NovelToon NovelToon
My Rude Ice Queen

My Rude Ice Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

Villa kayu itu ternyata berkonsep mezzanine terbuka. Lantai bawahnya merupakan ruang tengah luas dengan sofa empuk, TV, dan satu kamar mandi besar, sedangkan lantai atasnya adalah area tidur berlantai kayu tanpa sekat tembok, hanya diisi dua kasur king-size yang diletakkan berdampingan dan dipisahkan oleh sebuah meja lampu kecil.

"Maksudnya gimana nih, Pak?!" celetuk Ren dengan mata membelalak menatap dua kasur besar itu. "Kasur lipat busa ngga ada? Kita disuruh tidur di lantai kayu yang dingin begini?!"

Penjaga villa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung. "Aduh, maaf banget, Mas... kasur lipatnya lagi dicuci semua gara-gara kena tumpahan sirup sama tamu minggu lalu. Jadi sisanya cuma dua kasur besar ini."

Setelah penjaga villa pamit turun dan mengunci gerbang depan, suasana di lantai atas seketika berubah kaku dan hening.

Jasver menatap lantai kayu dengan pasrah, lalu mulai melepaskan jaket varsity-nya untuk dijadikan bantal. "Yaudah lah... demi kesopanan dan kehormatan para cewek, gue, Ren, sama Bumi tidur di lantai aja. Lagian ubin kayunya ngga dingin-dingin amat kok–"

"Ngga usah, Ver," potong Aery cepat.

Jasver, Ren, Bumi, dan Farah seketika menoleh menatap Aery.

Aery menatap ketiga cowok itu dengan raut wajah kasihan. Mereka bertiga baru saja melewati pertandingan final yang menguras fisik di sekolah, belum lagi Ren yang habis berteriak histeris. Rasa lelah jelas tercetak di wajah mereka. Masa iya harus disuruh tidur lesehan di lantai kayu tanpa alas?

"Kalian bertiga kan habis tanding cape banget," lanjut Aery lembut, menunjuk kasur sebelah kiri. "Kasurnya kan king-size dan muat buat bertiga. Yang kiri buat kalian, yang kanan buat gue sama Farah. Lagian kan ada pembatas meja lampu di tengahnya."

"Hah?! Seriusan, Ry?!" seru Ren dengan mata berbinar-binar seperti menemukan harta karun. "Wah, Aery bener-bener malaikat penolong! Sungkem dulu gue!"

"Bentar, Ry! Lo yakin?!" bisik Farah panik, menyikut lengan Aery pelan. "Masa kita sekamar dan kasurnya selisihan begini sama tiga anak bego ini?!"

Aery terkekeh pelan. "Ngga apa-apa, Far. Kasurnya gede kok. Lagian mereka juga pasti udah gontai banget, langsung tidur pulas begitu nempel bantal."

Jasver berdiri mematung, mendadak salah tingkah. Wajahnya agak memerah membayangkan mereka tidur di kasur yang hanya berjarak satu meter dari kasurnya Aery dan Farah.

"Gue... gue aman sih," gumam Jasver pelan, mengusap tengkuknya, lalu melirik Bumi. "Bum, lo gimana?"

Bumi tersenyum canggung tapi mengangguk lega. "Makasih ya, Aery, Farah... janji kita ngga bakal bikin ulah kok."

Satu jam kemudian, suasana villa sudah jauh lebih tenang. Suara gemericik sisa hujan di luar dan deru pendingin udara menemani mereka.

Di kasur sebelah kiri, Trio Curut sudah berjejer rapi seperti guling. Ren mengambil posisi paling pinggir dekat tembok, Bumi di tengah memeluk piala emasnya, dan Jasver di posisi dekat meja lampu pembatas. Sementara di kasur sebelah kanan, Farah dan Aery sudah meringkuk rapi di bawah selimut tebal.

Lampu utama dimatikan oleh Jasver, menyisakan cahaya lampu tidur warm yellow yang remang-remang di meja tengah.

