NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 025

Bayangan yang Mirip

Senyum Chandra akhirnya berhenti di matanya.

Untuk beberapa detik, ruang fitting Gerbang Majapahit begitu hening sampai Kiara bisa mendengar bunyi halus kain kostumnya bergesek saat ia menarik napas.

Chandra tetap berdiri di ambang pintu, rapi, mahal, dan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dihina langsung oleh Rayhan Purnawan. Pria itu tidak marah seperti orang biasa. Ia hanya menatap Rayhan seolah sedang mengukur harga sebuah benda.

Lalu pandangannya bergeser ke Kiara.

Tidak lama. Tidak sampai kasar. Tapi cukup membuat kulit Kiara meremang di bawah lapisan kostum tebal.

"Saya mengerti," kata Chandra. "Rupanya Nona Kiara sudah punya penjaga yang sangat ketat."

Rayhan melangkah sedikit lagi ke depan. Tubuhnya menutup sebagian garis pandang Chandra.

"Bukan penjaga," jawabnya. "Pemilik hak untuk mengatakan Anda tidak diterima."

Kiara menahan napas.

Kata itu terdengar terlalu dominan, seharusnya membuatnya ingin membantah. Namun kali ini, di depan mata Chandra yang licin dan menempel seperti debu basah, Kiara tidak punya keinginan untuk memperbaiki kalimat Rayhan.

Chandra tersenyum lagi. "Kalau begitu saya bicara sebagai calon sponsor produksi, bukan sebagai tamu pribadi. Proposal saya ada di tangan asisten. Nilainya cukup untuk menutup promosi tambahan film ini di beberapa kota besar."

Gunawan Halim yang sejak tadi berdiri di belakang monitor masuk dengan wajah datar.

"Pak Chandra," katanya, nada bercandanya hilang, "produksi kami tidak menerima sponsor yang masuk lewat ruang fitting pemain perempuan."

"Saya kira ini hanya salah paham kecil."

"Salah paham kecil biasanya tidak bawa bunga pribadi."

Ci Lucy hampir tersenyum, tetapi situasi terlalu tegang.

Rayhan menyerahkan kartu bunga yang sudah terlipat kepada Adi, yang entah sejak kapan berdiri di sisi pintu. "Simpan. Periksa kurir, resepsionis, dan siapa yang memberi izin dia masuk ke area ini."

"Baik, Pak."

Chandra mengangkat alis. "Pak Rayhan memperlakukan saya seperti pelaku kriminal."

"Belum."

Satu kata itu membuat asisten Chandra menegang.

Kiara menatap sisi wajah Rayhan. Rahangnya tenang, suaranya rendah, tapi udara di sekitar pria itu terasa tajam. Ini bukan Rayhan yang membukakan botol air untuknya. Bukan Rayhan yang mencium ujung jarinya pagi tadi.

Ini Rayhan yang dunia novel kenal sebagai villain.

Anehnya, rasa takut Kiara tidak datang secepat yang ia kira.

Yang datang justru dorongan kecil untuk menyentuh lengan pria itu, memastikan ia masih mendengar dirinya.

"Koko," panggil Kiara pelan.

Rayhan menoleh seketika.

Perubahan itu hampir menakutkan. Mata yang tadi seperti es retak langsung melembut saat jatuh padanya.

"Pusing?" tanyanya.

Kiara menggeleng. "Aku tidak mau berdiri lama."

"Kita pulang."

"Fitting belum selesai."

"Fitting bisa ditunda."

Gunawan langsung mengangkat tangan. "Setuju. Aku tidak mau ruang kerjaku jadi arena perang konglomerat."

Kiara ingin protes, tapi tubuhnya memang mulai lelah. Ia akhirnya mengangguk kecil.

Rayhan tidak menyentuh pinggangnya di depan semua orang. Ia hanya menawarkan tangan. Kiara menerimanya, lalu berjalan melewati Chandra tanpa melihat pria itu lagi.

Saat melewati ambang pintu, suara Chandra terdengar di belakang.

"Nona Kiara."

Rayhan berhenti lebih dulu.

Kiara juga berhenti, tetapi tidak menoleh.

"Semoga kita bisa bertemu lagi dalam suasana yang lebih menyenangkan," kata Chandra.

Kiara menoleh sedikit. "Saya harap tidak."

Kalimat pendek itu membuat beberapa kru menahan napas.

Chandra tertawa pelan. "Jujur sekali."

"Saya sedang hemat tenaga," jawab Kiara. "Jadi saya tidak mau membuangnya untuk basa-basi."

Kali ini Gunawan benar-benar batuk menahan tawa.

Rayhan menggenggam tangan Kiara lebih erat, lalu membawanya keluar.

Di koridor, begitu pintu ruang fitting tertutup, Kiara baru merasa lututnya sedikit lemas. Rayhan langsung menyadarinya. Ia melepas jas, menyampirkannya ke bahu Kiara, lalu menunduk agar suara mereka tidak terdengar orang lain.

"Kamu takut?"

Kiara jujur. "Sedikit."

Mata Rayhan menjadi gelap.

"Pada dia?"

"Pada caranya melihatku."

