Si Brondong manis merupakan sequel atau lanjutan dari novel Cinta Itu Budeg.
Bercerita tentang anak muda yang terobsesi mengejar cinta seorang wanita yang usianya terpaut jauh darinya.
Bagaimana kisahnya? Yuk simak disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bikin Sakit Mata
Teduh POV
Minggu pagi aku masih bergelung dengan selimut hingga menutupi kepala. Selesai shalat subuh rasanya mataku masih berat membuka lebar, padahal jam sembilan nanti adalah jadwalku melatih renang. Hari ini aku harus kembali bekerja karena sudah dua minggu ijin terus menerus gara-gara menyelesaikan masalah Mbak Hanum.
Ketika sedang asyik melindungi diri dari dinginnya cuaca pagi, handphone ku tiba-tiba bergetar di atas nakas.
Zzrrttt..Zzrrrttt..
Selimutku masih mengurung kepala, tapi kupaksakan tangan kananku terjulur keatas nakas untuk meraih handphone yang menggelepar disana.
" Haloo..Assalamualaikum.." ucapku dengan suara parau.
" Waalaikumsalam. Masih tidur Duh?" tanya suara merdu di seberang sana.
" Eh, Mbak Hanum?" aku langsung membuka selimut dan duduk tegak ketika mendengar suaranya. Meski aku tak melihat layar handphone ku, aku tahu dengan pasti suara siapa yang menyapaku selembut itu. Kesadaranku langsung berkumpul seluruhnya.
" Nggak kok, gak tidur. Cuma tidur-tiduran aja." ucapku ngeles bajai.
" Kamu sibuk gak? Bisa temenin Mbak gak hari ini?" tanya Mbak Hanum kemudian.
" Temenin kemana Mbak?"
" Jual mobil, Mbak harus segera punya uang agar operasi by pass Ibu segera dilakukan. Mbak gak mau nunggu terlalu lama, takut sakit Ibu semakin parah. Sekarang aja Ibu udah sering ngeluh sakit dada. Obatnya juga mulai menipis, sementara Mbak belum dapat pekerjaan baru." jelas Mbak Hanum dengan frustasi.
" Boleh Mbak, hari ini aku temani ya. Tapi aku ada jadwal melatih renang dulu dari jam 9 sampai jam 12. Mbak mau temani aku gak? biar gantian gitu..jadi dari kolam kita langsung meluncur ke tempat jual beli mobil bekas." ajakku dengan hati-hati. Bukan tanpa alasan aku mengajak Mbak Hanum seperti itu. Hal tersebut aku maksudkan agar aku bisa berlama-lama bersama Mbak Hanum hari ini. Meskipun sudah siap menerima penolakan sih sebenarnya. Mana mungkin juga dia mau mengikuti kegiatanku seperti itu. Tapi kemudian..
" Boleh.."
Eh, ternyata dia gak menolak dong! Yess..hatiku langsung berflower-flower!!! Kesempatanku melewati sepanjang hari minggu ini bersama Mbak Hanum jadi terbuka lebar.
" Ya udah, aku ke rumah teh Luna sekarang. Baru nanti kita sama-sama pergi ke kolam renang naik mobil Mbak Hanum. Mbak siapkan aja semua surat-surat mobilnya, jadi waktu aku sampai kita langsung berangkat." jelasku lagi dan Mbak Hanum langsung mengiyakan kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi dengan semangat empat lima aku langsung meraih handuk untuk mandi dan bersiap-siap, menjemput sang pujaan kemudian menghabiskan sepanjang hari Minggu bersamanya.
Setelah rapi jali dengan wangi parfum humbling forest yang menyeruak maskulin, kuambil tas gendong berisi peralatan melatihku dengan hati seringan kapas. Rasanya aku ingin ber la la la ria hari ini saking senangnya. Tapi kutahan dan hanya suara humming saja yang terdengar.
" Mau kemana ari kamu dek? kan latihannya juga masih lama. Lagian wangi bener kayak habis mandi parfum aja." tanya Bunda ketika melihat anak laki-lakinya sudah tampil stylish maksimal.
" Mau ngelatih, Bun. Mau apa lagi.." jawabku sambil mengambil sekerat roti, mengolesinya selai kacang kemudian makan dengan cepat tanpa duduk.
" Duduk kamu teh kalau lagi makan, pengen makanannya dihabisin setan?nanti kamu gak kebagian berkahnya!" ceramah Bunda langsung merepet mirip penceramah kondang Mamah Jejeh.
" Ehehe..iya maaf, Bundadari. Suka amnesia kalau lapar." jawabku sekenanya kemudian menarik kursi di meja makan tersebut dan duduk dengan tas masih tersampir di bahu.
" Kamu udah punya pacar ya?" tanya Bunda tiba-tiba.
" Nggak ada. Cuma calon istri aja. Eh?" jawabku polos. Tapi kemudian menutup mulut karena sudah keceplosan.
