Sebuah desa yang penduduknya paling sedikit, berpenghasilan rendah namun hampir semuanya memilki rumah yang bagus, hidup santai dan kehidupan sehari-hari pun terpenuhi.
Tetapi penduduk desa lain enggan tinggal di sana dan mereka mengaku jika memandangi desa itu awalnya tampak indah dan tenang namun semakin lama auranya semakin aneh seperti ditutupi oleh awan gelap.
Tina memilih ikut pindah bersama keluarganya untuk membuka lahan pertanian setelah menyelesaikan kuliahnya dari jurusan agribisnis. Desa itu adalah tempat neneknya dari ayahnya. Dia memliki seorang adik berumur sembilan tahun dan akan pindah sekolah di sana.
Sebagai pendatang Tina pergi ke berbagai tempat di desa itu hingga dia berhenti di sebuah gubuk yang penuh darah dan sesajen. Dengan perasaan tak tenang dia keluar dari sana namun diluar seorang pria dan wanita tua dan pendek menunggunya. Tubuh mereka yang pendek karena tulang punggung yang bungkuk hampir seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna 020, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keris Tua dan Pintu Air
Seakan belum bisa menerima keadaan Dino yang melakukan itu semua dengan apa yang Tina lihat malam itu. Dia akan menyerahkan istri dan kedua anaknya demi pesuruh mahluk itu.
"Apakah kami pindah dari sini supaya ayah menghentikan semuanya?"
"Untuk apa ayah menikahi Ibu jika pada akhirnya kau akan menyakitinya. Dan jangan pikir Tina akan diam saja melukai kami, pikirkan sekali lagi perbuatan ayah sebelum saatnya tiba Tina yang harus menghentikan ayah" ucap Tina di rumahnya mengingatkan Dino sekali lagi.
Dino tampak seperti melakukan ritual di kamarnya, dia seolah-olah bebas melakukan apa saja di rumah itu.
"Ayah tidak akan menjawab Tina? Kapan ayah akan membunuh kami?" tanyanya kembali melihat Dino yang tidak meresponnya dari tadi.
Menggunakan pengikat kepala, wajah pucat dan sebuah keris diikatkannya di pinggangnya, Dino tampak kelihatan lebih kuat dan ekspresinya sangat datar jauh dari yang biasanya sebelum semua itu terjadi.
"Nak. Kamu tak tahu apa terjadi dengan ayah dan Ibumu. Ayah melakukan ini semua bukan tanpa alasan."
"Ayah sudah membesarkan kamu dan memberimu pendidikan dan Ibumu hanya duduk di rumah dan bepergian dengan selingkuhannya. Sekarang seharusnya kamu berbakti kepada ayah" ucapnya pelan mendekati Tina.
"Selingkuhan? Maksudnya? Ayah jangan membuat alasan!"
"Memangnya apa dijanjikan penyihir itu ke ayah sehingga harus menjadikan kami tumbalmu"
"Diam...!!"
"Pergi sekarang dari rumah ini..! Dan kalian tak akan bisa pergi ke mana-mana termasuk ke tempat dimana kamu lahir" sahutnya dengan marah.
"Iya benar. Tina tak tahu masalah ayah dan Ibu tapi apapun itu membunuh bukanlah cara untuk membalasnya"
"Ayah bisa ceraikan Ibu dan kami akan pergi. Kumohon ayah... tolong jangan menyakiti kami" ucap Tina bersujud di hadapannya.
"Apa harus sekarang ayah menyerahkanmu? Pergi sekarang atau tidak... " ucapnya seakan mengancam Tina perlan-pelan.
Tina mundur perlahan, perasaannya bercampur aduk. Rasa penasaran, kesedihan dan rasa ingin melindungi ibunya namun Dino juga ayahnya.
Pikirannya penuh tak tahu harus bagaimana saat itu.
"Kenapa kami harus pindah ke desa ini?"
"Bagaimana semua ini akan berakhir? Benarkah dia ayahku? Apakah aku akan mati disini? Apa dia tak menginginkan kami sebagai anaknya" ucap dalam hatinya memandangi rumah itu dari halaman depan.
"Ha.. ha.. ha..! Sebentar lagi kamu akan mati. Emang enak pindah kesini" ucap seorang wanita yang berpapasan dengan Tina.
"Maaf. Maksudnya apa?"
"Bukankah kamu akan dijadikan tumbal oleh ayahmu. Benar kan? Dia akan jadi pesuruh mahluk hitam itu"
"Jangan asal bicara. Kau sudah gila" ucap Tina dengan geram. Beberapa orang yang ditemuinya tampak aneh dan warga yang sakit kembali bermunculan.
"Pak. Kami harus pergi dari desa ini. Malam ini tolong bantu saya dan Ibu beserta adikku" ucap Tina ke Pak Iman.
"Saya tak yakin, tapi tidak apa-apa kita harus coba bantu Ibumu keluar dari sini."
Malam itu...
"Ibu. Tina tak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi aku hanya ingin Ibu dan Dion tidak terluka lagi."
"Maafkan Tina harus menjauhkan Ibu dari Ayah" ucapnya menangis dipangkuan Sani yang duduk di kursi roda dan diam dari tadi tanpa satu katapun.
Pukul sepuluh malam, Tina sudah membereskan perlengkapan mereka dan mobil sudah ada di depan.
"Ibu. Kita akan kembali ke rumah kita yang sebenarnya dan ayah akan menyusul" ucapnya dan tiba-tiba...
"Aa... aa..... aa...!!!" teriak Sani mengepal tangannya.
"Ibu... Kenapa Ibu?"
"Sudah kubilang aku suka tinggal di desa itu, jangan pernah menjauhkan aku dari situ..!"
