follow Ig @rii.ena
Bastian melotot membaca surat yang ada di tangannya, surat cinta yang di terimanya dari anak perempuan berusia dua belas tahun, surat cinta.
" Cih."
Ucapnya jijik.
Bastian melemparkan begitu saja kertas merah jambu itu dilantai, lalu dengan menggunakan sapu dan sekop sampah, Bastian membuangnya ke dalam tong sampah.
Sepuluh tahun setelahnya, Malam setelah mereka menikah, Bastian baru tahu jika perempuan yang baru dinikahinya adalah bocah yang pernah menulis surat cinta padanya.
Apakah Bastian akan menceraikan Istrinya malam itu juga atau Bastian tetap melanjutkan pernikahan itu, secara Bastian sudah tiga kali gagal menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Akhirnya tahu juga rasanya
Dini hari yang indah bagi Amel, saat dia terbangun karena merasa sudah terlalu lama tidur. Saat Amel membuka kedua matanya dia berada dalam dekapan Bastian.
Masih sama-sama dalam keadaan polos.
Berbeda dengan malam kemarin ketika pertama kalinya Bastian melakukannya, Bastian langsung memakai celananya.
Tetapi malam ini tidak, mereka seperti bayi besar yang berlindung di bawah selimut.
Kondisi badan Amel juga sudah kembali normal, sudah tidak panas lagi. Ujung jari tangan Amel meraba dada Bastian dengan sedikit bergetar karena jantungnya deg deg'kan.
Bastian membuka matanya perlahan lalu menatap Amel yang masih mengelus dadanya.
Amel juga tahu jika Bastian sudah bangun, tapi karena Bastian diam saja, kesempatan bagi Amel untuk meraba dada Bastian yang terlihat kekar.
" Boleh Mas melakukannya lagi pagi ini Mel, Mas jamin kali ini berbeda "
Amel mengangguk dan mulai menikmati sentuhan Bastian tanpa takut kembali sakit di bagian sensitifnya.
Seperti janji Bastian sebelum tidur malam tadi.
Dia mencumbu Amel, dan memperlakukannya dengan penuh kelembutan.
Menyentuh Amel dengan rasa yang ada dihatinya, berbeda ketika malam tadi yang bercampur jengkel.
Pagi ini, Bastian ingin memberikan yang terbaik untuk Amel.
Amel menatap sayu pada Bastian yang tengah menatapnya lembut, dan baru kali ini Amel melihat Bastian menatapnya seperti itu.
" Mas..."
" Kamu lelah ? "
" Sedikit tapi..."
" Lelah tapi puas bukan ? Seperti itulah rasanya. Maaf jika sebelumnya Mas egois dan hanya mementingkan kepuasan Mas sendiri.
Ketika kita melakukan itu lagi, jangan banyak bertanya ataupun berbicara, kamu mengerti ? "
Amel hanya mengangguk.
" Tidurlah ! Masih ada sedikit waktu sebelum subuh "
Amel langsung menyembunyikan wajahnya ke dada Bastian yang sedikit lembab karena aktivitas mereka barusan.
...******...
" Mas, bolehkan aku pergi ? "
Seperti biasa, Amel akan mengantarkan Bastian hingga sampai di sebelah mobil yang akan membawa Bastian ke kampus sekalian mengunci pintu pagar rumah.
Sebenarnya Bastian bukan hanya sebagai dosen saja, tetapi dia dan beberapa temannya membuka kelas kursus bahasa Inggris, dan beberapa bahasa asing lainnya.
Wajah Amel kelihatan semakin cantik dan berseri, mungkin karena dia sudah terpenuhi kebutuhan batinnya. Tidak penasaran lagi.
" Baiklah, tapi jangan sore-sore pulangnya ! Bersenang-senang boleh, jaga batasan, kamu sudah bersuami "
Antara rela dan tidak, Bastian mengizinkan Amel pergi untuk bertemu Anwar, harus bagaimana lagi, Anwar temannya dan Amel keukeh kalau mereka cuma sahabat tanpa embel-embel yang lainnya.
" Siap Bos ! "
Amel memperagakan gaya seperti seorang tentara.
Bastian hanya bisa tersenyum dan mengacak rambut Amel pelan.
Jika Bastian tidak mengizinkan, kesannya Bastian terlalu kejam, tidak memikirkan perasaan Amel. Padahal temannya itu yang selalu mendampingi Amel disaat masa-masa sulit Amel.
Setelah semua urusan rumah beres, tadi Amel masih sempat membuat Ayam kecap. Jaga-jaga jika Bastian pulang cepat atau lebih dahulu Bastian sampai rumah dari pada Amel, jadi Bastian tidak akan kelaparan lalu mengomel lagi.
" Baru juga nikah, setiap suami berangkat kerja, ikut berangkat juga.
Memangnya punya kegiatan apa sih di luar sana ? Jangan- jangan kamu selingkuh ya ? "
Amel yang baru mengunci pagar rumah, menoleh ke belakang.
Melihat siapa yang barusan berucap pedas menyaingi pedasnya cabai setan, Amel hanya bisa memutar bola matanya jengah.
