Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
After Party
Pesta resepsi megah di Grand Ballroom Hotel yang dihadiri lebih dari dua ribu tamu undangan akhirnya usai menjelang tengah malam. Setelah melalui prosesi bersalaman yang melelahkan, gaun pengantin berat, dan senyuman tanpa henti, Nayla merasa seluruh tulangnya seperti lolos dari persendian.
Narendra membawa istrinya kembali ke penthouse mereka. Begitu pintu kayu berkunci digital itu tertutup rapat dan terkunci otomatis, keheningan seketika menyelimuti seluruh ruangan.
Nayla langsung menyandarkan punggungnya di pintu, memejamkan mata sambil menghembuskan napas panjang. "Akhirnya... selesai juga. Aku gak pernah tahu berdiri menyapa ribuan orang bisa lebih melelahkan daripada jaga shift malam di ruang ICU."
Suara langkah kaki tegap mendekat. Narendra berdiri tepat di depan Nayla, mengikis sisa jarak di antara mereka. Pria itu sudah melepaskan jas nya, kini hanya mengenakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan perpotongan leher tegap dan dada bidangnya.
Narendra mengulurkan tangan, jemari panjangnya bergerak lembut mengurai tatanan rambut Nayla yang masih disanggul anggun, membiarkan helai demi helai rambut hitam halus itu jatuh terurai menutupi bahunya.
"Lelah, hm?" suara bariton Narendra terdengar sangat rendah, serak, dan hangat di telinga Nayla.
Nayla membuka matanya, menatap mata elang Narendra yang kini berkilat pekat oleh emosi mendalam—sebuah pandangan kepemilikan yang membuat napas Nayla mendadak tertahan.
"Dikit... tapi aku bahagia banget, Naren," bisik Nayla jujur.
Narendra mengumbar senyum tipis yang amat memikat. Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Tanpa peringatan, lengan tegapnya melingkar di bawah lutut dan punggung Nayla, mengangkat tubuh mungil istrinya ke dalam gendongannya dengan sangat mudah.
"Naren!" pekik Nayla kaget, refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Narendra.
"Ke kamar mandi dulu, atau langsung ke tempat tidur?" goda Narendra rendah, menatap bibir manis Nayla dari jarak beberapa sentimeter.
Pipi Nayla mendadak memerah hebat. "Mandi dulu! Aku mau membersihkan riasan ini..."
Narendra terkekeh pelan—suara rendah yang bergetar di dadanya. Ia membawa Nayla ke dalam kamar mandi utama berukuran luas yang sudah harum oleh aroma essential oil lavender dan lilin aromaterapi. Dengan ketelatenan luar biasa, Narendra membantu melepaskan perhiasan Nayla satu per satu, menyapukan jemarinya di kulit leher halus istrinya hingga membuat bulu kuduk Nayla meremang.
---
Satu jam kemudian.
Pintu kamar tidur utama terbuka pelan. Nayla melangkah keluar dari ruang rias memakai gaun tidur piyama sutra tipis berwarna putih tulang yang membungkus indah lekuk tubuhnya. Hair dryer telah mengeringkan rambut panjangnya yang harum.
Di atas tempat tidur king-size berseprai sutra abu-abu gelap, Narendra sudah menunggu. Pria itu bersandar di kepala ranjang, bertelanjang dada dengan celana panjang santai. Otot-otot dada dan perutnya yang terbentuk sempurna terpapar jelas di bawah pendar lampu tidur yang temaram.
Mata elang Narendra menyapu presensi Nayla dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya begitu intens, panas, dan sarat akan gairah tersembunyi yang tak lagi disembunyikan.
"Sini, Sayang," panggil Narendra, suaranya berat dan dalam, mengulurkan tangan kekarnya ke udara.
Jantung Nayla berdebar kencang. Dengan langkah perlahan, ia mendekati sisi tempat tidur, menyambut uluran tangan suaminya. Begitu jemari mereka bertaut, Narendra menarik pelan tangan Nayla hingga wanita itu jatuh berbaring di atas dada bidangnya.
Kehangatan kulit Narendra langsung merayap ke seluruh indra Nayla. Keheningan kamar terasa begitu pekat, hanya diisi oleh suara deru napas mereka yang saling berpadu.
Narendra menangkup pipi hangat Nayla, menatap lurus ke dalam manik mata bening istrinya. "Kamu sangat cantik malam ini, Sayang. Sangat cantik sampai-sampai aku merasa tidak nyata kalau kamu sudah resmi milik aku."
"Aku nyata, Naren..." bisik Nayla lembut, mengusap rahang tegas suaminya yang sedikit kasar oleh sisa jambang tipis. "Aku milik kamu sekarang. Seutuhnya."
Kata-kata itu membakar sisa pertahanan Narendra.
Narendra memutar posisi tubuh mereka secara perlahan, mengungkung tubuh mungil Nayla di bawahnya tanpa menimpakan berat badannya. Sepasang mata elangnya membakar wajah Nayla. Pria itu menundukkan kepala, mengikis habis sisa jarak dan mendaratkan bibirnya di atas bibir manis Nayla.
Ciuman itu tidak lagi ciuman lembut singkat seperti biasanya. Ciuman Narendra kini berubah menjadi sangat dalam, hangat, dan menuntut. Bibirnya memagut bibir Nayla dengan keahlian luar biasa, menyapukan gairah yang begitu pekat dan intens. Nayla memejamkan mata, mendesah pelan di dalam pertautan bibir mereka, mengalungkan kedua tangannya di leher tegap Narendra dan membalas ciuman suaminya dengan seluruh kepasrahan.
Tangan kekar Narendra bergerak perlahan dari pipi Nayla, menyusuri leher jenjangnya, lalu turun menyapu pinggang dan punggung Nayla. Setiap sentuhan jemarinya mengirimkan gelombang getaran panas yang membakar kulit Nayla, membuat wanita itu meremang dan memeluk Narendra lebih erat.
Narendra mengurai ciumannya sejenak, menempelkan dahi mereka. Napasnya memburu cepat, hangat menyapu bibir Nayla yang kini sedikit bengkak dan memerah manis.
"Nayla... kalau aku terlalu melangkah jauh malam ini, beri tahu aku," bisik Narendra serak, menyalurkan kelembutan mutlak di tengah gairahnya yang membara.
Nayla mendongak sedikit, menatap mata Narendra yang dipenuhi rasa cinta abadi. Nayla menyunggingkan senyum paling indah, jemari mungilnya menyelinap di antara helai rambut hitam Narendra, lalu menarik kepala suaminya mendekat.
"Jangan berhenti, Naren," bisik Nayla manis di depan bibir Narendra.
Narendra menghembuskan napas berat, senyuman puas terukir di bibirnya. Pria itu kembali mendaratkan ciuman panasnya di bibir Nayla, menyusuri leher halus istrinya dengan kecupan-kecupan dalam yang menandai setiap jengkal kulit Nayla sebagai miliknya.
Tangan Narendra perlahan melepas tali piyama sutra di bahu Nayla, menyibakkan kain lembut itu saat kehangatan malam sepenuhnya menyelimuti kedua insan yang telah resmi menyatu dalam ikatan suci pernikahan.