ini menceritakan tentang kisah radiska dan Arvin yang terjerat oleh pernikahan kontrak.
namun siapa sangka cinta itu tumbuh dalam pernikahan kontrak mereka.😊😊
warning!!
cerita ini mengandung adegan dewasa!! mohon bijak dalam membaca ya guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon umi whiby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
harapan sebenarnya
“Keruangan ku sekarang!” seru pria dari sebrang telpon tersebut.
Adis langsung mematikan sambungan pesawat telpon nya dan menghela nafas nya berat. Ia berjalan kearah ruangan bosnya.
“Tuan! Anda memanggil saya?”
“Masuklah!” ucap Arvin bangkit dan berjalan kearah sofa yang diikuti oelh Adis. “Duduk lah, nanti kakimu bisa membesar karena terlalu lama berdiri.”
Adis mencebik kesal, becandaan bosnya itu sungguh sangat tidak lucu, batin Adis duduk dihadapan Arvin.
“Sebenarnya apa yang anda ingin kan tuan? Mengapa tidak langsung saja.” Tanya Adis malas berlama-lama dengan Arvin berduan.
Arvin menatap Adis dan tersenyum simpul, “liat saja, aku akan mengerjai mu wanita bodoh.” Batin Arvin tersenyum nakal.
“buka makanan ini, dan suapi aku.”
Wajah Adis berubah masam, ia malas sekali melihat wajah Arvin yang tersenyum jahil pada dirinya.
“Kau sudah besar tuan, kau punya dua tangan yang sehat. Makanlah sendiri, aku masih banyak pekerjaan.” Tolak Adis acuh, wanita itu sudah berdiri ingin meninggalkan Arvin.
“Baiklah, kalau begitu aku aka. Menghibur ibu mertuaku dan mengatakan padanya bahwa putri tersayang nya tidak merawat suaminya dengan benar.” Ancam Arvin menyunggingkan senyum lalu duduk merentangkan tangannya kebelakan sofa. Ia tahu Adis pasti akan takut jika Arvin mengancamnya dengan nama bunda.
Adis yang tadi terlihat berani sekarang malah terlihat takut dan lucu. Wanita itu kembali duduk dengan wajah yang terlihat frustasi menahan kekesalan nya. “aku bisa-bisa mati berdiri menahan kekesalan setiap hari.” Batin Adis menatap tajam suaminya.
Dengan wajab masam Adis membuka nasi yang dibeli Arvin tadi. Setelah itu Adis mengambil sendok dan menyiapkan kemulut Arvin.
“Buka mulut mu suamiku tercinta, sepertinya suami ku lelah sekali..”
Arvin semakin merasa puas mengerjai Adis yang terlihat tertekan karena perbuatannya. Ia membuka mulutnya dan mengunyah makanan nya dengan perlahan dan lambat.
“Sepertinya selain tulang yang mulai renta, mulut suamiku juga bermasalah..” ucap Adis pura-pura dengan wajah yang dibuat sedih.
“Apa maksudmu? Kau mengatai ku tua?” hardik Arvin tajam.
“Aku tidak mengatakan kau tua tuan! Aku hanya kasihan saja padamu.” Ucap Adis santai menyendokkan lagi makanan kemulut Arvin, membuat Arvin tersedak dan batuk.
“Air.. air..” ucap Arvin memegang tenggorokan nya.
Adis memberikan air yang berada diatas meja tersebut. “lihat! Kau batuk tuan, sepertinya kau membutuhkan perawat pribadi untuk merawatmu..” ejek Adis tersenyum usil.
Arvin yang tadinya ingin mengerjai Adis malah balik dikerjai. Pria itu diam dan melihat pergerakan Adis yang berjalan dan menghempaskan bokongnya disebelah Arvin.
“Mari aku periksa suamiku, sepertinya ada yang salah dengan tubuhmu..” ejek Adis lagi.
Arvin yang semakin kesal menarik pinggang ramping Adis dan membuat gadis itu semakin menempel ke badannya.
“Kau benar sekali, aku memang sangat membutuhkan perawat yang bisa merawat tubuh ku dengan benar.” Ucap Arvin sensual ditelinga Adis. Wanita itu seketika menjauh kan wajahnya dari wajah Arvin.
“baiklah, kalau begitu kau tidak perlu merepotkan ku lagi, sekarang lepaskan tanganmu..” ucap Adis mencoba melepaskan tangan Arvin yang melingkar di pinggang nya.
Arvin semakin erat memeluk tubuh mungil Adis, “bukannya tadi kau bilang aku membutuhkan seorang perawat? Sepertinya kau cocok menjadi perawat pribadiku..” goda Arvin melihat tubuh Adis dari atas hingga kebawah.
“Pria gila!” pekik Adis kesal, “kau pikir aku apa ha? Lepaskan tanganmu.”
“Aku pikir apa? Aku hanya berpikir mungkin saja kau cocok menjadi seseorang yang bisa merawat tubuhku ini.”
