Lima tahun lalu, Reihan Wijaya—pewaris konglomerat paling berkuasa di Jakarta—lenyap tepat di hari kontrak triliunannya diteken, meninggalkan Nathania yang tengah mengandung dan seluruh utang keluarga Lie yang mencekik.
Lima tahun kemudian, Nathania pulang. Bukan lagi gadis yang dulu terpuruk, tapi pendiri Astera Group yang berdiri di atas kakinya sendiri—dengan satu rahasia kecil bernama Meira, putrinya yang berusia lima tahun.
Di sebuah sudut jalan, Meira menarik tangan seorang pria gembel yang kehilangan ingatan. "Ma… itu Papa," katanya, sambil menggenggam sehelai foto lusuh.
Hasil DNA membuat tangan Nathania gemetar: 99,99%.
Pria "bodoh" yang ia bawa pulang, yang mencuci piring dan menjaga Meira, yang dijuluki "suami simpanan" oleh keluarganya sendiri—ternyata adalah taipan yang seluruh kota kira sudah mati. Dan di tangannya, tergenggam brankas, dendam lima tahun, serta satu Surat Perjanjian yang pernah mengunci Nathania dalam sangkar emas.
Saat topeng terbuka di depan seluruh Jakarta, saat kebohongan lima tahun terkuak… apakah Nathania akan memaafkan pria yang membiarkannya menyalakan dupa untuk "mendiang"-nya sendiri?
Dengan satu putri kecil sebagai mak comblang paling nekat, sang konglomerat siap menurunkan seluruh harga dirinya—demi merebut kembali istri dan anaknya.
"Berapa pun maharnya, akan kubayar. Asal kalian pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Malam yang Hilang dari Ingatan
Pagi itu, Meira tahu ada yang salah karena roti bakarnya tidak dipotong bentuk hati.
"Mama lupa?"
Nathania menatap piring. "Maaf, Sayang."
"Tidak apa-apa. Bentuk kotak juga bisa dimakan."
Han duduk di seberang meja, belum menyentuh kopi. Cincin lamaran masih di jarinya. Nathania melihatnya sekali, lalu memalingkan wajah.
"Nia, kita perlu bicara."
"Tidak di depan Meira."
Meira mengangkat tangan. "Mei bisa tutup telinga."
"Tidak."
"Kalau Mama marah, Mei peluk?"
Nathania tersenyum tipis dan mengusap rambutnya. "Mama tidak marah pada Mei."
"Pada Papa?"
Tidak ada yang menjawab.
Meira menunduk dan menggigit roti kotaknya.
Setelah Pak Karto mengantar Meira ke TK, Nathania mengambil map cokelat dan berjalan ke pintu.
Han berdiri. "Aku antar."
"Denny menjemput."
"Nia."
"Aku perlu bicara dengan orang yang tidak memilih kapan aku boleh tahu."
Kalimat itu menghentikannya.
Di mobil, Denny tidak banyak bertanya. Ia hanya melihat map di pangkuan Nathania dan wajahnya yang terlalu tenang.
"Bu, mau ke kantor atau tempat lain dulu?"
"Kantor. Ruang kecil lantai enam. Jangan ada yang masuk."
Baru setelah pintu ruang kecil tertutup, Nathania menyerahkan kertas itu.
Denny membaca. Wajahnya berubah di halaman pertama, lalu makin keras di halaman kedua.
"Ini asli?"
"Han bilang asli."
"Han tahu?"
"Dia tahu terlalu banyak."
Denny menurunkan kertas. "Bu Nathania..."
"Jangan kasihan padaku."
"Saya tidak."
"Kamu terlihat seperti itu."
"Saya marah."
Jawaban itu membuat Nathania terdiam.
Denny mengetuk angka Rp 500 miliar di halaman. "Ini bukan perjanjian biasa. Tapi bahasanya sengaja dibuat abu-abu. Perlindungan, pengawasan, penalti. Orang bisa membacanya sebagai perlindungan finansial. Orang lain bisa membacanya sebagai kendali."
"Aku membacanya sebagai kandang."
"Karena Ibu kehilangan ingatan malam itu."
Nathania menutup mata.
2018.
Menara Lie.
Hujan.
Suara rem.
Perut sakit.
Lalu kosong.
"Aku mencoba mengingat," katanya. "Tapi setiap kali sampai malam itu, kepalaku seperti ditutup pintu besi."
"Kita cari dari jalur lain."
"Reihan Wijaya."
"Saya sudah mulai."
Denny membuka tablet. "Tidak ada foto wajah jelas. Semua artikel lama memakai siluet, foto belakang, atau acara dengan jarak jauh. Grup Wijaya sangat rapi menghapus arsip."
"Kenapa?"
"Alasan resmi, privasi keluarga. Alasan tidak resmi, mungkin karena dia memang orang yang tidak suka tampil."
"Atau karena seseorang tidak mau dia dikenali."
Denny tidak membantah.
Ia membuka halaman lain. "Lima tahun lalu, Reihan dinyatakan hilang setelah kecelakaan Nirwana Bay. Beberapa tahun kemudian status hukumnya diarahkan sebagai meninggal karena barang pribadi ditemukan di sungai. Salah satunya cincin."
Nathania menyentuh kalung Bara di dadanya. "Cincin?"
