NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Pulang

Saat Aku Berhenti Pulang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:330.2k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.

Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.

Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.

Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25 - Nada Pertama

Nada pertama terdengar seperti seseorang membuka pintu yang sudah lama dikunci.

Tidak keras.

Tidak dibuat-buat.

Hanya satu tarikan bow yang bersih, panjang, dan tenang.

Namun ballroom langsung berubah.

Orang-orang yang tadi masih berbisik berhenti bicara. Gelas-gelas berhenti di udara. Kamera dokumentasi yang semula mengarah ke meja VIP perlahan berputar ke panggung.

Alina berdiri di bawah cahaya, gaun biru malamnya hampir menyatu dengan latar gelap. Di bahunya, biola pinjaman itu terlihat seperti benda yang memang sejak awal menunggunya.

Ia memainkan lagu lama yang dulu sering diputar ibunya pada Minggu pagi.

Lagu sederhana.

Tapi di tangan Alina, lagu itu berubah menjadi sesuatu yang membuat dada terasa sempit.

Nada-nadanya tidak berteriak. Justru karena tidak berteriak, orang mendengar lukanya lebih jelas. Ada kesepian di bagian awal, seperti ruang makan dengan kue yang tidak disentuh. Ada kemarahan kecil di bagian tengah, tajam tapi terkendali. Lalu ada bagian yang naik perlahan, bukan bahagia, melainkan seseorang yang akhirnya berdiri setelah terlalu lama duduk di lantai dingin.

Adrian tidak bergerak.

Ia pernah mendengar Alina bersenandung di dapur. Pernah melihatnya merapikan buku musik Arka. Pernah melihat sebuah kotak biola lama di gudang, lalu tidak pernah bertanya.

Ia tidak tahu.

Kalimat itu muncul lagi.

Ia tidak tahu Alina bisa bermain seperti ini.

Ia tidak tahu istrinya pernah punya panggung.

Ia tidak tahu perempuan yang lima tahun hidup di rumahnya membawa dunia sebesar ini di dalam dirinya.

Tapi alasan "tidak tahu" terasa semakin memalukan.

Karena Alina bukan menyembunyikan semuanya di ruang yang jauh.

Ia ada di depan matanya.

Adrian hanya tidak pernah melihat.

Di sisi lain, Vania berdiri kaku.

Tangannya dingin.

Ia tahu Alina bisa terlihat cantik. Ia tahu Alina bisa berbicara tajam. Ia tahu Alina sekarang punya pengacara dan bukti. Tapi ia tidak tahu Alina bisa membuat seluruh ballroom diam tanpa menangis, tanpa pingsan, tanpa menyebut dirinya korban.

Itu berbahaya.

Karena simpati bisa berubah.

Orang-orang yang kasihan pada Vania karena penyakitnya kini menatap Alina seperti melihat sesuatu yang baru ditemukan.

Bimo berdiri di pinggir panggung, wajahnya berubah dari puas menjadi tegang.

Ia berharap Alina menolak.

Atau naik dan mempermalukan diri.

Atau setidaknya bermain buruk sehingga ia bisa tertawa.

Sekarang ia justru menjadi orang yang memberi Alina panggung.

Di meja tamu, Nadia menyandarkan punggung ke kursi. Ia tidak bertepuk tangan dulu. Ia hanya tersenyum kecil seperti orang yang menyaksikan lawan membuat kesalahan hukum dan sosial sekaligus.

"Bimo bodoh," bisiknya pada gelas air.

Tidak ada yang membantah.

*****

Alina tidak memikirkan mereka.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak memikirkan Adrian, Vania, Ratna, Bimo, atau mata ratusan tamu.

Ia memikirkan ibunya.

Perempuan yang dulu duduk di dekat jendela rumah kontrakan kecil, memperbaiki rambut Alina sebelum kelas musik, lalu berkata, "Kalau suatu hari kamu tidak bisa bicara, mainkan saja. Musik kadang lebih jujur."

Alina berhenti bermain setelah menikah.

Awalnya karena hamil.

Lalu karena Arka lahir.

Lalu karena jadwal rumah.

Lalu karena Adrian tidak pernah bertanya.

Lalu karena ia sendiri lupa bahwa sesuatu yang tidak ditanya bukan berarti tidak penting.

