NovelToon NovelToon
LOVE And LIFE

LOVE And LIFE

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Komedi / Mafia / Tamat
Popularitas:837.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Min Ziy. Minfiatin FauZiyah

Narendra Putra Aryan. CEO muda yang tampan, berkharisma, genius, dan, dingin.
Bertemu dengan seorang gadis yang cantik, ceria, dan pemberani.

Namanya Syeira, gadis yang berprofesi sebagai wartawan pemburu berita media onlin.

Zico saudara Narendra, tumbuh menjadi si pria pirang yang yang tampan. tabiatnya sedikit buruk jika berurusan dengan wanita. Ia selalu berurusan dengan mereka sebagai partner ranjang.

Hingga takdir mempertemukannya dengan Cellin, gadis berkerudung yang lembut dan penyayang.

Ikuti kisahnya dalam cerita Love and Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Syeira masih bersama di alun-alun kota bersama Bim. Mereka menikmati teh hangat dan camilan yang di jajakan di sana.

"Suami kamu?." Bim bertanya setelah Syeira kembali mengantongi ponselnya kedalam Blazer. Dan Syeira mengangguk sebagai jawaban.

"Aku tidak tahu apa alasan kamu menikah sama dia. Tapi aku tahu kalau kamu dan dia tidak saling mencintai, iya kan.?"

Syeira hanya diam melihat sekelilingnya yang riuh ramai.

"Aku cinta sama kamu, Ra." Bim menyatakan perasaannya. Ia sudah memikirkan itu sebelumnya. Bim tidak lagi bisa menahan sakit karna memendam cinta dengan teman dekatnya, seseorang yang selalu bersamanya setiap hari. Itu sangat menyakitkan.

"Aku tidak peduli dengan jawaban yang akan kau berikan. Aku hanya ingin mengatakannya, rasa itu begitu sakit jika kupendam sendiri."

Bim mengungkapkan isi hatinya dengan penuh ketulusan. Syeira tidak kaget, ia hanya diam tak menanggapi, dari sikap Bim selama ini kepadanya Syeira memang sudah bisa merasakannya.

"Aku sudah menikah dan kau tau itu." Jawab Syeira ringan memalingkan wajah ke sembarang arah.

"Kau pasti akan berpisah dengannya nanti. Jika kau izinkan. Aku akan menunggu mu."

"Jangan. Jangan berharap pada apa pun, yang bahkan kau sudah tahu bagaimana endingnya."

Syeira menghembuskan nafas kasar.

"Aku dan dia memang tidak saling mencintai. Dan mungkin akan berpisah nanti. Tapi ada satu hati yang sudah bersemayam dan selalu ku jaga. Dan itu bukan kamu."

Syeira begitu tegas dan jelas mengatakannya. Bim harus berhenti berharap padanya.

Sebuah mobil sport mewah datang di depan mereka yang duduk di kursi meja pinggir jalan. Menarik perhatian para pengunjung alun-alun yang lainya.

Arend keluar dari mobil dengan tenang. Ia mengenakan kaca mata hitam. Lengkap dengan pakaian kerjanya yang belum ia lepas. Sontak beberapa pengunjung wanita hampir histeris melihatnya. Arend selalu saja sangat tampan.

Syeira bangun, ia berdiri, Arend berjalan ke arahnya. Berhenti di depan Syeira dan Bim yang sudah berdiri.

"Kita pulang."

Hanya itu kata yang Arend ucapakan dengan muka datar dan nada dingin. Para pengunjung wanita semakin terpesona mendengar suara bariton Arend yang berat.

Syeira mengangguk cepat, mengambil tas, lalu segera melangkah menuju mobil. Point nya adalah, jangan membuat dia marah. Sudah. Aman.

Arend pun melangkah meninggalkan Bim yang terlihat menyedihkan berdiri sendirian. Beberapa pengunjung berkasak-kusuk melihat Bim. Banyak yang berpendapat jika kekasihnya meninggalkannya karna kalah rupa dan rupiah. Bahkan beberapa lagi dengan lepas menertawakannya. Bim sakit hati dan lekas pergi.

...****************...

Tidak ada percakapan antara Syeira dan Arend. mereka hanya sama-sama diam. Tiba-tiba Syeira bersin.

"Hatcihh."

Arend menoleh melihatnya.

"Kau sakit.?"

"Tidak, hidungku hanya terasa gatal."

Jawab Syeira sambil sibuk mencari tisu di tasnya. Di dasboard mobil Arend juga tidak ada tisu. Syeira hendak bersin lagi. Arend tiba-tiba mengulurkan tangan memberikan sapu tangannya. Syeira cepat menerima. Setelah selesai mengelap hidungnya. Syeira hendak mengembalikan sapu tangan Arend.

"Simpan saja."

Syeira menarik kembali tangannya yang sudah ia ulurkan tadi. :Bodoh. Jelas saja. Itu sudah kotor."

Syeira menunduk. Tidak sengaja melihat rajutan huru A yang terukur di ujung sapu tangan itu. Dengan benang berwarna emas.

'DEEG.'

Jantung Syeira serasa berhenti berdetak. Sapu tangan putih ini begitu sama persis dengan sapu tangan yang pernah di berikan temanya pada dirinya di masa kecil dulu. Syeira melihat Arend dengan tatapan nanar, tangannya yang memegang sapu tangan gemetar.

"Apa ini sapu tangan mu.?"

Arend hanya mengangguk. Ia tidak menyadari raut muka Syeira saat ini. Arend terlalu fokus menatap jalanan.

