Judul sebelumnya "Pacar Halu Aesthetic"
Alina dikirim oleh ibunya ke desa Eyangnya yang jauh dari kota karena sebuah kesalahan yang tak di sengaja. Banyak hal yang tak terduga terjadi disana.
Di sana dia bertemu dengan Jordan yang kebetulan sedang shooting sebuah Film di desa itu.
Yang lebih menariknya, Alina yang notabenenya seorang penulis novel menemukan sebuah komputer di ruang bawah tanah, Saat ia gunakan komputer itu untuk menulis novelnya hal aneh pun terjadi.
Dimana peran pria dalam novelnya yang bernama Luhan datang menemuinya setiap malam dalam wujud nyata. Dan Luhan akan menghilang saat pagi datang.
Tanpa sadar Alina jatuh cinta pada Luhan. Sementara itu disisi lain Jordan mulai menyukai Alina.
Bagaimana kisah mereka,? Ikuti terus kisah mereka. Jangan lupa beri dukungan kalian..
Dan tanpa sadar Alina jatuh cinta dengan karakter yang di buatnya sendiri.
Bagaimana kisah cinta mereka,? Yuk mulai baca...
Yuk dukung karya Author dengan memberi like, komentar, vote serta tambahkan ke daftar favorit kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 25
Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 menit mereka sampai di sebuah bendungan. Jordan menepikan mobilnya tak jauh dari bendungan itu. Tempat itu cukup menakjubkan. Mata Alina disuguhkan dengan pemandangan perbukitan yang hijau.
" Dari mana kau tau ada tempat seperti ini disini?" Alina berdecak kagum.
" Ini salah satu lokasi syuting, Kau tak tau tempat ini,?" ujar Jordan merasa heran. Alina menggelengkan kepalanya, matanya sampai tak berkedip menyaksikan pemandangan di depan matanya.
" Bagaimana kau sebagai warga desa tak tau ada tempat seperti ini,?" tanya Jordan.
" Aku bukan warga desa ini," jawab Alina seraya turun dari mobil.
Jordan pun ikut turun menyusul Alina yang sudah duduk menjuntai di tepi bendungan.
" Apa maksudmu,?" tanya Jordan seraya mendudukkan pantatnya di samping Alina.
" Maksud apa?" Alina menoleh sesaat pada Jordan.
" Bukan warga sini,"
" Oh, aku dari kota, cuma tinggal sementara disini," jawab Alina.
" Benarkah?" Jordan tampak begitu senang.
" Hem, orang tuaku ada di kota, aku disini karena sedang menjalani hukuman," jelas Alina.
Jordan mengernyitkan dahinya,
" Hukuman,?"
" Iya, gara - gara kecerobohan ku aku menghilangkan motor milik ibuku. Dan aku dikirim ke sini oleh ibuku, karena dia tau aku tak suka berada di sini," ujar Alina.
" Sampai kapan kau akan disini,?" tanya Jordan.
Alina menggidikan bahunya, dia juga tak tau sampai kapan dia akan tinggal di rumah Eyangnya.
" Bagaimana kalau kau ikut denganku,?"
Alina menoleh, matanya menatap lekat bola mata Jordan.
" Ikut kemana,?" tanyanya kemudian.
"Pulang ke rumah orang tuamu,"
Alina terkekeh mendengar jawaban Jordan. Kemudian dia menggelengkan kepalanya.
" Kenapa?" Aku akan mengantarmu pulang,?" Apa kau tak merindukan rumah dan orang tuamu?"
Alina mendesah, tentu saja dia merindukan orang tuanya. Dia begitu merindukan kehidupannya di kota.
" Bagaimana,?"
" Aku tidak bisa, sebelum ibu mengizinkanku pulang," jawab Alina lesu.
Jordan terdiam. Dia melirik Alina , jelas sekali tergambar rasa sedih dari raut wajah gadis itu.
" Oh ya, kau masih punya utang padaku,?" ujar Alina kemudian.
" Hutang apa?"
" Kau berjanji akan mengabulkan apa pun yang aku minta, apa kau lupa dengan taruhan itu,?"
" Oh masalah itu, jadi kau sudah memikirkan apa yang akan kau minta,?"
" Sudah,"
" Apa itu,?" tanya Jordan serius, dia berharap hal yang diminta Alina sesuatu yang diinginkannya juga.
" Sepertinya sudah terlambat,"
" Memang apa yang kau inginkan," tanya Jordan penasaran.
" Aku ingin sutradara itu minta maaf padaku karena sikapnya saat itu termasuk artis cewek itu juga yang mengataiku jelek ," jawab Alina.
Jordan melongo seketika, permintaan Alina diluar semua ekpetasinya.
" Permintaan macam apa itu,?" gumam Jordan merasa kecewa.
" Kenapa?" Kau tak bisa mengabulkannya,?"
" Bisa, kalau kau mau ikut denganku sekarang. Aku akan meminta mereka meminta maaf padamu," ujar Jordan.
" Lupakan saja,"
Alina bangkit dari posisi duduknya, Jordan dengan segera mencekal pergelangan tangan Alina.
" Mau kemana,?"
" Pulang lah, ngapain disini lama - lama," ujar Alina.
Jordan mendesis, dengan amat terpaksa dia juga ikut berdiri.
