Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ok 3 Sternotomi Live
Lampu OK 3 menyala terang. Dingin. Bau antiseptik.
Di meja operasi, pasien sudah dibius. Monitor bunyi tit...tit...tit... Stabil. Dokter Devan dengan wajah dewa maut on. Fokus 100%, tidak ada jejak Savira yang 2 jam lalu membuatnya menggila.
Di sebelah, dr. Arlo diam. Tapi mata dinginnya sejak tadi mengamati gerak gerik Devan dan Savira. Tidak ada yang mencurigakan, semua terlihat... Sangat profesional.
Tegur sapa seperlunya. Lapor seperlunya. Jarak 1 meter. Namun hal itu malah mengusik hatinya. Sesuatu yang belum pernah terjadi. Terlalu sempurna. Terlalu dingin.
Di berbagai sudut. Kamera menyala. Merah. Merekam apa yang terjadi dalam ruang steril itu. Live sudah di mulai sejak lampu helium menyala.
Ini bukan operasi biasa. Ini operasi kolaborasi, dengan pasien tahanan yang merugikan. Negara rugi hingga triliunan. Pemerintah ingin kasus ini di lihat publik. Transparan katanya.
Di ruang kontrol. Bukan cuma dokter. Ada Jaksa. Petugas lapas. Polisi, dan wartawan. Sedangkan di balkon, dr. Chandra dan dr Darma memantau jalannya operasi yang di tangannya putra mereka.
"Siap mulai?" Tanya Arlo datar.
"Siap, Dok." Jawab tim operasi kompak.
Savira berada di kepala pasien. Lapor. Nadanya profesional. "Anestesi induksi selesai. Tensi 120/80. Siap dibedah, Dok."
Arlo ngangguk sekali. Di samping Savira, dr. Budi. SpAn R1 asisten Anestesi mencatat semua. Keringat dingin. Ini kasus berat pertamanya. Dan di saksikan seluruh Indonesia.
Dokter Angga dan dr. Raya siap di posisinya sebagai asisten bedah. Perawat Vina sebagai nurse scrub nyodorin alat dengan gerakan presisi.
"Scalpel." Kata dr. Arlo, pisau itu langsung di dapat.
Dalam satu gerakan yang stabil. Arlo membuat insisi lurus di tengah sternum. Panjang sekitar 25 cm. Darah sedikit. Rapi. Tidak ada getar. Tidak ragu.
dr. Angga dan dr. Raya langsung retrack kulit dan otot.
"Bovie." Kata Arlo pelan.
Devan di sampingnya hanya mengamati. Rahangnya keras. Ini wilayah Arlo. Ia harus menahan diri.
Setelah lapisan terakhir terbuka. Terlihatlah tulang dada. Putih. Arlo ambil sternal saw dari perawat Vina. Tangannya tetap stabil,tidak getar sedikitpun meski ada 4 kamera yang
Nyorot dari atas.
Bzzzz....
Suara gergaji tulang mengisi ruangan. Tajam. Menyayat. Tulang dada terbelah menjadi dua. Retractor dipasang.
Krek...
Jantung dan tumor mediastinum langsung keliatan. Jantung berdenyut pelan di tengah. Di sebelahku ada benjolan besar warna keabuan. Nempel ke aorta. Itu tumornya.
Hening dia detik. Semua tahan napas, bahkan kamera seperti ikut diam.
Savira dari atas menegakkan tubuhnya. Matanya melirik monitor. "Tensi turun sedih ke 100/60, masih aman." Lapornya.
Arlo mengangguk tanpa noleh. "Oke. Lap bersih."
Perawat Vina langsung lap darah di sekitar sternum.
Arlo menoleh ke Devan. Lewat mic. "Dr. Devan. Wilayah anda." Ia mundur setengah langkah.
Itu tanda estafet. Resmi. Didengar seluruh penonton seluruh Indonesia.
Devan maju selangkah. Di balik lensa surgical loupes, mata tajamnya langsung mengunci ke jantung. Tidak ke tempat lain. Tidak ke Savira atau Arlo. Hanya jantung dan 3 pembuluh darah yang tersumbat.
"Heparin sudah on, Dok." Lapor dr. Budi.
"HLM priming selesai, Dok." Sahut pak Indra.
Devan tarik napas pelan. Lalu berkata. "Oke tim. Kita masuk CABG Triple Vessel. Dr. Arlo tolong retract area mediastinum. Jangan sentuh tumornya dulu."
Arlo tanpa bantah langsung pegang retractor. Posisinya sekarang jadi asisten Devan. Ironis. 5 menit lalu ia jadi lead. Sekarang balik. Tapi wajahnya datar. Tidak ada emosi.
