Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
Teguran yang Mengubah Pandangan
Siang itu matahari bersinar cukup terik, membuat udara di lokasi perkemahan terasa sedikit hangat. Para siswa sibuk dengan kegiatan masing-masing ada yang sedang melatih baris-berbaris, ada yang mengumpulkan kayu bakar untuk persiapan api unggun nanti malam, dan ada pula yang duduk beristirahat di bawah pohon rindang.
Aisyah sedang duduk di pinggir lapangan, merapikan buku catatan kecil yang berisi poin-poin materi kegiatan kemah. Gerakannya pelan dan tertib, seolah tidak terganggu oleh keributan di sekelilingnya. Tak lama kemudian Dimas berjalan mendekat sambil membawa dua botol air mineral dingin. Ia duduk di sebelah Aisyah tanpa menimbulkan suara gaduh, lalu menyodorkan satu botol ke arahnya.
"Ini buat kamu Syah. Tadi lihat kamu dari tadi nggak minum, takutnya lemas," ucap Dimas dengan senyum lembut.
Aisyah menoleh, menerima botol itu dengan senyum tulus. "Terima kasih banyak ya Dim. Kamu perhatian banget sih. Kamu sendiri juga minum ya, jangan lupa istirahat."
Mereka berdua duduk berdampingan, sesekali berbicara pelan tentang hal-hal ringan seperti keindahan pemandangan bukit dan jenis bunga liar yang tumbuh di sekitar lokasi. Tidak ada yang berlebihan, tidak ada tawa yang memecah kesunyian, hanya obrolan yang mengalir tenang dan damai. Dimas merasa sangat nyaman berada di dekat Aisyah; tidak perlu menjaga sikap berlebihan, tidak perlu takut salah bicara, dan rasanya seolah semua beban pikiran perlahan hilang begitu saja.
Tak jauh dari situ, di balik tenda posko, Laras berdiri diam menatap pemandangan itu. Matanya menyipit tajam, tangannya terkepal kuat di sisi tubuh. Rasa iri dan curiga mulai merayap di hatinya. Selama ini ia selalu berusaha tampil sempurna, bersikap manis, dan menarik perhatian Dimas dengan segala cara, tapi ternyata Dimas justru lebih sering berada di dekat Aisyah yang terlihat biasa saja dan tenang. Dalam benaknya, Laras berpikir pasti ada sesuatu yang tidak beres. Mungkin Aisyah menggunakan cara licik atau memanfaatkan sifat polosnya untuk memikat Dimas.
Ia tidak bisa menahan diri lagi. Dengan langkah cepat dan wajah yang sudah berubah masam, Laras berjalan mendekati mereka berdua.
"Heh, Aisyah!" panggil Laras dengan suara yang cukup keras, membuat beberapa siswa di sekitar menoleh kearah mereka.
Aisyah dan Dimas sama-sama menoleh kaget. Laras sudah berdiri tepat di depan mereka, menyilangkan tangan di dada dengan tatapan menantang.
"Lo tuh ada trik apa sih hah?" tanya Laras ketus, matanya menatap tajam ke arah Aisyah. "Lo pikir gue nggak liat ya? Dari kemarin Dimas terus-terusan deket sama lo, bantu ini itu, kasih minum, ngobrol berdua terus. Lo pakai cara apa sih biar dia sebegitu perhatiannya sama lo? Jangan-jangan lo bisik-bisik hal nggak bener atau pura-pura lemah biar dikasihani ya?"
Aisyah berdiri perlahan, menatap Laras dengan wajah yang tetap tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda takut atau marah sedikit pun. Ia menghela napas pelan, lalu menjawab dengan suara yang jelas dan lembut.
"Laras, tolong tenang dulu ya. Aku nggak punya trik apa-apa. Aku juga nggak minta Dimas buat bantuin aku atau ngobrol sama aku. Semuanya terjadi begitu saja secara alami," jelas Aisyah tulus. "Mungkin kamu belum paham ya, Dimas itu pernah cerita kalau dia lebih suka orang yang tenang, jujur, dan tidak berusaha menarik perhatian dengan cara berlebihan. Aku cuma menjadi diri aku sendiri kok, nggak ada yang dipalsukan."
"Alasan aja lo!" potong Laras cepat, wajahnya memerah menahan emosi. "Tenang katanya? Itu cuma kedok aja kan biar kelihatan suci dan polos? Padahal diam-diam kamu rebut perhatian orang yang sebenarnya bukan buat kamu! Lo tahu kan aku suka sama Dimas dari dulu? Kok lo nggak mau ngalah sedikit aja sih?"
