NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

​Hawa panas yang menyengat di dalam gedung Pengadilan Agama perlahan digantikan oleh embusan angin siang yang jauh lebih segar saat Arumi melangkah keluar melintasi gerbang utama. Di belakangnya, Pak RT, Bu RT, dan Bu Ida berjalan dengan langkah yang begitu ringan, seolah-olah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari pundak mereka.

​Di dalam ruang sidang yang mulai sepi, Revan masih berdiri kaku seperti patung beton. Wajahnya yang semula merah padam kini memutih sempurna, menyisakan tatapan kosong yang lurus menatap lantai keramik. Jantungnya masih berdegup dengan ritme yang tidak beraturan, meninggalkan rasa nyeri yang menjalar di dada kirinya.

​"M-Mama... ini tidak mungkin, kan?" cicit Revan, suaranya terdengar sangat parau, nyaris hilang tertelan tenggorokan. Ia menoleh perlahan ke arah ibunya yang juga sedang bersandar lemas di ambang pintu kayu ruang sidang. "Arumi punya warisan miliaran? Rumah lantai tiga? Itu pasti cuma bualan warga kampung untuk membuat kita malu di depan hakim!"

​Mama Revan mencoba menegakkan punggungnya yang mendadak terasa pegal. Tangannya yang dipenuhi rentengan gelang emas palsu bergetar hebat saat ia menyeka keringat dingin di dahinya. "Benar, Revan! Benar kata kamu! Mana mungkin si Praga tua bangka yang penyakitan itu meninggalkan warisan sebanyak itu? Kalau dia kaya, kenapa dulu Arumi mau menikah denganmu dan rela hidup serba kekurangan? Ini pasti konspirasi orang-orang kampung itu untuk menjatuhkan harga diri keluarga kita!"

​"Ih, bener banget, Mas! Mama benar!" timpal Rika dengan napas yang memburu kesal. Gadis itu menghentakkan kakinya ke lantai, mencoba membuang rasa syok yang sempat membuat lututnya lemas. "Arumi itu cuma mau sok keren di depan kita! Biar dia tidak kelihatan menyedihkan setelah dicerai laki-laki mapan seperti Mas Revan! Ayo kita balik ke kampung itu sekarang, Mas! Kita buktikan kalau omongan Pak RT tua bangka tadi cuma gertakan sambal!"

​Sementara itu, di sebuah warung bakso urat yang terletak tidak jauh dari gedung pengadilan, suasana justru berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Suara dentingan mangkok yang beradu dengan sendok dan garpu terdengar begitu riuh, berbaur dengan gelak tawa yang lepas dari empat orang yang baru saja memenangkan pertarungan mental terbesar tahun ini.

​Arumi duduk dengan tenang, senyuman manis tidak pernah lepas dari wajah cantiknya yang kini tampak jauh lebih berseri-seri. Di hadapannya, semangkok besar bakso urat dengan kuah yang masih mengepulkan uap gurih dan taburan seledri melimpah sudah tersaji.

​"Wah, ini benar-benar hari bersejarah!" seru Bu Ida sembari menuangkan sesendok penuh sambal cabai rawit ke dalam mangkoknya. "Selamat ya, Mbak Rum! Hari ini kamu resmi menyandang status janda terhormat, janda kaya raya yang paling bikin iri satu kelurahan! Hahaha!"

​Bu RT ikut tertawa renyah, mengacungkan jempolnya yang masih menyisakan aroma kuah kaldu. "Betul kata Bu Ida! Tadi itu, waktu melihat wajah si Revan sama ibunya yang langsung pucat seperti mayat tertimbun batako, rasanya separuh dari utang-utang batin saya selama ini langsung lunas seketika! Puas sekali rasanya!"

​Arumi tertawa kecil, daster batiknya yang tadi tertutup blazer putih kini sudah berganti kenyamanan setelah blazernya disampirkan di sandaran kursi. "Ini semua juga berkat bantuan Bapak dan Ibu sekalian. Kalau tidak ada Pak RT yang membantu mengurus berkas percepatannya ke pengadilan lewat kenalan pengacara, mungkin saya masih harus bertatap muka dengan manusia kikir itu sampai bulan depan."

​Pak RT yang sedang asyik mengunyah bakso telur langsung meletakkan sendoknya, melambaikan tangan dengan gestur santai. "Ah, jangan sungkan-sungkan, Mbak Rum. Kami ini warga Gang Rejeki sudah menganggap Mbak Rum seperti keluarga sendiri. Almarhum Pak Praga itu orang baik, jadi sudah kewajiban kami untuk memastikan anaknya tidak ditindas oleh laki-laki yang otaknya cuma berisi hitung-hitungan belanjaan."