" Ngomong naon kamu teh calon istri calon istri segala? Kuliah ge can lulus udah ngebahas calon istri!" Bunda langsung sewot sambil melotot.
" Bercanda atuh bundadari..ehehe..lagian kalau adek beneran nikah muda kan gak apa-apa, Bun. Dari pada berzinah?? sok mending mana?"
tanyaku mencoba melempar umpan. Tapi ternyata aku salah sasaran, yang kupancing ini ikan piranha. Umpanku jadi digigitinya tanpa ampun!!.
" Gak ada yang mending dua-duanya juga. Kamu masih olo leho, budak keneh (masih kecil), belum mandiri, belum dewasa. Yang harus kamu pikirkan sekarang itu skripsi kamu. Kejar deadlinenya terus buruan sidang. Lain kalahkah ngomongkeun nikah muda sagala!!"
" Nikah muda gak punya modal, mau dikasih makan apa anak istri kamu nanti?? sugu? jukut (rumput)? dedak? atau kompos? Gak usah sembarangan lah kalau ngomong!" Bunda masih merepet tak terkendali.
" Ya ampun Bunda, emangnya anak sama istri adek teh kuda sampai dikasih makan yang begituan segala! Ya dikasih makan nasi atuh dan pasti dikasih juga rezekinya sama Allah." jawabku masih mencoba ngotot.
Dengan spontan Bunda menjewer kupingku gemas.
" Aa..aaaw.. sakit atuh Bundadari..!" responku sambil ikut menangkup telinga yang terasa panas karena dijewer tangan super.
" Gak ada nikah sebelum lulus dan dapat kerja ya! Inget perkataan Bunda. Awas kamu kalau main pedang sembarangan sebelum waktunya, Bunda tebas pedang kamu!" sadis pisan ancaman Bunda dengan tangan yang masih menjewer telinga kiriku.
" Moal atuh ih..gagabah si Bunda mah, emang adek cowok apakah??" sanggahku sambil berusaha melepaskan jeweran Bunda. Kemudian mengusap-usap telinga yang terasa panas akibat dijewer mamak-mamak berdaster..!
Ketika Bunda mulai terdiam, aku langsung mengambil punggung tangannya untuk salim. Agresi harus segera dihentikan, atau kalau tidak aku akan mendapat ceramah sampai tiga SKS.
" Adek berangkat ya, Bun. Assalamualaikum." ucapku dan segera menghambur pergi.
***
Sesampainya di rumah Teh Luna, Mbak Hanum sudah menungguku dengan manis. Rambutnya digerai indah sepinggang. Menggunakan tank top dan jeans berwarna putih dibalut outer hijau army sepaha. Casual sekaligus stylish. Cantik pisan sumpah!!
" Udah siap? Yuk berangkat sekarang." ajakku sambil menebarkan senyum menawan.
Mbak Hanum mengangguk kemudian membalas senyumanku dengan sama manisnya.
Kami langsung memasuki mobil dan menuju ke kolam renang tempat ku melatih.
Sesampainya disana, aku sengaja masuk duluan agar bisa menyimpan semua perlengkapanku di loker khusus pelatih. Mbak Hanum kuminta masuk ke kolam dan menunggu di kursi santai dekat kolam renang saja. Setelah selesai mengganti pakaian dan membawa beberapa perlengkapan untuk murid-muridku, seseorang langsung menghambur memelukku dengan erat di paha.
" Coaaaacchhh Teduuuh..!!" suara gemasnya langsung membuatku tersenyum lebar.
" Aah..boy!! Long time no see ya? kangen banget lho coach sama Arkan." ucapku pada Arkan si anak manis, fans garis kerasku.
" Coach kemana aja? aku gak mau diajalin coach yang lain, maunya sama coach Teduh aja." ucap Arkan sambil memandangku dengan mata bulatnya.
" Sorry..kemarin coach lagi sibuk banget! Tapi Arkan udah jago kan renangnya sekarang?" tanyaku sambil berjongkok kemudian memegang kedua lengannya.
Dia mengangguk kemudian tersenyum kecut.
" Aku udah bisa meluncul tapi belum belani jump! Mau belajal jump nya diajalin coach aja ya." jelasnya dengan logat cadelnya.
Dari kursinya Mbak Hanum memandangiku sambil menopang dagu. Kulihat dia tersenyum sekilas.
Arkan lalu membimbingku untuk duduk bersamanya dan Mbak Utari, mamanya. Kebetulan posisi mereka berada dekat dengan kursi tempat Mbak Hanum duduk
" Kemana aja sih coach. Ada yang kecarian tuh. Sampai lupa ngabarin saking sibuknya." sindir Mbak Utari kemudian tersenyum kecut.
" Hehehe..maaf Mbak, aku sibuk banget kemarin. Banyak urusan." jawabku sambil menggaruk belakang kepala tak gatal.
" Oke deh..yg lagi sibuk. Whatsapp aku aja selalu dibalas lama nih sekarang. Bener-bener deh, ngeselin banget." Mbak Utari kembali protes.
