NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:845
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 14

“Em ... enak. Buburnya enak.” Gadis kecil di depan Hanan mengangguk lucu dengan pipi menggembung.

Hanan tertawa gemas mendengar ocehannya. Rasanya dia benar-benar ingin menggigit pipi kemerahan itu tiap kali melihatnya. Remaja itu segera menyelesaikan kepangan rambutnya dan beralih ke depan gadis kecil itu.

Tangannya dia letakkan di atas dahi El untuk mengecek suhu tubuhnya sebelum menghela napas pelan.

“Tubuhmu semakin panas. Aku antar pulang sekarang, oke. Kamu harus istirahat. Jangan keras kepala. Kamu sedang demam.” Hanan mengetuk pelan dahi El membuat gadis kecil itu memundurkan kepalanya.

“Aku masih mau di sini, Mas. Di rumah tidak ada siapa pun.” El menggeleng lemah sembari melahap suapan terakhir buburnya dan menyodorkan mangkuk yang telah kosong pada Hanan. “Aku sudah lebih baik sekarang setelah memakan buburnya. Terima kasih, Mas.”

Hanan melirik mangkuk yang benar-benar tak menyisakan sedikit pun bubur di dalamnya dengan ekspresi heran.

“El kita memang anak pintar. Biasanya orang sakit kesulitan memakan bubur, tapi kamu menghabiskannya tanpa berpikir.”

Kalimat Hanan membuat El menyengir halus. Faktanya, bocah itu memang sangat menyukai bubur, sehingga memakan makanan lembek itu saat sakit adalah sebuah anugerah baginya. Bahkan dia tak masalah jika makan bubur setiap hari dari pada harus makan makanan basi.

“Mas, aku mau buburnya lagi.” El setengah merengek menatap mangkuk yang kosong.

“Sudah habis, besok aku bawakan lagi. Sekarang makan roti cokelat dulu.” Hanan mengeluarkan dua bungkus roti cokelat dari dalam tas dan membuka salah satunya untuk diberikan pada El.

Gadis kecil itu berbinar dan menyambut roti di tangan Hanan. “Terima kasih, Mas. Maaf aku selalu merepotkan.”

El mendadak merasa bersalah karena setiap pulang sekolah, Hanan akan selalu menyempatkan diri menjemputnya untuk pergi ke taman.

Jika diingat-ingat, pertemuan pertama Hanan dan El dulu terlalu tak terduga. Saat itu Hanan sedang mencari ponselnya yang tak sengaja terjatuh ke trotoar saat lari sore. Jalanan yang sepi membuatnya tak bisa berbuat apa-apa selain membantu dirinya sendiri. Namun, saat dia membuka penutup trotoar, yang dia temukan justru sosok gadis kecil yang sedang berjongkok memegang roti cokelat di tangannya. Beberapa bagian tubuhnya tampak tercemar lumpur, tapi saat melihat Hanan dia hanya memasang cengiran halus dan menyodorkan roti miliknya.

“Kakak mau?” Suara manis itu langsung menyapa telinga Hanan.

“Apa yang gadis kecil sepertimu lakukan di sini?” Kening remaja itu berkerut. Namun, tangannya refleks mengangkat gadis kecil itu keluar dari dalam trotoar.

El hanya menggeleng saat itu dan tak pernah mengungkapkan alasannya hingga saat ini. Setelah pertemuan itu, Hanan sadar bahwa dia menyukai kepribadian El yang ceria. Gadis kecil itu suka bercerita tentang banyak hal. Namun, dia jarang membahas keluarganya.

Hanan pernah menanyakan orang tuanya, El hanya menjawab bahwa orang tuanya sibuk bekerja. Terbukti beberapa kali Hanan mampir ke rumahnya yang terbilang sederhana, tak sekali pun remaja itu mendapati orang tua El di sana.

Terkadang Hanan bersikeras untuk menemani El hingga orang tuanya datang, tapi gadis kecil itu selalu menolak dan akan marah jika keinginannya tak dituruti sehingga remaja itu tak bisa memaksa lebih jauh.

Hanan kembali dari kenangan masa lalu dan menatap El yang menunduk di depannya. Tampak begitu sedih dan rapuh.

