Kehidupan sebelumnya mereka sudah membuatku dan orang-orang yang aku sayangi menderita dan mendapatkan akhir yang mengerikan, jangan harap kalian bisa bebas. Dendam ini akan aku balaskan ribuan kali lipat hingga titik darah penghabisan. Ingin kabur dariku? Mimpi saja sana! Akankah dendam ini terbalaskan? Ataukah dendam yang menghancurkanku?
Genre : Romansa Istana, Fantasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Slow Plot, Misteri, Action, Magic, Sword, Romantis, Pemeran Utama Tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penunggu Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Perayaan Salju Pertama
...Tap... tap.. tap...
Langkah kaki yang menaiki podium mengisi keheningan diantara kerumunan lautan manusia.
"Selamat malam rakyat-rakyatku semua," kata Ayah membuka pidatonya.
"Sebuah keajaiban dan keberuntungan besar bagi Grand Duchy Fransisco, setelah sekian lama akhirnya salju pertama yang kita nanti-natikan datang."
Pidato Ayah berlangsung selama kurang lebih 7 menit.
"Selamat menikmati perayaan ini," ujar Ayah menutup pidatonya dan turun dari podium.
Prok... prok... prok... prok
Tepuk tangan yang meriah mengiri langkah kaki Ayah yang turun ke bawah.
"Bagaimana? Ayah hebat bukan," tanya Ayah yang sudah berbangga diri.
"Sepertinya narsisme kakek sudah menular ke Ayah,"
"Jelek ya," Mimik wajah Ayah yang semula bangga kini berubah menjadi murung.
"Bagus kok,"
"Sangat bagus,"
"Ayah yang terbaik,"
"Rakyat pasti bangga memiliki pemimpin sepertimu sayang,"
"Ayah reinya memang yang paling terbaik,"
"Lumayan untuk seorang Grand Duke Fransisco," kata Kakek terakhir kali.
Banjiran pujian membuat Ayah semakin berbangga diri, namun perkataan terakhir kakek membuat mental Ayah jatuh.
"Aku yakin perkataan Kakek menusuk tepat dihati Ayah,"
Sebelum terjadi peperangan yang tidak berarti antara Ayah dan Anak ini, aku memutuskan untuk menengahi nya jika tidak maka aku juga yang akan pusing.
"Semuanya, ayo kita nikmati perayaan ini!" seruku dengan semangat yang membara.
Aku berlari menghampiri kios-kios makanan, tentu saja tujuannya adalah memakan semuanya. Kesempatan hanya akan datang satu kali, ini kedua kalinya aku pergi ke perayaan seperti ini. Rindu yang menghampiri membuat aku tidak bisa menahan lagi rasa ingin makan makanan rakyat yang tidak kalah lezat dari buatan koki-koki dunia.
Beruntung pakaian ku tidak merepotkan, gaun berwarna biru tua yang serasi dengan mata biru dipenuhi gemerlap bagaikan bintang dimalam yang penuh dengan salju, yang panjangnya hanya selutut dan rambut diikat membuatku bisa bergerak dengan leluasa.
Untuk pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan yang tiada tara, melihat semuanya tersenyum dengan begitu senang. Tidak ada yang namanya kesenjangan sosial saat ini, semuanya setara.
Alasan tidak ada bangsawan asing adalah karena kami tidak sempat mengirimkan undangan, lagipula jika mengundang waktunya tidak akan cukup. Butuh waktu lumayan lama untuk sampai ke wilayah ini, jadi yang ada disini hanya Bangsawan Count, Baron, Viscount dan Count yang berada di bawah naungan Grand Duke Fransisco saja yang hadir.
•••
"... Nya... Reinya...Ngun... "
"Halo...Bangun!!! Reinya... "
Suara yang sangat berisik berhasil membangunkan ku dari tidur.
"Apaan sih?" Aku mendudukkan tubuh yang masih sangat lelah.
Beberapa kali aku mengerjapkan mata untuk memulihkan penglihatan.
Saat mataku benar-benar terbuka sosok seseorang mengagetkan hingga membuat tubuhku oleng dan hampir jatuh ke pinggir kasur.
"Hati-hati!" Keberuntungan berpihak kepadaku, aku masih bisa berpegangan ke selimut.
Aku mendongak mencari tahu siapa yang mengganggu tidurku yang nyenyak.
Wajah orang itu tidak terlihat disebabkan gelapnya ruangan.
Karena penasaran aku mengambil lentera yang berada tidak jauh dari tempatku sekarang.
Sinar lentera yang lumayan terang karena menggunakan batu sihir membuatku mengetahui siapa orang ini.
