Qaireen selalu merasa sendiri, tidak ada yang menyukainya dengan tulus. Semua orang yang dekat dengannya akan memutus hubungan begitu Qaireen hilang dari pandangan mata mereka.
Sampai akhirnya ada satu orang yang datang tiba-tiba dan menyatakan akan membantunya. Qaireen yang tidak percaya dengan orang lagi memutuskan untuk menolak awalnya. Dia masih terus datang tapi Qaireen memperkirakan itu hanya sebentar, paling lama selama satu bulan.
Tapi dia datang lagi, dan lagi. Haruskah Qaireen percaya padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elfian Syera Nasution, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyawa yang Terancam
"apa yang membawa mu datang" tanya Adnan pada Amira yang sudah berdiri dengannya di depan jendela kaca besar itu.
Qaireen tidak terlalu terkejut dengan kehadiran Amira yang tiba-tiba. Dengan begitu dia langsung tahu kalau perempuan itu adalah siluman.
Entah kenapa Qaireen semakin kesal dengan kehadiran Amira di rumah Adnan. Dia langsung menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya cukup keras.
Adnan sempat berbalik sebentar karena suara dari kamar Qaireen sebelum dia bicara dengan Amira.
"Aku berjumpa dengan ayahnya adha yang ternyata adalah seorang siluman seperti kita"
"Kau melihatnya? Jadi siapa dia dan dari suku siluman mana" jawab Adnan dengan mimik wajah terkejut.
"Jadi siluman yang bicara tentang ayahnya adalah kau" tebak Adnan setelah menyadarinya.
"Iya, aku gak sengaja. Sayang aku gak bisa melihat wajahnya karena ditutupi oleh topeng, tapi aku merasakan hawa siluman yang cukup kuat"
"menurutmu dia salah satu dari suku terkuat" tanya Adnan serius.
"aku gak yakin, seharusnya aku bisa merasakan hawa siluman yang lebih kuat saat itu, jika dia benar salah satu dari mereka"
"Apa ada cara untuk mengetahuinya"
"ada, kakek adha tahu semuanya. Siluman itu kenal dengannya. Tapi kenapa kau peduli, baru kali ini kau peduli pada urusan orang lain. Apalagi manusia" tanya Amira penasaran.
"Aku hanya ingin membantunya" ucap adnan tulus. Setelah melihat adha seperti hilang arah, dia ingin membantu adha agar menemukan orang tuanya. Entah kenapa dia ingin melakukannya.
"Aku merasa ada yang di sembunyikan oleh kakek adha, aku melihat dia mengambil ramuan mutiara kehidupan dari siluman itu. Tapi aku gak tahu untuk apa"
"Bukannya itu ramuan untuk memperpanjang hidup siluman" tanya ada bingung.
"Bisa juga untuk menambah energi siluman pada diri manusia. Sebenarnya apa yang terjadi" tutur Amira penasaran.
"Aku akan ikut membantu, datang kapanpun saat kau butuh bantuan. Aku pergi" tambah Amira sebelum hilang bersama angin.
Adnan langsung menuju kamar Qaireen begitu Amira pergi. Qaireen sedang mengerjakan sesuatu di meja belajarnya. Adnan masuk dan duduk di ranjang Qaireen sambil menatapnya.
"Gak baik masuk ke kamar seorang wanita, apalagi malam-malam. Apa di dunia siluman begitu bebas" ucap Qaireen tanpa basa-basi.
"Aku khawatir karena mendengar suara yang cukup keras dari kamarmu tadi"
"Seharusnya kalau langsung datang begitu mendengarnya bukan malah asyik ngobrol dengan siluman wanita itu, siapa dia? Kenapa dia tahu rumahmu" ucapnya Qaireen kesal karena merasa cemburu.
"Dia Amira, orang yang hampir menikah denganku. Dia lari ke dunia manusia karena gak mau menikah denganku. Karena itu aku bisa berjumpa denganmu" jawab Adnan sambil tersenyum kecil.
"Jadi dia masa lalumu. Jadi kalian memutuskan untuk kembali bersama. Karena itu dia datang" Qaireen semakin gak bisa mengendalikan dirinya.
"Kau cemburu" selidik Adnan.
"Aku gak punya hak untuk cemburu" jawab Qaireen ketus sambil menutup bukunya dengan keras.
"Sebaiknya kau keluar saja, aku mau istirahat" tambahnya lagi sambil menarik tangan Adnan agar bangkit dari tempat tidurnya.
Bukannya Adnan yang tertarik, malah tubuhnya yang tertarik ke arah Adnan. Adnan mencuri kesempatan untuk memeluk Qaireen singkat.
