NovelToon NovelToon
Dewa Alkemis Sembilan Benua

Dewa Alkemis Sembilan Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.

Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.

500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.

Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.

Mereka salah besar.

Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.

Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.

Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:

Menagih darah dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Perjalanan Menuju Ibukota

Kabar kehancuran Keluarga Zhao menyebar ke seluruh Kota Awan Merah hanya dalam semalam.

Saat matahari terbit, penduduk kota dikejutkan oleh pemandangan mengerikan di alun-alun. Kepala Zhao Wuji, Zhao Tian, dan Zhao Kuang tergantung di atas tiang sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani menentang Keluarga Lin.

Keluarga Zhao yang selama bertahun-tahun menduduki posisi kedua terkuat di kota kini telah lenyap. Tambang batu spiritual, paviliun obat, dan seluruh harta mereka jatuh ke tangan Keluarga Lin.

Di Aula Utama Keluarga Lin, suasana dipenuhi kegembiraan. Para penatua dan penjaga menundukkan kepala dengan penuh hormat kepada pemuda yang duduk di kursi utama.

Lin Xuan menyeruput teh spiritual yang diseduhkan Xiao Ya.

"Tuan Muda, seluruh harta Keluarga Zhao telah dipindahkan ke kediaman kita. Namun setelah kekuatan Anda terungkap, sekte-sekte di sekitar kota pasti akan mulai memperhatikan kita. Mereka mungkin mengirim orang untuk menyelidiki."

Penatua Pertama, Lin Zheng, menyampaikan laporannya dengan hati-hati.

"Biarkan mereka melihat."

Lin Xuan meletakkan cangkir tehnya.

"Aku akan meninggalkan kota hari ini. Tujuanku adalah Ibukota Kekaisaran Langit Angin."

Lin Zheng dan Penatua Kedua saling pandang. Keduanya terkejut, tetapi tidak berani membantah.

Lin Xuan mengeluarkan sebuah gulungan dan beberapa cincin penyimpanan. Ia melemparkannya kepada Lin Zheng.

"Di dalam cincin itu ada seratus ribu Batu Roh dan puluhan botol Pil Pengumpul Qi tingkat tinggi. Semuanya berasal dari harta Keluarga Zhao dan telah kumurnikan kembali."

"Gunakan itu untuk meningkatkan para anggota Keluarga Lin."

Lin Xuan kemudian menunjuk gulungan tersebut.

"Ini adalah rancangan Formasi Pelindung Naga Tanah. Pasang di sekeliling kediaman kita."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Selama tidak ada kultivator di atas Tahap Inti Emas yang datang, tidak seorang pun akan mampu menembus formasi itu."

Tangan Lin Zheng gemetar saat menerima harta yang nilainya setara dengan hasil Kota Awan Merah selama sepuluh tahun.

"Tuan Muda, kami akan menjaga keluarga ini dengan nyawa kami sampai Anda dan Kepala Keluarga kembali!"

Lin Xuan mengangguk. Ia lalu menoleh kepada Xiao Ya yang berdiri di sampingnya. Gadis itu menggenggam nampan teh dengan wajah murung. Ia mengira Lin Xuan akan meninggalkannya.

"Xiao Ya, kemasi barang-barangmu. Kau ikut denganku."

Mata Xiao Ya langsung berbinar.

"Benarkah, Tuan Muda? Tapi Xiao Ya tidak bisa berkultivasi. Di Ibukota nanti, Xiao Ya hanya akan merepotkan Anda."

"Ikut saja."

Lin Xuan tersenyum tipis.

"Selama kau mengikutiku, bahkan orang biasa pun bisa menjadi serigala yang menggetarkan langit. Mulai besok, aku akan mengajarimu berkultivasi."

Nada suaranya tegas sehingga Xiao Ya tidak berani membantah.

"Sekarang kita ke Paviliun Seratus Herbal. Ada urusan yang harus kuselesaikan."

