NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TRAUMA

Hiroshi yang sedang merunduk di atas tubuh Yukari langsung tersentak kaget dan refleks berdiri. Wajah pria itu memucat sedetik, sebelum akhirnya berubah menjadi geram. "Heh! Siapa kau?! Berani-beraninya—"

GeBukk!

Belum sempat kalimat itu selesai, tinju mentah Akira sudah mendarat telak di rahang kiri Hiroshi. Suara hantaman tulang terdengar ngeri di dalam ruangan yang sunyi. Tubuh Hiroshi terhuyung ke belakang, menghantam lemari pajangan hingga vas bunga di atasnya jatuh berdenting hancur.

Namun, Hiroshi tidak langsung tumbang. Dengan mata melotot liar, Hiroshi membalas menyerang. Dia mengayunkan pukulannya secara membabi buta. Akira sempat menangkis, namun ujung jam tangan besi yang dipakai Hiroshi berhasil menyabet pelipis kanan Akira secara horizontal.

Sreet!

Kulit pelipisnya robek. Darah segar seketika merembes, mengalir cepat melewati pipi dan menyamarkan pandangan mata kanannya. Rasa perih itu justru menyalakan insting monster di dalam diri Akira. Dia menyeringai ngeri di balik tetesan darahnya.

Hiroshi mencoba merangsek maju lagi, berniat mencekik, tapi Akira bergerak lebih cepat. Akira menangkap kedua pergelangan tangan Hiroshi, memutarnya dengan paksa hingga Hiroshi memekik kesakitan, lalu melempar tubuh pria itu ke arah meja tengah.

Prangg! Krosakk!

Meja kayu itu bergeser kasar. Hiroshi berusaha bangkit dengan bertumpu pada meja, Akira tidak memberi ampun. Kaki kanannya yang kekar karena terbiasa memikul beban berat langsung melayangkan tendangan lurus tepat ke ulu hati Hiroshi.

Bukk!

Tendangan itu begitu masif. Tubuh Hiroshi terdorong hebat sampai banyak bercak darah yang menetes dari bibir Hiroshi serta pelipis Akira di lantai.

Hiroshi terkapar di lantai, memegangi perutnya sambil terbatuk darah. Nyalinya ciut total. Akira melangkah lambat, lalu menjambak rambut Hiroshi untuk memaksanya mendongak.

Darah dari pelipis Akira menetes tepat di dahi Hiroshi yang gemetar.

"Dengar, keparat," bisik Akira dengan suara sedingin es di dekat telinganya. "Jika kau berani menginjakkan kaki busukmu lagi di desa ini... kupastikan kau tidak akan pernah bisa pulang ke kotamu hidup-hidup."

Tanpa menunggu jawaban, Akira mencengkeram kerah kemeja Hiroshi yang sudah robek dan basah oleh sari apel. Dia menyeret tubuh lemas pria itu keluar melewati pintu selasar, membawanya ke halaman samping, lalu melemparnya dengan kasar ke atas tanah berbatu.

Gubrak!

"Pergi dari sini!" bentak Akira gahar.

Hiroshi yang ketakutan setengah mati langsung merangkak panik. Dengan tangan gemetar, dia membuka pintu SUV-nya, melompat ke kursi kemudi, dan langsung mengunci pintu dari dalam. Mesin mobil langsung meraung keras,

Akira memungut sebuah apel, mencengkeramnya kuat, mengambil ancang-ancang, lalu melempar buah itu sekuat tenaga ke arah mobil SUV yang mulai melaju.

Syuuutt—PRANGGG!!

Lemparan bertenaga penuh itu menghantam tepat di kaca samping kemudi mobil Hiroshi. Apel itu hancur, namun kekuatannya sanggup membuat kaca mobil SUV yang mahal itu retak seribu lalu pecah berhamburan ke dalam kabin.