Arvin tertawa melihat wajah ketakutan Adis, namun saat Adis menatap wajahnya, dengan susah payah ia menyembunyikan tawanya dari Adis.
“Cepat suapi aku, atau memang kau suka aku perlakukan seperti ini.”
Adis yang tak kuasa dengan bualan Arvin langsung menyodokkan makanan kemulut Arvin tanpa ampun.
****
Mommy dan Daddy pergi berjalan ke mall yang tak jauh dari rumah mereka. Ia ingin membeli beberapa keperluannya untuk membuat dessert kesukaannya. Ini memang salah satu hobi mommy Nita.
“Dad, mommy ingin membelikan sesuatu untuk Adis, mommy lihat dia tidak pernah memaka perhiasan atau perhiasan. Bagaimana kalau kita belikan?” tanya mommy pada suaminya.
“Lebih baik tunggu sampai kalian berdua pergi bersama saja, jadi dia bisa memilih sendiri sayang.”
Mommy mengangguk setuju, sebaiknya tunggu saja sampai menantunya tidak sibuk lagi.
“Besok hari libur, kau bisa mengajak nya pergi. Setelah itu kita jemput anak gadis kita.”
“astaga dad, aku hampir melupakan Claudia.” Pekik mommy menepuk keningnya, “ini semua karena anak itu sama sekali tidak perduli dengan kita. Dia tidak pernah menghubungi dan memberikan kabar pada kita.” Sungut mommy.
Claudia memang anak yang manja, tapi sifat buruk wanita itu selalu saja membuatnya naik darah. Apalagi Claudia hanya akan melakukan apa yang ia mau saja. Dan kadang tanpa sadar ia sering mengacuhkan kedua orang tuanya.
“yasudah, kita tidak perlu marah-marah sayang. Sekarang kita bayar lalu kita pulang.”
Mommy mengikuti Daddy membayar semua barang yang sudah ia ambil, ia sudah tak sabar ingin pulang dan membuat makanan-makanan enak untuk menantunya.
Hingga menjelang malam, semua anggota keluarga berkumpul dimeja makan. Mommy berkata pada Adis kalau ia membuat sesuatu yang sangat enak.
“Mommy yakin kamu pasti suka..” ucap mommy antusias.
“Sekarang saja mom, aku benar-benar tidak mau menunggu lagi..” ucap Adis yang tak kalah antusias.
Setelah makan malam Adis dan mommy menuju kolam renang belakang. Mommy meminta asisten rumah tangga untuk membawa dessert yang sudah ia buat.
“Ya ampun mom, cake nya cantik sekali..”
Mommy tertawa melihat wajah Adis yang terlihat tak tega untuk memakan kuenya.
“ayo nak, kamu mau makan yang mana?” tanya mommy pada membantu nya.
“Aku mau ini mom,” tunjuk Adis pada cake puding bunga yang bentuknya sangat cantik, “tapi yang ini aku juga mau, yang ini juga terlihat enak mom, aku bingung..” rengek Adis mengatupkan kedua tangannya didagu.
Mommy semakin tertawa melihat wajah Adis yang lucu dan menggemaskan. Hal seperti inilah yang tak pernah ia dapatkan dari Claudia ataupun Arvin.
“Kau memang rakus,” cela Arvin yang baru datang dengan Daddy nya.
“biarkan saja, mommy senang kalau dia mau makan terus.” Jawab mommy memandang sinis putranya.
“Daddy lihat? Sepertinya mommy sudah mulai melupakan ku.”
“Kau benar, mommy memnag melupakan kita..” ucap Daddy dengan wajah yang dibuat sedih.
Adis seketika tertawa keras melihat ekspresi ayah mertuanya yang konyol. Baru kali ini Adis melihat wajah seorang Willson dan putranya memelas seperti ini. Biasanya kedua anak dan ayah itu selalu menunjukkan wajah dinginnya.
Mereka semua ikut tertawa mendengar tawa Adis yang terbahak bahak. Sedangkan Arvin, pria itu hanya tersenyum dan memandangi ketiga orang tersebut.
Andai Adis adalah wanita yang ia cari, pasti ia akan berusaha mencintai wanita itu dan mempertahankan hubungan rumah tangga mereka. Arvin tak tau apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti semua berakhir, karena jujur saja Arvin masih terus mencari dan berharap pada gadis kecil yang sudah menyelamatkan nya dulu, batin Arvin mendesah frustasi.
Setelah acara makan selesai, Adis masuk kekamar diikuti Arvin dibelakang nya.
Adis duduk didepan balkon kamar mereka sambil termenung jauh. Entah apa yang ia renungkan. Arvin hanya melihat sekilas, lalu mengacaukan saja. Ia tidak mau terlalu banyak berinteraksi pada wanita itu atau nanti ia bisa jatuh hati dengannya.
“Bunda, Adis rindu..” lirih Adis melihat foto bundanya. “Besok Adis akan lihat bunda, Adis merasa ada sesuatu sama bunda.”
seruh deh