Kehidupanku berakhir saat ditikam tunangan dan adik tiriku sendiri.
Tapi saat aku membuka mata, aku ber Reinkarnasi menjadi Ratu es putri yang dibuang keluarga kerajaan karena "tidak punya kekuatan".
Apes? Enggak. Karena aku membawa [Sistem Es Dewa].
Misi: Selamat, Balas Dendam, dan Jadi Ratu!
Keluarga yang mengusirku? Tunggu saat aku membekukan kerajaan kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBANGKITAN KEKAISARAN ES DEWA DAN KEGEMPARAN BENUA
Salju abadi kini turun dengan tenang menutupi sisa-sisa pertempuran di Ibukota Silversnow. Kota yang dulunya bising dengan hiruk-pikuk manusia itu kini berubah menjadi kota kristal yang sunyi namun megah. Di tengah halaman istana, patung es Pangeran Julian berdiri sebagai monumen abadi atas sebuah pengkhianatan, sementara Raja Alistair yang sekarat dan Alicia yang telah kehilangan akal sehatnya dikurung di dalam penjara bawah tanah yang membeku.
Elena von Silversnow berdiri di balkon tertinggi istana utama. Gaun putihnya kini telah berganti dengan jubah kebesaran berwarna biru keperakan yang ditenun dari serat es murni, lengkap dengan mahkota kristal es dewa yang melayang anggun di atas rambut perak panjangnya.
Di hadapannya, layar virtual sistem menyala dengan warna emas yang megah, menandakan pencapaian tertinggi yang pernah dia raih.
[Sistem: Memulai Proses Peningkatan Wilayah ke Fase Akhir...]
[Mengonsumsi 80.000 Poin Sistem. Sisa Poin: 23.500 Poin.]
[Mengonversi Kerajaan Silversnow menjadi Kekaisaran Es Dewa (Fase Makro).]
[Struktur Kota Direnovasi... Menara Pertahanan Es Dewa Dibangun... Inti Mana Kota Ditingkatkan menjadi Tingkat Dewa Kuno.]
GUMURUUUHHH!
Suara getaran yang mendalam dan berwibawa mengguncang seluruh area ibukota. Dari balik dinding benteng kota yang hancur, dinding baru yang terbuat dari es berlian hitam tumbuh menjulang hingga setinggi lima puluh meter. Di setiap sudut kota, menara-menara pengawas es futuristik magis berdiri tegak, memancarkan garis-garis mana biru yang saling terhubung membentuk formasi pelindung baru. Domain Abadi Dewa Es.
Rakyat ibukota yang mengintip dari balik jendela rumah mereka terbelalak tidak percaya. Rumah-rumah mereka yang terbuat dari kayu dan batu biasa kini dilapisi oleh sihir es yang membuat struktur bangunan menjadi sepuluh kali lebih kokoh dan hangat di dalam, meskipun suhu di luar berada di bawah titik beku.
Ketakutan mereka perlahan-lahan berubah menjadi kekaguman dan ketakutan yang suci.
"Proses yang luar biasa," Frost bergumam, wujudnya yang kini setinggi sepuluh meter melayang di samping balkon, matanya yang vertikal menatap perubahan kota dengan puas.
"Kau telah mengubah sarang serangga ini menjadi wilayah suci kita, Elena."
Elena tersenyum dingin, meraba sandaran balkon yang telah membeku. "Ini baru pondasi awal, Frost. Kerajaan Silversnow hanyalah sekumpulan kecil manusia di sudut benua ini. Kekaisaran Suci dan kerajaan-kerajaan besar lainnya pasti tidak akan tinggal diam setelah mendengar berita ini."
[Sistem: Renovasi Wilayah Selesai.]
[Fasilitas Baru Ditambahkan: Altar Kebangkitan Jiwa Es (Dapat mengubah prajurit yang setia menjadi prajurit es abadi setelah kematian).]
[Selamat! Fisik Es Dewa Anda telah mencapai 70%. Anda memperoleh kemampuan pasif baru: Immortal Ice Heart (Kekebalan mutlak terhadap semua sihir elemen api, racun, dan kutukan di bawah tingkat Dewa).]
Elena merasakan detak jantungnya sendiri melambat, berdegup dengan ritme yang begitu tenang namun memancarkan kekuatan mana yang luar biasa padat. Sisa-sisa emosi manusiawi seperti keraguan dan rasa kasihan telah sepenuhnya terkikis dari dalam dirinya. Kini, dia adalah perwujutan dari es itu sendiri dingin, mutlak, dan tidak tergoyahkan.
----------
Sementara itu, di wilayah barat benua, tepatnya di Kota Suci Luminaria yang merupakan ibukota Kekaisaran Suci.
Di dalam Katedral Agung yang megah dan dipenuhi cahaya keemasan, suasana mendadak menjadi sedingin es ketika pintu aula pertemuan dihantam terbuka. Komandan Galahad, dengan kondisi tubuh yang mengenaskan tanpa kaki kiri dan hanya bisa merangkak menggunakan satu tangan, memasuki ruangan sambil menangis histeris. Di hadapannya, dia mendorong kotak es berisi kepala Uskup Agung Malakai.
