Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dekapan di Kabin Berkarat
Hujan badai di luar sana digantikan oleh suara ombak yang menghantam kasar lambung kapal kargo ilegal. Di dalam kabin sempit yang berbau karat dan solar, ketegangan masih menggantung pekat.
"Aduh, Gusti... mual banget gue, Mbak Rara. Ini kapal apa korsel pasar malam sih, goyang mulu..." Dino merintih di sudut ruangan, memeluk ember plastik butut dengan wajah sepucat mayat.
"Keluar. Jaga pintu," usir Bara dingin. Tangannya baru saja selesai menjepit dan melempar proyektil peluru berlumur darah ke atas nampan besi.
Dino langsung kicep. Sambil menahan mual, ia ngesot keluar kabin dan menutup pintu pelan-pelan.
Di atas ranjang besi berdecit, Arka duduk bersandar dengan napas memburu. Kemejanya sudah dibuka paksa. Otot rahangnya mengeras hebat menahan rasa sakit usai Bara mengeluarkan peluru dari pinggang kirinya tanpa bius medis.
"Perban," perintah Bara kaku pada Rara, lalu mundur untuk mencuci tangannya yang penuh darah di wastafel kecil.
Rara berlutut di samping ranjang dengan tangan gemetar parah. Perutnya sendiri ikut mual melihat luka menganga itu. Dengan cekatan tapi panik, ia mulai melilitkan perban bersih ke pinggang Arka.
"Darah lo ngucur terus, bisa nggak napasnya pelan-pelan aja?!" omel Rara dengan suara bergetar, menekan ujung perban agak keras.
"Napas tidak ada hubungannya dengan pendarahan," balas pria di depannya datar, suaranya serak.
"Ya ada lah! Logika gue, kalau dada lo gerak berlebihan, lukanya makin ketarik!" Rara merapikan sisa perban cepat-cepat, sengaja menghindari kontak mata dengan dada bidang pria itu. "Kalau ini robek lagi, gue ogah ngurusinnya!"
Arka menunduk, menatap tajam puncak kepala Rara. "Kamu cerewet sekali untuk ukuran orang yang baru melihat pembantaian."
"Dih, mulai!" Rara mendelik sengit, mendongak menantang tatapan mematikan itu. "Gue cuma nggak mau lo mati kehabisan darah terus arwah lo gentayangan di kosan gue! Nyawa gue cuma satu, nggak sembilan kayak kucing garong! Belum lagi city car kesayangan gue hancur gara-gara musuh lo itu!"
Arka menarik napas pelan. Gerakan kecil itu membuat otot perutnya tertarik, memaksanya mendesis tertahan.
Rara refleks panik. Tangannya langsung menahan bahu Arka supaya pria itu tidak banyak bergerak. "Makanya jangan sok kuat! Kan udah dibilang diam dulu! Lo pikir perut bolong itu kayak lecet kena meja?!"
Alih-alih menurut, tangan kiri Arka yang bebas malah menangkap pergelangan tangan Rara. Cengkeramannya kaku, kuat, dan tidak menerima penolakan. Ia menarik Rara mendekat hingga gadis itu terpaksa menahan keseimbangan dengan menumpukan tangannya di sisi ranjang. Jarak di antara mereka nyaris tak tersisa.
"Di pelabuhan tadi," suara Arka merendah, dingin namun mengintimidasi. "Kamu menangis. Kamu takut mati, atau takut kehilangan saya?"
Rara menelan ludah susah payah. Hawa maskulin bercampur bau mesiu dan darah dari pria ini mengurungnya telak. "Y-ya karena gue kaget! Emangnya nyawa gue KTP, gampang diperpanjang?! Gue cuma... nggak mau repot jadi saksi mata bos mafia tewas. Interogasi polisi itu ribet!"
Arka menatapnya tanpa kedip. Pembawaannya yang biasa datar kini berubah sangat dominan. Ia menipiskan sisa jarak di antara mereka, membuat Rara tidak bisa berkutik.
"Kamu pikir saya peduli dengan urusan polisi?" bisik Arka tajam.
Sebelum Rara sempat membalas, tangan kanan Arka sudah berpindah ke tengkuk gadis itu.
Ciuman itu mendarat tiba-tiba. Bukan ciuman lembut, melainkan tuntutan yang kasar, dalam, dan posesif—membungkam segala protes dan kepanikan Rara. Aroma mint bercampur anyir darah dan bahaya terasa begitu pekat, seolah pria ini sedang menandai hak miliknya dengan paksa.
Awalnya Rara kaku saking kagetnya. Matanya membelalak lebar. Namun, lengan kokoh Arka yang kini melingkar erat di pinggangnya perlahan meruntuhkan kewarasannya. Jari-jari Rara yang tadinya bersiap mendorong dada pria itu melemas, beralih meremas kemeja basah di bahu Arka. Ia pasrah memejamkan mata, membalas tuntutan arogan tersebut di bawah cahaya lampu kabin yang remang.
Bara yang baru selesai mengelap tangannya hanya melirik sekilas dari ujung ruangan, lalu berbalik badan menghadap pintu dengan wajah datar tanpa ekspresi, memberikan privasi absolut pada atasannya.
Begitu tautan tersebut terlepas, Arka menyandarkan dahi mereka. Keduanya sama-sama mengatur napas. Wajah Rara memerah hebat, otaknya mendadak konslet.
"Mulai malam ini," gumam Arka tepat di depan bibirnya, nadanya dingin dan mutlak. "Kamu tidak punya pilihan selain tetap di samping saya. Dunia saya memang kotor, Rara. Tapi kamu satu-satunya yang tidak boleh tersentuh oleh siapa pun."
Jantung Rara berdegup gila. Ia menatap mata legam pria itu. "Lo mah curang... main hantam seenaknya."
Arka menyeringai tipis, sangat tipis, namun kesan intimidasinya tetap membekukan. "Karena saya tidak pernah terbiasa mendengar penolakan."
"Dasar diktator kejam," gerutu Rara lemah menutupi gugup. Hebatnya, ia sama sekali tidak berniat melepaskan diri dari kungkungan pria berdarah dingin ini.
Arka mengecup kasar puncak kepala Rara, tangannya membelai rambut gadis itu dengan kaku. "Diktator atau bukan, kamu sudah masuk ke wilayah saya. Pintu keluarnya sudah saya hancurkan. Jangan pernah berpikir untuk lari."
Rara mendengus pasrah. Berdebat dengan penguasa dunia hitam ini adalah hal yang sia-sia. Akhirnya, Rara menyandarkan kepalanya di dada Arka dengan hati-hati agar tidak mengenai lukanya. Samar-samar terdengar detak jantung pria itu yang berdegup kencang.
"Oke, gue nggak bakal lari," ancam Rara pelan, meski tangannya memeluk pinggang Arka posesif. "Tapi awas aja kalau urusan Victor ini kelar, lo nggak ganti rugi mobil gue. Gue bakal demo di depan markas lo bawa spanduk."
Arka membalas pelukan itu, menahan kepala Rara agar tetap bersandar di dadanya.
"Minta saja apa pun ke Bara," sahut Arka tenang dan arogan, tak terbantahkan. "Kecuali satu hal: kebebasan untuk pergi dari saya."