Berawal dari menolong seorang laki-laki yang habis-habisan di hajar oleh ketiga preman. Maila juga harus bertemu kembali dengan laki-laki itu di sekolah barunya. Yang ternyata laki-laki itu adalah kakak kelasnya sendiri, yang merupakan laki-laki populer di sekolah. Yang ternyata namanya adalah Larbi.
Bukan hanya itu. Larbi juga terus mengusik dirinya. Sehingga, membuat Maila sebal pada Larbi sendiri. Namun, tanpa mereka sadari. Pertemuan mereka ada hubungannya dengan masa lalu mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara The Refour Band.
Larbi POV
Aku sedang berada di ruang aula, sedang mempersiapkan acara untuk band besok. Semua OSIS maupun itu ketua OSIS, wakil, dan atau para anggota OSIS terutama aku, di kumpulkan di ruang aula untuk membantu mempersiapkan segala-segala keperluan acara. Aku sedikit sebal, karena yang manggung band itu sendiri, Kenapa OSIS juga yang harus menyiapkan dan bukannya para anggota band itu.
"Jov! Dari mana aja lo!"
Kebetulan aku sedang menata alat musik di panggung. Anggota The Refour Band, atau yang sering ku sebut dengan nama Tambal Ban(d) untuk nama band mereka. Yang anggotanya terdiri dari Baim, Bagas, Galih, dan playboy yang terkenal di sekolah, yaitu Jova yang merupakan vokalis dari band tersebut. Ucapan mereka terdengar olehku, karena jarakku dan jarak mereka lumayan dekat. Mereka bertiga malah enak-enakan nongkrong sambil duduk di kursi yang kebetulan memang sudah di sediakan di aula. Di tambah lagi dengan kedatangan teman mereka yang di cap playboy dengan santainya malah ikut-ikutan nongkrong. Benar-benar menyebalkan sekali mereka, ini kan acara mereka sendiri, dan bukannya malah membantu menata acara, dan malah enak-enakan.
"SORRY! Gue ada urusan tadi!"
Aku hanya melirik sekilas ke arah mereka dengan tatapan yang tidak suka. Apalagi disana ada Baim.
"Gue liat saat pulang sekolah lo lagi bonceng cewek, dan kelihatannya itu adik kelas," ucap salah satu dari mereka, dari suaranya terdengar seperti suara Galih.
"Hayo, mulai nyari mangsa ya lo!"
"Dasar buaya darat! Nggak bisa apa jadi buaya laut?!"
"Btw, emangnya cewek itu siapa?"
"Haha..., itu Maila. Teman kecil gue." Aku langsung terbelalak mendengarnya, dan hanya terdiam sesaat. Menghentikan pekerjaanku yang sedang menata alat musik. Jadi, Jova adalah teman kecil Maila? Pantas ia sangat akrab saat bertemu dengan playboy itu.
"Oh,"
"Eh, tadi Lexa nyari-nyari lo terus, sambil marah-marah kayak emak-emak kehabisan skincare. Katanya dia telpon lo, tapi nggak di angkat sama lo,"
"Ngapain dia nyari-nyari gue?"
"Nggak tau, mending lo bujuk,"
"Eh ngomong-ngomong, lo sama teman kecil lo ada hubungan apa? Perasaan ketika gue liat lo, lo terus berdua sama itu cewek. Apa lo bakal jadiin dia seperti puluhan mantan lo."
Aku sedikit terbelalak mendengarnya. Jangan bilang jika si playboy karatan ini akan menjadikan Maila seperti mantannya, aku takut jika Maila akan terluka dan sakit hati dengan apa yang di lakukan playboy itu, apalagi dia adalah teman kecilnya sendiri. Beberapa akhir hari ini aku menjauhi Maila, dan bahkan bersikap cuek padanya. Rasanya tidak enak jika aku bersikap begitu padanya. Ketika pertama kali aku melihat Maila makan berdua di kantin dengan playboy
Itu, rasanya aku tidak suka jika ia dekat dengan playboy itu, apalagi aku tahu perlakuan Jova itu seperti apa, dan aku sangat tahu dia seperti apa. Makanya beberapa hari ini aku menjauhinya. Bukankah Maila sendiri yang menginginkan aku untuk bersikap cuek padanya?
