NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25 teganya adrian

Setelah pertemuan di pantai, Nadia benar-benar menepati ucapannya. Beberapa hari kemudian ia menyelesaikan seluruh administrasi pengunduran dirinya, berpamitan kepada rekan-rekan yang masih menghormatinya, lalu kembali ke Surabaya bersama koper berisi pakaian dan kenangan yang tidak ingin lagi ia buka. Kota itu menjadi tempat ia memulai hidup baru, jauh dari segala gosip, pengkhianatan, dan luka yang selama ini mengejarnya.

Revano tidak pernah menghalangi keputusannya.

Pria itu hanya mengantar Nadia hingga bandara.

Tidak ada permintaan agar Nadia bertahan.

Tidak ada rayuan agar mengubah keputusan.

Sebelum Nadia memasuki ruang keberangkatan, Revano hanya menyerahkan sebuah kotak kecil berisi vitamin untuk ibu hamil dan sebuah buku catatan kosong.

"Kalau suatu hari kamu merasa sendirian."

ucap Revano sambil tersenyum.

"Tuliskan semuanya di buku itu."

"Aku berharap suatu saat nanti, isi buku itu bukan lagi tentang kesedihan."

Nadia menerima pemberian tersebut dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Terima kasih, Vano."

Revano mengangguk pelan.

"Aku akan tetap menunggu."

Nadia tidak menjawab.

Ia hanya memberikan senyum tipis sebelum melangkah pergi.

Namun tanpa disadari, senyum itu menjadi harapan kecil yang terus dipegang Revano selama bertahun-tahun.

Beberapa bulan berlalu.

Sore itu langit diselimuti awan kelabu setelah hujan ringan mengguyur sejak siang. Nadia baru saja keluar dari sebuah supermarket dengan beberapa kantong belanja di kedua tangannya. Isinya sederhana, buah-buahan, susu ibu hamil, vitamin, serta beberapa kebutuhan rumah yang diminta Vania sebelum ia kembali menempati rumah keluarganya.

Sejak mengetahui dirinya mengandung, Nadia mulai lebih memperhatikan kesehatannya. Setiap langkah yang diambil terasa lebih hati-hati, bukan lagi hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.

Saat hendak menyeberang menuju area parkir, tiba-tiba terdengar suara klakson panjang yang memekakkan telinga.

Sebuah mobil melaju cukup kencang dari arah tikungan.

Mata Nadia membelalak.

Tubuhnya refleks mundur, namun tumitnya tersangkut pembatas jalan hingga keseimbangannya hilang.

Bruk.

Tubuhnya terjatuh terduduk di atas aspal.

Beberapa kantong belanja terlepas dari genggamannya, buah-buahan menggelinding ke berbagai arah sementara botol susu pecah setelah membentur permukaan jalan.

Nadia spontan memeluk perutnya dengan kedua tangan.

Wajahnya memucat.

Yang ada di pikirannya hanya satu.

Jangan sampai anakku kenapa-kenapa.

Mobil itu akhirnya berhenti beberapa meter di depannya.

Pintu pengemudi terbuka dengan tergesa.

Seorang pria turun sambil memanggil dengan suara panik.

"Nadia!"

Suara itu begitu dikenalnya.

Membuat Nadia perlahan mengangkat wajah.

Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Adrian.

Mantan suaminya berdiri beberapa langkah di depannya dengan wajah yang sama terkejutnya.

Adrian sama sekali tidak menyangka wanita yang hampir ditabraknya adalah Nadia.

Lebih dari itu, melihat Nadia terjatuh sambil memegangi perut membuat darahnya seolah berhenti mengalir.

Tanpa berpikir panjang ia berlari menghampiri.

"Nadia, kamu tidak apa-apa?"

tanyanya panik sambil berusaha membantu Nadia berdiri.

Namun sebelum tangannya sempat menyentuh, Nadia langsung menepisnya.

"Jangan sentuh aku."

Suara Nadia terdengar pelan, tetapi penuh penolakan.