“Jangan minta maaf, aku senang melakukannya. Ini menyenangkan.” Hanan memberi elusan pelan di puncak kepala El membuat gadis kecil itu mendongak menatap tepat di netra hitam legam Hanan.

El menarik senyum manis di bibirnya dan tanpa aba-aba memeluk Hanan begitu erat. Gadis kecil itu memeluk remaja yang selalu menemaninya belakangan ini sebagai tanda ucapan terima kasih karena sudah membantunya tanpa tahu bagaimana efek yang ditimbulkan pada hati remaja itu. Dia mulai mengenali perasaan asing yang baru pertama kali dirasakan.

“Terima kasih Mas Hanan sudah memperlakukan El dengan baik. Di masa depan nanti, El janji apa pun yang terjadi, El akan selalu menyukai Mas Hanan apa pun yang terjadi.” El melerai pelukannya, tetapi kesadaran Hanan refleks menahan tubuh kecil dalam dekapannya.

“Tunggu, biarkan seperti ini sedikit lebih lama, El.”

El tak sepenuhnya mengerti, tapi dia pikir mungkin Hanan menyukai pelukan itu dan akhirnya dia manut begitu saja.

“Janji akan selalu menyukaiku di masa depan, El. Aku tidak tahu bagaimana masa depan membawa kita, tapi sesulit apa pun aku akan menemukan jalan pulang kembali padamu.” Hanan memejamkan matanya saat mengatakan itu.

“Mas, aku tidak mengerti.” El memiringkan kepalanya tampak berpikir keras.

Hanan terkekeh pelan melihat tingkah El yang tampak begitu polos. “Tidak perlu memikirkannya sekarang. Kamu akan paham seiring berjalannya waktu.”

***

Hanan menggenggam erat tangan Rosa yang tertidur di atas brankar. Napasnya teratur dan tampak tenang. Semua kenangan itu menghinggapi kepala Hanan hingga membuatnya merindukan masa-masa itu.

“Sa, apa yang sebenarnya terjadi saat aku pergi? Kamu dulu begitu suka dengan bubur, tapi kamu tidak menyukainya lagi sekarang. Kamu juga lebih suka dipanggil El saat itu, tapi sekarang bahkan kamu tidak mau menyebutkan nama itu lagi.” Tangan kekar Hanan terangkat menyapu wajah Rosa yang senantiasa pucat. Pria itu tak sekali pun pernah melihat rona warna di pipi perempuan kesayangannya itu lagi.

Hanan menyesal meninggalkan Rosa dulu sebelum dia mengenal dengan baik gadis kecil itu. Seingatnya, saat kecil tubuh Rosa memang begitu pendek dan kurus. Namun, pipinya selalu merona. Dia tidak menyangka bahwa gadis kecil yang selalu tampak ceria itu menyimpan rasa sakit yang begitu parah.

Amelia memperhatikan keduanya dari sudut ruangan. Bahkan untuk mengeluh saja dia sudah tak sanggup. Gadis itu bisa menangkap cinta yang begitu besar di mata Hanan tanpa perlu diucapkan.

“Kapan kira-kira aku ditatap seperti itu? Aku tidak mungkin terjebak di situasi ini selamanya, ‘kan? Aku ingin bebas.”

Gadis itu tengah duduk dengan semangkuk bubur di tangannya yang berhasil menghibur rasa tak nyaman di hatinya. Lengkungan di bibir tipisnya perlahan terukir sementara tangan lentik itu menyendok makanan kesukaannya. Bubur yang masih mengepulkan uap tipis dan mengantarkan kehangatan begitu masuk ke perut Amelia.

Jenis kehangatan yang menenangkan dan membawa kenyamanan untuk hati yang gelisah. Saking fokusnya, Amelia bahkan tak sadar terus menyendok buburnya dengan gerakan cepat.

Hanan yang hanya mendengar sendok dan mangkuk yang beradu mengalihkan pandangannya. Dia bisa melihat sosok kecil Amelia yang duduk di sudut memangku mangkuk dan menyantap buburnya dengan tenang, tapi matanya menyiratkan antusiasme di setiap suapan.

Begitu buburnya habis, Amelia tersenyum tipis dan menyesap air mineralnya.

“Bubur memang yang terbaik.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!