" Eh, Tante. Gak usah ngurusin rumah tangga orang lain, urusin tuh rumah tangga sendiri ! Apa udah bener ? "
Rasa kasihan yang pernah ada di hati Amel untuk mbak Nindy langsung sirna.
Amel kira setelah pertengkaran dengan suaminya kemarin, mbak Nindy akan berubah seiring dengan berubahnya penampilan dirinya, ternyata cuma sebentar.
" Aku cuma memberitahukan dirimu, punya suami ganteng itu harus dijaga baik-baik ! Jadi istri itu juga harus setia, bukan malah keluyuran di saat suami keluar mencari nafkah "
Amel mengerjab ngerjabkan kedua matanya bingung.
Amel melihat arah ke timur, matahari sudah mulai bergeser naik.
Masih terbit dari timur sih, belum dari selatan atau utara.
" Kamu dengar gak kalau di nasehati ?"
" Hah ? "
Amel semakin bingung, dia sedang tidak mimpi kan ? Tadi dirinya dan Bastian cuma sarapan nasi goreng dengan telur ceplok.
Bastian bilang jangan terlalu repot, yang penting ketika berangkat ke kampus perutnya gak kosong.
Ah, berati gak mimpi,
Perut Amel masih terasa kenyang.
" Tante sudah sarapan ? "
" Tante ? Kapan aku menikah dengan Om kamu ? "
Mbak Nindy melengos.
" Sarapannya bukan minuman beralkohol atau lalapan daun kecubung kan ? Kok mabuk ? "
" Maksud kamu apa ? Jangan kurang ajar ya sama yang lebih tua "
Wajah Mbak Nindy terlihat semakin kesal.
" Dengar ya wahai wanita yang lebih tua, aku sedang buru- buru mau ketemu dengan temanku.
Aku juga sedang gak niat buat ngelayani ocehan Tante yang gak penting, karena melayani suami satu saja sudah membuat aku terkapar "
Amel terkekeh sendiri dengan gaya bicaranya yang gak pakai kontrol.
" Dan satu, jangan ngajarin aku soal menjaga suami.
Apa Tante lupa siapa yang berteriak-teriak kemarin yang mengatakan suaminya nginep di rumah janda selama seminggu ? "
" Itu...."
" Daaa...."
Amel segera naik ke belakang boncengan motor ojek online pesanannya yang baru datang.
...******...
Amel segera turun dari boncengan motor ojek ketika melihat Anwar yang sudah celingukan menjulurkan lehernya kesana kemari.
Dia tepat berada di depan sebuah cafe yang bagus.
Melihat dari kendaraan yang ada di parkiran, cafe ini tempat nongkrongnya kalangan ekonomi menengah ke atas.
Tapi Amel cukup percaya diri membuat janji mentraktir Anwar di tempat itu, dia sedang banyak uang.
Kan baru dapat pembagian jual warisan.
Bastian cukup mengerti, dia sama sekali tidak mau bertanya tentang uang yang menjadi hak prerogatif Amel sendiri, semua terserah Amel.
" Aku sudah hampir jamuran menunggu mu, Mel "
" Lebay ah, palingan juga baru lima menit.
Aku harus masak dulu, War. Jadi kalau Mas Bas pulang, ada makanan yang mau dimakannya "
" Mas Bas ? "
Anwar mencibir.
" Mesra bener ? Kemarin manggilnya Bapak "
" Sudah, ayo masuk ! "
Amel berjalan mendahului Anwar untuk masuk ke dalam cafe.
Dahi Anwar sedikit berkerut ketika melihat cara jalan Amel yang sedikit berbeda dari biasanya.
Anwar hanya tersenyum masam, apalagi ketika ekor mata Anwar dengan tidak sengaja melihat di belakang telinga Amel, ada bercak biru keunguan.
Tidak besar sih, kecil, terlihat jika yang melakukannya bukan amatiran, pasti sudah berpengalaman karena bentuknya tidak berantakan.
" Aku kira suamimu tidak bakalan menyentuh dirimu secepat itu, tak tahunya ....Dasar kucing, gak boleh nampak ikan langsung dimakan ! "
Anwar mengambil posisi tempat duduk persis di depan Amel.
Meja mereka tidak terlalu berada di pojokan, tetapi sedikit dekat ke pintu keluar.
Amel tidak menggubris omongan Anwar, karena Amel kuatir nanti Anwar akan terus mengejeknya dan ketahuan dong kalau Amel gak jadi balas dendam ingin mengecewakan hati Bastian seperti yang pernah Bastian lakukan terhadap Amel.
" Kita gak usah ngebahas Mas Bas ! Sekarang kau mau pesan apa saja terserah, bebas "
" Beuh, yang baru cair. Habis ini kita nonton ya ! Impian kita nonton film horor dan berteriak sekencang-kencangnya kalau takut tanpa memperdulikan penonton lain, akan kita lakukan, bagaimana ? "
Wajah Anwar terlihat berbinar, Amel menelan salivanya.
Alasan apa yang akan Amel berikan, Bastian tadi memberinya pesan agar pulang jangan kesore'an dan harus ingat statusnya.
...*******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...