Suara Laras makin meninggi, membuat kerumunan orang di sekitar makin banyak berkumpul. Beberapa teman sekelas mulai berbisik-bisik melihat pertengkaran itu.
Belum sempat Aisyah menjawab, Dimas sudah berdiri tegak dan melangkah maju setapak, menempatkan dirinya sedikit di depan Aisyah seolah ingin melindunginya. Ia menatap Laras dengan tatapan tegas namun tetap sopan.
"Laras, cukup ya. Jangan menuduh Aisyah sembarangan kalau kamu nggak tahu kebenarannya," ucap Dimas dengan suara berwibawa. "Aku yang mendekati Aisyah, aku yang minta ngobrol, aku yang inisiatif bantu dia. Dia nggak pernah minta, nggak pernah merayu, dan nggak pernah pakai cara curang apa pun. Salahku kalau kamu salah paham, tapi tolong jangan sakiti hati Aisyah."
Laras tertegun, matanya membelalak tak percaya. "Dim... kamu belain dia banget gitu? Padahal aku udah berusaha sekuat tenaga buat disukai kamu! Aku tampil cantik, aku perhatiin kamu, aku selalu cari waktu buat kamu... tapi kenapa kamu malah pilih dia yang diam aja?"
Dimas menghela napas panjang, lalu menatap Laras dengan lembut namun serius.
"Laras, aku hargai banget usaha kamu. Aku tahu kamu baik dan kamu cantik. Tapi hati nggak bisa dipaksa kan?" jelas Dimas pelan. "Aku ngerasa nyaman sama Aisyah bukan karena dia lebih cantik atau lebih hebat dari kamu, tapi karena ketenangannya. Kadang sikap kamu yang terlalu heboh, terlalu ingin dilihat orang lain, dan kadang suka menyalahkan orang lain itu bikin aku jadi nggak tenang. Aku butuh teman yang bisa bikin aku damai, bukan yang bikin aku harus selalu waspada atau merasa harus berebut sesuatu."
Wajah Laras perlahan berubah pucat. Kata-kata Dimas terasa seperti tamparan keras yang menyadarkannya. Selama ini ia sibuk bersaing, sibuk menyindir Rara, sibuk memikirkan cara agar terlihat paling menarik di mata Dimas, tapi ia lupa memperbaiki sikap aslinya. Ia lupa bahwa yang dicari Dimas bukanlah kemegahan atau kecantikan luar saja, melainkan ketenangan hati.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menunduk dalam, rasa malu yang luar biasa menyelimuti hatinya.
"Jadi... selama ini aku salah ya?" suaranya bergetar pelan. "Aku kira kalau aku lebih manis, lebih cantik, lebih perhatian, aku bakal dipilih. Tapi ternyata aku malah bikin kamu nggak nyaman. Maaf ya Dim... maaf ya Aisyah. Aku nggak bermaksud jahat, aku cuma terlalu takut kalah."
Aisyah tersenyum lembut, lalu melangkah mendekat dan menepuk pelan bahu Laras. "Nggak apa-apa Laras. Semua orang pernah salah kok. Mulai sekarang kamu bisa berubah pelan-pelan. Kamu nggak perlu berebut atau berpura-pura jadi orang lain. Jadilah diri sendiri, pasti ada orang yang suka apa adanya kamu."
Dimas ikut tersenyum lega melihat Laras mulai sadar. "Betul kata Aisyah. Kita kan teman. Nggak perlu saling menjatuhkan. Kalau kamu tenang kayak gini, kamu jauh lebih cantik lho Lar."
Laras mengangguk pelan, menyeka air matanya dengan ujung jari. Rasa iri di hatinya perlahan hilang berganti rasa hormat kepada Aisyah. Ia sadar sekarang, persaingan tidak harus membuat orang berubah menjadi jahat. Dan ketenangan sederhana yang dimiliki Aisyah ternyata adalah kekuatan terbesar yang tidak dimiliki siapa pun.
Orang-orang di sekitar pun perlahan membubarkan diri dengan senyum puas. Hari itu menjadi pelajaran berharga bagi mereka semua: bahwa kebaikan dan ketenangan hati selalu lebih kuat daripada teriakan dan persaingan yang tajam.