Tapi aku tidak akan membiarkan Maila di sakiti oleh playboy itu!!!
"Hmm.. "
"Tobat lo Jov! Tobat! Apa lo nggak kasihan sama sahabat lo sendiri yang Jomblo? Harusnya kalo sahabat lo jomblo, maka lo juga harus jomblo. Kalo sahabat lo lagi sekarat, lo langsung kirim uang ke rekening ATM sahabat lo. Kalo sahabat lo mati, maka lo juga harus menyiapkan tanah pemakaman, beserta kain kafan,"
"Sialan! Lo nyumpahin kita mati?!"
"Hmm... "
"Jadi, lo bakal jadiin dia seperti mantan lo?"
"Hmm... "
"Hmm.., hmm... Mulu. Udah kayak Nissa Sabyan kedua."
" ........"
"DORR!!!"
Aku langsung terkesiap dengan memegang dadaku karena kaget, baru saja aku ingin mendengar jawaban dari playboy karatan itu, tapi karena si ketos songong ini malah mengagetkanku di depan hadapanku. Jadi aku tidak tahu apa yang ingin di jawabnya.
"Sinting lo!" ucapku dengan kesal sambil memukul pundaknya. Sedangkan ia hanya tertawa renyah melihatku kaget.
"Wkwkwkwk, hampir aja jantung pisang lo copot!" sahut Zio yang sama-sama mentertawakanku. Benar-benar menyebalkan. Dua makhluk astral dari planet pluto ini membuatku geram dan ingin mencekik mereka berdua.
"Lo berdua ngapain sih kesini? Lo juga ngapain tiba-tiba ngagetin gue? Mau gue cepet mati?!" ucapku kesal pada mereka dengan menatap malas ke arah Anggi.
"Hehe.. Maaf, gue kira lo kesambet diem terus, ya gue kagetin aja biar setannya keluar dari tubuh lo," jawab Anggi dengan tercengesan ke arahku. Sehingga membuatku sebal mendengarnya.
"Lo juga ngapain disini? Lo kan bukan osis!" ucapku dengan menatap malas ke arah Zio.
"Ya, gue nungguin lo! Karena lo janji, lo bakal traktir gue nasi padang, karena gue sudah ngasih contekan tugas ke lo saat pagi-pagi." Jawabnya. Ya, memang saat pagi-pagi aku lupa mengerjakan tugas fisika, karena semalam aku lupa untuk mengerjakannya. Dan terpaksalah aku harus meminta contekan ke Zio, dengan janji harus mentraktirnya nasi padang. Memang teman laknat! Seharusnya sesama teman harus tolong menolong dengan ikhlas, bukan meminta imbalan. Tapi tidak apalah dikit-dikit sedekah pada dia.
"Kalo lo udah dengan tugasnya, lo bisa langsung pulang," ujar Anggi padaku.
"Tapi gue nggak bisa ikut kalian buat beli nasi padang, karena gue ada urusan sama Zifa," lanjutnya lagi.
"Siapa juga yang ngajak lo!" Ujarku.
Aku dan Zio pun beranjak ke luar dari aula, tugasku untuk menata acara tersebut sudah selesai. Sekarang kami berdua menuju parkiran untuk mengambil motorku, Zio ikut nebeng bersamaku karena motornya rusak.
"Lar!" panggil Zio padaku.
"Apa?" responku sambil memakai helm milikku.
"Kenapa beberapa hari ini lo nggak pernah lagi deket sama Maila? Apa lo musuhan?" tanyanya padaku. Aku hanya terdiam tidak menjawab pertanyaannya.
"Lar!" panggilnya lagi dengan suara yang ngegas.
"Bukan urusan lo! Kalo lo ngomong terus, gue nggak jadi traktir lo," ucapku dengan kesal.
"Jangan gitu dong! Iya gue nggak bakal ngomong lagi!" ucapnya sambil naik ke atas motorku dan duduk di belakangku.
"Udah?" tanyaku padanya, tapi ia hanya terdiam tidak menjawab pertanyaanku.
"Udah belum? Gue mau ngebut ni!" tanyaku lagi, sementara ia masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaanku.
"Lo kenapa sih diem terus? Jawab dong, udah belum? Soalnya gue mau ngebut!" ucapku dengan kesal.
Ting!
