NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Makan Angin di Puncak

Kali ini, ia tidak tahu apakah kalimat itu milikku atau miliknya sendiri.

Dua hari setelah serangan itu, Leo memberikan vonis yang menurutku sangat masuk akal.

"Reynard harus istirahat."

Aku mengangguk penuh semangat.

Reynard menatap Leo seolah kata istirahat adalah penghinaan terhadap leluhurnya.

Leo mengabaikannya. "Udara Jakarta terlalu berat. Bawa dia ke tempat sejuk tapi terkontrol. Jangan terlalu dingin. Jangan terlalu ramai. Jangan bawa laptop lebih dari satu."

"Laptop satu masih boleh?" tanyaku.

"Aku sedang realistis, bukan bermimpi."

Maka jadilah kami pergi ke Puncak.

Tentu, karena dalam dunia konglomerat, istirahat berarti pindah dari villa besar di PIK ke tea estate villa yang lebih besar di Puncak. Mobil kami naik melewati jalan berkelok, warung sate, kebun teh, dan kabut tipis yang membuat udara terasa seperti habis dicuci.

Boba duduk di carrier, sangat bangga seolah dialah pemilik rombongan.

Reynard duduk di sampingku dengan selimut tipis di pangkuan, wajahnya lebih baik, tapi masih pucat.

Aku membuka daftar dari Leo untuk ketiga kalinya.

Tidak boleh begadang.

Tidak boleh rapat panjang.

Tidak boleh kopi lebih dari setengah cangkir.

Tidak boleh mandi air terlalu dingin.

Tidak boleh emosi ekstrem.

Bagian terakhir membuatku menatap Reynard.

"Apa?"

"Kau dilarang emosi ekstrem."

"Aku jarang emosi."

"Kau sering marah dalam mode diam."

Anto batuk kecil di depan.

Reynard menatap kaca jendela. "Itu bukan emosi ekstrem."

"Itu versi konglomerat dari tantrum."

Kali ini Anto benar-benar seperti menelan tawa.

"Kau benar-benar tidak membawa berkas lain?"

"Tidak."

Aku menatap tas kulit di samping kakinya.

"Itu apa?"

"Laptop."

"Dan?"

"Dokumen darurat."

"Reynard."

"Darurat."

[Analisis: kebohongan setengah matang.]

Aku mengambil tas itu.

"Hei."

"Pasien tidak punya hak atas tas mencurigakan."

Anto yang menyetir menatap lurus ke depan dengan disiplin luar biasa.

Villa di Puncak berdiri di tepi kebun teh, dinding putih, atap gelap, jendela besar menghadap lereng hijau. Udara dingin, tapi tidak menusuk. Pak Hadi sudah mengirim staf lebih dulu, jadi kamar, obat, makanan, dan tempat tidur Boba siap seperti operasi militer.

Di ruang utama ada perapian modern yang belum dinyalakan, sofa besar, dan selimut rajut warna abu-abu. Di meja, sudah ada jahe hangat, sup ayam, buah potong, dan kotak obat dengan label jam.

Aku menatap susunan itu.

"Pak Hadi benar-benar bisa mengelola negara kecil."

Reynard menjawab, "Dia mengelola aku sejak kecil. Negara kecil lebih mudah."

Kalimat itu terdengar datar, tapi ada kehangatan samar di dalamnya.

Aku baru turun dari mobil ketika suara Natasha meledak.

"Ci Kei!"

Ia berlari dari teras, rambutnya tertiup angin, jaket pink terlalu cerah untuk kabut Puncak.

"Nat? Kamu di sini?"

"Katanya liburan keluarga. Engkong menyuruh aku ambil udara segar."

Di belakangnya, Steven muncul membawa dua cangkir teh.

Natasha berhenti.

Matanya menyipit.

"Kenapa dia di sini?"

Steven tersenyum. "Selamat siang juga, Natasha."

"Ci Kei, kenapa kamu tidak bilang orang menyebalkan ini ikut?"

Steven meletakkan teh di meja teras. "Aku diundang."

"Oleh siapa?"

Reynard berjalan pelan melewati kami. "Olehku."

Natasha menoleh padanya, lalu padaku, lalu pada Steven.

Wajahnya berkata ia baru menemukan konspirasi nasional.

Aku menatap Reynard.

Ia pura-pura melihat kebun teh.

Ya Tuhan.

Ini bukan liburan.

Ini perjodohan terselubung.

[Subplot baru: Steven x Natasha.]

