan Drew ke kamar tamu dan mengunci pintunya dari dalam .
" Mas Juna mau ngapain ? "
" Aku mau menagih ciuman untukku ! "
Ah ada yang sedang merajuk rupanya. - batin Drew tertawa keras.
" Kemari ! Berapa banyak mereka mencium mu ? "
" masing masing 5..Jadi 15 " jawab Drew asal menghitung. Karena sepertinya lebih.
Rasanya angka yang aku sebutkan akan berlipat ganda - Batin Drew menebak.
" Cium aku 5 kali lipat. Bukan di pipi tapi di tempat yang aku tunjuk ! " Kata Juna masih kesal.
" Pilih.. aku yang mencium mu atau kamu yang menciumku, Drew ? ".
Drew tidak menjawab, tapi segera duduk menghadap Arjuna dan mencium di setiap tempat yang ditunjuknya.
Awalnya Drew mencium Juna asal asalan. Ciuman ringan seperti jika dia cipika cipiki dengan teman temannya.
Kecupan tipis asal menyentuh kulit.
Namun setelah melewati hitungan ke 20, Juna mulai merasakan perubahan intensitas ciuman mereka saat bibir Drew mengecup kulitnya. Lebih lama, lebih basah dan merangsang.
Awalnya, perubahan itu terjadi secara halus tidak kentara. Namun untuk seorang Arjuna, yang periode menjomblonya bisa dihitung dengan 1 tangan, hal itu mudah disadarinya.
Tatapan mata Drew menjadi lebih berani, gerakan tubuh dan tangan nya bahkan agresif menyentuh bagian bagian sensitif Juna.
Dan saat ini Drew semakin liar dengan apa yang diperbuatnya.
Ada yang salah dan aku tau ini bukan kamu Drew - Juna membatin.
Rasa penasaran mendorong Juna mengimbangi yang Drew lakukan dan dia memutuskan berakting agresif dalam permainan mereka.
Tanpa Drew sadari, Juna mengarahkan tubuhnya supaya bisa meraih HP yang ada di atas meja nakas. Beberapa kali agak terhalang tubuh Drew tapi ahkirnya jari Juna bisa menekan panggilan darurat ke Yudhis.
YUDHISTIRA
Dengan hati bertanya tanya, aku angkat telepon Arjuna. Tapi saat menyadari Juna menghubungiku dengan panggilan darurat dan suara suara di seberang sana terasa aneh, aku tau ada yang salah pada dirinya.
" Ma..Arjuna..! " kataku pada Mama sebelum berlari keluar kamar.
" Dimana Arjuna ? " tanyaku pada Bima, Nakula dan Sadewa yang masih duduk di sofa besar.
" Di kamar Drew ," kata Nakula sambil tersenyum dan menunjuk ke kamar tamu.
" Bim..dobrak pintu ini ! " perintahku pelan.
" Ada apa mas ? " sahut Bima dengan wajah bingung.
" Juna dalam bahaya. Lakukan saja ! " kataku dengan wajah tegang.
Bima segera mengambil ancang ancang, dan pintu kamar tamu terbuka dalam 1 kali dobrakannya.
Begitu berada di dalam kamar, pemandangan yang kami temukan membuat merinding oleh rasa kaget yang teramat sangat.
Pakaian Arjuna sudah berantakan dan Drew duduk liar di atas pangkuan Arjuna dengan posisi mendominasi.
Dia membalikkan badan dan matanya memandang ke arah kami dengan tatapan marah. Rasanya dia terkejut dengan kedatangan kami yang tiba tiba.
Arjuna segera memeluk Drew dari belakang dan mengunci tubuh gadis itu supaya tidak bisa bergerak.
" Drew tidak sadar. Itu bukan dia. Cepat ikat Mas ! " teriak Arjuna.
Sadewa segera berlari keluar dan mengambil tali yang tadi digunakan untuk mengikat Arjuna di permainan mereka sebelumnya.
Bima meraih sebuah kursi dan Juna mendudukan tubuh Drew serta mengikatnya walau dia terus meronta.
Mata Drew melotot marah atas tindakan kami. Tatapan asing yang sangat berbeda dengan mata yang bercakap cakap denganku beberapa waktu lalu.
Dan dia menatap Juna dengan wajah marah, sangat murka tepatnya.
" Pangeran, benarkah kamu yang memanggil mereka dengan benda kecil itu ? " katanya seraya menengok ke arah HP Juna.
Juna terkesiap dipanggil dengan sebutan pangeran.
" Mas, saat menjadi agresif, dia terus memanggilku dengan sebutan pangeran.
Apa Drew kerasukan roh dari masa lalu ? "
tanyanya bingung.
" Badanku sampai merinding setiap kali dia menyebutku dengan pangeran Daneswara " kali ini Juna mengatakan nya pada Mama yang sedari tadi mengamati dari pojok.
