6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. MBOK DARMI MENGHILANG
Jejak kaki basah itu masih ada.
Lumpur hitamnya masih segar, masih meneteskan air. Bentuknya kecil, seperti kaki perempuan tua yang tidak pakai sandal. Jejak itu dimulai dari tikar tempat Mbok Darmi tidur, melintasi dapur yang berantakan, dan berhenti tepat di bibir sumur tua di belakang rumah.
Aku, Sinta, dan Bima berdiri kaku di depan sumur itu. Pagi masih buta, jam 5 lewat sedikit. Kabut tebal masih menyelimuti Desa Mati. Dari dalam sumur, tidak ada suara air. Hanya sunyi yang aneh, sunyi yang terlalu sunyi.
"Mbok Darmi... Mbok!" Bima memanggil dengan suara pelan, takut membangunkan sesuatu yang ada di dalam sumur.
Tidak ada jawaban. Hanya gema suaranya sendiri yang memantul dari dinding sumur yang berlumut.
Sinta menarik tanganku. "Sel, jangan mendekat. Aku takut."
Tapi aku harus mendekat. Di bibir sumur, ada sesuatu yang tersangkut. Kain jarik. Kain jarik coklat yang selalu dipakai Mbok Darmi untuk gendong kayu bakar. Kain itu robek, dan ujungnya menjuntai masuk ke dalam kegelapan sumur, seperti ada yang menariknya dari bawah.
Aku menarik kain itu pelan-pelan. Berat. Sangat berat, seperti ada beban di ujungnya.
"Jangan ditarik, Selpi!" Bima melarang, tapi terlambat.
Aku sudah menariknya dengan sekuat tenaga. Dan yang terangkat bukan hanya kain.
Tapi juga segenggam rambut panjang, hitam, basah, penuh lumpur dan lintah. Rambut itu melilit kuat di kain jarik Mbok Darmi.
Sinta menjerit dan langsung muntah di samping sumur. Aku melempar kain itu dan rambut itu kembali ke dalam sumur dengan tangan gemetar. Jantungku berdegup kencang sampai mau pecah.
"Ini bukan rambut Mbok Darmi," bisikku. "Rambut Mbok Darmi kan pendek, putih... ini rambut panjang... seperti rambut perempuan di balai desa semalam..."
Bima langsung menyalakan senter dan menyorot ke dalam sumur. Air di dalam sumur itu hitam pekat, tidak memantulkan cahaya sama sekali. Seperti tinta. Dan di permukaan air hitam itu, mengambang pelan, ada pantulan wajah.
Bukan wajah kami.
Wajah seorang perempuan muda, pucat, dengan mata sayu. Dia tersenyum ke arah kami. Senyumnya sedih.
Lalu pantulan itu menghilang, digantikan oleh gelembung-gelembung udara yang naik dari dasar sumur, seperti ada seseorang yang bernapas di bawah sana.
"Kita harus lapor Pak Lurah," kata Bima akhirnya, mencoba tetap waras.
Kami berlari ke rumah Pak Lurah yang jaraknya hanya tiga rumah dari rumah Mbok Darmi. Pak Lurah sedang menyapu halaman, wajahnya kaget melihat kami bertiga pucat dan basah kuyup keringat di pagi buta.
"Ada apa, Nak? Kok seperti habis lihat hantu?"
"Mbok Darmi hilang, Pak! Di rumahnya cuma ada jejak kaki ke sumur!" Aku melaporkan dengan napas terengah-engah.
Wajah Pak Lurah langsung berubah. Sapu lidi di tangannya jatuh. Wajahnya yang tadinya ramah, langsung pucat dan ketakutan.
"Jangan... jangan bilang kalian sudah buka sumur tua itu lagi," suaranya bergetar.
"Kami menemukan kain kafan di sana, Pak. Ada tujuh nama. Nama saya ada di sana. Dan sekarang Mbok Darmi hilang setelah menyebut nama Selvi!"
Mendengar nama Selvi disebut, Pak Lurah terduduk lemas di kursi bambunya. Tangannya gemetar memegang dadanya.
"Selvi... jadi dia sudah kembali... Ya Allah, dia sudah mengambil Mbok Darmi..."
"Selvi itu siapa, Pak? Siapa Selvi itu sebenarnya?" Sinta bertanya sambil menangis.
Pak Lurah menatap kami bertiga dengan mata berkaca-kaca. Lalu dia bercerita dengan suara pelan, seperti takut didengar oleh hutan.
"Selvi itu anaknya Mbok Darmi. Anak satu-satunya. Cantik, pintar. Dia yang seharusnya ikut KKN tahun 1998 dulu, bukan kalian. Tapi dia menghilang di dalam sumur itu. Warga bilang dia bunuh diri karena hamil di luar nikah. Tapi Mbok Darmi tidak pernah percaya. Mbok Darmi percaya anaknya dibunuh dan jasadnya dibuang ke sumur itu untuk dijadikan tumbal desa ini biar panennya bagus."
