JANGAN DI TUNGGU..
UPDATE TIDAK MENENTU KAPANNYA.. KARENA KESIBUKAN...
Saat SMA di pandang sebelah mata, di permalukan oleh orang yang disukai,di jadikan bahan tawaan karna penampilan yang culun dan di anggap miskin .
hingga memilih pergi, dan melupakan.
kembali dengan identitas asli, dan membuat banyak orang kagum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vera Ferdina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCA Ep24
selesai acara, julian langsung pulang ke rumah orang tuanya, ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan.
sampainya di kediaman agastara, julian yang awalnya tersenyum bahagia menjadi muram seketika, saat melihat siapa orang yang sedang berkunjung ke rumahnya.
Ray juga ikut terdiam di samping julian, paham akan sesuatu membuat ray ingin undur diri. tetapi langkahnya terhenti saat suara tuan besar rumah menyuruhnya ikut duduk bersama mereka.
"lian duduklah dulu" ucap helen pada sang putra.
"ada apa, kenapa ada tamu malam malam begini?" tanya julian
"begini nak lian, kau dan elin kan sangat dekat, kalian juga sudah hampir kami jodohkan, aku tau kau pria yang bertanggung jawab, maka dari itu aku tidak terlalu hawatir saat ini" ucap papa elin bertele tele.
"langsung ke intinya saja, tidak perlu penjelaskan panjang lebar" sahut julian dingin.
"em... begini julian, elin sedang mengandung, dan kami yakin itu adalah anakmu, kami sangat bahagia akan cepat memiliki cucu" sahut mama elin dengan wajah berseri.
"mengandung anakku? elin?... HAHAHAHAHAHAHA" julian langsung tertawa sangat keras.
semua menatapnya heran, kedua orang tua julian menahan tawanya saat mendengar julian tertawa, ingin rasanya ikut tertawa namun mereka menjaga image.
elin menunduk malu, ia yakin julian tidak akan percaya, karena memang anak yang ia kandung bukanlah anak julian.
"kenapa kau tertawa nak julian, kami juga bahagia sama sepertimu, maka begitu kalian harusnya cepat cepat menikah, sebelum perut elin semakin membesar" ucap papa elin.
"hahaha... kalian lucu sekali ya, apa kalian yakin itu anakku? apa elin mengatakan jika bayi yang ia kandung adalah darah daging ku?" cerca julian.
kedua orang tua elin langsung melirik ke arah putrinya yang diam menunduk, wajah elin yang semakin tirus membuatnya terlihat sangat berbeda, dan seperti bukan dirinya yang dulu.
"elin! aku sebagai ibu dari julian sangat mengenal putraku, seburuk apapun perbuatannya dia tidak akan pernah tidur dengan wanita, itu yang kami ajarkan kepada julian," kata helen yang mulai angkat bicara.
"katakanlah yang jujur, siapa anak yang kau kandung elin, aku tidak mau jika masalah ini sampai terdengar ke telinga kekasihku, jika itu terjadi aku tidak akan segan segan menarik semua saham agastara dari perusahaan keluarga kalian" ucap julian sangat tegas
ancaman julian mampu membuat kedua orang tua elin takut, jika saham agastara di tarik semua, maka perusahaan mereka akan tinggal nama.
"elin.. katakan cepat, siapa ayah bayimu" mama elin mengguncangkan bahu elin dengan keras.
"maafkan aku ma.." elin menangis dengan pilu, karena ia sama sekali tidak tau siapa ayah dari bayinya tersebut.
"apa maksudnya elin, katakan dengan jelas" marah mirna pada putrinya.
"a... aku tidak tau ma, hiks...hiks" elin menunduk sambil menangis.
sikap sombongnya dulu hilang entah kemana, dia benar benar tidak tau siapa ayah bayi yang di kandung, karena saat terbangun ia sudah tanpa sehelai benang pun.
bahkan pria itu tidak meninggalkan jejak apapun padanya, itulah kenapa elin sangat susah mencari tau.
"dasar anak bodoh, anak sialan... apa begini kelakuanmu di luar sana hah," tanpa segan papa elin langsung menampar putrinya dengan keras.
"tolong jangan membuat keributan di rumahku, selesaikan masalah keluarga kalian di rumah kalian sendiri" ucap papa julian.
dengan kasar papa elin menyeretnya keluar dari kediaman agastara.
julian bisa bernafas lega, akhirnya masalahnya dengan elin bisa berakhir.