"P-Paus Agung... Yang Mulia..." Galahad merintih, suaranya menggema di bawah atap katedral yang tinggi. "Pasukan Salib... musnah... Uskup Agung Malakai... tewas..."
Di atas altar suci, seorang pria tua mengenakan jubah putih bersulam benang emas dengan mahkota kepausan bertingkat tiga berbalik perlahan. Dia adalah Paus Benediktus, salah satu dari tiga Penyihir Agung Lingkaran 8 di seluruh benua. Di sampingnya berdiri lima Ksatria Suci Bintang Sembilan yang memancarkan aura tekanan fisik yang luar biasa.
Paus Benediktus melangkah turun, menatap kepala Malakai yang membeku di dalam kotak es dengan mata yang menyipit tajam. "Siapa... siapa yang berani melakukan penistaan ini terhadap Kekaisaran Suci?"
"Elena... Elena von Silversnow..." Galahad bergetar, air matanya membeku di pipi. "Dia bukan lagi manusia... Dia menggunakan sihir es yang mampu membekukan cahaya suci kita... Dia telah merebut Kerajaan Silversnow dan mendeklarasikan Kekaisaran Es Dewa..."
Mendengar laporan itu, seluruh kardinal dan ksatria tinggi di dalam katedral tertegun. Sebuah kerajaan kecil di perbatasan utara runtuh hanya dalam waktu singkat oleh seorang gadis yang dulunya dikenal sebagai sampah tak berbakat?
"Lingkaran 7? Tidak, sihir yang bisa membekukan Aegis of Light dan membunuh Malakai setidaknya harus berada di puncak Lingkaran 7 atau awal Lingkaran 8," gumam salah satu Ksatria Bintang Sembilan yang bernama Sir Leon. Dia melangkah maju, memegang gagang pedang sucinya. "Yang Mulia Paus, ini bukan lagi sekadar pemberontakan internal sebuah kerajaan. Ini adalah ancaman ajaran sesat yang nyata bagi seluruh benua. Kita harus menyatakan Perang Suci."
Paus Benediktus terdiam sejenak, wajahnya yang keriput tampak sangat muram. "Silversnow telah jatuh, yang berarti tambang kristal mana di perbatasan kini berada di tangan penyihir sesat itu. Kita tidak bisa membiarkan kekuatan esnya menyebar lebih jauh ke selatan."
Paus mengangkat tongkat kepausannya, dan sebuah cahaya emas yang menyilaukan meledak dari ujungnya, memancarkan perintah magis ke seluruh penjuru benua.
"Kirim dekrit ke seluruh kerajaan sekutu," perintah Paus Benediktus dengan suara yang berwibawa dan penuh amarah. "Nyatakan Elena von Silversnow sebagai Musuh Benua. Bentuk Aliansi Tiga Kerajaan Besar. Kumpulkan seratus ribu pasukan, sepuluh Penyihir Agung Lingkaran 7, dan pimpin langsung oleh tiga Ksatria Bintang Sembilan. Kita akan meratakan hutan terlarang itu dan memurnikan jiwanya di atas api suci!"
-------------
Kembali ke Kekaisaran Es Dewa yang baru terbentuk, Elena sedang duduk di atas singgasananya ketika layar sistem tiba-tiba berkedip merah dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya.
[Sistem: Peringatan Darurat Global Terdeteksi.]
[Kekaisaran Suci telah mendeklarasikan Anda sebagai Musuh Benua.]
[Aliansi Tiga Kerajaan Besar sedang dibentuk: 100.000 Pasukan, 10 Penyihir Agung Lingkaran 7, dan 3 Pendekar Pedang Lingkaran 8 (Ksatria Bintang Sembilan) sedang dimobilisasi.]
[Misi Utama Baru Diaktifkan: Pertahankan Kekaisaran Es Dewa dari Invasi Aliansi Benua. Hadiah: Terobosan menuju Penyihir Agung Lingkaran 8 dan Pembukaan Kunci Fisik Es Dewa hingga 80%.]
Elena membaca barisan teks virtual itu dengan saksama. Alih-alih takut atau panik, sudut bibirnya justru terangkat, membentuk sebuah senyuman penuh gairah bertarung yang tiran.
"Seratus ribu pasukan dan tiga orang di Lingkaran 8," Elena berdiri dari singgasananya, jubah esnya berkibar anggun. "Bagus sekali. Panggung yang mereka siapkan cukup besar untuk pemakaman seluruh benua ini."
Frost mendaratkan kepalanya di dekat balkon singgasananya, mengeluarkan tawa rendah yang menggetarkan pilar istana. "Apakah kita akan menyambut mereka di perbatasan, Elena?"
"Tidak," Elena menatap ke arah luar, di mana pasukannya yang kini telah diperkuat oleh peningkatan sistem berdiri berbaris rapi di halaman istana yang megah. "Biarkan mereka datang membawa seluruh pasukan terbaik mereka. Ketika mereka mengira mereka membawa cahaya kemenangan, aku akan menunjukkan kepada mereka bagaimana rasanya saat dunia ini kehabisan matahari."
Elena mengepalkan tangannya, dan di dalam memori sistemnya, sebuah sihir penghancur massal yang baru saja dia beli mulai bersiap untuk dirapal: Glacial Judgment.