Tatapannya dingin.

Begitu dingin hingga membuat Adrian membeku di tempat.

"Nadia... aku benar-benar tidak sengaja."

ucap Adrian dengan napas yang masih memburu.

"Aku tidak melihatmu."

Nadia perlahan bangkit sendiri meski lututnya terasa nyeri.

Ia masih memegangi perutnya, memastikan tidak ada rasa sakit yang mengkhawatirkan.

Tatapannya kemudian bertemu dengan mata Adrian.

Untuk sesaat, tidak ada kata-kata.

Hanya keheningan yang dipenuhi begitu banyak kenangan.

Adrian memperhatikan wajah Nadia yang terlihat semakin pucat.

Pandangannya kemudian turun tanpa sadar ke arah tangan Nadia yang terus melindungi perutnya.

Dadanya mendadak terasa sesak.

Ia teringat ucapan dokter beberapa waktu lalu.

Nadia sedang mengandung.

Mengandung anaknya.

Anak yang seharusnya tumbuh dalam keluarga yang utuh.

Namun kini, bahkan tanpa sengaja, hampir saja ia mencelakakan ibu dan anaknya sendiri.

Perasaan bersalah menghantamnya begitu keras hingga ia kesulitan bernapas.

"Nadia... biar aku antar ke rumah sakit."

ucapnya lirih.

"Tolong, jangan menolak kali ini."

Nadia menatap pria yang pernah menjadi pusat dunianya itu beberapa detik.

Lalu ia menggeleng pelan.

"Aku tidak membutuhkanmu lagi, Adrian."

Kalimat itu diucapkan tanpa amarah.

Justru ketenangannya terasa jauh lebih menyakitkan.

Di saat yang sama, Adrian hanya mampu berdiri mematung, menyaksikan Nadia memungut kembali barang-barang belanjaannya seorang diri.

Wanita yang dulu selalu ia lindungi kini bahkan tidak lagi bersedia menerima uluran tangannya.

Dan untuk pertama kalinya, Adrian benar-benar merasakan betapa besar harga yang harus ia bayar atas semua keputusan yang pernah diambilnya.

Adrian tetap mengikuti langkah Nadia hingga ke area parkir, membuat Nadia yang sejak tadi berusaha mengabaikannya akhirnya menghentikan langkah. Wanita itu membalikkan badan dengan tatapan penuh kekesalan. Luka di lututnya masih terasa perih, tetapi kehadiran Adrian jauh lebih mengusik dibanding rasa sakit itu.

"Berhentilah mengikutiku."

ucap Nadia tegas.

"Kita sudah tidak punya hubungan apa pun."

Adrian terdiam sesaat, namun tetap berjalan beberapa langkah mendekat.

"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."

katanya pelan.

"Aku tahu aku tidak berhak, tapi setelah melihatmu jatuh tadi, aku tidak bisa pergi begitu saja."

Nadia mengembuskan napas panjang. Ia terlalu lelah untuk berdebat di tengah keramaian. Saat salah satu kantong belanja kembali terjatuh, Adrian dengan sigap mengambilnya dan memasukkan kembali barang-barang yang berserakan.

"Aku bisa sendiri."

ucap Nadia dingin.

"Aku tahu."

jawab Adrian.

"Tapi izinkan aku membantu kali ini."

Melihat Adrian tidak berniat pergi sebelum memastikan keadaannya, Nadia akhirnya menyerah untuk sementara. Mereka singgah di sebuah rumah makan yang tidak jauh dari supermarket agar Nadia bisa beristirahat sejenak dan memeriksa apakah tubuhnya masih terasa sakit setelah terjatuh.

Suasana di meja makan terasa canggung. Dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama seperti ini, tetapi kini dua orang yang duduk saling berhadapan itu terasa seperti orang asing yang hanya dipersatukan oleh kenangan yang telah hancur.

Setelah beberapa saat terdiam, Adrian akhirnya membuka suara.

"Nadia... tentang kehamilanmu."

ucapnya hati-hati.