Malam ini, jari-jarinya sedikit kaku pada menit pertama. Ia belum kembali sepenuhnya. Ada nada yang hampir tergelincir. Ada bagian cepat yang membuat pergelangan tangannya nyeri.

Tapi tubuh mengingat.

Luka juga mengingat.

Dan keduanya bekerja bersama.

Ia menutup lagu dengan nada yang turun pelan, seperti seseorang meletakkan sesuatu di tanah dan memutuskan tidak membawanya lagi.

Sunyi.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu tepuk tangan meledak.

Bukan tepuk tangan sopan seperti untuk Vania.

Ini tepuk tangan yang datang karena orang benar-benar tersentuh, terkejut, dan sedikit malu karena sebelumnya mereka meremehkan.

Beberapa tamu berdiri.

Salah satu pemilik galeri musik yang dikenal Adrian bahkan bertepuk tangan paling keras.

"Siapa dia?" seseorang bertanya.

"Itu istrinya Adrian."

"Mantan istrinya, katanya."

"Dia pernah konser?"

"Aku tidak tahu."

"Permainannya bukan amatir."

Bisik-bisik itu sampai ke telinga Adrian.

Setiap kata terasa seperti teguran.

Alina menurunkan biola dan menyerahkannya kembali pada pemain orkes.

"Terima kasih," katanya.

Pemain itu menerima dengan wajah kagum. "Ibu belajar di mana?"

Alina hanya tersenyum. "Sudah lama."

Ia hendak turun panggung ketika Bimo, yang panik karena kehilangan kendali, mengambil mikrofon lagi.

"Wah, ternyata Mbak Alina punya kejutan. Tapi..."

Adrian menatapnya tajam. "Bimo, cukup."

Bimo pura-pura tidak mendengar. "Tapi karena ini acara amal, mungkin Mbak Alina bisa menyumbang juga? Bukan hanya lagu. Kan sekarang sedang menuntut harta bersama dua puluh lima miliar, pasti ada sedikit untuk pasien langka?"

Ballroom mendadak sunyi lagi.

Serangan itu kasar.

Terlalu kasar.

Namun Bimo sudah telanjur.

Vania menutup mulut, berpura-pura terkejut. Ratna terlihat puas sesaat, lalu sadar beberapa tamu mulai saling pandang tidak nyaman.

Alina berhenti di tangga panggung.

Ia berbalik.

Tidak marah.

Tidak tersinggung.

Tenang.

"Pak Bimo," katanya, "saya sudah menyumbang untuk acara ini."

Bimo tertawa sinis. "Oh ya?"

"Rundown acara, konsep tema, daftar vendor, susunan donor, bahkan catatan tempat duduk tamu lansia yang Anda pakai malam ini, saya yang susun tiga bulan lalu. Tanpa biaya konsultasi."

Wajah Bimo membeku.

Beberapa panitia saling pandang.

Alina melanjutkan, "Tapi kalau yang Anda maksud uang, tentu. Saya akan menyumbang."

Ia menatap layar donasi di sisi panggung.

"Atas nama pribadi. Bukan Mrs. Adrian Wicaksono."

Ia mengambil ponsel, memindai kode QR donasi, lalu mengetik angka. Kamera yang masih aktif menangkap layar besar ketika sistem menerima pembayaran.

Rp100.000.000 - Alina Prameswari.

Ballroom gempar.

Bimo terdiam.

Alina menatapnya. "Cukup sedikit?"

Tidak ada yang tertawa keras.

Tapi rasa malu Bimo menyebar lebih cepat dari tawa.

Nadia akhirnya bertepuk tangan.

Satu orang mengikuti.

Lalu seluruh ruangan.

Adrian melihat nama Alina di layar donasi.

Alina Prameswari.

Bukan nama belakangnya.

Bukan gelar istrinya.

Namanya sendiri.

Dan entah kenapa, tulisan itu terasa lebih jauh daripada semua koper yang pernah ia bawa pergi.

*****

Setelah turun dari panggung, Alina tidak kembali ke meja.

Ia berjalan menuju lorong luar ballroom untuk mengambil udara. Tangannya baru terasa gemetar setelah pintu tertutup di belakangnya.

Ia bersandar di dinding, menutup mata.

Tepuk tangan masih terdengar samar dari dalam.

Ia tidak menyesal.

Tapi tubuhnya seperti baru berlari jauh.

