Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.
El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.
Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.
Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.
Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembang
Pagi-pagi sekali, El sudah menjemput Erina dan Elvira untuk pergi ke Lembang Bandung, mengajak ke rumah orangtua El. Seperti janji El kemarin.
Erina sangat senang, saat tahu ia akan bertemu dengan Kakek dan Neneknya.
Diperjalanan Erina sangat menikmati pemandangan yang disuguhkan. Ini adalah kali pertama dirinya berkunjung ke Indonesia. Antusias hanya itu yang sungguh ia rasakan sekarang.
Sesampainya dirumah sederhana orangtua El, yang memang tak banyak renovasi membuat Elvira masih mengenali rumah itu.
Rumah sederhana dengan kolam ikan kecil di halaman depan rumah, teras yang tersusun dengan kursi-kursi untuk sekedar bercengkrama, masih sama persis seperti dulu saat ia masih bersama El. Jauh berbeda dengan rumah orangtuanya, yang berada di komplek perumahan elit, bak istana dan banyak penjaga.
Elvira turun bergandengan dengan Erina, diikuti oleh El. El lebih dulu mengetuk pintu rumah kedua orangtuanya itu.
"Tok tok tok..." suara pintu diketuk oleh El
"Iya sebentar.." ucap Ibu El sembari sedikit berlari terburu-buru
"Clek.." pintu terbuka
Pemandangan yang tak biasa, Ibu El melihat begitu tercengang dengan pemandangan yang tak biasa itu.
Elvira yang sudah lama tak pernah lagi bertemu dengannya, dan seorang gadis kecil dihadapannya itu.
"Assalamu'alaikum Bu.." ucap Elvira dengan senyum manisnya lalu menyodorkan tangan untuk bersalaman
Ibu El menyambut jabatan tangan itu dengan raut wajah judesnya. Jujur saja, Ibu El masih merasa marah pada Elvira karena telah meninggalkan putranya begitu saja, membuat El terpuruk bahkan membuat dirinya sendiri sakit karena memikirkan rumah tangga anaknya itu bersama Elvira.
"Walaikumsalam.." jawab Ibu El dengan nada dinginnya
Elvira lalu memeluk tubuh wanita separuh baya yang ada dihadapannya itu, air matanya menetes begitu saja, teringat pada kesalahannya pada keluarga El.
"Bu, maafkan saya yaaa.. Tolong maafkan saya, saya menyesali semuanya" ucap Elvira dalam tangisnya
"Semua sudah terlambat.." jawab Ibu El tetap dengan suara yang dingin
El memperhatikan Ibunya, ia tahu Ibunya sungguh merasa kecewa pada Elvira, Ibunya adalah orang yang sangat marah ketika tahu semua berakhir begitu saja.
"Bapak dimana Bu?" tanya El menanyakan Bapaknya yang belum juga terlihat
"Bapak ke sawah, sekalian ke kolam.." jawab Ibu El tetap dengan nada dinginnya
El hanya mengangguk, ia tahu Bapaknya selalu sibuk di pagi hari.
"Bu, ini Erina.. Anak ku.. Cucu Ibu.." ucap El mengenalkan Erina pada Ibunya itu
Ibu El memandang lekat ke arah gadis kecil yang cantik dengan rambut yang diikat rapi.
Tak ada sedikitpun gerakan ingin menyentuh ataupun memeluk gadis kecil itu.
Erina menyalami Neneknya itu dengan sopan, Ibu menyambutnya dengan baik, walau masih bersikap dingin.
"Bu, kita mau ke Bapak dulu.." ucap El pada Ibunya
El lalu mengajak Elvira dan Erina ke sawah, mengganti sandal dulu menggunakan sandal japit agar lebih nyaman.
El dan Elvira berjalan menyusuri jalan setapak antara sawah dan sawah.
"Ibu kayaknya gak maafin aku.." ucap Elvira pada El
"Iya Ibu marah sekali saat tahu kamu pergi gitu saja.." jawab El dengan dinginnya
"Aku tahu, pasti orangtua mu marah sekali dan merasa sangat kecewa sama aku.." ucap Elvira sudah berpasrah
El hanya terdiam ia tak ingin menjawab ucapan Elvira rasanya. Tak lama sampailah di sawah milik orangtua El, dengan kolam-kolam ikan yang cukup luas di sampingnya.