"Aku terus memikirkannya."

Nadia menghentikan gerakan tangannya.

Tatapannya perlahan terangkat.

"Apa maksudmu?"

Adrian terlihat ragu. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Aku tahu setelah semua yang terjadi, membesarkan anak sendirian tidak akan mudah."

Suaranya terdengar berat.

"Aku... aku sempat berpikir..."

Nadia merasakan firasat buruk.

"...mungkin akan lebih baik kalau kehamilan itu tidak diteruskan."

Kalimat itu keluar pelan, tetapi terdengar begitu jelas.

"Aku hanya berpikir kamu tidak perlu menanggung beban sebesar ini sendirian."

Wajah Nadia langsung memucat.

Matanya membelalak tidak percaya.

Beberapa detik ia hanya menatap Adrian tanpa berkedip, seolah memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

"Jadi..."

suaranya bergetar.

"Setelah menghancurkan rumah tangga kita..."

"Setelah memilih perempuan lain..."

"Sekarang kamu menyuruhku menggugurkan anakku?"

Adrian segera menggeleng.

"Bukan begitu maksudku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya khawatir—"

"Cukup!"

potong Nadia.

Air matanya mulai menggenang.

Ia refleks memeluk perutnya dengan kedua tangan, seakan ingin melindungi anak yang belum lahir itu.

"Anak ini bukan beban."

ucapnya tegas.

"Dia adalah anakku, dan aku akan menjaganya."

Adrian menundukkan kepala. Ia sadar kata-katanya telah melukai Nadia.

"Aku salah bicara."

gumamnya lirih.

"Aku benar-benar minta maaf."

Nadia berdiri dari kursinya.

Tatapannya penuh kekecewaan.

"Kalau memang masih ada sedikit rasa bersalah dalam dirimu, jangan pernah lagi mengucapkan hal seperti itu."

Air mata akhirnya jatuh di pipinya.

"Karena anak ini tidak bersalah atas kesalahan kita."

Tanpa menunggu jawaban, Nadia mengambil tasnya dan melangkah pergi, meninggalkan Adrian yang hanya mampu duduk diam dengan penyesalan yang semakin dalam. Ia menyadari bahwa dalam usahanya untuk "mencari jalan keluar", ia justru mengucapkan sesuatu yang paling menyakitkan bagi seorang ibu yang sedang berjuang mempertahankan anaknya.

Suasana restoran yang semula tenang berubah menjadi begitu berat. Nadia masih memandangi secangkir teh hangat di hadapannya, sementara Adrian berkali-kali mencoba mencari keberanian untuk mengutarakan isi pikirannya. Di antara mereka terbentang kenangan bertahun-tahun sebagai suami istri, kenangan tentang berbagai program kehamilan yang pernah dijalani bersama, kunjungan ke dokter, harapan yang berkali-kali pupus, hingga air mata setelah kehilangan calon buah hati mereka. Dulu mereka menginginkan seorang anak lebih dari apa pun, tetapi takdir justru mempermainkan hidup mereka. Kini, setelah ikatan pernikahan itu berakhir karena pengkhianatan, anak yang selama ini dinantikan justru hadir ketika semuanya telah terlambat.

Adrian menatap Nadia dengan sorot mata yang dipenuhi penyesalan. Dadanya terasa sesak setiap kali pandangannya jatuh pada perut Nadia yang masih belum terlihat membesar. Di sanalah tumbuh darah dagingnya sendiri, anak yang dahulu selalu ia impikan. Namun alih-alih merasa bahagia, yang memenuhi dirinya justru ketakutan. Ia membayangkan bagaimana rumitnya masa depan anak itu, bagaimana keluarga mereka yang telah hancur akan terus mengikat mereka seumur hidup.

"Nadia..." ucap Adrian lirih. "Aku tahu aku tidak pantas mengatakan ini, tapi coba pikirkan lagi. Hidupmu masih panjang. Kamu bisa memulai semuanya dari awal."