​Arumi tersenyum tulus, matanya sedikit berkaca-kaca karena haru. Ia kemudian menoleh ke arah pemilik warung bakso yang sedang sibuk memotong urat di balik etalase kaca gerobaknya.

​"Bang! Tolong hitung semua isi di dalam gerobak ini ya," panggil Arumi dengan nada suara yang sangat tenang namun bertenaga.

​Pemilik warung bakso itu seketika menghentikan pisaunya, menatap Arumi dengan dahi berkerut bingung. "Maksudnya bagaimana, Mbak? Mau dibungkus berapa porsi?"

​"Bukan berapa porsi, Bang. Tolong bungkuskan SEMUA ISI GEROBAK ini sampai bersih tak tersisa. Pentol bakso, tahu, siomay, mie, sampai kuahnya, masukkan semua ke dalam kantong-kantong besar. Saya borong satu gerobak penuh ini hari ini untuk dibagikan ke seluruh warga di Gang Rejeki sebagai bentuk syukuran atas status baru saya!" ujar Arumi sembari mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja.

​Mendengar ucapan Arumi, pemilik warung bakso itu langsung melotot kaget, sementara Bu Ida dan Bu RT spontan bersorak kegirangan. "Oalah, Gusti! Borong satu gerobak penuh?! Ini baru namanya perayaan janda berkelas! Biar malam ini seluruh warga kampung kita bisa makan besar sampai kenyang!" seru Bu Ida dengan wajah berseri-seri.

​Di sela-sela keriuhan itu, Pak RT mendekatkan posisinya ke arah Arumi, berbisik dengan nada setengah berbisik namun penuh dengan binar kelicikan di matanya. "Mbak Rum, oh iya, soal tempat tinggal sementara... selama proses pembangunan istana baru Mbak Rum mulai berjalan senin besok, Mbak Rum sama anak-anak tinggal di rumah Bu Ida saja ya? Kebetulan Bu Ida kan cuma sendirian di rumah besarnya sejak suaminya meninggal. Biar aman juga dari gangguan si kikir itu."

​"Benar banget, Mbak Rum!" potong Bu Ida yang telinganya ternyata sangat tajam mendengar bisikan Pak RT. "Rumahku itu kamarnya ada tiga kosong melompong. Bintang sama Langit bisa main sepuasnya di sana. Rumah kita kan cuma seberangan jalan dari tanah Mbak Rum, jadi kalau mau mengawasi Kang Jaya dan anak-anak kuli bangunan kerja, tinggal menoleh dari teras rumahku saja. Lebih praktis, kan?"

​Arumi mengangguk setuju, merasa usulan itu adalah pilihan terbaik untuk saat ini. "Baiklah kalau begitu, Bu Ida. Saya titip diri dan anak-anak dulu untuk beberapa bulan ke depan ya. Nanti semua biaya operasional dapur dan kebutuhan rumah tangga biar saya yang tanggung semuanya."

​"Ah, gampang itu mah! Yang penting malam ini kita pesta bakso dulu!" sahut Bu Ida gembira.

​Sementara itu, mobil sedan hitam milik Revan melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota menuju arah Gang Rejeki. Di dalam kabin mobil, suasananya begitu mencekam dan dipenuhi oleh aura kemarahan yang tertahan. Revan mencengkeram setir mobilnya begitu erat hingga urat-urat di punggung tangannya menyembul keluar.

​"Awas kamu ya, Arumi... kalau sampai ini semua cuma jebakan untuk mempermalukan saya, saya tidak akan segan-segan menuntutmu atas pencemaran nama baik!" umpat Revan di dalam hati, napasnya memburu kasar.

​Begitu mobil mewah itu memasuki mulut gang yang sempit, Revan langsung menghentikan kendaraannya dengan kasar tepat di dekat tiang listrik yang dimaksud oleh Pak RT di pengadilan tadi. Pintu mobil terbuka serentak. Revan, Mama Revan, dan Rika langsung berhamburan keluar dengan mata yang liar menyapu setiap jengkal tiang beton dan papan pengumuman yang ada di sekitar area tersebut.

​Namun, begitu pandangan mata mereka tertuju pada papan tripleks yang tertempel di dekat tiang listrik, ketiganya langsung mematung dengan dahi yang berkerut sempurna.

