NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangkan dari Masa Lalu

Suara berat itu menggema berulang kali di sepanjang lorong tambang, seolah dinding batu tua itu ikut berbicara. Cahaya merah yang menyala samar dari ujung kegelapan semakin terang, memancarkan bayangan panjang yang bergerak‑gerak tidak beraturan di lantai dan dinding. Seluruh ruangan mendadak hening, hanya terdengar napas Andi yang semakin lemah dan teratur, serta detak jantung Putra dan Citra yang berpacu kencang menahan rasa was‑was yang meluap.

Arga, yang tadinya terlihat sombong dan penuh percaya diri, kini menunduk hormat seketika. Senyum kemenangannya memudar, digantikan oleh rasa takut yang jelas tergambar di wajahnya. Ia bahkan tidak berani menoleh ke arah suara itu, seolah sosok yang datang adalah makhluk yang jauh lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri.

“Tuanku...” gumam Arga pelan, suaranya bergetar. “Saya sudah membawa mereka seperti perintah.”

Kolonel Bayu berdiri tegak, tangannya meremas gagang pistol di pinggangnya dengan erat. Tatapannya tajam menembus kegelapan, berusaha mengenali sosok yang mendekat. Ada rasa tidak percaya bercampur amarah yang mulai membara di matanya suara itu samar‑samar ia kenal, namun mustahil bagi orang yang seharusnya sudah mati puluhan tahun lalu untuk bisa berdiri kembali di sini.

Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat. Satu per satu, sosok mulai terlihat jelas di bawah cahaya lampu minyak yang dibawa oleh dua orang pengawal berpakaian serba hitam. Di tengahnya berjalan seorang pria tua dengan postur tegap, mengenakan jas panjang berwarna abu‑abu tua yang tampak mahal namun sudah usang. Wajahnya berkerut, namun matanya masih bersinar tajam penuh wibawa dan kekuasaan. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kotak kayu kecil berukir indah, sedangkan tangan kirinya digenggam rapat di belakang punggung.

Saat sosok itu berhenti beberapa langkah di depan mereka, napas Putra tercekat. Matanya membelalak lebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Citra pun tertegun, merasakan detak jantungnya berhenti sejenak. Wajah pria itu... sangat mirip dengan foto lama yang mereka lihat di meja tadi, namun ada perbedaan garis ketegasan dan kejam yang terukir jelas di sana.

“Kau... tidak mungkin...” suara Kolonel Bayu terdengar parau. Ia melangkah maju sedikit, matanya tidak lepas dari wajah pria itu. “Kau masih hidup? Kami semua mengira kau gugur dalam ledakan tambang dua puluh lima tahun lalu!”

Pria tua itu tersenyum tipis, senyum yang tidak menyentuh matanya yang dingin dan tajam. Ia menatap Kolonel Bayu dari atas ke bawah, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Putra, kemudian berhenti lama pada tubuh kecil Andi yang terbaring lemah dalam pelukan Citra.

“Bayu, sahabat lamaku,” ucapnya dengan suara berat yang sama seperti tadi. “Kau selalu terlalu mudah percaya pada kematian orang lain. Bukankah kau juga selamat saat itu, meski harus menanggung luka di dahimu? Aku pun selamat, meski harus hidup dalam bayang‑bayang selama bertahun‑tahun untuk menyusun rencana ini.”

“Siapa dia, Kolonel?” tanya Putra cepat, suaranya tegas meski hatinya bergemuruh. “Siapa pria ini?”

Kolonel Bayu mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. “Namanya Jenderal Adiwinata. Dia adalah rekan satu tim ayahmu dulu, orang yang kami percaya sepenuhnya... sampai kami menemukan bukti bahwa dia adalah dalang di balik pencurian emas dan kekayaan tambang ini, dan juga orang yang merencanakan pembunuhan ayahmu!”

Jenderal Adiwinata tertawa pelan, suara itu terdengar dingin dan menusuk. “Sebut saja apa yang kau suka, Bayu. Sejarah selalu ditulis oleh pemenang. Yang jelas, tempat ini, kekayaan ini, dan kekuasaan yang ada di sini adalah hakku sejak lama. Sayangnya, Agus ayahmu, Putra terlalu keras kepala dan memilih untuk menjadi pahlawan bodoh. Ia menolak bekerja sama, sehingga ia harus disingkirkan.”

“Dan kau? Mengapa kau tidak membunuhku juga saat itu?” tantang Putra, matanya menyala penuh amarah.