Dari balik pecahan kaca, terdengar teriakan histeris Hiroshi yang ketakutan karena serpihan kaca dan sisa apel yang mengenai wajahnya. Pria itu semakin panik, menginjak gas lebih gila lagi hingga mobilnya melesat meninggalkan kepulan debu.

Akira berdiri tegak di halaman, Dadanya naik turun dengan pelipis yang masih terus mengalirkan darah segar.

Bersamaan dengan hilangnya suara itu, aura membunuh yang tadi menyelimuti tubuh Akira luruh seketika. Amarahnya menguap, menyisakan kepanikan lain yang jauh lebih meremas dada.

Yukari.

Akira langsung berputar arah. Dengan langkah tergesa-gesa, dia berlari kembali memasuki selasar samping. Begitu melangkah melewati ambang pintu, langkah kaki Akira mendadak terkunci. Jantungnya mencelos melihat pemandangan di sudut ruangan.

Yukari terduduk lemas di atas lantai kayu yang dingin. Kedua lututnya ditarik erat ke dada, didekap seolah-olah itu adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa. Bahunya berguncang hebat diiringi isak tangis yang tertahan, mencoba meredam suaranya sendiri. Di bawah temaram lampu selasar, Akira bisa melihat dengan jelas robekan besar di bagian bahu pakaian Yukari, memperlihatkan kulit mulusnya yang kini ternoda guratan merah akibat cengkeraman paksa Hiroshi.

Saat menyadari kehadiran seseorang, Yukari tersentak. Gadis itu mendongak dengan tatapan penuh kilat ketakutan dan trauma yang mendalam. "Jangan melihat ku..." Gurat rasa malu terpancar jelas dari matanya ketika menyadari kondisinya yang berantakan kini terpampang di depan Akira. Yukari refleks semakin menyusut mundur, menyembunyikan wajahnya di lipatan lutut.

Akira langsung menghentikan langkah. Ia memilih menjaga jarak aman, berdiri beberapa jengkal di depan gadis itu.

Dia menatap dirinya sendiri. Badannya kotor, basah oleh keringat setelah seharian mengangkut apel di kebun, dan bau matahari begitu menyengat. Tidak mungkin dia menggunakan pakaian kerjanya untuk menutupi Yukari.

Mata Akira menyapu cepat ruangan yang berantakan itu, hingga pandangannya terpaku pada seutas tali jemuran di sudut luar selasar. Di sana, tergantung selembar jaket yang kemarin malam ia pakai saat ke Aoyama, Jaket itu bersih.

Dia menarik asal jaket tersebut dari gantungan dengan satu sentakan cepat.

Sambil membawa jaket itu, Akira kembali mendekati Yukari. Dia merendahkan tubuhnya, berlutut dengan satu kaki di atas lantai tanpa membuat gerakan yang mengejutkan.

"Yukari..." panggil Akira, suaranya melembut drastis, sangat kontras dengan suara sedingin es yang dia gunakan pada Hiroshi beberapa menit lalu.

Perlahan, Akira membentangkan jaket tersebut menutupi seluruh tubuh bagian atas Yukari yang terekspos, menyembunyikan luka fisik dan harga diri gadis itu dari dunia luar.

Sentuhan kehangatan dari jaket seolah menjadi sakelar yang meruntuhkan sisa pertahanan Yukari. wangi tubuh maskulin yang familier dari kain tersebut merasuki indra penciumannya, mengirimkan sinyal instan ke otaknya bahwa bahaya benar-benar telah berlalu. Pria di hadapannya ini adalah Akira. Pelindungnya. Tempat teramannya.

Rasa malu dan takut Yukari menguap, dikalahkan oleh rasa lega yang luar biasa yang membuncah di dadanya.

"maaf kau harus melihat ini.. " Yukari mendongak. Air mata membanjiri wajahnya yang pias.