Nadia perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya mulai berubah dingin.

Adrian menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan suara pelan, "Kalau masalahnya soal masa depan... aku akan mengalihkan sebagian hak waris yang menjadi bagianku untukmu. Anggap saja sebagai tanggung jawabku. Kamu tidak perlu memikirkan biaya hidup lagi."

Nadia masih diam.

"Aku hanya ingin kamu mempertimbangkan semua pilihan yang ada," lanjut Adrian. "Aku tahu keputusan ini berat, tapi..."

Kalimat berikutnya membuat seluruh tubuh Nadia menegang.

"...aku ingin kamu mengakhiri kehamilan ini."

Seolah waktu berhenti berputar.

Nadia memandang Adrian dengan mata yang membesar, berusaha mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut pria yang dulu menangis bersamanya karena begitu mendambakan seorang anak.

Perlahan ia berdiri dari kursinya.

Tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Ulangi."

ucapnya pelan.

Adrian menelan ludah.

"Aku hanya berpikir itu akan lebih baik untuk—"

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Adrian hingga wajah pria itu menoleh ke samping. Beberapa pengunjung restoran spontan menoleh, namun Nadia tidak lagi memedulikan tatapan siapa pun.

Air matanya mengalir tanpa mampu dibendung.

"Dulu..." suaranya bergetar hebat. "Dulu kita sama-sama memohon kepada Tuhan supaya diberi anak."

Napasnya memburu.

"Kita menangis bersama saat kehilangan calon bayi kita."

"Kita saling menguatkan ketika dokter mengatakan kita harus mencoba lagi."

Semakin ia berbicara, semakin deras air matanya mengalir.

"Lalu sekarang, setelah anak yang selama ini kita tunggu akhirnya hadir..." Nadia memeluk perutnya dengan kedua tangan. "Kamu justru menyuruhku menghilangkannya?"

Adrian menundukkan kepala. Pipi yang baru saja ditampar terasa panas, tetapi rasa sakit itu tidak ada artinya dibanding kata-kata Nadia.

"Kamu bahkan berani menukar nyawa anakmu sendiri dengan warisan?" suara Nadia meninggi. "Apa uang sudah membuatmu lupa bagaimana dulu kita berdoa setiap malam agar bisa menjadi ayah dan ibu?"

"Aku tidak bermaksud seperti itu..."

"Tidak!" potong Nadia. "Jangan sebut ini demi kebaikanku. Jangan sebut ini demi masa depanku. Anak ini bukan kesalahan. Anak ini bukan beban. Dia adalah satu-satunya alasan aku masih mau bangkit setelah kamu menghancurkan hidupku."

Nadia menghapus air matanya dengan kasar, lalu menatap Adrian untuk terakhir kalinya.

"Dengarkan baik-baik."

Suara Nadia kembali tenang, tetapi justru terdengar jauh lebih tajam.

"Aku tidak membutuhkan warisanmu."

"Aku tidak membutuhkan belas kasihanmu."

"Dan aku tidak akan pernah mengorbankan anakku hanya untuk membuat hidupmu terasa lebih mudah."

Tanpa menoleh lagi, Nadia mengambil tasnya dan melangkah keluar dari restoran. Setiap langkah terasa berat, tetapi satu hal kini begitu jelas di dalam hatinya.

Apa pun yang terjadi, ia akan melindungi anak itu.

Bahkan jika ia harus menghadapi dunia seorang diri. Sementara Adrian hanya mampu duduk terpaku di kursinya, menyadari bahwa dalam satu percakapan singkat, ia kembali menghancurkan sisa-sisa kepercayaan yang mungkin masih dimiliki Nadia terhadapnya.

1
Mundri Astuti
mudah"an cepet terungkap semuanya...pengen tau reaksi Adrian klo tau dalang dibalik semua adalah Bianca ..perempuan yg dibela mati"an
Mundri Astuti
fix ni mah kerjaan Bianca, keliatannya lemah ni org, tapi liciknya luar biasa
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!