Dua jam kemudian.

Di ruang bawah tanah Paviliun Seratus Herbal, Gu Yuan berdiri dengan kepala tertunduk di hadapan seorang pria berjubah hitam.

Pria itu adalah Senior Xuan.

"Senior, sesuai perintah Anda, plakat kehormatan untuk Kapal Terbang Roh menuju Ibukota sudah saya siapkan."

Gu Yuan menyerahkan sebuah plakat emas bergambar burung elang.

Pria berjubah hitam itu menerimanya.

"Bagus."

Suara seraknya menggema di ruangan.

"Aku masih memiliki urusan lain. Aku akan menuju Ibukota dengan caraku sendiri."

Ia menyimpan plakat itu sebelum melanjutkan.

"Namun muridku, Lin Xuan dari Keluarga Lin, akan menggunakan plakat ini. Pastikan perjalanannya aman."

Mata Gu Yuan membelalak. Semua teka-teki yang selama ini mengganjal akhirnya terjawab.

Pantas saja Lin Xuan yang dahulu dianggap cacat mampu menghancurkan Keluarga Zhao dalam semalam. Ternyata di belakangnya berdiri seorang Alkemis Agung.

"S-Saya mengerti, Senior!"

Gu Yuan segera berlutut.

"Pantas saja Tuan Muda Lin begitu luar biasa. Ternyata beliau memiliki seorang guru yang begitu hebat. Paviliun Seratus Herbal akan memperlakukannya dengan penuh hormat."

Sosok berjubah hitam itu hanya mengangguk sebelum lenyap ke dalam kegelapan.

Sepuluh menit kemudian, Lin Xuan muncul di pintu depan Paviliun Seratus Herbal bersama Xiao Ya. Kali ini ia mengenakan pakaian sebagai Tuan Muda Keluarga Lin.

Gu Yuan sendiri yang keluar menyambutnya. Ia bahkan membungkuk dalam-dalam di hadapan Lin Xuan.

Para pelayan Paviliun terkejut melihatnya.

Rencana Lin Xuan berjalan sesuai keinginannya. Dengan identitas Senior Xuan, ia mendapat penghormatan dari Paviliun Seratus Herbal. Dengan identitas Lin Xuan, tidak seorang pun akan mengetahui hubungan keduanya.

***

Siang harinya, bayangan besar menutupi pelataran Kota Awan Merah.

Sebuah Kapal Terbang Roh perlahan turun dari langit.

Kapal itu sebesar rumah dan memiliki tiga layar besar. Formasi di lambung kapal membuatnya melayang di udara. Tiga Burung Elang Angin tingkat tiga menariknya menuju Ibukota.

Kapal seperti ini bukan sesuatu yang bisa dinaiki orang biasa. Biasanya hanya bangsawan dan para jenius dari berbagai kota yang mampu menggunakannya.

Lin Xuan dan Xiao Ya naik ke kapal.

Berkat plakat emas dari Gu Yuan, mereka langsung ditempatkan di Kabin Kehormatan Nomor Satu.

Kabin itu berada di dek paling atas. Ruangannya luas dan memiliki balkon yang menghadap hamparan awan.

"Wah! Tuan Muda, empuk sekali!"

Xiao Ya melompat ke atas ranjang.

"Lantainya juga hangat. Bahkan terbuat dari giok!"

Melihat kegirangannya, Lin Xuan hanya tersenyum.

"Duduklah."

Ia kemudian duduk bersila di atas dipan bambu spiritual.

"Perjalanan ke Ibukota masih tiga hari. Selama itu, aku akan mengajarimu dasar-dasar kultivasi."

Lin Xuan menatap Xiao Ya.

"Teknik pertama yang akan kau pelajari adalah Seni Pernapasan Bunga Kabut. Pejamkan mata dan rasakan Qi di sekitarmu."

Xiao Ya duduk bersila dan mengikuti petunjuk Lin Xuan dengan patuh.

