Sebelum membaca di sarankan untuk membuka novel yang berjudul "Calon Istri Pengganti Tuan Abian" karena ini adalah lanjutan dari novel tersebut.
Cerita yang di angkat tentang perilaku suami yang bersosok malaikat selalu mampu membuat hati sang istri meleleh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25. Ketidak Siagaan
Di rumah sakit, langkah yang begitu kokoh dengan kaki jenjang terdengar berirama mengikuti jejak pria tampan yang tengah berlari cepat dengan menggendong tubuh seorang wanita yang tak lagi sadarkan diri.
Beberapa tenaga medis sudah sigap membantunya. Tubuh Indira terkulai lemas setelah melampiaskan kemarahannya. Netra mata hitam begitu tampak gelisah menatap sang istri ada rasa khawatir yang teramat di dalam tatapan itu.
"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk istriku." titah Abian dengan wajah penuh kecemasannya.
"Kami akan usahakan, Tuan." tutur Dokter patuh.
"Mamah...Mamah." tangis Rabian pecah seketika melihat sang Ibu terbaring lemah lagi di ruangan yang sama dengannya. Dokter memeriksa dengan teliti.
"Sayang, Mamah tidak apa-apa."
Abian menggendong tubuh putranya, membelah rambut lembut itu dengan tangan lebarnya. Pelukan hangat ia salurkan pada tubuh sang putra.
Manik mata kecil itu tampak menjatuhkan bulir bening di sudut matanya. Rabian tak kuasa melihat Indira menutup matanya dengan keadaan sangat pucat.
"Ada apa ini sebenarnya?" Nyonya Ningrum menatap menantunya tanpa berani bertanya lagi.
Nyonya Veren dan Nyonya Ningrum hanya bisa menemani kecemasan Abian dan Rabian tanpa bisa bersuara untuk saat ini.
Bram yang sudah pergi dari rumah sakit menginjak semakin menginjak gas mobil untuk menambah kecepatan kendaraan beroda empat itu.
"Pastikan dia tidak akan melanjutkan rencananya, Bram." Begitu perintah Abian saat di perjalanan tadi pada pria bertubuh tegak ini.
Kemarahan Bram saat ini tidak bisa lagi di kontrol. Setidaknya sekali tindakan Afrah harus jera padanya.
Dokter yang baru usai dengan pemeriksaan kini menatap para mata yang menatapnya dengan penuh harap.
Segaris senyuman terlihat di wajah Dokter itu, "Tuan, istri anda baik-baik saja. Yang terpenting jangan banyak bergerak dulu. Jangan sampai jahitan yang belum kering ini nanti bisa terbuka lagi. Keadaan pasien masih sangat lemah akibat persalinan itu." papar Dokter.
"Baik Dok, setelah ini saya pastikan istri saya tidak akan kemana-mana." ucapnya.
"Saya pamit undur diri dulu, Tuan." ucap Dokter tersenyum ramah.
Pria tua yang masih tetap menjalankan profesinya dengan baik, yah meski Abian awalnya tidak ingin jika pria itu yang menangani istrinya. Namun karena Dokter wanita saat itu tengah membantu pasien lainnya melahirkan mau tidak mau Abian harus menerima bantuan pria itu.
"Terimakasih Dokter." tutur Nyonya Ningrum dengan lembut.
Mata Dokter tampak bergaris karena sipit, ia tersenyum menatap wajah Nyonya Ningrum.
Rabian yang sudah diam dalam gendongan Abian terus melihat ke arah sang Ibu. Matanya masih saja berkaca-kaca berusaha tenang seperti yang Abian minta. Jika ia tidak boleh mengganggu Indira yang tidur.
Nyonya Ningrum meraih ponselnya untuk mengirimkan pesan pada anaknya. "Gibran, ke rumah sakit jika urusanmu sudah selesai. Kakakmu di rawat di rumah sakit x."
Beberapa menit pesan itu di kirim Gibran masih belum membacanya. Karena mereka memang sedang ada jam kuliah.
Sudah berapa lama Abian duduk setia menemani istrinya di samping tempat tidur itu dengan memangku putranya.