"Platinum, inisial N.L. di bagian dalam menurut satu catatan asuransi lama."
Ruangan kecil itu seperti mengecil.
"N.L.," bisik Nathania.
"Sama dengan kalung."
"Denny, kalau Reihan mati, kenapa Han seperti mengenalnya? Kenapa kalung itu ada padanya? Kenapa Bram muncul setiap kali nama Wijaya bergerak?"
"Saya tidak punya jawaban bersih."
"Berikan jawaban kotor."
Denny menatapnya. "Han terkait langsung dengan Reihan. Sangat langsung. Tapi saya belum bisa buktikan dia Reihan karena tidak ada pembanding wajah."
Nathania tertawa pahit. "Aku bahkan tidak bisa mengenali ayah anakku sendiri."
"Ibu tidak salah. Ibu kehilangan ingatan karena trauma dan melahirkan. Jangan biarkan kertas ini membuat Ibu menghukum diri sendiri."
"Kertas ini bilang aku setuju."
"Orang bisa menandatangani sesuatu karena terdesak."
"Atau karena dibeli."
"Atau karena diselamatkan dengan cara yang buruk."
Nathania menatap Denny tajam.
"Saya tidak membela dia," kata Denny cepat. "Saya hanya tidak ingin Ibu menyimpulkan sebelum tahu semua."
"Aku menyimpulkan satu hal."
"Apa?"
"Aku tidak mau menjadi orang terakhir yang tahu hidupku sendiri."
Sore itu, Nathania pulang lebih lambat dari biasanya. Han sudah menunggu di ruang tengah. Meira menggambar di lantai, tetapi suasana membuat anak itu tidak banyak bicara.
"Mama, hari ini roti kotak lagi?"
"Besok hati lagi."
"Janji?"
"Janji."
Meira memeluknya sebentar, lalu berlari ke Bik Inah.
Han melangkah mendekat. "Nia."
Nathania mengangkat map. "Aku akan mencari Reihan Wijaya."
Wajah Han berubah.
"Kalau dia mati, aku ingin tahu kenapa aku menandatangani ini. Kalau dia hidup, aku ingin bertanya langsung kenapa hidupku pernah ditulis seperti ini."
"Nia, jangan masuk terlalu jauh."
"Aku sudah di dalam."
"Ada hal yang berbahaya."
"Maka berhenti membuatku berjalan tanpa lampu."
Han terdiam.
"Aku tidak membatalkan lamaran malam ini," kata Nathania. "Tapi jangan salah paham. Itu bukan karena aku percaya penuh. Itu karena Meira sudah menyebutmu Papa, dan aku tidak akan merusak hatinya dengan keputusan yang dibuat saat aku terluka."
Han tampak seperti baru mendapat hukuman sekaligus kesempatan.
"Aku mengerti."
"Tidak. Kamu belum." Nathania melewati dia menuju kamar. "Mulai besok, aku mencari wajah dari nama yang pernah membeli hidupku."
Pintu kamar tertutup.
Han berdiri di luar, tangan menyentuh cincin longgar di jarinya.
Ia tidak pergi ke sofa dulu. Ia berdiri cukup lama sampai Bik Inah keluar dari dapur membawa segelas air.
"Den Han."
"Iya, Bik."
"Non Nathania kalau sudah begini jangan dikejar dengan kata maaf saja."
"Aku tahu."
"Tahu itu belum tentu cukup."
Han menatap pintu kamar. "Kalau aku bicara semuanya sekarang, dia akan terseret lebih jauh."
Bik Inah menghela napas. "Non Nathania sudah terseret. Bedanya, dia belum diberi peta."
Kalimat sederhana itu membuat Han menunduk.
Di kamar, Nathania membuka pesan dari Denny. Ada tiga lampiran baru: daftar kreditur Lientech, nama Pengacara Salim, dan ringkasan status hukum Reihan yang masih penuh lubang.
Denny menulis:
Besok saya coba cari arsip notaris dan catatan pengadilan. Ibu istirahat dulu.
Nathania membalas:
Aku tidak bisa istirahat sampai tahu wajahnya.
Ia berhenti, lalu menulis lagi:
Dan sampai tahu kenapa Han takut aku tahu.
Pesan itu tidak ia kirim ke Han. Ia hanya menyimpannya di kepala seperti janji.
Denny mengirim satu pesan lagi:
Besok saya juga hubungi Pengacara Salim. Kalau dia benar pengacara pribadi Reihan, dia mungkin tahu kenapa kontrak itu dibuat.
Nathania membaca nama itu lama. Pengacara Salim berarti ada orang lain selain Han yang mungkin memegang jawaban. Pikiran itu memberinya sedikit ruang bernapas. Ia tidak harus menunggu belas kasihan dari laki-laki di ruang tengah.
Ia membalas:
Jangan beri tahu Han dulu.
Denny:
Baik. Tapi hati-hati, Bu. Kalau Han memang sedekat itu dengan Reihan, dia mungkin sudah tahu kita bergerak.
Nathania menatap pintu.
Biarkan dia tahu, pikirnya. Kali ini, ia juga punya langkah.
Di dalam, Nathania duduk di tepi ranjang. Ia memegang map itu sampai ujung jarinya memutih.
Malam yang hilang dari ingatannya mulai mengetuk.
Dan kali ini, ia tidak akan pura-pura tidak mendengar.