Si Kepo, jangan beri nama kapal.

[Terlambat.]

Sore itu kami berjalan di kebun teh. Budi, salah satu orang Aegis yang jarang bicara, mengikuti dari jarak aman bersama Anto. Reynard berjalan lambat sesuai perintah Leo. Aku memegang botol air dan obat seperti perawat amatir yang terlalu serius.

Kabut tipis menyentuh kulit. Daun teh berbaris rapi seperti karpet hijau yang tidak ada ujungnya. Di kejauhan, pekerja kebun menuruni lereng dengan keranjang di punggung, suara mereka tertawa pelan terbawa angin.

Untuk pertama kalinya sejak aku bangun di altar, dunia terasa tidak sedang mengejarku.

Hanya beberapa menit.

Tapi beberapa menit itu cukup membuatku bernapas lebih dalam.

"Minum."

"Aku baru minum."

"Itu dua puluh menit lalu."

"Kau mencatat?"

"Ya."

Reynard menatapku. "Kau lebih ketat dari Leo."

"Leo tidak punya misi menyelamatkan jiwaku."

Kalimat itu keluar tanpa kupikir.

Aku cepat menutup mulut.

Reynard berhenti sebentar.

Lalu ia menerima botol air.

"Baik."

Tidak bertanya.

Tidak memaksa.

Hanya minum.

Aku tidak tahu kenapa itu membuat dadaku hangat.

Di belakang kami, Natasha dan Steven bertengkar tentang cara mengambil foto.

"Kamu tinggi, harusnya angle kamu bagus!"

"Tinggi bukan berarti tripod."

"Kalau begitu kenapa fotoku miring?"

"Karena kau bergerak setiap tiga detik."

"Aku ekspresif."

"Kau blur."

Aku tertawa sampai Boba menggonggong.

Reynard mengambil ponsel dari tanganku. "Berdiri di sana."

"Aku?"

"Dengan Boba."

"Untuk apa?"

"Foto."

"Kau mau memotretku?"

"Ya."

Jawaban itu terlalu langsung.

Aku tiba-tiba lupa cara berdiri normal.

Aku mengangkat Boba. Anjing kecil itu menjulurkan lidah, sangat fotogenik. Reynard mengambil beberapa foto. Tidak banyak bicara, tapi setiap hasilnya bagus. Kabut, kebun teh, jaket putihku, Boba di pelukan, dan aku yang tertawa tanpa sadar.

"Bagus?" tanyaku.

"Sangat."

Ia menatap layar sedikit terlalu lama.

Aku pura-pura tidak melihat telinganya yang memerah.

Malamnya, kami makan sup hangat di ruang makan villa. Natasha tetap mengomel pada Steven, tapi entah kenapa ia mengambilkan sambal yang cocok untuknya. Steven tetap membalas datar, tapi entah kenapa ia menyingkirkan tulang ayam dari piring Natasha sebelum gadis itu sadar.

Reynard makan lebih banyak daripada biasanya. Tidak banyak, tapi cukup membuatku ingin mengirim foto mangkuknya ke Leo sebagai bukti keberhasilan nasional. Ia melihatku menatap, lalu mendorong mangkuk sedikit menjauh.

"Jangan lapor Leo."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Wajahmu sudah menulis laporan."

Aku tersenyum polos. "Laporan positif."

"Tetap laporan."

Aku melihat mereka berdua.

Lalu melihat Reynard.

"Kau licik."

"Aku tidak mengerti."

"Tentu saja."

Setelah makan, Reynard pergi ke kamar lebih dulu untuk minum obat. Leo menelepon, Pak Hadi memeriksa jadwal, dan aku ditarik Natasha ke balkon belakang.

Kabut malam turun pelan. Dari kejauhan, lampu villa lain berkelip seperti kunang-kunang palsu.

Natasha memeluk jaketnya. "Ci Kei."

"Hm?"

Ia menggigit bibir, hal yang jarang sekali dilakukan Natasha karena biasanya mulutnya lebih cepat daripada rasa malunya.

"Ko Steve itu..."

Aku menahan senyum.

"Kenapa?"

"Menurutmu, ada kemungkinan dia sebenarnya tidak terlalu menyebalkan?"

Aku baru akan menjawab ketika dari arah dalam villa terdengar suara kaca pecah.

Kabut malam seolah membeku. Semua kehangatan sup dan tawa sore itu hilang dalam satu detik.

Aku berlari.

Lalu suara Reynard.

Rendah.

Tertahan.

Kesakitan.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!