Warning!!! Terdapat banyak kata umpatan dan hinaan dalam cerita novel ini. Bagi kalian yang berhati lembut dan nggak tegaan, silahkan melipir. Ini bukan novel yang cocok untuk kalian baca.
——————
Namanya Arjuna Zaid Abdullah Al-Fatih. Ia merupakan pewaris Al-Fatih Group, perusahaan raksasa asal Timur Tengah yang mendunia. Akan tetapi bagi keluarga Adipura, Arjuna hanyalah sampah yang dipungut oleh Natasha Adipura.
Kotor, hina dan menjijikan.
Arjuna menerima diperlakukan sebagai suami dan menantu yang tak berguna dalam keluarga itu. Namun Arjuna mulai memperlihatkan kuasanya di saat ada yang mengusik Natasha.
-------
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, itu hanya kebetulan semata.
Selamat membaca ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pria licik
Happy reading ....
*
Belum hilang tanya dalam benak Rama, ia dikagetkan oleh bentakkan seorang pria yang sedang memarahi pegawai resto tersebut.
"Ini pelajaran untuk semua karyawan di sini. Jangan menerima order apapun dari pelanggan yang sekiranya akan merugikan pelanggan lain. Apa kalian ingin menghancurkan tempat kalian mencari nafkah, hah? Kalian ingin mencoreng nama saya dan resto ini?" tanya pria itu penuh penekanan. Ia terlihat sangat emosi hingga tak bisa menahan diri dan langsung memarahi karyawannya.
"Kamu. Sekarang juga, kamu saya pecat!" tegasnya sembari menunjuk pada seorang karyawan yang tertunduk sangat dalam.
Rama menghela napasnya sambil menggeleng pelan. Ia tak berniat mencampuri, namun tak ayal menanyakannya juga pada pelayan yang menghampiri meja itu.
"Ada apa, Mbak? Rame banget," tanya Rama santai.
"Itu, Mas. Ada pengunjung yang meminta teman saya mencampurkan obat pada minuman pengunjung lain. Untung belum, kalau sudah pasti urusannya panjang. Kalau niat jahat, ada aja yang mencium." Sahutnya.
"Oh, jadi ada yang mergokin gitu, Mbak?" tanya Rama jadi penasaran.
"Ya begitulah, Mas. Kasian, teman saya jadi kehilangan pekerjaan. Oh iya, Mas mau pesan untuk makan siangnya sekalian?" tawar pelayan itu.
Mereka tidak menyadari, Bima sedang ketar-ketir mendengar semua itu.
Di tempat lain ....
Arjuna meninggalkan resto tadi dengan perasaan geram. Sebisa mungkin ia tidak terpancing emosi saat melihat video yang berhasil direkam Sani melalui kamera tersembunyi.
Bima berencana mencampurkan obat perangsang serbuk pada minuman Natasha. Arjuna tak habis pikir dan tak bisa bayangkan jika sampai itu terjadi.
"Minta Adipura untuk tidak melanjutkan kerjasama mereka," titah Arjuna datar.
"Baik. Tuan, apakah Anda sudah tahu, kabar mengenai pernyataan putri Jaya Diningrat?" tanya Sani.
Arjuna hanya mengangguk.
"Tuan Muda, Tuan Ahmed diminta untuk kembali ke Dubai oleh Tuan Besar. Beliau akan berangkat dengan penerbangan nanti malam," ujar Sani.
"Benarkah? Kapan itu? Ahmed tidak mengatakannya padaku."
"Saya kurang tahu kapan pastinya Tuan Besar memberi perintah. Saya baru tahu setelah Tuan Ahmed meminta dipesankan tiket," sahut Sani.
"Begitu ya. Rahul, kita ke kantor," titah Arjuna.
"Baik, Tuan Muda."
Awalnya Arjuna berniat kembali ke rumah mengingat keadaan Natasha yang mungkin tidak baik-baik saja. Namun, rencana kepergian Ahmed menghadirkan tanda tanya besar di benak Arjuna. Ada apa Abdullah memanggil Ahmed kembali ke sana?
"Rahul, turunkan aku tidak jauh dari kantor. Kau antar Sani mengambil semua berkas di meja kerjaku di penthouse," pinta Arjuna.
Rahul terlihat ragu dan menoleh pada Sani, lalu menjawab pelan : "Baik, Tuan Muda."
Sesampainya di tempat yang diinginkan, Arjuna pun turun dan berjalan cepat ke gedung Al-Fatih Group. Raut wajahnya terlihat serius dan tak menghiraukan sekelilingnya. Arjuna bahkan tak menghiruakan security yang menatap heran pada langkah besarnya.
"Itu kan suami Tasya, si office boy. Mau apa dia di sini? Eh, kenapa dia menggunakan lift eksekutif? Hei, Kau! Tunggu!" Rio yang sedang berada di lobi berusaha mencegah Arjuna, tapi terlambat. Pintu lift sudah tertutup, dan sekilas Rio menangkap sorot tajam Arjuna yang membuatnya terkesiap.
"Aku yakin itu suami Tasha. Tapi seperti ada yang berbeda," gumam Rio bingung.
Sementara itu di kediaman Adipura, Natasha menatap horor artikel yang membahas rasa sakit setelah pertama kali berhubungan suami-istri. Awalnya Natasha hanya berniat mencari tahu tentang keluhannya. Tapi setelah membaca artikel itu, ia kini mulai berfikir keras. Apakah semalam itu bukan mimpi?
