Jihan Safithri Karisma yang tidak sengaja bertemu Barra Arrazi Fathan yang raut dingin datar kejam dan tak pandang bulu.
Dan entah takdir atau apa yang membuat Barra bertemu dengan Bunda dan Ayah Jihan di jalan saat dibegal oleh beberapa preman bertubuh kekar.
Ditambah keseruan dari para sahabat Jihan dan Barra, dan tokoh tokoh lain yang hadir sementara untuk mengisi alur yang kosong.
Apa yang terjadi selanjutnya?..
....
fyi : autor ga pernah copas/menyalin karya orang lain! semua karya yang autor buat murni dari khayalan+kisah nyata yang di alamin oleh teman-teman autor.
kalau tidak menyukai karya ini atau karya ini terlalu kaku, tolong beri saran bukan makian. tks.
langsung baca aja ya! biar nggak penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Acara telah selesai dan tamu mulai beranjak pulang ke rumah masing masing, layak nya tradisi di adat mereka, para tamu datang dengan membawa amplop berisikan uang dengan nominal yang berbeda beda dan di berikan ke mempelai wanita secara langsung.
Saat sessi photo, Jihan banyak melakukan kesalahan karena gaun yang panjang dan berat membuat Jihan tak bisa bergerak dengan leluasa, bahkan kaki nya pegal akibat high heels ternama yang tinggi nya tujuh inci, bayangkan.
Malam nya
Disebuah kamar anak gadis yang sudah diubah menjadi kamar pengantin yang begitu membuat siapapun yang masuk akan terpesona dan memuji keindahan nuansa kamar, tak sia sia Ayah Elan menyewa WO yang begitu handal dan pasti cepat.
Sepasang pengantin yang sedang berbincang layak nya teman, duduk di pinggir kasur yang telah di permak menjadi ranjang king size dengan taburan kelopak bunga mawar di tengah berbentuk hati.
Dalam hati kedua nya merasa gugup, canggung, dan sangat berdebar tapi mereka coba tutupi dengan berbicara memakai bahasa gaul agar tidak terlihat gugup kedua nya saling menghadap lurus tak mau berhadapan yang membuat salah tingkah.
"Lo duluan deh yang mandi, gue mau ngeberesin pakaian dulu" cetus Jihan setelah keheningan sebentar dan mencoba mencari topik yang baik untuk di bicara kan dan di cerita kan.
"Eh.. Lebih baik lo duluan, gue mau nyiapin pakaian ganti gue dulu baru gue mandi" tolak Barra dengan nada lembut dan halus.
"Lo duluan aja deh" paksa Jihan tak mau kalah, dia sebenarnya hanya malu karena baru pertama kali berduaan bersama cowok dan itu adalah suami sah nya sendiri.
Barra menghela napas, sulit memang debat sama cewek yang ga mau ngalah. "Oke lah.. Gimana kalo kita bareng bareng aja!" usul Barra mulai jengah dan merasa tubuh nya sudah lengket beserta bau pasti nya.
Usulan Barra bukan nya di terima oleh Jihan dengan anggukan malah dengan gelengan cepat bahkan dengan polos nya Jihan menyilang kan kedua tangan nya di dada.
Sementara diluar dari kamar pengantin yang baru beberapa jam yang lalu sah itu, terdapat enam manusia tak tau malu yang menguping pembicaraan Jihan dan Barra, si pasutri baru.
Tapi seperti nya enam orang pembuat onar itu bukan menguping tapi malah membuat orang yang berada di dalam kamar menghentikan pembicaraan karena berisik nya di depan kamar nya.
"Duh! Sakit nyet! Geser geser napa! Sesek gue" keluh Adiba menyenggol lengan Adnan yang berada di sebelah nya yang ikut menempel kan telinga di pintu.
Karena kamar pengantin itu sudah di modif dan di beri kedap suara, jadi mereka tak bisa mendengar pembicaraan dari tembok yang biasa nya bisa terdengar kini tak bisa, dan hanya bisa di pintu itupun samar samar.
"Lo nya yang kegendutan! Lo udah bisa denger pasutri HanBar ngomong lah pasti" sewot Adnan tak mau di salah kan dan tak mau bergerak dari tempat nya menguping.
Cia, Ersa, Denis, dan Azkan yang di belakang Adnan dan Adiba hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah dua manusia bar bar dan cukup cerewet itu. Baru dipertemu kan di meja VIP tadi siang tapi kedua nya langsung akrab bahkan debat hingga tak ujung.
Azkan melihat Adiba yang begitu lucu hanya bisa tersenyum kecil, suatu hiburan untuk nya saat melihat Adiba yang seperti ini tanpa kesedihan dan acara ngambek seperti siang tadi.
"Eh? Gue denger sesuatu.." seru Adiba membuat keempat manusia beku di belakang semakin penasaran dan maju selangkah ikut menguping.
"Apa? Gue ga denger anjirt!" tanya Adnan dengan batas kepo tingkat dewa.
"Tempelin kuping sebelah lo semua ke pintu, pasti tau deh apa yang pasutri HanBar omongin" titah Adiba sedikit turun memberi celah agar orang yang tidak di ketahui oleh Adiba siapa bisa menguping juga.
Mereka pun menuruti perintah Adiba, tapi tak ada suara yang seperti sedang berbincang, melainkan suara langkah kaki santai yang menuju ke pintu walau samar.
Dan....,
Kreitt
Brukk
Disaat bersamaan dengan pintu terbuka, keenam manusia tak tau malu itu tersungkur bersamaan ke depan karena tak bisa seimbang dengan gerakan pintu yang cepat.
Barra, pemuda yang membuka pintu dengan tampang datar ke bawah, dia sudah bisa menebak pasti akan ada yang menguping, sedangkan Jihan nampak mengekori di belakang dengan bersedikap dada.
"Enak?" tanya Jihan santai bersandar di dinding.
"Sakit" ringis keenam manusia tak punya urat malu itu sambil mengusap lengan mereka yang terkena lantai secara langsung.
"Salah sendiri, kenapa nguping di depan kamar orang?" ketus Jihan bersedikap dada. Barra masih setia dengan tatapan datar kepada keenam batu seremban di hadapan nya.
6 batu seremban itu menatap Barra dan Jihan secara bergantian dengan cengir tanpa dosa, sebelum bangun dari jatuh nya mereka saling pandang baru lah bangun dari jatuh seperti tidak terjadi apa apa.