"aku yang salah,,Jika aku lebih cepat pulang,,ini tidak akan terjadi.. maaf kan aku!!" akira tidak sanggup menatap wajah gadis didepannya

Tiba-tiba yukari memeluk dada Akira erat-erat, menyandarkan kepalanya di sana, dan menumpahkan seluruh tangisan histerisnya yang sejak tadi tertahan.

Deg.

Akira sempat terpaku. Detak jantungnya berdebar cepat saat tubuh mungil Yukari bergetar hebat di dalam dekapannya. Kedua tangan Yukari mencengkeram bagian belakang baju kerja Akira dengan sangat kuat.

Pelan-pelan, Akira melingkarkan lengannya di punggung Yukari yang masih berguncang, mendekapnya erat namun penuh kehati-hatian. Tangan satunya lagi bergerak mengusap rambut cokelat Yukari dengan gerakan lambat dan menenangkan. "Kau datang tepat ketika aku hampir kehilangan harapan." bisik lirih yukari dalam isakan tangisnya "Itu sudah lebih dari cukup."

"Aku di sini. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. " bisik Akira lembut di dekat telinga Yukari.

Cahaya lampu ruang tengah menjadi satu-satunya penerangan di rumah tua itu. Di luar, halaman sudah tenggelam dalam gelap. Pelan-pelan Isak tangis histeris Yukari perlahan mulai mereda, Merasa gadis itu sudah mulai tenang, Akira perlahan melonggarkan pelukannya.

Dengan hati-hati, Akira mengangkat tangan kanannya menyapu sisa air mata yang membasahi pipi yukari.

Ia mendongak, menatap Akira dengan mata yang sembap dan merah. Bibirnya bergetar, lalu ia berbisik dengan suara yang sangat serak, hampir menyerupai sebuah rintihan.

"Akira-san... aku ingin mandi. Aku... merasa kotor," sambil meremas ujung jaket yang menyelimuti bahunya.

Akira langsung paham. Tanpa banyak bicara, ia menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Yukari. Dengan satu gerakan mantap namun penuh kehati-hatian, Akira menggendong tubuh lemas gadis itu lalu menurunkan Yukari dengan perlahan di depan pintu kamar mandi. "Bersihkan dirimu dengan air hangat. Aku akan segera menyiapkan baju ganti untukmu," ucap Akira lembut sebelum menutup pintu, memberikan privasi penuh untuk Yukari.

Akira bergegas menuju lemari pakaian Yukari, mengambil sepasang pakaian bersih yang longgar dan nyaman, lalu meletakkannya di depan pintu kamar mandi.

Beberapa menit setelah nya Yukari selesai mandi dan berganti pakaian, pintu terbuka. Tubuh Yukari ternyata masih terlalu lemas dan gemetar untuk berjalan sendiri. Tanpa ragu, Akira kembali menggendong tubuh ringkih itu, membawanya masuk ke dalam kamar, lalu mendudukkannya dengan sangat perlahan di atas futon yang empuk.

Saat itulah, perhatian Akira tersita oleh luka lecet di kaki yukari

"Lututmu..." Akira terperangah.

Kedua lutut Yukari terluka dan berdarah, bahkan kedua sikunya pun lecet memerah. "Tunggu di sini, jangan banyak bergerak," ujar Akira panik.

Akira berlari ke arah dapur, menggeledah lemari, dan kembali dengan kotak P3K di tangannya. Ia berlutut di atas lantai, tepat di hadapan Yukari. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena cemas, Akira mulai membersihkan lecet di siku menggunakan kain kasa, lalu beralih membalut lutut gadis itu dengan telaten.

Tiba-tiba Yukari terkejut melihat ke arah pelipis Akira robek. Darahnya merembes melewati pipi tegapnya hingga mengering di sekitar rahang.

"Akira-san... pelipismu berdarah," bisik Yukari, matanya berkaca-kaca menatap luka itu.