"Kamu baik-baik saja?"

Suara Adrian.

Alina membuka mata.

Pria itu berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya tidak sedingin biasanya. Ada sesuatu yang hampir tampak seperti penyesalan.

"Kamu seharusnya di dalam," kata Alina.

"Aku ingin memastikan..."

"Aku baik."

Adrian menatap tangannya yang masih sedikit gemetar.

"Kamu tidak terlihat baik."

Alina tersenyum tipis. "Lucu. Lima tahun aku tidak baik, kamu tidak pernah melihat."

Kalimat itu menghentikannya.

Adrian tidak punya jawaban.

Pintu ballroom terbuka sebelum ia sempat bicara. Vania muncul, wajah pucat, mata merah.

"Adrian," katanya pelan, "aku pusing."

Alina menatap Adrian.

Pilihannya datang lagi.

Seperti biasa.

Namun kali ini, Alina tidak menunggu hasilnya.

Ia berdiri tegak, merapikan gaunnya, lalu berjalan melewati keduanya.

"Silakan urus pasienmu," katanya.

Vania menunduk lebih dalam, seolah kalimat itu melukainya. Namun kali ini Alina tidak berhenti untuk menilai apakah luka itu asli atau panggung tambahan. Ia sudah terlalu lama menjadi penonton air mata Vania.

Adrian bergerak setengah langkah, seperti ingin mengikuti Alina.

Vania memegang lengan jasnya.

Pegangan itu ringan, tapi maknanya berat.

Adrian melihat tangan itu. Dulu ia akan langsung berbalik, bertanya apakah Vania perlu duduk, apakah ia harus memanggil dokter. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia merasa lelah pada gerakan yang sama.

"Duduklah dulu," katanya pada Vania, tapi suaranya tidak selembut biasanya.

Adrian menoleh, tapi Alina sudah kembali ke ballroom.

Di pintu ballroom, beberapa tamu menyingkir tanpa diminta. Tidak ada tepuk tangan kali ini, tidak ada bisikan keras. Hanya ruang yang terbuka untuknya.

Nadia berdiri di dekat pintu samping, mata tajamnya langsung membaca situasi.

"Sudah?"

"Sudah."

"Dia memilih?"

Alina tersenyum tipis. "Aku yang memilih pergi dulu."

Nadia tidak bertanya lagi.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tinggal untuk melihat siapa yang Adrian pilih.

1
Lilik 383
saya suka karakternya mbak Lia
nira ritawatty
Alhamdulillah
Baca Maraton tapi takut kehilangan makna
nira ritawatty
Lho kok tiba tiba hamil?
Thewie
aku baca sampe bab ini jam 01.10 malam Thor. hilang ngantukku
Thewie
terlambat sudah bodoh
Thewie
awalnya si ulat bulu pura2 sakit, tapi akhirnya jadi sakit beneran.. cucoklah itu Thor buat si ulat bulu🤣🤣🤣
Thewie
kotor juga otak kau ya Vanir keparat
Thewie
tahan kan setan
Thewie
nyesek thor
Anonim
AWOKAWOK COVER MUKA KOREA GBLK
Fitrian
namanya raka adiguna🤔
psikopat sinting tolololllll down normal otak nya massa kurang satu kwintal 🔪🔪🔪🔪🖕🖕
sweetpurple
Awalnya bingung dan butuh waktu untuk mencerna cerita, tapi endingnya di luar ekspektasi ..
Fitrian
cuuuuhhhhhhh🐽🐽🐽🐽🐽🐽🐽🖕🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh cuiiiiiihhhhh teratai putih bysssuuukkkk💦💦💦💦💦💦🖕🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh🤮🤮🤮🤮🤮🤮🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh pelakor Jahannam tidak jadi istri dah tapi merupakan ular keket hitam beracun Jahannam judahhh💦💦💦💦💦🔪🔪🖕🖕
ayu cantik
ribet
Fitrian
ni pasti gi golo nya vania jalang beracun cuuuuhhhhhhh💦💦💦💦💦🖕🔪
Fitrian
cuuuuhhhhhhh pelakor Jahannam🖕🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh cuiiiiiihhhhh cuuuuhhhhhhh cuiiiiiihhhhh ciiiiiiiiiiihhhhh💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦
pelakor Jahannam semoga tersemogakan cepat mampossss🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🔪🔪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!