Kemudian Mama mendekati Drew yang masih meronta berusaha membebaskan diri.
Berdiri di depan Drew dan menatap tajam mata gadis itu beberapa saat. Namun di menit berikutnya mama menampar keras pipi Drew.
Plaaak.
Drew kaget tapi tatapan liarnya memudar dan hilang setelah menatap Mama dalam marahnya.
Dan semenit kemudian gadis itu pingsan.
Setelah memastikan, Arjuna segera melepas ikatan di tubuh Drew dan mengangkatnya ke atas tempat tidur.
Menyelimuti dan meraih tangannya untuk melihat bekas ikatan tali yang membekas merah namun tidak sampai melukai pergelangan tangannya.
Nakula benar benar terkejut melihat kejadian itu namun hanya bisa berpandangan dengan Sadewa tanpa berbicara sepatah kata.
Dan setelah rasa terkejutku hilang, kugamit lengan Mama keluar kamar.
" Bim. Tolong kamu yang menjaga Drew. Mama harus bicara dengan Arjuna sebentar. " kata Mama membuyarkan lamunan kami.
" Pergilah Jun, " kata Bima sambil memegang pundak Arjuna.
" Thanks Mas. Aku keluar dulu. Pintu kubiarkan terbuka supaya kami bisa membantu jika mas Bima kenapa napa ".
Di atas ranjang, Drew masih memejamkan mata dalam pingsan nya. Bekas tamparan Mama masih membekas merah. Tapi selebihnya tidak ada hal yang mengkhawatirkan.
Nakula menemani Bima duduk di kursi lain yang ada di kamar itu. Dan Sadewa mengikuti kami keluar kamar.
" Jun, ceritakan kronologi kejadian sebelum kami masuk. " kata Mama pelan pada Arjuna.
Dan mengesampingkan rasa sungkan dan malunya, Juna bercerita hal hal yang terjadi setelah Drew berbincang bincang denganku di taman.
Setelah diam sejenak,
" Kita tahu jika ada hal lain dalam diri Drew. Sebagai orang medis, diagnosa Mama sementara ini adalah dissociative identity disorder alias kepribadian ganda. Tapi untuk memastikannya, besok Mama akan menghubungi Om Abhi , Psikiater sahabat Mama, supaya kita bisa konsultasi tentang kondisi Drew." kata Mama pelan tapi membuat Arjuna menahan nafasnya dengan berat.
" Tapi ada hal lain yang Mama pikirkan setelah membaca jurnal papa kalian. " kata Mama sambil menyandarkan punggungnya.
" Leluhurnya papa pernah membuat perjanjian dengan roh di masa lampau yang mengharuskan jika keturunan nya ada yang memiliki anak pandawa seperti kalian, maka mereka berlima harus mengawini seorang gadis yang akan menjadi wadah penitisan roh tersebut. "
Dan kami langsung tercekat oleh pemikiran kami masing masing.
" Mama sendiri tidak tahu apa yang membuat leluhur papa melakukan perjanjian tersebut. Tapi mengingat jaman dahulu kita mengalami perang dan situasinya mungkin sangat sulit dan dengan berbagai masalah kompleks lain yang mungkin mendorong leluhur papa melakukan jalan pintas tsb. "
" Mengapa harus Drew Ma ? " tanya Juna.
" Mama juga belum tahu pasti Jun, karena belum sempat bicara dengannya. Rencana Mama sebenarnya besok pagi setelah sarapan. Mama juga ingin tahu apakah ada hal hal khusus yang membuatnya terpilih oleh sosok itu.." jawab Mama belum memuaskan pertanyaan kami.
" Dan kamu Jun. Sepertinya kamu menjadi figur yang membuat sosok itu bangun atau datang. Karena bukankah Drew bilang padamu jika seumur umur belum pernah pingsan. Mama yakin Drew akan pingsan setiap kali sosok itu datang menguasai dirinya. Dan itu terjadi saat ada kamu atau memang karenamu. " lanjut Mama lagi yang membuat kami semakin shock.
" Trus apa yang harus aku lakukan Ma. Perlukah menghubungi Eyang Wisnu ? " kata Juna dengan wajah kusut.
" Mama juga berencana menjemput Eyang kemari, setelah om Abhi memastikan tidak ada gejala dissociative identity disorder dalam diri Drew ".
" Bagaimana menurutmu Mas.." tanya Sadewa padaku.
" Entah penyebabnya adalah gangguan kejiwaan ataukah kerasukan roh, kedua duanya menjadi masalah besar buat Drew. Dan kita tidak bisa membiarkannya menanggung beban itu sendirian. Karena yang dialaminya disebabkan oleh Juna. Karena keluarga kita. " kataku perlahan.