​Tidak ada kertas putih besar berlogo dinas tata kota. Tidak ada tulisan tebal mengenai pembangunan rumah tinggal berlantai tiga atas nama Arumi Pragati. Dan yang paling penting... TIDAK ADA GAMBAR MAKET DESAIN ISTANA MEWAH BERGAYA K-DRAMA VISUAL yang tadi diceritakan dengan begitu berapi-api oleh Pak RT dan Bu RT di dalam ruang sidang.

​Yang ada di papan tripleks kusam itu hanyalah sebuah selebaran kertas fotokopian yang sudah agak robek tertiup angin, berisi tulisan tangan pudar:

"DIBUKA LOWONGAN KERJA BAKTI MEMBERSIHKAN SELOKAN GANG HARI MINGGU BESOK. HARAP BAWA CANGKUL MASING-MASING."

​Revan berkedip beberapa kali, menggosok matanya dengan kasar seolah berharap penglihatannya sedang bermasalah akibat paparan AC mobil. Ia melangkah maju, meraba-raba papan tripleks kosong itu dengan tangan yang gemetar karena emosi yang mulai memuncak kembali ke ubun-ubun.

​"M-Mana?! Mana spanduk gambar rumah berlantai tiga itu?!" teriak Revan, suaranya melengking frustrasi di tengah jalan gang yang sepi. "Tidak ada! Spanduknya tidak ada, Ma! Rika!"

​Mama Revan yang sudah bersiap untuk syok melihat maket rumah mewah, seketika langsung berkacak pinggang dengan wajah yang berubah menjadi merah padam karena merasa telah ditipu mentah-mentah. "Kurang ajar! Benar, kan, apa kata Mama tadi?! Si Arumi dan komplotan pengurus RT sialan itu cuma berbohong! Mereka sengaja mengarang cerita soal warisan miliaran dan rumah lantai tiga itu biar kita kelihatan kerdil di depan hakim! Dasar perempuan licik!"

​"Ih! Keterlaluan banget! Berani-beraninya mereka mempermainkan Mas Revan yang kaya ini di depan umum!" jerit Rika sembari menghentakkan kakinya ke tanah merah dengan sangat dongkol. "Lihat itu, Mas! Rumah si Arumi memang sudah rata tanah karena disita utang! Mereka cuma bikin skenario palsu biar kita kena mental!"

​Tepat pada saat keluarga parasit itu sedang berteriak-teriak histeris seperti orang kesurupan di pinggir jalan, dari arah tikungan gang muncul motor buntut milik Pak RT yang berjalan pelan. Di atas motor itu, Pak RT, Bu RT, dan Bu Ida sedang tertawa terpingkal-pingkal sembari memegangi beberapa bungkusan besar berisi bakso yang baru saja mereka borong.

​Melihat kedatangan rombongan tersebut, Revan langsung merangsek maju, menghadang laju motor Pak RT dengan wajah penuh amarah yang meluap-luap.

​"Heh, Pak RT! Jaga ya mulut tua Anda itu!" bentak Revan, menunjuk-nunjuk wajah Pak RT dengan jari telunjuknya yang bergetar kasar. "Tadi di ruang sidang Anda lagaknya seperti orang paling tahu hukum, bicara soal spanduk resmi dinas tata kota, soal gambar maket rumah lantai tiga milik Arumi! Sekarang lihat ini! Mana spanduknya?! Mana gambarnya?! Yang ada cuma selebaran kerja bakti selokan! Anda sudah berbohong dan bersekongkol dengan Arumi untuk menipu keluarga saya, kan?!"

​Pak RT menghentikan laju motor buntutnya, menurunkan standar samping dengan sangat santai, lalu mematikan mesin motornya. Pria paruh baya itu sama sekali tidak tampak panik atau takut dengan gertakan Revan. Sebaliknya, Pak RT justru melepaskan helmnya, lalu meledakkan tawa yang sangat renyah dan puas bersama dengan Bu RT dan Bu Ida di belakangnya.

​"Hahaha! Oalah, Revan, Revan! Ternyata kamu ini selain kikir, otaknya juga agak lambat ya buat mencerna situasi!" seru Pak RT sembari mengusap sisa air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.

​"Maksud Anda apa?!" potong Revan dengan nada tinggi.

​Pak RT melipat tangannya di dada, menatap Revan dengan tatapan mata yang penuh kemenangan dan ejekan yang sangat telak. "Memang tidak ada spanduk pembangunan rumah lantai tiga di tiang listrik ini, Revan! Itu semua murni IDE DAN STRATEGI SAYA yang mendadak muncul tadi sore karena saya sudah terlanjur muak setengah mati mendengar mulut lancang ibumu dan adikmu yang terus-menerus mengolok-olok Arumi sebagai gembel yang rumahnya digusur bank!"