"Sumpah... kasurnya empuk banget," gumam Ren memecah keheningan, matanya sudah merem melek. "Makasih Mbak Aery... makasih Sultan Jasver... jasa kalian akan gue kenang sampai anak cucu..."

"Lebay lo, Ren," cibir Farah dari balik selimut kasur kanan, walau suaranya terdengar makin melemah karena mengantuk.

Jasver menatap atap kayu villa, menyunggingkan senyum tipis. Hari yang luar biasa nekat ini akhirnya ditutup dengan suasana yang begitu hangat. Ia melirik pelan ke arah kasur sebelah kanan. Dari balik lampu remang-remang, ia bisa melihat Aery dan Farah yang mulai tertidur lelap.

Jasver lalu melirik Bumi di sampingnya yang sudah menempelkan dahinya ke piala emas, lalu ke arah Ren yang sudah mendiskusikan mode ngorok tingkat halus.

Jasver menarik selimutnya sampai ke dada, berbisik sangat pelan di tengah kegelapan ruangan.

"Selamat tidur, guys. Kalian semua keren banget hari ini."

♧♧♧

Jam menunjukkan pukul 01.48 WIB. Suasana villa kayu di sudut Jakarta itu teramat hening. Hanya terdengar dengkur halus dari Ren yang meringkuk nyaman di balik selimut tebal dan deru lembut AC lantai atas.

Di kasur sebelah kanan, mata Aery mendadak terbuka lebar. Efek terlalu banyak minum es teh manis saat makan malam di Blok M tadi mendadak menagih janji. Rasa kebelet pipis yang sangat tidak santai menyengat salurannya.

Aery mendudukkan dirinya dengan perlahan agar tidak membangunkan Farah. Dengan langkah jinjit yang sangat pelan, hampir seperti agen rahasia, Aery turun dari kasur dan menyusuri tangga kayu menuju lantai bawah tempat kamar mandi berada.

Namun, baru saja Aery memegang pegangan tangga di lantai satu...

Srrrtt... bruk!

Langkah Aery terhenti. Di remang-remang cahaya lampu lantai bawah, sosok jangkung berkaos hitam polos tampak limbung, baru saja menabrak pinggiran sofa karena matanya masih setengah terpejam.

Jasver yang kaget melihat ada bayangan orang di dekat tangga langsung membelalakkan matanya, memegangi dadanya yang berdegup kencang.

"Astaga... Aery?!" bisik Jasver histeris tapi tertahan, suaranya agak serak khas orang bangun tidur. "Kaget gue! Gue kira kuntilanak villa!"

Aery mengelus dadanya, menyunggingkan senyum tawa kecil. "Enak aja kuntilanak. Lo ngapain turun, Ver?"

"Kebelet pipis, Ry! Udah di ujung tanduk ini asli!" bisik Jasver panik sambil menyilangkan kedua kakinya, memperlihatkan gaya menahan buang air yang sangat menyedihkan.

"Ih, sama! Gue juga kebelet banget dari tadi!" sahut Aery tak mau kalah. Tanpa buang waktu, Aery langsung mempercepat langkahnya menuju pintu kamar mandi di sudut ruangan.

"Ets! Engga bisa, Mbak Sopir!" Jasver yang pergerakannya lebih lincah sebagai kapten voli langsung memotong jalur Aery, menempelkan badannya tepat di depan pintu kamar mandi. "Gue duluan! Ini darurat nasional!"

"Ver, plisss! Gue duluan, gue cewek!" Aery mencoba menggeser bahu Jasver, wajah cantiknya yang biasa tenang kini memancarkan kepanikan tingkat tinggi. "Gue dari lima menit yang lalu udah nahan di atas!"

"Aery, demi keselamatan ginjal gue, biarkan gue masuk duluan cuma tiga puluh detik!" seru Jasver memohon dengan muka paling melas, jemarinya sudah bersiap memutar gagang pintu kamar mandi.

CEKLEK.

Jasver memutar gagang pintu... Tapi pintu itu terkunci dari dalam.

Cklek... Cklek...