"Tidak mungkin. Arjuna tidak mungkin seberani itu padaku. Ta-tapi rasa tidak nyaman ini ...."
"Aarrgh. Dasar pria licik! Awas, Kau!" pekiknya.
"Arjuna mesum! Seenak saja mengambilnya tanpa izinku, dasar licik! Licik!" raung Natasha sambil menjatuhkan dirinya ke kasur.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Tunggu, aku kan dari kamar mandi, terus aku lihat Arjuna sedang ...."
Natasha mencoba mengurutkan satu-persatu kilasan yang diingatnya. Raut wajahnya merona mengingat adegan ranjang yang kini mulai ia ingat.
"Ish, bisa-bisanya aku seperti itu. Memalukan sekali," gumam Natasha sembari menangkup wajahnya sendiri.
Natasha tertegun sejenak. Kemudian meraba area pribadinya. Wajahnya sudah sangat merah entah karena malu ataukah marah.
Di kantor Al-Fatih Group, Arjuna sedang mendengarkan permintaan maaf dari Ahmed yang memang sengaja tidak memberi tahukannya rencana keberangkatannya.
"Tapi ada apa, Paman? Menurutku ini tidak biasa. Apa ada yang kau sembunyikan?" selidik Arjuna.
"Tuan Muda, aku minta maaf tidak bisa memberitahukanmu. Ini sudah perintah Tuan Besar. Jika nanti Tuan Besar meminta Anda datang, kumohon datanglah. Jangan berfikir dua kali," pesan Ahmed.
"Aku, menghadap dia?" tanya Arjuna sembari tersenyum mengejek. Akan tetapi Ahmed menganggukinya.
"Mungkinkah kakek ingin menemuiku secepat ini?" batin Arjuna ragu.
"Baiklah. Aku harap paman segera kembali. Aku akan meminta Sani membelikan sesuatu untuk cucu-cucumu. Eits, kau tidak boleh menolaknya," ujar Arjuna cepat ketika melihat gelagat Ahmed yanga hendak menolak.
Arjuna berpikir, Ahmed pasti senang kembali ke negaranya. Meski istrinya sudah tiada, anak, menantu, dan cucu Ahmed pastilah sangat merindukannya. Dan sebagai seseorang yang sudah menganggap Ahmed sebagai keluarga, sudah seharusnya Arjuna memberi 'buah tangan' untuk mereka.
"Sani, kau selalu bisa diandalkan di saat seperti ini. Tolong belikan apapun yang sekiranya pantas untuk dibawa Ahmed," pinta Arjuna.
"Tentu, Tuan Muda," sahut Sani hormat.
Setelahnya, Arjuna pun pamit ke ruangannya.
Sepeninggal Arjuna, tidak hanya Sani yang ada di ruangan Ahmed, tapi Rahul juga. Pada Ahmed, Sani meminta maaf karena telah memberitahukan perihal rencana keberangkatan Ahmed malam ini pada Arjuna.
Ahmed berjalan menuju sebuah figura kaligrafi berukuran 80x50 cm yang berada tidak jauh dari kursi kebesarannya. Ketika figura itu di turunkan, sebuah brangkas terlihat. Ahmed membuka pintu brangkas itu dengan sandi yang hanya ia sendiri yang tahu.
Rahul dan Sani memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan Ahmed. Kening keduanya berkerut saat melihat yang Ahmed keluarkan dari dalam brangkas itu adalah sebuah senjata.
"Tuan," ucap Rahul pelan. Rahul menghampiri Ahmed dan membantunya mengaitkan kembali kaligrafi tadi. Kemudian kembali berdiri di samping Sani.
Smith & Wesson 500 Magnum, pistol jenis revolver dengan daya rusak paling mematikan di dunia. Hanya dengan sekilas saja melihatnya, Rahul sudah tahu hal itu. Namun, yang ia dan Sani tidak tahu adalah maksud Ahmed mengeluarkan senjata tersebut.
"Aku punya firasat buruk. Mungkin, aku tidak akan pernah kembali ke sini lagi. Kalian ingat ini, Tuan Muda Arjuna adalah satu-satunya tuan kalian. Sekalipun dia memerintahkan untuk membunuhku, maka bunuhlah aku. Kalian paham maksudku?" tanya Ahmed menjeda kalimatnya. Rahul dan Sani mengangguk pasti.
"Setelah aku pergi malam nanti, aku percayakan keselamatan Tuan Muda dan Nona Natasha pada kalian. Rahul, kerahkan anak buahmu untuk menjaga mereka dari jauh. Dan kau Sani, dampingi tuan muda menjalankan perusahaan, dan pastikan untuk tidak ada lagi Melani-Melani lain yang akan merusak citra Tuan Muda. Jangan lupa juga rencana kita terhadap Irwan dan Joshua. Mengerti?" tanya Ahmed dingin sambil mengarahkan pistol yang tadi dilapnya pada kening Sani dan Rahul bergantian.
"Mengerti, Tuan," sahut keduanya.
"Jika Jaya dan putrinya masih berulah, bunuh mereka di belakang Tuan Muda. Tuan Muda tidak boleh tahu apapun yang kalian lakukan untuk memastikannya tetap aman."
Sani dan Rahul kembali mengangguk. Ahmed pun menyerahkan senjata itu pada Rahul. Penyerahan yang mengisyaratkan penyerahan tanggung jawab Ahmed kepada Rahul untuk memastikan sang pewaris tetap aman dan hidup tenang.