Tiba-tiba ponselku berbunyi, dan itu pasti ada notifikasi dari ponselku. Aku mengambil ponselku di saku celanaku, dan menghidupkannya. Terdapat sebuah notifikasi SMS, dan itu SMS dari Zio. Aku langsung membaca SMS tersebut.
Zio laknat!!!
Tadi lo bilang gue di suruh jangan ngomong terus! Ya ini gue nggak ngomong, dan gue diem. Lo gimana sih?!!!
Aku menghela nafas dengan kasar. Bukankah aku menyuruhnya untuk tidak banyak omong, dan bukan menyuruhnya untuk diam.
"Kan gue suruh lo buat jangan ngomong terus, bukan menyuruh lo buat diem!" ucapku dengan sebal padanya, dan berusaha untuk bersabar walaupun di beri teman laknat seperti dia.
"Oh gitu ya!" ucapnya.
"Iya gue udah siap."
Aku pun melajukan motorku dengan kecepatan yang cukup tinggi, sehingga suara motorku terngiang-ngiang di jalanan. Setelah beberapa lama untuk sampai di tempat rumah makan padang, akhirnya sampai juga. Aku menghentikan motorku di depan tempat tersebut. Zio turun dari atas motor dan langsung membuka helm yang ia pakai, begitu pun denganku. Kami berdua pun masuk ke dalam untuk memesan dan makan disana.
"Eh Maila, disini juga?" aku melirik ke arah Zio yang sedang bertanya pada seseorang, dan orang itu adalah Maila.
"Iya, kak Zio disini juga mau beli makanan?" tanyanya.
"Iya sama Larbi!" jawab Zio. Maila menatap Zio dengan tersenyum, sedangkan padaku ia nampak sedikit cuek.
"Kalau begitu Maila duluan. Udah sore," ucapnya.
"Nggak makan disini?" tanya Zio.
"Nggak, di bungkus." Jawabnya sambil beranjak pergi. Ia menghampiri motornya yang terparkir di depan tempat makan padang disini.
"Maila!" panggilku. Ia pun menoleh ke arahku, dan aku langsung menghampirinya. Nampaknya ia menatapku dengan raut wajah yang dingin.
"Apa?" tanyanya dengan suara yang dingin.
"Gue cuman mau bilang. Lo jangan dekat-dekat sama Jova," ucapku. Ia langsung menatapku dengan bingung.
"Kenapa memangnya? Dan kenapa lo tiba-tiba melarang gue buat deket sama dia? Apa urusan lo terhadap gue, nggak ada kan?" tanyanya dengan sedikit jutek padaku.
"Gue aja belum jawab pertanyaan lo, tapi lo malah bilang begitu ke gue. Dengerin gue dulu," ucapku, dan ia pun terdiam dengan menatap malas ke arahku.
"Lo jangan deket-deket sama dia. Dia itu playboy May. Gue tau sikap dia kayak gimana, dan mungkin saja dia itu sekarang lagi manfaatin lo," ucapku.
"Playboy? Lo jangan suuzon dulu deh! Gue teman kecilnya, jadi gue tau sikap dia seperti apa. Dan teman kecil gue nggak mungkin seperti itu," ucapnya.
"Udah deh jangan di bahas, gue mau pulang," ucapnya lagi sambil memakaikan helm motornya.
"Dan satu lagi, pertahankan sikap cuek lo ke gue, seperti hari-hari kemarin." Ucapnya sambil menghidupkan motornya, dan meninggalkanku begitu saja.
Larbi POV end
Jangan lupa like, komen, vote, dan rate.
Oh, jadi gitu. Syukurlah, ingatan kamu balik Larbi. Semoga, kalian bisa semakin dekat lagi, ya!🥰🥰
Benar! Cinta pasti akan ada coba dan uji. Tidak mungkin akan selalu mulus² saja. 👍🏻❤️
Tetap semangat ya Dek! Semoga, Allah selalu menjaga dan melindungi kamu serta membimbing kamu di mana dan kapanpun itu. Sehat terus! Aamiin!!
Sukses terus buat kamu, Dek!🥰👍🏻❤️
like😍
tetap semangat thor
ditunggu karya barunya💪
Kita tidak bisa menentang takdir yang sudah di tetapkan! 🤧🤧