"Assalamu'alaikum Bapak.." ucap Elvira dengan gembira ketika melihat Bapak El yang sedang sibuk memberi makan-makan ikannya
"Wa-walaikumsalam.." jawab Bapak El dengan terbata-bata merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat kali ini
Elvira sudah lama sekali tak bertemu dengan keluarga El, Bapak El dulu adalah ayah mertua yang sangat menyayangi Elvira karena memang Elvira menantu idaman yang cantik juga ramah pada siapapun.
Pandangan Bapak El beralih pada sosok gadis kecil yang ada di belakang El, sembari bergandengan dengan El.
Elvira lalu menyodorkan tangannya, menyalami Bapak El yang dulu pernah menjadi ayah mertuanya itu.
"Bapak apa kabar?" tanya Elvira dengan nada gembira dan wajah berseri-serinya
"Alhamdulillah Bapak sehat.. Kamu sendiri apa kabar?" jawab Bapak El lalu balik bertanya pada Elvira
"Alhamdulillah sehat juga Bapak.." jawab Elvira dengan senyum lebarnya
"Bapak ini Erina, cucu Bapak.." ucap Elvira karena sedari tadi Bapak El memperhatikan sosok Erina
Bapak El menyambut dengan hangatnya pada Erina, memeluk lalu mencium pipi Erina dengan lembut.
Matanya berkaca-kaca, ia merasa terharu ketika melihat wajah Erina yang mirip sekali dengan El, putranya itu.
"Halo sayang.. Cantik sekali cucu Kakek.." ucap Bapak El sembari mengelus lembut rambut Erina
"Halo Kakek.. Senang bisa bertemu dengan Kakek.." ucap Erina dengan senyum manisnya
"Erina boleh gak kasih makan ikan-ikannya?" tanya Erina yang antusias ingin berinteraksi dengan ikan-ikan itu
"Boleh dong sayang.." ucap Bapak El lalu memberikan kotak makanan ikan itu pada Erina.
Erina berjalan mendekat ke arah kolam-kolam ikan itu.
"Hati-hati ya Nak.. Mami mau bicara dulu sama Kakek dan Papi.." ucap Elvira memberi perhatian pada putrinya itu
"Iya Mami.." jawab Erina singkat sembari terus berjalan perlaha mendekati kolam-kolam ikan
El dan Bapaknya sudah duduk di Gazebo kecil yang ada di antara sawah dan kolam ikan. Hanya ada segelas kopi, dan singkong goreng dalam piring di atas meja kecil yang ada disana.
Elvira ikut duduk, berhadapan dengan Bapak El.
"Bapak.. Saya mau minta maaf, maaf untuk semua kesalahan saya.. Saya sungguh menyesali.." ucap Elvira dengan mata yang mulai sendu
Bapak El menatap dalam kearah Elvira, perasaan sayang sebagai orangtua pada menantu itu masih ada untuk Elvira, karena memang Elvira menantu yang baik, dan meninggalkan El bukan karena pengkhiatan dengan pria lain.
Bapak El tersenyum, lalu mengelus lembut tangan Elvira yang berada di meja kecil itu.