"Sejak kapan kau menggunakannya?. Maksudku, aku tidak pernah melihat sapu tangan yang seperti ini di pusat perbelanjaan."

Tanya Syeira mencoba menggali informasi yang ia butuhkan. Hatinya tidak karuan menunggu jawaban dari Arend.

"Itu tidak di jual, sapu tangan itu buatan mamah ku sendiri. Aku memakainya sejak kecil. Dan tidak bisa memakai sapu tangan yang lain. Hanya buatan mamah, Jika kau mau, aku akan memberikan beberapa, masih ada banyak di rumah."

Syeira menutup mulutnya menahan tangis dan tawa yang serasa mau pecah. Orang yang selalu di nantinya selama ini itu ternyata sudah bersama dengan nya, dan bahkan menjadi suaminya. Syeira memalingkan muka menghadap kaca pintu mobil. Ia menyembunyikan tangisnya. Dia sangat senang dan sedih bersamaan.

"Kau baik-baik saja.?" Arend merasa ada yang salah.

Syeira dengan gerakan cepat mengusap air matanya yang tumpah. Lalu menghadap depan, mencoba untuk tenang. Meski tak bisa.

"Tuan? Apa kau pernah memberikan sapu tangan yang seperti ini pada orang lain selain saya.? E e em? Ma maksud saya. Saya seperti pernah melihat benda yang sama persis dengan ini."

Syeira terus memancing mencari kepastian dari jawaban Arend.

"Pernah, waktu kecil. Seorang gadis yang tinggal di panti tempat mu tinggal. Mungkin kau pernah melihat miliknya."

Jawab Arend sangat santai sambil terus fokus menyetir. Arend memang sama sekali tak memiliki rasa apa-apa pada Meira waktu itu, itu hanyalah murni perbuatan baik yang ia lakukan karna kasihan.

Syeira semakin senang mendengarnya, laksana bunga-bunga surga bermekaran di hatinya. Syeira tersenyum sangat lebar.

"Kau masih mengingat namanya? Mungkin saja saya kenal."

Hati Syeira sudah deg-degan tidak karuan.

"Meira."

Arend menyebutnya dengan tenang. Satu nama yang di sebut Arend itu telah memperjelas semuanya. Memang dialah anak laki-laki itu.

Syeira segera memalingkan muka menghadap kaca mobil. Derai air matanya mengalir dan banjir. Ia mengusapnya cepat dengan sapu tangan yang Arend berikan tadi.

"Apa kau mengenalnya.?" Kini Arend yang bertanya.

"Iya, tapi di sudah keluar dari rumah kasih."

Jawab Syeira berbohong. Syeira merasa belum siap. Dan masih ada begitu banyak pertanyaan yang kini menghantui pikirannya. Jika Arend masih mengingat gadis kecil itu, lantas kenapa dia menikah dengan dirinya? Kenapa Arend tidak datang mencarinya? Kenapa Arend tidak pernah menanyakannya saat pertama datang ke rumah kasih.? Dan masih begitu banyak pertanyaan yang hinggap di benak Syeira.

Ingin rasanya Syeira segera bertanya apakah Arend mencintai gadis teman kecilnya itu? Lantas kenapa tidak menanyakannya saat pertama kali datang ke panti.? Dan bahkan meski Arend tahu dirinya dan gadis itu tinggal di tempat yang sama, tapi Arend sama sekali tidak pernah menanyakan tentangnya pada syeira selama ini?

Tapi Syeira merasa sangat gugup. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia akan menyimpan rahasia ini sementara waktu sebelum akhirnya nanti ia mengatakan yang sebenarnya.

"Tuan, tolong maafkan saya. Tentang siaran langsung waktu itu."

Kini Syeira memberanikan diri untuk mengawali hubungan baik dengan meminta maaf atas kesalahannya. Selama perjalanan tadi Arend bersikap hangat menjawab semua pertanyaan Syeira. Dan menimbulkan keberanian itu.

"Permintaan maaf terbaik adalah dengan tidak pernah lagi mengulangi kesalahannya."

Syeira mengangguk sangat mengerti dengan jawaban yang Arend berikan.

...****************...

..."Tidak akan, aku tidak akan lagi mengecewakanmu, kau adalah orang yang selama ini ku tunggu. Aku sangat mencintaimu sejak dulu. Tapi bagaimana dengan perasaan mu padaku? Kenapa aku merasa ragu.?"...

1
Abi Zar
mantab kak,lanjutkan...
Mainah Inah
kayaknya bagus itu
Mainah Inah
😜😜😜😜😜
Mainah Inah
lama lama gak jelas
Mainah Inah
janganlah menghakimi orang ,lihatlah diri kita sudah baik apa belum ,perbuatan kita yang menilai Tuhan
Mainah Inah
makanya jgn muna
Mainah Inah
nyuruh orang itu yang sabar
Mainah Inah
😜😜😜😜
Mainah Inah
kok ujung ujungnya kemafia sih
Mainah Inah
teman laknat
Mainah Inah
💖💖💖💖💖
Mainah Inah
gemesssss😬😬😬😬😬
Mainah Inah
😹😹😹😹😹
Mainah Inah
ngomong aja terus terang biar dia tau kl elu itu Meira
Mainah Inah
muna lohhhhh
Mainah Inah
terus aja begitu sama Zico,buat cemburu itu si aren
Mainah Inah
ih najong
Mainah Inah
dasar😹😹😹😹😹
Mainah Inah
norak lo
Abel_alone
cobaan yg bertubi tubi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!