" Maafin ya Mbak 😁. Aku beneran sibuk dua minggu kemarin tuh. Banyak tragedi yang terjadi." jelasku lagi.
" Aku gak tau kamu ngelatih hari ini. Jadi gak bawain bekal tambahan. Udah sarapan belum?" Mbak Utari memang selalu seperhatian itu padaku.
" Tadi makan roti aja setangkup. Masih lapar sih, tapi nanti aja beres ngelatih baru makan berat." jawabku.
" Nih..Aaa..!" Mbak Utari menjejalkan satu sendok nasi goreng kedalam mulutku. Dan aku tak menolaknya, mungkin karena terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Mbak Utari.
" Ini bekal makan Arkan, cuma gak habis. Kebanyakan kayaknya. Lumayan lah makan sesendok dua sendok sebagai pengganjal." ucapnya. Aku hanya manggut-manggut dengan mulut penuh.
" Nih sesendok lagi.." Mbak Utari kembali menyuapiku ketika mulutku mulai kosong, dan lagi-lagi aku tak menolaknya.
" Makasih banyak ya Mbak, aku mau mulai latihan nya." ucapku dan segera menghambur mendekati kolam. Tapi belum juga sampai, para gadis-gadis ABG yang juga menjadi murid di Club renang Cakalang ini langsung memburuku.
" Coach Teduuuh..!!" panggil mereka kemudian satu persatu mulai salim.
" Kemana aja iih? aku kangen tau!" kata salah seorang murid yang kuketahui bernama Tita. Yang lain langsung riuh rendah menyoraki.
" Sibuk banget coach kemarin. Jadi gak bisa ngelatih kalian." jawabku sambil tersenyum penuh pesona.
" Jangan sering bolos gitu ah coach. Gak baik buat kesehatan mental kami." ucap Tita lagi.
" Gak baik gimana maksudnya?" tanyaku kebingungan.
" Iya..gak baik nanti kesehatan mentalnya kalau kebanyakan rindu sama coach. Hehehe.." jawabnya sambil bergelendot manja di lenganku. Aku jadi tersenyum jengah. Yang lain kembali ber-cie ria, tapi tak sedikit yang berteriak huuu..dengan kompak. Pokoknya mirip paduan suara deh.
" Udah ah..kalian mah bercanda terus. Yok mulai latihannya yok..Lari keliling kolam dulu, sepuluh kali putaran..!" perintahku kemudian. Sebetulnya yang mengajar anak-anak ABG itu berenang bukanlah aku, tapi bila tidak diperintahkan untuk pemanasan, mereka akan terus menggangguku, dan tugasku akan semakin lama berakhir.
Ketika selesai memerintahkan anak-anak itu pemanasan, aku melirik Mbak Hanum manis yang masih setia menungguku di kursinya. Tapi entah kenapa aku melihat raut wajahnya sedikit berbeda, mukanya sampai dilipat delapan. Bahkan ketika kuberikan senyuman mautku khusus untuknya, dia malah mendengus kemudian memalingkan wajah dengan kesal.
Waduuh..perasaan jadi gak enak nih! Kenapa air muka Mbak Hanum tiba-tiba berubah begitu ya? Tiba-tiba Mbak Hanum mendekatiku kemudian berbicara pelan.
" Aku lebih baik tunggu di mobil aja ya. Diam disini bikin sakit mata!" ucapnya ketus kemudian pergi meninggalkanku yang masih belum bisa menangkap maksud perkataanya.
*
*
*
*
*
Maaf ya reader, baru bisa up sekarang. Kemarin-kemarin lagi syibuk banget nih. Doakan othor selalu sehat ya, jadi bisa terus up setiap harinya..tirimikiciih..
#salamketjupbasah😘
hehe😅
semangat dan sehat selalu untukmu
terhibur banget banget membaca karya2 author
semoga diberikan selalu rejeki yang tak berkesudahan , kebahagiaan dan kenikmatan selalu dr Yang Maha Besar
kangen iihh....😭😭😭
sehat sll ya Thor....
di tunggu update_tan nya....
buat semua²nya jg shat² ya....🤲🏻
smga kita sLLu dlm lingungan-NYA
gmna kabar nya?
semoga sehat2 terus ya ka.
ka kapan mulai nulis lagi?
kangen bgt cerita ini lanjut,
semoga bisa secepat nya up lagi ya ka😇🤗
semoga sehat selalu dan semoga bahagia ..😍😍😍
thor aku rindu karya mu... 😍😍😍😘😘😘
yang sabar dan selalu kuat,aku tetap menunggu karyamu ...
aku doain athor cepet pulih bangkit dari keterpurukan,tetep tabah dan sabar,semangat 💪 lagi
aku bakal tetep nungguin sampe kamu mau😄
semangat💪💪
di lingkungan aku jg ada kejadian seperti kudanil dan Hanum,,bedanya si perempuan ini memilih bertahan meski udah jd samsak hidup.