"Selvi itu... KKN 98?" Bima terkejut.
Pak Lurah mengangguk. "Iya. Dan enam nama di kain kafan itu... itu adalah teman-teman KKN Selvi yang mencoba menolong Selvi malam itu. Mereka semua ikut hilang. Sejak itu, setiap ada KKN baru yang datang, sumur itu selalu minta satu nama lagi. Nama ketujuh. Untuk menggantikan Selvi."
Aku lemas. Jadi aku... aku adalah pengganti Selvi?
"Terus Mbok Darmi kemana, Pak?" tanyaku.
Pak Lurah menunjuk ke arah sumur dengan jari gemetar. "Kalau jejak kakinya ke sumur... berarti Selvi sudah memanggil ibunya. Mbok Darmi sudah lama ingin menyusul anaknya. Dia bilang kalau dia sudah capek menunggu."
Kami tidak bisa berkata apa-apa. Sinta memelukku erat.
Siang itu, warga desa berkumpul di sekitar sumur. Mereka membawa senter, tali, dan tangga bambu. Mereka mencoba turun ke dalam sumur untuk mencari Mbok Darmi.
Dua orang pemuda turun. Lama sekali. Sekitar 15 menit.
Tiba-tiba dari bawah terdengar teriakan keras.
"TARIK! TARIK KAMI NAIK! ADA APA DI BAWAH!"
Warga di atas panik dan menarik tali sekuat tenaga. Kedua pemuda itu naik dengan wajah pucat, tubuhnya penuh lumpur hitam dan lintah, napasnya terengah-engah seperti orang habis lari maraton.
"Gak ada dasarnya, Pak Lurah! Sumur ini gak ada dasarnya! Dalam sekali! Dan di dindingnya... di dindingnya ada banyak tulisan nama! Ratusan nama! Dan... dan kami melihat Mbok Darmi..."
"Dimana Mbok Darmi?" Pak Lurah bertanya.
"Dia... dia duduk di bawah sana... di atas batu... dia gendong sesuatu... dia gendong bayi yang dibungkus kain kafan... dia tersenyum ke kami dan bilang 'jangan ganggu Selvi lagi'..."
Semua warga langsung istighfar bersamaan. Beberapa ibu-ibu langsung pingsan.
Aku menatap sumur itu lagi. Sumur itu terlihat biasa saja dari luar, hanya sumur tua dari batu bata merah. Tapi aku tahu, sumur itu bukan sumur biasa. Sumur itu adalah mulut. Mulut yang lapar.
Sore harinya, kami bertiga kembali ke balai desa karena rumah Mbok Darmi sudah dipasangi garis polisi oleh warga. Kami tidak berani tidur di sana lagi.
Kami mencoba tidur, tapi tidak bisa. Jam 1 malam, Sinta membangunkanku dengan cara mengguncang bahuku keras.
"Sel... Selpi bangun... dengar..."
Aku terbangun. Balai desa sunyi. Tapi dari luar, dari arah jendela, terdengar suara air menetes.
Tes... tes... tes...
Padahal tidak hujan.
Bima membuka jendela pelan-pelan. Dan kami bertiga membeku.
Di halaman balai desa, yang tadinya hanya tanah kering dan rumput liar, sekarang ada sebuah sumur.
Sumur tua yang sama persis dengan sumur di belakang rumah Mbok Darmi. Batu batanya sama, lumutnya sama, bahkan kain jarik Mbok Darmi yang tadi kami buang, sekarang tergantung lagi di bibir sumur itu.
Padahal sumur itu seharusnya ada di belakang rumah Mbok Darmi, jaraknya 200 meter dari balai desa.
Sumur itu... pindah. Sumur itu mengikuti kami.
Dari dalam sumur yang tiba-tiba ada di halaman balai desa itu, terdengar suara Mbok Darmi tertawa pelan, dan suara seorang bayi menangis.
Dan suara itu memanggil namaku lagi.
"Selpi... sini... gendong adikmu..."
Pertanyaan Buat Pembaca:
GILA GAK SIH BAB INI? 😭 Merinding banget!
Ternyata Selvi itu anak Mbok Darmi yang hilang KKN 98! Pantas Mbok Darmi selalu melamun di sumur!
Menurut kalian, bayi yang digendong Mbok Darmi di dalam sumur itu siapa? Apakah itu anak Selvi?
Dan yang paling serem... SUMUR ITU PINDAH NGIKUTIN SELPI! Kalau kalian jadi Selpi, Sinta, dan Bima, apa kalian bakal lari tinggalin Desa Mati malam itu juga, atau bertahan dan masuk ke dalam sumur itu untuk selamatkan Mbok Darmi?
Komen ya! Tim #MasukSumur atau Tim #KaburMalamIni ?
Besok lanjut BAB 24. SUMUR ITU MENGIKUTI - Aku bakal spill isi dalam sumur yang gak ada dasarnya itu! Jangan lupa Vote biar aku semangat nulis!
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