"Bapak Memaafkan mu Nak.." ucap Bapak El dengan ramahnya
"Makasih banyak ya Pak.. Maaf sudah membuat ke kacauan ini.." ucap Elvira lagi-lagi merasa bersalah karena El kini harus berpisah sementara dengan Anin
Bapak El hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jadi bagaimana nasib pernikahan kalian? sekarang ada Erina yang harus juga kalian pikirkan.." tanya Bapak El sembari melihat ke arah Erina yang asik memberi makan ikan-ikannya
"Kami akan berpisah Pak.. Kasihan Anin.." jawab Elvira dengan mantap
"Iya, pernikahan kami sudah lama telah usai.." ucap El meyakinkan
"Lihatlah anak kalian, jangan biarkan dia menjadi korban.." ucap Bapak El yang sebenarnya tak ingin perceraian
"Kalau mereka tetap bersama, Anin juga akan menjadi korban atuh Bapak!" tiba-tiba ucap Ibu El yang baru saja datang mendengar percakapan mereka langsung ikut menyambar
"Iya Pak, Ibu benar.. Erina sudah terbiasa kok tanpa ayahnya.." ucap Elvira ia tak ingin terlihat egois
"Iya da semua itu juga gara-gara kamu sendiri atuh Elvira! Bukan salah El!" ucap Ibu El dengan ketusnya
"Iya Bu, Elvira tahu.. Elvira menyadari kesalahan Elvira.." ucap Elvira air matanya mulai menggenang di bola matanya
"Sudah-sudah Bu.. Tapi ini masalah anak, cucu kita.. Kasihan dia jika harus tahu kalau orangtuanya bercerai.." ucap Bapak El membela
"Kalau kamu sendiri gimana El? Masalah ini teh harus segera di selesaikan. Kasihan Anin.. Mau sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Ibu El dengan nada yang ketus
"Apapun yang terbaik Bu.. Jalan terbaik yang ingin aku ambil.." jawab El tak bisa berkata-kata banyak
Ibu El hanya terdiam, ia sudah sangat kesal rasanya pada masalah ini.
Ibu El datang dengan membawa beras, air minum, gelas dan bumbu-bumbu masak. Ia tahu setiap kali El main ke sawah harus sembari memasak nasi liwet, dan ikan bakar yang langsung di ambil dari kolam ikannya itu.
"Ya sudahlah lupakan dulu masalah ini.. Kita makan-makan dulu.." ucap Bapak El yang memang terlihat lebih santai
Bapak El langsung meninggalkan Gazebo itu menghampiri Erina, dengan membawa saringan untuk menangkap ikan untuk mereka santap nantinya.
"Biar Elvira bantu ya Bu.." ucap Elvira mencoba mencairkan suasana dengan ikut membantu memasak
"Boleh.." jawab Ibu El, terdengar lebih ramah
Elvira lalu mencuci beras yang diberikan oleh Ibu El di air mengalir, sementara El mencoba membuat perapian untuk memasaknya.
Kebersamaan terasa begitu hangat, tawa-tawa kecil itu seakan membuat terasa nyaman.
El yang sudah berhasil membuat perapian, lalu membantu menangkap ikan, karena Bapak dan Erina terlihat juga begitu asik dengan ikan yang terus lompat keluar dari jaring.
"Papi ayo bantu kita.." ucap Erina dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya itu
"Ok siap.." jawab El dengan semangat
Kebahagiaan itu larut begitu saja, seakan ini adalah keluarga yang utuh. Elvira memasak bersama Ibu El, sementara Bapak dan Erina sudah duduk menunggu di Gazebo sembari terus tertawa dalam candanya, sementara El sibuk memanggang ikan.
"Apa ini rasanya menjadi keluarga seutuhnya?" ucap El dalam batinnya, seketika ia menoleh ke araha Erina dan Bapak yang sibuk tertawa hahahihi dengan kencang, sementara Ibu dan Elvira yang juga kompak dalam memasak dan membuat sambal
El tersenyum manis ketika semua terlihat baik-baik saja dalam pandangannya itu.
"Ya Allah, apa aku harus mempertahankan rumah tangga ini dan memperbaiki semuanya? Demi gadis kecil, anak kandung ku.." ucap El lagi-lagi dalam batinnya
Tak bisa dipungkiri, bahwa pikiran El sangatlah penat, banyak sekali yang berputar-putar dalam otaknya.
...----------------...
Hallooo Kakak-kakak Readers..
Terimakasih selalu setia membaca novel ini. Bantu like, koment, dan vote yaaa
Yang belum tahu cara vote bisa dilihat di profil novel ini, lalu dihalaman yang tulisan "detil" samping episode dibawah nama author ada tulisan "vote".
Tolong bantu Author yaaa..
Terimakasih 😊