Profesionalisme diatas segala-galanya.
Di ruang kontrol. Jaksa berbisik ke petugas lapas. "Mereka kompak. Sepertinya tidak ada masalah."
Petugas itu cuma ngangguk. Mata mereka fokus ke layar 40 inc.
"HLM standby." Suara pak Indra lewat speaker.
Devan ngangguk sekali. "Oke. Cross clamp aorta. Kasih cardioplegia. Stop jantung.
Klek.
Jantung pasien berhenti berdenyut.
Jam 16:15 . Jantung di stop. Mesin HLM ambil alih. Bunyinya berisik. Wuuung... Wuuung....
Darah keluar dari tubuh pasien, masuk ke mesin, dikasih oksigen, lalu dipompa balik ke tubuh.
Untuk beberapa jam kedepan, hidup dan mati pasien ini ada di dalam mesin dan tangan Devan.
Dan perang sesungguhnya baru di mulai.
Devan angkat loupes nya turun. Lampu kecil di dahinya nyala. Ttit. Dunia dia sekarang cuma sekecil jantung yang diam di depan matanya.
"Oke tim. Mulai bypass pertama. LIMA to LAD." Suara Devan datar. Masuk mic.
Arlo retract lebih dalam. Savira dari atas lantai tensi dan gas darah. "Tensi 90/55. HLM flow 4.5. Suhu 32 derajat. Stabil, Dok." Lapor Savira. Matanya tidak lepas dari monitor.
Jam 16:45, anastomosis pertama. Selesai. Rapi. Di ruang kontrol, ada tepuk tangan setengah pelan.
Jam 17:30, anastomosis kedua selesai.
Jam 18:00, amat ketiga hampir selesai.
Devan. "Terakhir... Jahit penutup." Tangannya gerak cepat. Presisi.
Tiba-tiba ...
TIT..... TIT.... TIT....
"Dok! Tensi drop ke 80/50." Suara Savira naik setengah nada.
Devan angkat kepala. "Pendarahan dari mana?"
Arlo langsung ngelap lapangan operasi. Matanya menyapu cepat. "Di sini. Cabang kecil LAD. Klem."
Perawat Vina gerak cepat nyodorin. 15 detik yang mencekam.
"Dapat " kata Arlo pelan. Darah berhenti.
"Tensi naik lagi 90/60.... 100/60." Lapor Savira. Napasnya lega.
Devan noleh sekilas ke Arlo. Lewat mata diatas face shield. Tidak ada kata terima kasih. Hanya anggukan 1cm. Arlo jawab dengan anggukan yang sama.
Di ruang kontrol. Jaksa Hela napas. "Hampir saja."
Jam 18:10, mulai lepas HLM. Jantung dipanasin pelan. TIT... Tit .. tit... Kembali berdetak. Fase pertama selesai.
Di sebuah ruangan. Seorang perempuan juga bernapas lega. Tapi matanya nyalang melihat Nama-nama tim yang ada di ruang operasi itu. Di tambah, saat kamera menyorot salah seorang yang ikut memantau jalannya operasi.
Kedua tangannya mengepal. "Dia!" Geramnya. "Kenapa dunia sempit sekali? Ini belum saatnya." Monolognya.
Mama Anita. Ibu Savira itu juga ikut menyaksikan siaran langsung operasi yang melibatkan putrinya. Meskipun ia hanya bisa melihat mata Savira, tapi setidaknya ia bisa mendengar suara sang putri.
Akhir-akhir ini Savira sering mengabaikan panggilannya. Pesan-pesan nya hanya dapat balasan singkat. Dan ia tidak bisa menemui Savira.
"Aira sibuk, Ma."
"Aira mau operasi, Ma."
"Aira gak ada waktu."
Begitu jawaban Savira saat mama Anita ingin menemuinya. "Semua ini Aira lakukan untuk Mama. Aira tahu mama ingin Aira jadi dokter terbaik." Kata-kata Savira tempo hari adalah sebuah senjata yang berbalik menusuknya.
Bahkan minggu lalu mama Anita hanya bisa bertemu Savira 2 menit di lobi rumah sakit. Putrinya semakin kurus, ia bisa melihat wajah lelah Savira dan lingkar hitam di bawah matanya.
Dan, semua usahanya akan sia-sia karena kehadiran satu orang. Satu orang yang berhasil membuat hidupnya carut marut selama 26 tahun.
Semua pengorbanan, kerja keras, dan hilangnya hubungan hangat dengan Savira. Semua itu akan hancur dalam sekejap.
*
*
*
*
*
To be continued