Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Musim kemarau datang lebih cepat tahun ini.
Jam 3.45 sore. Taman kota sudah mulai ramai. Ibu-ibu duduk di bangku, anak-anak berlarian, pedagang es krim keliling.
Ahber datang 10 menit lebih awal. Seperti 3 bulan terakhir.
Di tangannya ada 2 kotak bekal dan 1 termos teh hangat.
“Papa, hari ini kita bikin apa?” Layla turun dari mobil sambil gendong buku gambar tebal.
“Rencana kamu dan Raka apa?” Ahber mengunci mobil.
“Bikin komik! Tentang sahabat yang ketemu di taman!” Mata Layla berbinar.
Di ujung jalan, mobil putih Eskay masuk. Raka langsung buka jendela dan melambai.
“Layla!!!”
Dua anak itu langsung lari dan pelukan. Seperti sudah kenal 10 tahun, bukan 3 bulan.
Eskay turun. Kemeja biru muda, celana bahan, rambut diikat cepol. Wajahnya lebih dewasa dari 15 tahun lalu, tapi senyumnya masih sama.
“Selamat sore.”
“Sore.” Ahber mengangguk. Agak kaku. “Bawa apa?”
“Kertas gambar A3. Pesanan Raka. Katanya buat komik.” Eskay menyerahkan kantong itu ke Layla. “Hai Layla, Nona Gambar.”
“Waa makasih Tante Eskay!” Layla langsung buka.
Mereka duduk di bangku langganan. Bangku kayu di bawah pohon angsana.
*1 JAM PERTAMA: KOMIK & TAWA*
Layla dan Raka gelar kertas A3 di atas rumput.
“Judulnya apa?” tanya Raka sambil pilih krayon.
“‘Janji Taman’” jawab Layla cepat. “Tentang 2 anak yang ketemu, terus bapak sama tantenya dulu musuhan, sekarang baikan.”
Ahber yang dengar langsung tersedak teh. “Batuk.”
Eskay menepuk punggungnya pelan. Refleks. Tangannya ditarik lagi. “Anak-anak lebih jujur dari kita.”
Mereka berdua tertawa kecil. Canggung tapi hangat.
Selama 1 jam Ahber dan Eskay cuma duduk. Sesekali komentar gambar.
“Bagian sini kurang pohon.”
“Warnanya kurang cerah.”
Obrolan receh. Tapi 15 tahun lalu mereka gak pernah bayangin bisa se-santai ini.
Dulu mereka 1 tim lomba bisnis. Ahber yang eksekusi. Eskay yang otak + presentasi. Sahabatan dari semester 1.
Sampai proyek itu gagal. Eskay disalahin. Dia pergi ke luar negeri. 15 tahun gak ada kabar.
*JAM 5: HUJAN TURUN TIBA-TIBA*
Langit yang tadinya cerah langsung mendung.
“Eh hujan!” Layla kaget.
Raka buru-buru gulung kertas. “Komik kita!”
Ahber buka payung besar. “Sini, berteduh dulu di gazebo.”
Eskay bantu angkat kotak krayon dan buku.
4 orang duduk di gazebo kecil. Hujan deras di luar.
Suasananya hening. Cuma ada suara hujan.
Layla bersandar di bahu Ahber. “Papa, hujan bikin dingin.”
Ahber selimutin dia pake jaket. “Tahan ya, bentar lagi reda.”
Raka duduk di sebelah Eskay. “Tante, cerita dong. Dulu Tante sama Papa gimana?”
Eskay dan Ahber saling lihat.
“Cerita apa?” Eskay balik nanya, suaranya lembut.
“Cerita waktu kalian masih muda. Sahabatan.”
Ahber menarik napas. Ini pertama kalinya ada yang nanya langsung.
“...Dulu.” Ahber mulai. “Kita satu tim lomba bisnis kampus. Eskay bagian otak. Aku bagian lapangan.”
Eskay nyambung, senyum tipis. “Ahber yang mastiin semua jalan. Aku yang bikin presentasi sampai begadang 3 hari.”
“Terus kita menang.” Kata Ahber. “Dapat modal buat usaha pertama.”
Layla dan Raka dengerin dengan mata berbinar.
“Lalu kenapa berantem?” tanya Raka polos.
Hening.
Eskay jawab pelan. “Karena kita sama-sama keras kepala. Dan aku... aku yang buat keputusan salah di proyek itu. Aku takut. Jadi aku lari ke luar negeri.”
Ahber nambah. “Dan aku yang terlalu ego. Gak mau dengerin.”
Layla menggenggam tangan Ahber. “Sekarang udah baikan kan?”
Ahber mengusap kepala Layla. “Iya. Karena ada kamu dan Raka.”
Eskay menatap keluar. Hujan mulai reda. “Makasih ya, udah kasih aku kesempatan duduk di sini lagi.”
Ahber tidak jawab. Dia cuma mengangguk.
*JAM 5.30: SETELAH HUJAN*
Jalan becek. Tapi anak-anak malah senang. Main becek-becekan di rumput.
Ahber dan Eskay duduk di bangku, ngawasin dari jauh.
“Perusahaan kamu gimana?” tanya Ahber.
“Lancar. Sekarang aku fokus ke yayasan anak. Suamiku... udah meninggal 3 tahun lalu. Kanker.” Jawab Eskay pelan. “Jadi aku sama Raka berdua aja.”
Ahber terdiam. “Turut berduka. Maaf aku gak tau.”
“Gak apa-apa. Udah lama.” Eskay senyum. “Kamu?”
“Sama. Istrinya Layla juga udah meninggal pas Layla umur 3 tahun.”
Diam lagi. Tapi bukan canggung. Lebih ke saling ngerti.
“Ahber.” Eskay tiba-tiba bicara. “Aku... mau minta tolong.”
“Apa?”
“Raka ulang tahun bulan depan. Dia minta pestanya di taman ini. Sama Layla. Boleh?”
Ahber menatap Layla yang lagi ketawa kejar kupu-kupu.
“Boleh. Kita yang siapin bareng.”
Eskay tersenyum. Senyum lega. “Makasih.”
*JAM 6: PULANG*
Hujan udah berhenti total. Langit jadi oranye.
Sebelum masuk mobil, Eskay stop Ahber.
“Surat balasan kamu... aku simpan baik-baik.”
Ahber kaget. “Kamu baca berapa kali?”
“7 kali.” Eskay ketawa kecil. “Sampai hafal.”
Ahber geleng-geleng tapi senyum. “Gak usah lebay.”
Di mobil, Layla ketiduran sambil peluk komik setengah jadi.
Ahber nyetir pelan. Di kaca spion, dia lihat mobil Eskay di belakang. Jaga jarak.
Seperti 15 tahun lalu. Tapi kali ini bukan buat ngejauh. Tapi buat nemenin pulang.
--
like + bunga biar semangat deh/Smile/