IG. suliani_cucu
Rasa cinta yang kuat terhadap lelaki yang tak pernah memandangnya merupakan hal berat untuk Fatimah, apa lagi saat lelaki tersebut memilih untuk menikahi Kakak kandungnya.
Hal itu membuat Fatimah kecewa, sampai-sampai dia tak ingin mengenal lagi yang namanya lelaki.
Akan tetapi, nasib seakan mempermainkan hidupnya. Kakeknya yang sedang kritis memintanya untuk menikah dengan lelaki yang tak dia kenal sama sekali.
Akankah kisah rumah tangganya berakhir bahagia?
Ataukah akan menjadi siksaan yang tiada akhir untuknya?
Kepoin kuy..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
"Aku boleh mencobanya kan? Sepertinya sangat enak," Albert langsung mengambil sendok yang ada di tangan Fatimah lalu mengendok makanan milik Fatimah dan memakannya dengan lahap.
Rudi langsung mengepalkan kedua tangannya, dia merasa tak dianggap oleh lelaki yang baru saja datang dan tidak dia kenal sama sekali.
"Bagaimana rasanya?" tanya Fatimah.
"Enak," jawab Albert dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Sebenarnya Albert pun sama seperti Rudi, dia tak kuat makan pedas. Hanya saja dia ingin melihat Fatimah tersenyum, sehingga dia pun rela jika nantinya akan terjadi sesuatu pada perutnya.
"Waah... syukurlah kalau Tuan suka, ini adalah makanan favorit aku." Fatimah langsung mengambil sumpit dan mulai mencicipi makanan yang lainnya.
"Apa itu enak?" tanya Albert.
"Hem, tapi kurang pedas." Fatimah kembali mencicipi makanan yang lainnya.
Rudi makin terlihat semakin cemburu, harga dirinya bahkan terasa diinjak-injak. Bagaimana bisa istrinya terlihat melupakan suaminya dan malah asik makan bersama dengan pria lain?
Fatimah yang merasa menemukan kesamaan soal makanan, terlihat begitu asyik makan sambil mengobrol dengan Albert. Rudi terlihat makin kesal dibuatnya.
"Ehm..." Rudi pun segera berdehem, agar Fatimah dan Albert menyadari akan kehadirannya.
"Eh, Mas. Maaf, akunya keenakan makan." Fatimah terlihat salah tingkah, antara tak enak hati dan malu.
"Keenakan makan apa keenakan ngobrol?" tanya Rudi ketus.
Fatimah terlihat mesam-mesem karena malu, sedangkan Albert terlihat menyunggingkan senyum tipisnya.
"Oh iya, Ra. Kamu ngga mau ngenalin aku sama suami kamu?" tanya Albert.
"Eh, iya Tuan Albert. Ini perkenalkan suami aku, Mas Rudi namanya." Fatimah langsung tersenyum canggung ke arah suaminya.
"Albert Atha Raimhond," ucapnya seraya mengulurkan tangannya.
Setelah mendengar nama lengkapnya, Rudi pun langsung mengulurkan tangannya. Raut wajah yang tadi terlihat masam pun langsung tersenyum seketika.
"Rudi," ucapnya memperkenalkan diri.
Albert langsung menerima uluran tangan Rudi, tentu dengan senyum tipis yang menghiasi wajah tampannya.
"Punya istri cantik begini elu sia-sia, jangan salahin gue kalau nanti Arra bakalan jatuh ke dalam pelukan gue." Albert bergumam dalam hati, namun ekor matanya memperhatikan wajah cantik Fatimah.
"Senang bertemu dengan Anda Tuan Raimhond," ucap Rudi.
"Panggil Albert saja, lebih enak di dengar." Albert langsung mengambil air putih lalu meminumnya hingga tandas.
Sebenarnya perutnya sudah mulai tak enak, tapi dia tahan demi Fatimah. Dia masih ingin melihat wajah cantik Fatimah.
"Anda sedang apa di sini?" tanya Rudi.
"Jalan-jalan, saya bosan kalau hari libur di rumah terus. Tak ada teman," jawab Albert.
"Oh, ya sudah lanjutkan makannya. Biar cepat selesai, soalnya saya mau mengajak istri saya pulang." Rudi sengaja menekankan kata istri agar Albert sadar jika Fatimah telah bersuami.
"Saya sudah selsai,'' jawab Albert.
"Oh, kamu sudah selsai belum, Yang?" tanya Rudi seraya menyeka ujung bibir Fatimah yang terlihat ada noda sausnya di sana.
"Sudah," ucap Fatimah kikuk.
Sebenarnya dia masih ingin makan, namun dia merasa tak enak hati melihat tatapan tak bersahabat dari Albert dan juga Rudi.