Rambut berwarna emas dengan mata hijau yang menyegarkan.
"Kakak ish... " Aku menggembungkan pipi, lagi-lagi kakak kedua selalu menganggu tidurku.
"Ulululu, adikku satu ini lucu sekali." Bukannya meminta maaf kakak malah menarik-narik pipiku dengan gemasnya.
Aku merengek minta dilepaskan, karena hanya itu cara untuk terlepas dari kakak paling menyebalkan tapi yang paling aku sayangi di dunia ini.
"Baiklah, baiklah. Kakak tidak akan mengganggumu lagi,"
"Tetapi hanya hari ini saja," kata kakak yang menjauh.
Aku yang sedang membenarkan rambut yang berantakan menghentikan kegiatan itu.
"Memangnya ini hari apa?" tanyaku.
"Kau lupa?"
Aku memiringkan kepala.
Kakak menepuk jidatnya.
"Hari ulang tahun sendiri saja lupa," gumam kakak.
"Oh ulang tahun," Aku manggut-manggut menanggapi gumaman kakak.
"Tunggu! Ulang tahun, ulang tahun siapa?"
"Ulang tahun kamu cantik," ujar kakak dengan nada gemas sembari menarik kembali pipiku.
"Makanya kalau tidur itu jangan kelamaan, entah apa yang kamu lakukan." Akhirnya kakak melepaskan cubitan nya.
Sebenarnya selama beberapa waktu ini aku sering pergi ke perpustakaan sampai malam tapi tidak ada yang tahu, dan juga karena jaraknya yang jauh membuat ku kelelahan dan ketika sampai aku langsung tidur untuk menghilangkan rasa penat.
Aku baru ingat jika sekarang adalah hari ulang tahunku, sudah satu bulan berlalu semenjak perayaan salju pertama.
"Tidak terasa, ternyata sudah 1 bulan 3 minggu aku kembali ke masa lalu. Tapi sampai sekarang aku masih belum bisa benar-benar menyerang karena masih banyak yang harus dipersiapkan. Tentu saja selama sebulan aku selalu pergi ke perpustakaan banyak sekali hal yang aku dapatkan, bukan hanya ilmu baru bahkan yang lain juga masih banyak lagi."
"Reinya!" Panggil Kakak dengan tangan yang sudah berada di pundak membuatku tersentak.
"Ngapain ngelamun? Ayo cepat! Kamu adalah tokoh utama pesta kali ini, pokoknya harus yang paling bersinar dari yang lain. Kakak akan turun tangan sendiri untuk membuatmu menjadi yang paling bersinar beberapa hari ini," ujar Kakak dengan semangat yang membara.
"Engh.. "
"Sepertinya kali ini aku benar-benar akan tamat, lagipula kenapa pesta ulang tahunku harus berlangsung selama 2 hari sih? Ditambah semua bangsawan dari yang terendah sampai yang tertinggi akan datang termasuk keluarga Kekaisaran," Aku benar-benar tidak habis pikir, jawabannya sudah aku ketahui yaitu karena baginda kaisar dan si br*****k itu akan datang. Tapi kenapa harus di pesta ku? Ini kan ulang tahun ke-5 ku.
Mari kita tepis itu dulu, sebaiknya urus dulu masalah di depan. Kakak Rattle Fransisco yang sedang menatap ke arahku seperti menatap mainannya.
"Ayo kita mulai!" ucap kakak dengan senyuman bagai iblis yang terlukis di wajahnya.
"Tunggu kakak! Kenapa harus sekarang berdandan nya? Ini baru jam 5 subuh," bantahku agar tidak jadi.
"Mau 5 subuh atau 1 pagi, tetap saja. Reinya-ku harus yang paling cantik," Kakak membantah tidak kalah tegas.
"Pelayan, segera laksanakan!" perintah Kakak, tidak lama setelah itu. Pelayan mulai memenuhi ruang kamar ini.
"Hiks... Kemana perginya kakak malaikat ku? Kenapa ia berubah seperti iblis yang akan menelan adiknya hidup-hidup," Demi kebaikanku akhirnya aku pasrah dengan para pelayan ini, kakak yang sudah mulai memilah-milah gaun yang akan aku pakai beserta aksesoris.
Beberapa hari yang lalu ayah memesankan pakaian untuk pesta kepada desainer, padahal sudah di pesan dan satu yang cocok. Tapi kenapa harus ada 5 buah gaun?
Padahal kakak juga harus bersiap-siap, kenapa ia malah sibuk mengurus orang lain?
supaya ga aneh pas dibaca
Dia kan ga lagi ngebatin