Rasa bersalah yang besar langsung menghantam dada Yukari. Pria ini terluka parah demi melindunginya, namun justru mengabaikan rasa sakitnya sendiri hanya untuk mengurus lukanya yang lebih kecil. Yukari bergerak maju, berniat mengambil alih perban dan obat merah dari tangan Akira untuk ganti merawatnya.

Namun, gerakan Yukari tertahan. Akira memegang pergelangan tangannya dengan sangat lembut, menghentikan niat gadis itu.

"Aku tidak apa-apa," potong Akira, suaranya terdengar begitu tenang dan dalam, menatap langsung ke manik mata Yukari untuk menyalurkan rasa aman. "Yang penting sekarang adalah kau yukari-san..."

Ia terpaku. Kehangatan dari tangan Akira dan tatapan matanya. Namun, kedamaian itu tidak lama Karena Sayup-sayup dari jalanan desa yang sepi, terdengar suara raungan khas mesin terasa familier di telinga mereka.

Itu suara motor Daiki.

Akira perlahan melepaskan cengkeraman lembutnya di pergelangan tangan Yukari. Kepalanya menoleh ke arah koridor luar, menyadari bahwa ketenangan mereka baru saja habis dan kebenaran harus segera dihadapi.

***

Daiki baru saja turun dari mobilnya, Suasana malam ini terasa aneh. Lampu teras mati, "Gak biasa nya dia lupa nyalain lampu depan! "

Namun, saat kakinya baru melangkah beberapa jengkal di halaman depan, sepatunya menginjak sesuatu yang empuk dan hancur. Daiki menunduk. ia melihat beberapa buah apel hancur berantakan di atas tanah, kulit merahnya pecah dengan daging buah yang lumat.

"Apa-apaan ini? Kenapa apelnya jatuh semua?" gumam Daiki, mulai merasakan firasat buruk.

Langkah kakinya dipercepat menuju pintu utama. Saat tangannya hendak meraih gagang pintu, Daiki tertegun. Pintu kayu itu sudah tidak presisi pada tempatnya. Posisinya miring seolah baru saja dihantam oleh sebuah tendangan yang sangat keras. Sadar ada yang tidak beres, Daiki tidak jadi masuk lewat sana. Ia berputar, berlari setengah bergegas menuju selasar samping yang tidak terkunci.

Begitu kakinya menginjak lantai kayu selasar, tatapan Daiki langsung terpaku ke bawah.

Ada tetesan cairan kental berwarna gelap. Daiki berlutut sekilas, menyentuh cairan itu dengan ujung jarinya. Darah. Dan darah itu masih segar.

Jantung Daiki berdegup kencang seketika. Keringat dingin tiba-tiba keluar membasahi punggungnya. Langkah kaki Daiki berubah menjadi lari cepat memasuki bagian dalam rumah. Begitu melewati ambang pintu tengah, matanya menangkap tetesan darah di area ini jauh lebih banyak daripada yang ada di luar selasar.

Kondisi dalam rumah berantakan total. Meja tengah bergeser miring dan pecahan vas bunga berserakan di mana-mana. Di tengah rumah yang kacau itu, hanya ada satu sumber cahaya yang menyala teranG: lampu dari arah kamar Yukari.

Ketakutan terburuknya menghantam kepala Daiki tanpa ampun. Mengikuti arah jejak darah yang menuju ke kamar tersebut, Daiki menerjang koridor dan menghantam pintu Gadisnya

Brakkk!

Napas Daiki memburu hebat, dadanya kembang kempis tak beraturan dengan jantung yang berdebar kencang di ambang pintu. Di dalam kamar yang terang itu, kedua matanya membelalak lebar menangkap pemandangan yang membuat darahnya berdesir hebat.

Yukari sedang terduduk di atas futon dengan lutut yang baru saja dibalut perban putih, sementara Akira masih berlutut di hadapannya dengan wajah yang separuhnya sudah bersimbah darah segar dari pelipis.

"Apa yang terjadi?!" teriak Daiki dengan suara bergetar hebat, siap meledak saat itu juga.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!