"siapa kekasih yang kau maksud lian?" tanya helen.
julian langsung tersenyum mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut mamanya.
"alena, dia adalah kekasihku saat ini," jawab julian.
kedua orang tuanya tentu saja terkejut, kenapa bisa, bukankah tuan arlan dan putranya tidak mungkin menyetujui, akibat ulah yona membuat tuan arlan sedikit dingin pada keluarga agastara.
"kau tidak bercanda kan lian? mana mungkin" ucap helen
"apa tuan arlan mengetahuinya?" tanya papa julian.
"belum pa, jika mereka tau mungkin tidak akan menerimaku, maka dari itu aku harus usaha untuk mereka mau menerima hubungan kami," sahut julian.
"mama tidak bisa bantu apapun lian, tapi mama akan merestui jiak semua itu benar adanya," jawab helen
***
alena sedang berada di sebuah cafe bersama tia, hari ini pekerjaan mereka sangat banyak, apa lagi besok mereka harus turun lapangan untuk mengecek proyek baru bersama perusahaan julian.
lagi lagi alena harus bertemu julian, sengaja menjauh dan tidak membalas chat juga tidak mengangkat telpon julian, status hubungan mereka yang mendadak membuat alena masih bingung.
"alen kenapa makananmu di mainkan begitu, lihatlah dar cantik jadi tidak seperti tidak bisa dimakan" ucap tia
"hmmm... aku bingung tia, kenapa saat aku sudah berusaha melupakan, dia datang dan berusaha mendekat kembali," ucap alena.
"apa maksudmu tuan julian?" tanya tia hati hati.
"iya...dia mengklaim aku sebagai kekasihnya saat ini,"
"benarkah? aku turut bahagia alen, aku yakin tuan julian benar benar mencintaimu, dari tatapan matanya sangat jelas terlihat," ucap tia
"benarkah?, apa seperti itu. aku sangat ragu padanya tia, kau tau bagaimana dulunya aku denganya," ucap alena.
"itu hanya masa lalu alen, jangan terlalu mengingat hal hal yang membuatmu ragu, bukalah matamu," kata tia mencoba memberikan pengertian pada alena.
"baiklah, terimakasih nasehatmu tia"
"heii... terimakasih saja tidak cukup, kau harus mentraktirku sekarang,"
"hmmm... oke pesanlah apapun yang kau mau," sahut alena.
"hai... apa aku mengganggu?" tanya yudis yang tanpa sengaja melihat alena di cafe yang sama dengannya.
"tidak sama sekali tuan, kau teman kak romi bukan" ucap tia.
"ya.. aku temannya romi, alena senang bertemu denganmu lagi,"
"iya..." sahut alena seadanya.
"silahkan bergabung tuan yudia, kita baru saja akan pesan makanan," kata tia menyuruh yudis agar duduk di meja yang sama.
"tidak perlu memanggilku tuan ,cukup namaku saja, apa aku tidak merepotkan jika bergabung dengan kalian?" seru yudis
"tidak sama sekali tuan.. eh maksudku yudis"
"alena apa aku boleh gabung denganmu?" tanya yudis
"iya tentu saja, silahkan duduk," jawab alena
akhirnya mereka makan siang bersama dengan diam, sesekali yudis melirik alena yangs sedang makan dengan anggun.
"kenapa aku telat bertemu dengannya, jika saja aku lebih dulu bertemu denganmu ,mungkin aku yang akan menjadi kekasihmu," gumam yudis
"kau mengatakan sesuatu?" tanya tia yang mendengar gumaman yudis ,namun kurang jelas.
"ah... tidak tidak, kau hanya memikirkan pekerjaan saja," gugup yudis.
"apa kau di indonesia hanya ada pekerjaan?" tanya alena
yudis tercengang mendengar alena bertanya padanya, sungguh ia merasa senang karena alena mau berbicara.
"tidak, aku akan menetap di indonesia, karena meneruskan perusahaan papi," sahut yudis
"ohhh...."
skali2 pebinor lah stlh Yudis munculkan lagi Sam buat Julian cemburu masak Alena trs yg cemburu
Elin hanya mau hartanya saja, tidak mau Prianya
sukses...semangat
mksh