​Deg!

​Revan tersentak, langkah kakinya refleks mundur satu bab. "J-Jadi... itu semua cuma bohong?!"

​"Yang bohong itu cuma soal spanduknya yang terpasang di tiang listrik ini, tolol!" timpal Bu Ida dengan suara melengkingnya yang sengaja diperkeras hingga membuat beberapa tetangga keluar dari rumah untuk menonton kelucuan ini.

"Pak RT sengaja membuat skenario spanduk gaib itu di depan kalian, biar kesombongan kalian yang setinggi langit itu langsung runtuh seketika di ruang sidang! Dan terbukti, kan? Tadi di depan hakim, muka kalian bertiga langsung pucat seperti mayat habis kepentok pintu! Hahaha!"

​Mama Revan yang merasa harga dirinya diinjak-injak langsung berteriak histeris. "Kurang ajar! Berarti Arumi memang tidak punya warisan miliaran! Dia tetap perempuan miskin yang gubuknya hancur karena utang! Kalian semua penipu!"

​"Heh, Bu Mantan Mertua yang hobi bergosip!" potong Bu RT dengan nada suara yang sangat tajam dan tegas, menghentikan histeria Mama Revan dalam sekejap. "Tolong otaknya itu digeser sedikit biar pintar! Yang bohong itu CUMA SOAL SPANDUKNYA! Tapi kalau soal UANG WARISAN MILIARAN RUPIAH dan rencana pembangunan istana berlantai tiga milik Arumi... itu adalah FAKTA YANG UTUH DAN NYATA SEBESAR GUNUNG!"

​Bu RT merogoh tasnya, lalu mengeluarkan sebuah map dokumen resmi yang sengaja ia bawa dari rumah Arumi sebelum berangkat sidang tadi. Ia membuka map tersebut dan memperlihatkan selembar kertas sertifikat kepemilikan tanah beserta bukti cetak mutasi rekening bank atas nama Arumi Pragati yang menampilkan deretan angka nol yang sangat panjang di bagian saldonya.

​"Lihat ini baik-baik dengan matamu yang dilapisi bedak tebal itu!" seru Bu RT, menyodorkan kertas bukti mutasi rekening tersebut tepat di depan wajah Revan dan mamanya. "Ini bukti kas tunai murni milik Arumi! Senin besok, arsitek resmi dan truk-truk material besar akan mulai masuk ke gang ini untuk menggali pondasi rumah baru Arumi! Kami sengaja tidak pasang spanduknya di tiang listrik sekarang, karena Arumi tidak butuh pamer di jalanan seperti kalian yang hobi pamer mobil cicilan!"

​Melihat deretan angka miliaran rupiah yang tercetak resmi di atas kertas mutasi rekening bank atas nama mantan istrinya tersebut, bola mata Revan seketika membelalak sempurna sampai nyaris keluar dari kelopaknya. Seluruh sisa kata-kata makian yang sudah siap meluncur dari mulutnya langsung tercekat di tenggorokan, membusuk seketika menjadi rasa syok yang teramat dahsyat.

​Tubuh Revan mendadak kaku, membeku di tengah jalan gang yang berdebu. Hantaman kenyataan yang berlapis-lapis ini mulai dari jebakan spanduk gaib Pak RT hingga bukti otentik kekayaan miliaran rupiah milik Arumi terasa begitu meremukkan sisa-sisa kewarasannya. Dada kirinya kembali dihantam rasa nyeri yang hebat, membuatnya terpaksa harus bersandar lemas pada kap mobil sedan hitamnya agar tidak jatuh tersungkur ke atas tanah merah.

​Mama Revan di sampingnya langsung terkesiap setengah mati, tangannya yang dipenuhi cincin emas palsu refleks membekap mulutnya sendiri yang terbuka lebar, sementara Rika hanya bisa berdiri gemetar dengan wajah pucat pasi tanpa bisa mengeluarkan satu patah kata pun lagi. Mereka baru sadar, bahwa selama ini mereka bukan sedang berhadapan dengan wanita dasteran yang lemah, melainkan sedang dipermainkan secara elegan oleh seluruh warga kampung yang kini kompak menjadi pelindung setia seorang Arumi yang telah bertransformasi menjadi miliarder baru yang tak terbantahkan.

1
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
Uthie
dasar manusia2 Toxic 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!