" Baiklah," ucap Jordan datar.
Jordan kembali mengantar Alina kembali ke rumah Eyangnya.
" Terima kasih, sudah membawaku melihat pemandangan indah tadi," ujar Alina saat mereka sudah sampai.
Alina sudah melepas sabuk pengaman dan bersiap untuk turun. Namun hal tak terduga terjadi, dengan tiba - tiba Jordan memeluknya.
Alina membeku seketika, bagaimana tidak Jordan adalah laki - laki pertama yang memeluknya selain Ayahnya.
" Aku pasti akan merindukanmu, beberapa hari ini terasa menakjubkan saat bersamamu," ucap Jordan tulus.
" Tolong lepaskan, aku rasa ini terlalu berlebihan," Alina menggeliat melonggarkan dekapan Jordan.
" Maaf, " Jordan melepaskan pelukannya, dia benar - benar lepas kendali. Suasana mendadak jadi canggung.
" Aku akan turun, hati - hati dijalan," Dengan tergesa - gesa Alina turun dari mobil. Tanpa menoleh Alina langsung masuk ke dalam rumah.
" Kabari aku jika kau sudah kembali ke kota," seru Jordan. Entah Alina mendengarnya atau tidak.
Gadis itu berdiri di balik pintu yang sudah tertutup sambil memegangi dadanya yang berdebar.
" Astaga, kenapa dia memelukku seperti itu," monolog Alina.
Tak lama terdengar suara mobil Jordan menjauhi pekarangan rumah, Alina mengintip di balik Gorden. Gadis itu terlonjak kaget ketika Jordan menekan klakson mobil.
" Apa dia melihatku mengintip?" gumam Alina menjauhkan wajahnya dari jendela.
Sementara Jordan tak berhenti tersenyum. Entah apa yang membuatnya merasa sesenang itu.
" Ada apa denganku, apa aku menyukai gadis itu,?" gumam Jordan seraya mengusap dahinya. Sesaat kemudian pria itu terkekeh sendiri.
**
Untuk kedua kalinya Alina tak makan malam bersama dengan eyang dan pamannya. Dia kembali membawa makanan ke kamar. Kali ini dia tak lupa untuk membawa dua buah sendok.
Alina tersenyum senang, melihat Luhan sudah ada di kamarnya. Pria itu tampak asik membaca sebuah buku sampai tak menyadari kehadiran Alina.
" Kau sudah datang," sapa Alina. Luhan tampak terkejut, dia langsung menutup buku yang dibacanya dan mengembalikan ke tempatnya.
" Kau makan malam di kamar lagi," melihat Alina membawa piring berisi makanan di tangannya.
" Hem," meletakan piring itu di atas meja lalu menarik kursi untuknya dan juga Luhan.
" Ayo kita makan, aku sudah bawa dua sendok lo," ujar Alina memamerkan sendok yang dibawanya pada Luhan.
Luhan mengulas senyum, dia pun duduk di kursi dan ikut makan bersama Alina.
" Apa eyang dan pamanmu tak curiga kau makan dikamar,?" tanya Luhan disela makannya.
Alina menggeleng, pipinya membulat karena mengunyah makanan. Hal itu membuat Luhan gemes dan mengusap pucuk kepala Alina. Alina balas tersenyum.
" Kau belum meng-upload bab baru novelmu,?" tanya Luhan setelah mereka selesai makan.
" Belum, mungkin besok pagi. Kenapa?"
" Tidak ada, aku hanya bertanya,"
" Kau tau tidak, ternyata ada tempat bagus di desa ini selain di danau dekat Vila," ujar Alina bersemangat.
" Mana aku tau, aku selalu di kamarmu,"
Alina menyengir, dia lupa kalau Luhan hanya akan ada waktu malam dan hanya akan di kamarnya sampai pagi.
" Tadi aku ke sana di ajak Jordan, andai kau bisa muncul di siang hari aku pasti akan mengajakmu ke sana,"
Wajah Luhan berubah masam saat mendengar nama Jordan. Saat malam dia menon-aktikan ponsel Alina dia sempat melihat nama Jordan pada daftar panggilan terakhir.
" Kenapa kau diam saja," ujar Alina melihat Luhan tak merespon apa - apa dan tampak melamun.
" Hah,"
" Kau ini, apa tak mendengarkan ku,?" Alina merunggut.
" Apa?" kau bilang apa tadi,"
" Sudahlah," Alina beranjak dari duduknya.
Luhan dengan cepat menahan tangan Alina. Gadis itu pun menoleh.
" Maaf," ucap Luhan sendu.
Melihat wajah Luhan sedih yang tampak dibuat - buat membuat Alina mengulum senyumnya.
Alina pura - pura merajuk dan membuang muka.
" Hei, jangan ngambek gitu dong, lain kali aku nggak begitu lagi.," ucap Luhan merasa bersalah.
" Baiklah, tapi ada syaratnya,?"
" Apa?"
Alina menumpu kedua tangannya pada tangan kursi yang diduduki oleh Luhan. Gadis itu menatap intens pada kedua bola mata coklat Luhan. Luhan masih menanti apa yang akan dikatakan oleh Alina.
" Aku ingin melihat bagaimana cara kau menghilang dari sini," ucap Alina.
...----------------...
Jangan Lupa tinggalkan jejaknya...