Manik mata sendu itu tiba-tiba membulat saat menangkap gerakan tangan Indira yang meraih kepalanya.
"Sayang."
"Mamah."
Abian dan Rabian bersuara bersamaan. Mereka begitu antusias menunggu Indira sadar dari pingsannya.
Wajah pucat itu perlahan memudar. Ia membuka matanya dan menatap dua pria tampan di sampingnya. Seulas senyuman seketika ia hadirkan.
"Hey, ada apa dengan kalian?" tanya Indira lirih.
"Sayang, apa ada yang sakit? bagian mana? kau pusing?" Abian bertanya dengan mendekatkan diri lebih lagi.
Wajah cantik yang masih terlihat lemas itu menggelengkan kepalanya sekali lalu menutup sejenak kedua kelopak matanya dan kembali membuka.
"Aku tidak apa-apa, Abi. Aku hanya cemas bagaimana pangeran Mamah? Rabian sakit, Nak? katakan." pintahnya seraya meraih lengan putranya yang tampan itu.
"Mamah jangan tidur lagi. Bian takut Mamah pelgi."
Semua tersenyum mendengar kekhawatiran bocah itu. Sungguh menggemaskan.
"Papah, Bian mau bobo di sampingnya Mamah aja."
Abian meletakkan tubuh putranya di tempat tidur Indira.
"Jangan terlalu banyak gerak yah Rabian, Mamah masih sakit."
"Iya Papah."
"Bi, hubungi Bibi apa Rafael tidak rewel?"
"Iya sayang, sebentar yah."
Abian berdiri dan merogoh saku celananya. Ia meraih benda persegi panjang itu dan menekan salah satu kontak yang bertuliskan pelayan.
"Iya, Tuan."
"Bi, bagaimana Rafael di rumah?" tanya Abian.
Pelayan yang sudah di percaya menjaga putranya tampak terbata-bata.
"Ma-afkan saya Tuan. Tapi Tuan muda Rafael sejak tadi menangis terus. Bibi tidak tahu mengapa bisa seperti ini."
Hembusan nafas terdengar samar-samar. Abian yakin ini karena feeling anaknya tentang kakak dan juga Ibunya sedang mengkhawatirkan saat ini.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menjemputnya." Abian mengakhiri panggilan itu.
Indira masih menatapnya. "Sayang, aku harus membawa Rafael ke sini. Mami, Ibu tolong titip istri saya. Saya akan segera meminta keamanan di depan."
Tubuh tegap itu sudah berdiri hendak melangkah menuju pintu. Namun terhenti karena panggilan sang istri tercintanya.
"Bi..."
Ia membalikkan tubuhnya menatap Indira lagi. "Ada apa, Sayang?" tanyanya.
"Hati-hati."
Abian melangkah mendekati Indira lagi dan mendaratkan ciuman ketenangan yang ia letakkan di kening sang istri dan kening Rabian.
"Jagoan Papah jaga Mamah yah. Papah mau bawa adek dulu." pintah Abian.
"Ciap Papah." sahut Rabian penuh semangat.
Wajah tampan putranya benar-benar menggemaskan sekali. Abian tersenyum lalu mengusap acak rambut Rabian.
"Anak yang pintar."
Bunyi sepatu pantofel mewah membentur lantai marmer rumah sakit dengan nada sentuh yang begitu cepat.
"Perketat penjagaan." begitu pintah Abian di sambungan telepon pada anak buah yang berada di bawah pimpinan sekertarisnya.
"Baik, Tuan."
Sambungan telpon pun berakhir mobil melaju ke kediaman Malik. Kali ini Abian menggunakan supir yang mengantarkan Nyonya Ningrum tadi. Sementara Bram sudah berjalan beda arah dengannya.
Sejenak hening, Nyonya Ningrum dan Nyonya Veren menatap wajah putri mereka.
"Ibu sudah yakin pasti wanita itu, kan?" tanya Nyonya Veren menatap Indira.
"Iya, Bu. Aku tidak akan mengampuni Afrah. Beraninya dia menyentuh dan menyakiti anakku."