Jari Rayhan berhenti di tepi jas. Dalam satu detik, Kiara melihat sesuatu yang sangat dingin lewat di wajahnya. Bukan cemburu biasa. Bukan marah biasa. Lebih seperti pintu besi di dalam dirinya terbuka, memperlihatkan ruangan yang tidak seharusnya ia lihat.

Kiara cepat-cepat memegang pergelangan tangannya.

"Koko."

Rayhan menunduk.

"Jangan melakukan sesuatu di depan aku."

Kalimat itu keluar sebelum Kiara sempat memikirkan bentuknya.

Rayhan diam.

Kiara menggigit bibir. "Maksudku... aku tahu dia mengganggu. Aku juga tidak suka. Tapi aku tidak mau melihat Koko kehilangan kendali karena orang seperti dia."

Beberapa detik berlalu.

Lalu Rayhan mengangkat tangannya, menyentuh bibir Kiara dengan ibu jari, membuatnya berhenti menggigit.

"Aku tidak akan membuatmu takut," katanya.

Kalimat itu bukan janji bahwa ia tidak akan melakukan apa-apa.

Kiara mendengarnya. Justru karena mendengarnya, dadanya terasa lebih berat.

***

Chandra tidak langsung pergi setelah Rayhan membawa Kiara keluar.

Ia berdiri di ruang meeting kecil produksi, mendengar Gunawan menolak proposal sponsor dengan alasan jadwal kerja sama sudah penuh. Nada Gunawan sopan, tetapi pintunya jelas tertutup.

Chandra tidak memaksa. Ia bahkan mengucapkan terima kasih.

Namun ketika sudah kembali ke mobil, map proposal itu ia lempar begitu saja ke kursi depan.

"Film itu tidak butuh uang saya," katanya. "Tapi orang-orang di sekitarnya pasti butuh."

Asistennya tidak menjawab.

"Sudah dapat kandidat?"

Asisten itu membuka folder di tablet. "Ada tiga. Semuanya dewasa, pernah menjadi model iklan kecil, bersedia kontrak eksklusif asal dibayar. Yang ketiga posturnya paling mendekati Nona Kiara."

Foto seorang perempuan muda muncul di layar. Rambut panjang, wajah oval, kulit cerah. Mirip? Belum. Tetapi jika dilihat dari samping dan cahaya dibuat lembut, bayangannya bisa dipaksa mendekat.

Chandra mengambil tablet itu.

"Matanya kurang."

"Bisa pakai styling dan treatment."

"Hidung?"

"Dokter estetika bilang perlu beberapa tahap kalau ingin hasil halus."

Chandra mengusap dagu, seolah sedang memilih marmer untuk lobi hotel.

"Jangan terlalu cepat. Aku tidak suka hasil kasar. Yang aku mau bukan boneka pasar malam."

Asisten itu menunduk lebih dalam. "Saya atur konsultasi privat."

"Pastikan dia paham kontraknya. Tidak ada unggahan, tidak ada cerita ke teman, tidak ada keluarga yang tiba-tiba minta uang tambahan."

"Baik, Pak."

Chandra kembali membuka gambar Kiara dari siaran langsung. Kali ini ia memperbesar bagian mata.

"Aneh," gumamnya.

"Apa, Pak?"

"Perempuan ini terlihat seperti bisa hancur kalau disentuh, tapi justru itu yang membuat orang ingin menyimpannya."

Asisten itu menahan napas.

Chandra tersenyum lagi, pelan dan bersih.

"Rayhan Purnawan terlalu serakah. Tidak semua yang cantik harus dia simpan sendiri."

***

Malam itu, Kiara tertidur lebih cepat dari biasanya di apartemen servis.

Obat membuat tubuhnya lemas. Setelah makan bubur dan memaksa Rayhan pulang ke ruang kerja kecil di luar kamar agar ia tidak terus menatapnya seperti dokter pribadi, Kiara akhirnya tertidur dengan tangan masih menggenggam ujung selimut.

Rayhan menunggu sampai napasnya stabil.

Baru setelah itu ia keluar.

Adi sudah berdiri di ruang tamu, membawa tablet dan amplop cokelat. Wajahnya lebih serius daripada biasa.

"Pak," katanya pelan. "Kami sudah periksa jalur Chandra."

Rayhan tidak duduk. "Bicara."

"Dia mencoba masuk lewat sponsor, tapi kemungkinan itu cuma alasan. Ada instruksi dari orangnya untuk mencari perempuan dewasa dengan postur mirip Nona Kiara. Malam ini mereka membuat janji konsultasi di klinik estetika privat di Jakarta Selatan."

Ruangan itu sunyi.

Dari kamar, suara napas Kiara samar-samar terdengar melalui pintu yang tidak tertutup rapat.

Rayhan menunduk melihat foto yang disodorkan Adi. Seorang perempuan asing. Postur hampir sama. Rambut dibuat mirip. Di sebelahnya, ada tangkapan layar wajah Kiara dari siaran langsung.

Untuk pertama kalinya sejak insiden Wenny, wajah Rayhan benar-benar kehilangan suhu.

"Batalkan semua jadwal besok pagi," katanya.

Adi menelan ludah. "Pak Rayhan akan datang ke klinik?"

Rayhan menatap pintu kamar Kiara sebentar.

Saat bicara lagi, suaranya sangat pelan.

"Tidak. Aku akan biarkan Pak Chandra datang kepadaku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!