Aery dan Jasver seketika membeku. Keduanya saling pandang dengan mata membelalak di tengah keremangan lantai satu.

Byuuuur...

Dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, terdengar suara kucuran air shower yang begitu deras, berpadu dengan suara seseorang yang sedang bersenandung pelan.

"...kata yang terucap... Semua tertuju padamu, oh..."

Aery dan Jasver melongo sempurna. Suara senandung yang sangat familiar itu berasal dari... Bumi.

"BUMIII?!" jerit Jasver dan Aery serempak, mengetok pintu kamar mandi kencang-kencang.

Suara kucuran air mendadak berhenti. "Eh? Jasver? Aery?" suara Bumi terdengar polos dan bergema dari dalam kamar mandi. "Kenapa, Ver? Ada kebakaran?!"

"KEBAKARAN GUNDULMU!" seru Jasver frustrasi, menepuk pintu kencang-kencang. "LO NGAPAIN MANDI TENGAH MALAM, BUM?! GUE SAMA AERY UDAH MAU MELEDAK INI KEBELET PIPIS!"

"Iya, Bumi! Kenapa mandi jam segini?!" tambah Aery yang sudah memegangi perutnya, tidak habis pikir dengan kebiasaan aneh sahabatnya yang satu ini.

Pintu kamar mandi terbuka sedikit. Bumi melongokkan kepalanya dengan rambut yang basah kuyup dan handuk melingkar di lehernya. Wajahnya polos tanpa dosa.

"Oh... maaf, guys," panggil Bumi canggung sambil meringis pelan. "Badan gue rasanya lengket banget bekas keringat tampil kemarin sore sama kehujanan. Jadi gue pikir mumpung kalian tidur pulas, gue mandi dulu..."

"Aduuuh, Bumi!" desah Aery pasrah sambil menyandarkan punggungnya ke dinding kayu.

Jasver yang sudah tidak sanggup menahan lagi langsung mendorong pintu kamar mandi sedikit lebih lebar. "Bum, minggir dikit! Gue ngga peduli lo mau mandi apa kagak, gue mau pipis dulu di kloset!"

"Eh, Ver! Jangan masuk dulu, gue belum pake baju lengkap!" jerit Bumi panik sambil mencoba menahan pintu.

"HALAH PEDULI AMAT KITA SAMA-SAMA COWOK!"

Melihat dua cowok itu malah berebut kamar mandi di jam satu pagi, Aery cuma bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil tertawa lemas di luar.

"Bumi, minggir! Ini gue udah di ambang batas takdir!" bentak Jasver dengan suara bisikan histeris, menahan pintu toilet dengan seluruh sisa tenaganya.

"Tunggu bentar, Ver! Gue cuma pake celana pendek, kaosnya belum masuk!" tahan Bumi dari dalam, berusaha sekuat tenaga menutup celah pintu sambil memegangi handuknya yang hampir meluncur jatuh.

Aery yang menyaksikan pergulatan dua cowok tinggi itu di depan pintu toilet hanya bisa mengelus dada. Rasa kebeletnya yang sudah di ujung tanduk membuatnya mendadak dapat ilham jenius.

"Stop, stop!" potong Aery cepat, menyusupkan tangannya di antara bahu Jasver dan pintu. "Daripada kalian berdua berantem di depan pintu sampai lantai bawah roboh, gimana kalau kalian kompromi?!"

Jasver dan Bumi seketika membeku. Jasver menoleh ke Aery dengan mata melotot. "Kompromi gimana, Ry?! Masa gue sama Bumi pipis barengan?!"

"Bukan begitu, aelah!" seru Aery gemas, hilang sudah citra anggunnya akibat menahan buang air. "Bumi, kamu keluar sekarang dan bawa kaos kamu! Jasver masuk, tapi cuma dikasih waktu tiga puluh detik! Habis itu giliran gue!"

Bumi yang pada dasarnya penurut dan merasa bersalah langsung mengangguk cepat. "Oke, oke! Gue keluar!"