"Maafkan Ibu Indira. Ini semua karena dendamnya pada Federic dan harus terlampiaskan pada kalian. Ibu dan Ayahmu sudah menduga hal ini. Tapi kalian Mengapa masih mau bermain dengannya?"
"Indira juga tidak tahu kalau wanita itu sampai senekat itu, Bu. Lagi pula Abian ingin memberikan pelajaran padanya di waktu yang tepat. Kami semua tidak tahu jika sampai seperti ini. Bi Qila? oh iya Bi Qila bagaimana Mami?"
Indira baru teringat dengan sosok penolong putranya itu. Beruntung ada Bi Qila yang sudah melindungi Rabian jika tidak, entah apa yang terjadi dengan bocah tampan itu saat ini.
"Bi Qila masih belum sadar, Sayang. Tubuhnya mengalami benturan di dalam mobil sepertinya. Kalau begitu biarkan Mami melihatnya dulu yah."
"Iya Mami." Nyonya Ningrum pergi meninggalkan Indira sementara Nyonya Veren masih tetap menjaga Indira dan juga Rabian.
***
"Tuan, sepertinya ada yang mengikuti kita."
Supir yang mengemudikan kendaraan Abian kini memperhatikan spion mobil mereka. Dahi Abian berlipat tipis merasa heran, siapa yang mengikuti dirinya.
Apa ada musuh lagi selain Afrah, dan keadaannya saat ini Abian sedang tidak menyiapkan apa-apa hanya bermodalkan tenaga dan ketangkasannya saja.
"Lajukan mobil, Pak. Apa-apaan mereka ingin beraksi di jalan umum seperti ini!" hardik Abian yang mulia melihat tidak hanya satu kendaraan yang muncul dari beberapa titik jalanan itu.
"Baik, Tuan."
Dengan cepat tangan Abian segera mengirim tanda darurat pada para anggotanya.
Bram yang melihat dering ponselnya melotot, Abian mengirimkan lokasinya yang sedang butuh pertolongan.
"Jalan ke arah rumah?" tanyanya dalam hati.
Kendaraan roda empat itu terus di pepet hingga beberapa kali mobil Abian mendapatkan tembakan. Dan beberapa kali juga mobil mereka di tabrak dengan kendaraan yang berkelompok itu.
Tembakan terakhir yang mengenai ban mobil mereka. "Sial." pekik Abian yang harus menyerah sebelum bantuan datang.
Mobil menabrak salah satu pohon, dengan cepat para penjahat itu meminta Abian turun. Karena terlalu panik Abian tidak sadar di mana ia meletakkan senjatanya.
Kali ini sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.
Mau tidak mau Abian turun dengan kedua tangan yang sudah ia ulurkan ke atas. Sementara senjata sudah terarah pada kepalanya.
Beberapa orang mengikat tangannya dan membawa masuk ke mobil.
Kepergian mobil itu meninggalkan supir yang sudah tidak sadarkan diri.
Tidak ada perlawanan saat ini. Sungguh mereka beraksi di waktu yang tepat.
Beberapa mobil pun melaju dari kediaman Malik. Bram yang juga ikut dari arah yang berbeda saat ini mengurungkan niatnya untuk menemui Afrah.
Saling kontak antara bos dan anggota. Bram sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi.
***
"Bu, mengapa perasaan Indira jadi tidak enak seperti ini?"
Feeling seorang istri sungguh kuat pada suami mau pun keluarga lainnya. "Tenangkan dirimu, Sayang. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kasihan Rafael dan juga Rabian kan?"
Indira mengangguk pelan meski hatinya merasa ada yang sesak.
Rabian sudah tampak terlelap dalam pelukan Ibunya. Usapan tangan lembut Indira terus bergerak di kepalanya tanpa henti.
Di ruangan yang berbeda kini Nyonya Ningrum tersenyum senang saat melihat Bi Qila yang sudah membuka matanya perlahan.
"Alhamdulillah, Bibi sudah sadar."
"T-Tuan muda, Nyonya." ucapnya terdengar bergetar.
"Rabian tidak apa-apa, Bi. Terimakasih telah menyelamatkan cucu saya." ucap Nyonya Ningrum dengan tulus.
ika widya
semoga lbh seru y....😘