Fatimah bisa melihat dengan jelas, baik Rudi ataupun Albert terlihat memasang aura permusuhan.
"Ya sudah, Mas bayar dulu. Kamu tunggu sebentar," kata Rudi.
Tiba-tiba saja Rudi mengecup kening Fatimah, dia seolah ingin memperlihatkan jika dialah yang berhak atas Fatimah, bukan Albert atau lelaki manapun.
Setelah itu, dia pun langsung tersenyum dan berlalu menuju meja kasir. Tentu saja dia ingin membayar semua pesanan istrinya itu.
"Ternyata dia pencemburu, padahal kerjaannya pacaran mulu di belakang kamu." Albert nampak berbisik di dekat telinga Fatimah, hal itu membuat Fatimah sedikit risih.
Karena wangi nafas Albert langsung tercium, dan juga sapuan hangat nafasnya langsung terasa di pipinya.
"Kenapa diem?" tanya Albert.
"Tidak apa-apa," jawab Fatimah.
Sebenarnya dia bertanya-tanya, kenapa Albert bisa berbicara tentang Rudi? Kenapa Albert seolah tahu keseharian Rudi?
Namun dia lebih memilih untuk diam, takut-takut nanti terjadi salah paham diantara dirinya dengan Rudi. Fatimah tahu jika Rudi bukan lelaki yang setia, tapi bukan berarti dia harus membalas perlakuan keji Rudi dengan hal yang sama.
"Kita pulang," ucap Rudi.
"Iya, Mas." Jawab Fatimah, "Aku duluan, Tuan Albert." Fatimah langsung bangun, Rudi pun langsung memeluk pinggang Fatimah dengan posesif.
"Iya," jawab Albert.
"Baru digertak gitu aja udah takut banget, gue pengen tahu kalau Arra jatuh kepelukan gue. Kayaknya elu bakal nangis darah," gumam Albert.
Albert merasa tak ridho jika Fatimah terus bersama dengan Rudi, menurutnya pernikahan yang Fatimah jalani tidak sehat.
Dia pun bertekad dalam hati akan memperjuangkan seorang Fatimah Azzahra, wanita yang sudah membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama.
Saat pertemuan tak sengaja mereka kala Fatimah berlibur di Singapura, dari sejak itu Albert sudah jatuh hati padanya.
Rudi berjalan dengan tergesa, dia tak mau lagi jika istrinya harus berdekatan dengan pria yang ternyata adalah seoarang konglomerat muda.
Siapa yang tak mengenal Albert Atha Raimhond, pria asal Amerika yang sudah terlahir dengan harta yang bergelimang. Bahkan tanpa bekerja pun dia sudah tak akan merasakan yang namanya hidup susah, tentunya dana yang melimpah itu akan terus mengalir dari setiap aset berharga yang ditinggalakn oleh Mom dan Dad'nya.
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Rudi terlihat melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sungguh tak mau bertemu lagi dengan lelaki itu.
Fatimah yang merasa ketakutan langsung memeluk erat lengan suaminya.
"Mas, Arra takut." Fatimah berbicara dengan suara yang bergetar, sungguh dia merasa takut saat ini.
Rudi yang menyadari ketakutan yang didera oleh istrinya pun. langsung memberhentikan mobilnya di tempat yang dirasa aman.
Rudi langsung melepas seat belt'nya lalu menarik Fatimah ke dalam pelukannya.
"Maaf, Mas cemburu." Rudi menepuk-nepuk punggung Fatimah agar dia terlihat lebih tenang.
"Ya, tapi Mas'nya jangan bikin aku takut. Aku ngga ada hubungan apa-apa sama, Tuan Albert. Aku ngga selingkuh," ucap Fatimah terisak.
"Maaf, Sayang. Maaf, Mas hanya cemburu. Mas tahu kamu wanita baik, kamu ngga mungkin selingkuh." Rudi langsung melerai pelukannya lalu mengecupi setiap inci wajah istrinya.
"Aku mau pulang," rengek Fatimah.
"Iya, kita pulang. Tapi kamu mau' kan Maafin, Mas?" tanya Rudi.
"Iya, Mas. Tapi jangan bikin aku takut lagi," pinta Fatimah.
"Cium dulu, baru akunya ngga ngebut lagi." Rudi langsung memonyongkan bibirnya, Fatimah langsung terkekeh dibuatnya.
"Ngga mau, ah." Fatimah pura-pura masih merajuk, sedangkan Rudi seolah tak perduli.
Rudi langsung menarik tengkuk leher istrinya, lalu dia pun menautkan bibirnya dengan bibir istrinya.
"Pedes, Yang," Kata Rudi.