Namun ketenangan itu tak bertahan lama.

BRAK!

Pintu kabin ditendang hingga terbuka. Engselnya patah dan membuat Xiao Ya tersentak.

Seorang pemuda berjubah hijau masuk dengan dua pengawal di belakangnya. Hiasan giok tergantung di pinggangnya. Auranya berada di tingkat kedelapan Kondensasi Qi.

Namun Lin Xuan bisa melihat dengan sekali pandang bahwa tenaga Qi pemuda itu tidak murni. Fondasinya telah tercemar oleh obat-obatan.

"Jadi kau yang merebut Kabin Kehormatan Nomor Satu milikku?"

Pemuda itu menatap Lin Xuan dengan angkuh. Tatapannya kemudian beralih kepada Xiao Ya.

"Pelayanmu juga cukup cantik."

Lin Xuan membuka mata perlahan. Suhu dalam kabin seketika terasa dingin.

"Siapa kau?"

Tatapannya jatuh pada pintu yang rusak. "Siapa yang mengizinkanmu masuk?"

"Hahaha! Dia bahkan tidak mengenalku." Pemuda itu tertawa lalu menoleh kepada pengawalnya.

Salah satu pengawal maju.

"Buka matamu baik-baik, bocah desa! Ini Tuan Muda Wang Teng dari Keluarga Wang Kota Angin Puyuh!" Ia menunjuk Lin Xuan dengan angkuh.

"Keluarga Wang memiliki hubungan erat dengan Asosiasi Alkemis Ibukota. Kabin ini seharusnya milik kami. Penjaga kapal bilang kabin ini sudah diberikan kepada tamu kehormatan."

Pengawal itu mendengus.

"Segera berlutut, serahkan kabin ini, lalu tinggalkan pelayanmu sebagai ganti rugi!"

Kota Angin Puyuh jauh lebih besar daripada Kota Awan Merah. Di wilayah itu, mencapai tingkat kedelapan Kondensasi Qi di usia muda sudah cukup untuk disebut jenius.

Wang Teng tumbuh dalam kemewahan dan terbiasa merendahkan siapa pun yang dianggap lebih lemah.

Sayangnya, kali ini ia telah salah memilih lawan.

Lin Xuan menepuk lengan jubahnya lalu menatap Wang Teng.

"Aku tidak suka mengulang perkataan."

Tatapannya menjadi dingin.

"Keluar. Atau aku lempar kau dari kapal."

Wajah Wang Teng memerah karena murka. Sejak kecil, tak pernah ada yang berani memperlakukannya seperti ini.

"Berani sekali kau!"

Ia merasakan kultivasi Lin Xuan yang berada di tingkat ketujuh Kondensasi Qi.

"Kau hanya tingkat tujuh. Berani menantangku?"

Wang Teng menerjang.

Qi angin berkumpul di telapak tangannya dan berubah menjadi cakar tajam.

"Cakar Angin Pemecah Tengkorak!"

Cakarnya mengarah ke leher Lin Xuan.

Namun Lin Xuan tetap duduk. Ia bahkan tidak repot-repot berdiri.

Tangannya terangkat dengan santai.

PLAK!

Suara tamparan menggema di sepanjang kapal.

Serangan Wang Teng berhenti seketika.

Tubuhnya terpelanting ke belakang seperti layang-layang putus benangnya. Darah menyembur dari mulutnya bersama beberapa gigi yang patah.

BRAK!

Tubuhnya menghantam pagar kayu di seberang lorong hingga retak. Tubuhnya hampir terlempar ke bawah kapal.

Dua pengawalnya membeku.

Mereka menatap Wang Teng dengan wajah pucat.

Lin Xuan masih duduk di tempatnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Kekuatan tubuhnya yang ditempa dengan Teknik Tungku Daging telah jauh melampaui seorang kultivator biasa. Dengan bantuan Qi surgawinya, satu tamparan saja sudah cukup untuk membuat Wang Teng kehilangan harga dirinya.