"Ibu... !! Ibu sedang sakit. Kita harus pergi..Kumohon... " sahut Tina memeluknya.
Namun hal itu tampaknya membuat Sani semakin marah. Dia kembali seperti kesurupan, tatapan matanya tajam, tubuhnya kuat dan kaku.
"Lepaskan Ibu... lepaskan...!!" teriak Tina menahan tangan Sani yang mencekik lehernya.
Dengan sigap Pak Daus membacakan mantranya dan menaburkan serbuk ke kepala Sani.
"Keadaan Ibumu semakin buruk. Obat-obatan sudah habis namun tak ada pengaruhnya. Semakin hari ***** makannya terus berkurang bahkan hari ini tidak makan apa-apa" ucap Pak Daus.
"Apa Pak Daus saya bisa menghentikan ayahku dan warga desa itu?"
"Hal buruk tidak selamanya bertahan, mereka bisa sejauh ini artinya mereka dapat menghindari apa yang dapat menghentikan mereka."
"Walau banyak orang tapi jika itu hal buruk tetaplah mereka akan kecil karena jiwanya yang sudah menyatu dengan iblis tak akan bisa mengendalikan dirinya lagi dan sebenarnya mereka adalah orang lemah karena rasa haus akan kekayaan menjadikan jiwa raganya babu sihir hitam yang bahkan itu membahayakan nyawanya"
"Namun tak semua orang mempercayai dirinya sendiri, ada yang lemah dan dilahirkan seperti itu sehingga ketika mereka mempercayai dan rasa takut menguasai dirinya maka disitulah sihir hitam itu mencoba masuk tubuhnya."
"Warga desa itu bukanlah sepenuhnya diri mereka, sudah dikendalikan oleh sihir itu bahkan kita tak tahu apakah sebenarnya mereka sudah mati atau tidak namun mereka hidup dengan menggunakan energi yang sudah meninggal dan sihir hitam itu."
"Yang saya tahu sebuah keris tua peninggalan nenek moyang yang disimpan di desa itu yang akan menghentikan semuanya tapi saya tak tahu apa bagaimana keris itu dapat menghentikannya" jelas Pak Daus.
"Keris itu..."
"Iya kenapa keris itu?"
"Tina juga tidak tahu dimana keris itu" jawab Tina tidak melanjutkan perkataannya.
"Kudengar dirumah Mba Tina akan ada acara, segera datang kesini" pesan masuk dari Firman.
Tina seperti terbiasa akan gelapnya desa itu. Dia menemui Firman di rumahnya, dia sudah tak peduli bisikan-bisikan aneh yang didengarnya di malam hari berada di desa itu.
"Saya mendengar dari tetanggaku kalau malam ini ayahmu akan dikukuhkan di rumahmu artinya separuh jiwanya akan diserahkan ke mahluk hitam itu dan akan membuat perjanjian" jelas Firman.
"Saya akan kesana" Firman mengkutinya dari belakang.
Jalan setapak menuju rumahnya, seorang nenek tua rambut putih, terlihat cantik untuk seusianya dan sekilas mirip dengan Dino, berjalan perlahan mendekatinya.
"Nak. Pergilah ke hutan itu, bawa apa yang kamu simpan. Kamu bisa menghancurkan mereka semua disana" ucapnya dengan tatapan sedihnya.
"Apa maksud nenek. Siapa yang bisa menghentikan mereka dan bagaimana caranya" balasnya seakan sudah terbiasa berbicara pada orang tak kasat mata.
"Mba.. Kenapa berhenti disini. Ayo kita lihat ke dalam" tiba-tiba Firman datang dari belakang.
Mereka mendengar dan mengintip dari samping jendela yang terbuka di ruang tamu. Sekitar puluhan orang memakai jubah hitam mengelilingi Dino ditengah-tengah mereka.
"Kapan kau akan menyerahkan istrimu dan anakmu"
"Kau telah menghilangkan keris itu dan anakmu yang mengambilnya, dia memilihmu bukan karena kamu kuat tetapi kamu telah mengijinkan anakmu mengambil keris itu"
"Saya minta maaf tuan. Saya akan menyerahkan mereka tujuh hari lagi saat malam pertama di bulan purnama"
"Saya akan mengambil keris itu kembali dan saya akan berjanji mengembalikan kepada tuan" jawabnya dengan tunduk dan patuh.
"Kamu tahu, hanya keris itu yang bisa menembus air itu, bukan hanya kamu saja yang musnah tapi seluruh manusia di desa ini akan musnah dan sebelum semua itu terjadi kupastikan nyawamu sudah tiada" tegas salah satu dari mereka menodongkan tongkat kayu ke Dino.
"Baik tuan. Akan kupastikan dia tidak ada ke hutan itu dan silahkan cabut nyawaku jika aku tidak memenuhi ucapanku."
Dino menyayat tangannya sendiri dan meneteskan darahnya ke dalam kendi kecil yang disediakan, tiba-tiba Dino mengerang dan sesuatu masuk ke kapalanya.
"Ayo kita pergi dari sini, kita harus ke hutan itu besok siang" ucap Tina buru-buru kabur dari rumah itu.
"Aku tahu kamu disana. Serahkan keris itu sebelum kami bersikap kasar atau ayahmu dan Ibumu berakhir malam ini" ucapan dengan nada mengancam dari dalam.
Tina mengabaikan ucapan itu dan menjauhi rumah itu.
"Kita harus mencari air itu dihutan"
"Tapi keris itu.. dimana kita mendapatkannya. Jangan kesana jika tak tahu apa yang kita lakukan" balas Firman dengan ragu rencana Tina yang akan kembali ke hutan itu.
semangat kak..
jangan lupa mampir ya kak