"Aku melihat kau memeluknya seperti ini, saat itu aku ingin membunuhnya" ucap Adnan jujur.
"a-aku hanya menenangkannya" Qaireen tampak gugup dan buru-buru melepaskan pelukan Adnan. Lalu mendorong Adnan keluar dari kamarnya.
...****************...
Adnan merasa tubuhnya akhir-akhir ini seperti kekurangan tenaga. Bahkan kekuatannya hilang timbul begitu saja. Adnan berbaring di tempat tidurnya sambil berusaha memejamkan matanya.
Berusaha memikirkan apa yang terjadi padanya. Pikirannya melayang sampai mengingat ucapan Amira yang sudah lama padanya.
"Saat manusia gak membalas perasaanmu kau akan kehilangan semuanya" ucap Amira kala itu.
Apa kekuatannya yang hilang timbul karena Qaireen gak ada perasaan padanya. Pikiran negatif mulai bermunculan di benaknya.
...****************...
Qaireen sudah berada di restoran tempat dia bekerja. Karena hari Minggu dia akan kerja mulai pagi. Qaireen membersihkan semua meja dan kursi satu per satu.
Dia juga mengepel lantai restoran setelah semua meja dan kursi sudah di bersihkan. Seorang tamu pria berwajah tampan masuk dan duduk di salah satu kursi setelah menatap Qaireen cukup lama.
"Mau pesan apa tuan, silahkan" ucap Qaireen sopan sambil memberikan daftar menu.
"Steak daging sapi dan segelas anggur" ucapnya tanpa melihat menu.
Mata pria itu selalu mengikuti kemana Qaireen pergi. Dia bahkan tersenyum ke arahnya tanpa sebab yang jelas.
"Steak daging sapi dan segelas anggur. Selamat menikmati tuan" ucap seorang pelayan lain, kali ini bukan Qaireen yang mengantar pesanannya.
"Kau kenal wanita pelayan itu" tanya pria itu sambil menatap Qaireen yang sedang melayani tamu yang baru datang.
"Dia pekerja part time disini, baru masuk kemarin, namanya Qaireen" jawab pelayan itu seadanya.
Pria itu tak kunjung pergi walaupun makanannya sudah habis dia akan pesan ulang makanan yang sama berkali-kali.
"Aku butuh energi yang banyak untuk nanti malam" ucapnya pada dirinya sendiri.
...****************...
Hari sudah mulai malam, waktu sudah mulai menunjukkan malam. Adnan masih merasa lemas dan kekuatannya belum pulih sepenuhnya. Dia bahkan gak bisa mendeteksi keberadaan Qaireen saat ini.
Entah kenapa rasa khawatir mulai menggerogotinya. Dia terus-terusan mencoba mendeteksi keberadaan Qaireen dengan kekuatannya. Bukannya berhasil dia malas semakin hilang kesadaran.
Sementara itu Qaireen berjalan sendiri menuju halte bus terdekat. Dia berjalan di jalanan yang cukup sepi. Pria yang direstoran tersebut mengikutinya diam-diam.
Qaireen menyadari dan berusaha menjauh dari laki-laki itu dengan cara berlari. Karena rasa takut dan bingung dia malah jatuh dan terpojok di sudut jalan. Entah kenapa waktu terasa terhenti saat itu.
Bahkan orang yang lewat gak bisa mendengar jeritannya. Laki-laki itu mulai mendekatinya pelan tapi pasti dengan tatapan yang sangat menakutkan.
Tiba-tiba saja, kuku tajam pria itu keluar seketika. Qaireen gemetar dan menangis, dia merasa ini adalah akhir hidupnya.
"Tolong aku, tolong, tolong" ucapnya pada orang yang lewat tapi tak satupun yang mendengarnya.
"Tolong aku" ucapnya lagu gak ingin menyerah.
Pria itu yang ternyata siluman mulai mengambil ancang-ancang untuk menghabisi Qaireen. Dia meraih tubuh Qaireen dan menghempaskan ke jalan.
Satu hempasan saja berhasil membuat Qaireen pingsan. Siluman itu mendekat dan menusukkan kuku tajam ke dada Qaireen secara berlahan. Darah segar mulai menetes dari kulit putihnya.
Syet.
Pedang panjang berhasil menebas tangan siluman itu tepat sebelum mutiara kehidupan belum berhasil di ambil siluman itu.
Siluman itu gak menyerah dan bertarung dengan pria bertopeng yang menebas tangannya. Sampai akhirnya siluman itu hilang menjadi debu.
"Qaireen, buka matamu. Qaireen aku mohon" ucap Adha prustasi.
Qaireen gak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Walaupun Adha mengguncang tubuhnya dengan kuat.
Bersambung .....
blm mudeng aqu....
tlg dong, thor....