"T-Tuan Muda Wang!"

Kedua pengawal bergegas menghampiri majikan mereka yang terkapar dengan separuh wajah membengkak.

Wang Teng sudah pingsan. Satu tamparan saja telah membuatnya tak sadarkan diri.

Kedua pengawal itu sama-sama berada di tingkat kedelapan Kondensasi Qi. Namun saat menatap Lin Xuan yang masih duduk bersila, hati mereka terasa dingin.

Naluri mereka memperingatkan satu hal.

Pemuda itu bukan lawan yang bisa mereka hadapi.

"Bawa babi itu pergi." Suara Lin Xuan terdengar dingin.

"Perbaiki pintuku sebelum hitungan ketiga." Tatapannya beralih kepada mereka.

"Kalau tidak, kalian yang akan kugantung di sana."

Api Teratai Bumi Terdalam berkilat di matanya.

"K-kami mohon ampun, Tuan!"

Kedua pengawal itu gemetar. Mereka segera mengangkat Wang Teng dan memperbaiki pintu kabin dengan tangan terburu-buru.

Setelah itu mereka kabur menuju dek bawah.

Xiao Ya yang sejak tadi menahan napas akhirnya berani bersuara.

"Tuan Muda, tamparan Anda terlalu keras. Bagaimana kalau giginya sampai menancap di dinding?"

Lin Xuan tertawa kecil. Aura dingin di tubuhnya pun lenyap.

"Jangan pedulikan serangga kecil. Fokus pada pernapasanmu."

Tiga hari berlalu dalam sekejap.

Dengan bimbingan Lin Xuan dan bantuan pil berkualitas tinggi, Xiao Ya akhirnya berhasil mengumpulkan Qi di Dantiannya.

Ia pun resmi melangkah ke tingkat pertama Kondensasi Qi.

Pada hari ketiga, suara terompet panjang menggema dari geladak utama.

Lin Xuan membuka pintu balkon. Angin kencang langsung menerpa wajahnya.

Di balik lautan awan, sebuah kota raksasa terbentang sejauh mata memandang. Luasnya bahkan sepuluh kali Kota Awan Merah.

Tembok marmer putih setinggi puluhan meter mengelilingi kota. Di tengahnya berdiri istana megah yang diselimuti energi spiritual. Tak jauh dari sana menjulang sebuah bangunan berbentuk kuali raksasa yang menembus awan.

Itulah markas Asosiasi Alkemis Benua Bawah.

"Ibukota Kekaisaran Langit Angin..."

Lin Xuan memandang kota di kejauhan.

Di dalam lautan jiwanya, Kuali Naga Hitam kembali berdenyut. Serpihan keduanya berada di kota ini.

Senyum tipis muncul di wajah Lin Xuan.

"Tempat ini akhirnya sedikit menarik." Ia menatap langit yang luas.

"Semoga ada beberapa jenius yang layak kutemui."

1
Arinto Ario Triharyanto
mantap Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk Thor lanjut terus 💪💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
ini baru mantab Lin Xuan lanjutkan aksimu terus bikin dunia berguncang
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Arinto Ario Triharyanto
mantap nih👍
Rinaldi Sigar
lnjut
Aman Wijaya
mantab pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Aman Wijaya
babat semuanya Lin Xuan biar keluarga Zhao lenyap semua
Aman Wijaya
mantab Lin Xuan habisi aja tuh Lin Hao biar ayahnya stres
Aman Wijaya
api teratai bumi udah ada di tangan Lin Xuan
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
lanjut terus
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Saifuloh Oting
Thor,,yg membuat cerita ini begitu epic,.... mantap Thor...
Celestial Quill: Terimakasih, gas terus💪💪
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Lin Xuan
Green Boy
Jos ceritanya
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai keluarga ouyang sampai ke akar akarnya panjang tubuh mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!