Dengan gerakan secepat kilat, Bumi menyelip keluar dari celah pintu sambil memeluk kaos oblongnya. Jasver tanpa buang waktu langsung melompat masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintunya.

BLEK!

"Tiga puluh detik dari sekarang, Ver! Lebih dari itu gue dobrak!" ancam Aery dari luar.

Bumi berdiri kaku di samping Aery dengan rambut basah menetes-netes ke bahunya. Cowok itu menyunggingkan senyum canggung yang teramat polos, mengusap lehernya yang dingin.

"Maaf ya, Ry..." gumam Bumi halus. "Aku ngga tau kalau kalian berdua kebelet banget."

Aery menatap Bumi, lalu tak sanggup menahan tawa renyahnya. Rasa kesalnya menguap begitu saja saat melihat muka Bumi yang mirip anak kecil ketahuan mencuri permen. "Kamu tuh ya, Bum... bisa-bisanya mandi jam segini di villa. Niat banget bersih-bersihnya."

CEKLEK.

Pintu kamar mandi terbuka lebar tepat di detik ke-28. Jasver keluar dengan hembusan napas lega luar biasa, wajahnya terpancar aura kedamaian duniawi.

"Ahhh... nikmat mana lagi yang engkau dustakan," gumam Jasver memegangi perutnya. "Silahkan, Mbak Sopir! Kloset sudah steril dan aman dikendalikan!"

"Awas kalau ada yang ngintip!" ancam Aery bercanda, lalu secepat kilat masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam.

Lima menit kemudian, Aery keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka dan menuntaskan hajatnya.

Begitu melangkah keluar, Aery mengusap matanya yang masih terasa amat berat. Ia melirik jam dinding kayu di atas sofa ruang tengah lantai bawah. Jarum jam menunjukkan angka 02.17 WIB.

"Astaga..." bisik Aery. "Udah jam 2 lebih aja! Kirain gue masih jam 12!"

"Hah?! Jam dua?!" seru Jasver yang ketakutan setengah mati mendengarnya. Cowok itu refleks mengucek matanya yang merah. "Gila! Pantes aja aura-auranya makin ngga enak!"

Bumi yang sudah selesai memakai kaosnya lengkap ikut menguap lebar sampai matanya berair. "Aduh... pantesan hawa di luar tambah dingin."

Dari arah tangga atas, suara gontai lantai kayu terdengar berderit pelan. Farah berjalan menuruni dua anak tangga sambil memeluk bantal, rambutnya mengembang bak raja hutan dan matanya terpejam sebelah.

"Kalian bertiga... berisik banget sih..." rintih Farah dengan suara serak khas orang setengah sadar. "Gue kira ada gempa bumi... ternyata cuma heboh urusan kamar mandi..."

"Maaf, Far! Ini si Bumi malah mandi tengah malam!" tuduh Jasver sambil menunjuk Bumi.

"Yaudah, yaudah! Ngga usah debat lagi," potong Aery sambil mendorong pelan bahu Jasver dan Bumi menuju tangga. "Ini masih malam banget. Sekarang semua naik ke atas, balik ke kasur masing-masing, dan tidur!"

"Siap, Kanjeng Ratu!" desah Jasver pasrah.

Mereka berempat merangkak naik kembali ke lantai mezzanine dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Di kasur sebelah kiri, Ren bahkan sama sekali tidak bergeming dari posisinya. Dirinya masih tertidur pulas dengan dengkur halusnya, sama sekali tak terganggu oleh kegaduhan yang baru saja terjadi.

Bumi dan Jasver kembali merebahkan diri di samping Ren, langsung menarik selimut tebal mereka sampai ke leher. Di kasur kanan, Farah dan Aery kembali meringkuk hangat di bawah selimut.

Klek.

Jasver mematikan lampu tidur meja tengah. Dalam hitungan detik, keheningan dan kehangatan villa kayu kembali menyelimuti mereka. Rasa lelah yang teramat sangat mengalahkan segalanya, membawa mereka kembali berlayar jauh ke dalam alam mimpi hingga fajar benar-benar menyapa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!