“Karena darahmu, anak muda,” jawab Adiwinata tenang. Ia menunjuk Andi dengan pandangan penuh keserakahan. “Darah keturunan leluhur kami memiliki sifat khusus bukan hanya simbol hak milik, tapi juga kunci untuk membuka ruang penyimpanan rahasia yang tersembunyi jauh di dalam tambang ini. Ruang yang menyimpan harta terbesar dan dokumen‑dokumen yang bisa mengubah kekuasaan di negeri ini. Saat kau masih kecil, darahmu belum cukup matang. Aku butuh waktu. Dan untuk memastikan keturunanmu tetap terjaga dan kuat, aku menyusun rencana perjodohan itu.”

Citra terkejut, tangannya mengerat memeluk Andi lebih erat. “Jadi... perjodohan terpaksa itu bukan hanya ide Kolonel Bayu? Kau juga terlibat di dalamnya?”

Adiwinata menoleh ke arah Citra, menatapnya dengan pandangan menilai. “Tepat sekali. Aku tahu sifatmu, dokter. Kau memiliki ketahanan tubuh dan mental yang kuat, latar belakang keluarga yang baik, dan profesi yang memungkinkanmu menjaga kesehatan keturunan itu. Aku ingin memastikan anak yang lahir dari pernikahan kalian benar‑benar kuat dan murni. Sayangnya, Bayu di sini ternyata memainkan peran ganda ia tidak hanya mematuhi rencanaku, tapi diam‑diam berusaha melindungi kalian juga.”

Kolonel Bayu mendengus kesal. “Aku tidak akan pernah membiarkan kau menggunakan keturunan sahabatku sebagai alat, Adiwinata. Aku berpura‑pura bekerja sama hanya agar aku bisa mengawasimu dan menemukan kesempatan untuk menjatuhkanmu!”

“Sudah terlambat untuk itu,” potong Adiwinata dingin. Ia mengangkat kotak kayu di tangannya sedikit lebih tinggi. “Di dalam kotak ini ada penawar satu‑satunya untuk racun yang ada di tubuh bocah ini. Tapi aku tidak akan memberikannya secara cuma‑cuma. Ada syarat yang harus kalian penuhi.”

“Apa syaratnya? Katakan saja!” seru Putra tidak sabar. Nyawa putranya di ujung tanduk, ia rela melakukan apa saja asalkan Andi selamat.

Adiwinata tersenyum licik. “Sederhana. Kalian harus ikut aku masuk ke ruang rahasia paling dalam. Di sana, darah Andi akan digunakan untuk membuka pintu. Setelah itu, kalian bebas pergi... asalkan kalian bersumpah tidak akan pernah mengungkapkan rahasia tempat ini dan menyerahkan semua hak warisan kalian kepadaku.”

“Dan jika kami menolak?” tanya Citra tegas. Sebagai dokter, ia tahu waktu Andi tidak banyak, tapi ia juga tidak mau terjebak dalam perjanjian yang merugikan masa depan keluarganya.

“Maka bocah ini akan mati perlahan, dan kalian berdua akan ditangkap sebagai saksi yang harus dibungkam selamanya,” jawab Adiwinata tanpa ragu. Ia menatap Putra dengan pandangan menantang. “Pilihannya ada di tanganmu, prajurit. Selamatkan nyawa anakmu, atau pertahankan harga diri yang tak berguna dan biarkan dia mati.”

Putra menoleh ke arah Citra. Pandangan mereka bertemu, dan dalam tatapan itu, mereka saling mengerti. Mereka tahu ini adalah jebakan, mereka tahu Adiwinata tidak akan membiarkan mereka pergi dengan mudah setelah rahasia terungkap. Namun, melihat wajah pucat Andi yang mulai kehilangan kesadaran, mereka tidak punya banyak pilihan.

“Baiklah,” ucap Putra akhirnya dengan suara berat namun tegas. “Kami ikut. Tapi kau harus berjanji akan memberikan penawar itu segera setelah kita tiba di tempat yang kau maksud.”

Adiwinata mengangguk puas. “Tentu saja. Aku menepati janji... selama kalian juga mematuhi aturanku.”

Namun, tepat saat Adiwinata hendak memberi isyarat untuk bergerak lebih dalam, tiba‑tiba Andi yang tadinya terbaring lemas tiba‑tiba bergerak pelan. Matanya yang setengah terpejam perlahan terbuka, dan dari mulutnya yang pucat, terdengar suara lirih yang mengejutkan semua orang:

“Tidak... Ayah... Ibu... jangan...”

Semua orang tertegun. Adiwinata terkejut, tidak menyangka bocah yang sudah keracunan itu masih bisa sadar. Namun, yang lebih mengejutkan adalah saat Andi perlahan mengangkat tangannya yang lemah, menunjuk tepat ke arah dada Adiwinata, dan suara itu terdengar sedikit lebih jelas:

“Dia... berbohong... di dalam kotak itu... bukan penawar tapi.....”

Putra dan Citra saling berpandangan, hati mereka berdebar kencang. Rasa lega sedikit muncul, namun ketegangan yang lebih besar justru menyelimuti mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!