Naina..gadis penuh luka ditubuh dan hatinya...... Dipukul, dilukai, dikecewakan, dianggap murahan, dikasihani, sudah jadi makanan sehari-hari. Tapi ia selalu bangkit. Bukan untuk menjadi Cinderella, tapi hanya untuk menjalani yang telah Tuhan gariskan.
Arkana...lelaki yang pernah terluka begitu dalam. Menganggap dirinya cacat dan hanya pentas dengan kesendirian.
Saat keduanya dipertemukan dalam ikatan pernikahan..... saat itulah mereka tidak bisa melawan yang Tuhan takdirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Yatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Saat kau tak ada
Keesokan harinya Naina dan Lily meninggalkan rumah sakit dibantu oleh Bella dan Joseph. Arkana sudah tidak ada saat Naina bangun.
Sebenarnya Naina ingin sekali pulang bersama, tapi ia tahu tidak boleh berharap banyak pada hubungan ini.
Kesedihannya bertambah saat Joseph mengantarkan mereka ke sebuah apartemen.
"Joseph...mengapa kita kesini?"tanya Naina.
"Tuan Arkana yang memerintahkan untuk mengantarkan nyonya kesini," jawab Joseph.
"Kita akan tinggal berempat di sini. Nyonya, nona Lily, aku dan Joseph," ucap Bella riang.
"Terus kak Arka tinggal di mana?" tanya Lily.
"Tuan Arkana tidak bisa tinggal di satu tempat, kantor yang sekarang cuma kantor cabang. Kantor pusat nya ada di Inggris." Bella merasa tidak enak saat menjelaskan ketidakhadiran bosnya. Apalagi saat Naina terlihat terkejut dan kecewa disaat bersamaan.
"Tapi kak..inikan apartemen...apa kak Arka tidak tahu kalau..."
"Tidak apa-apa,"Naina memegang tangan Lily untuk menghentikan ucapannya. Ia tidak mau menambah masalah lagi.
"Kita tinggal di lantai berapa?"tanya Naina.
"Lantai sembilan nyonya," jawaban Bella membuat Lily melotot. Tapi ia tidak berani protes karena Naina melarangnya lewat tatapan matanya.
Joseph menurunkan barang-barang sementara Bella dan Lily membantu Naina naik ke atas kursi roda. Mereka naik lift kelantai sembilan. Selama didalam lift Naina menggenggam erat tangan Lily dengan mata terpejam.
Apartemen itu terlihat mewah dan elegan. Ternyata Naina dan Lily tinggal di satu unit sementara Bella dan Joseph tinggal di unit sebelahnya.
Apartemen dua kamar itu mempunyai ruang tamu dan dapur yang cukup luas dengan kamar mandi di setiap kamar.
Mereka disambut Bi Sumi yang sudah menyiapkan masakan enak.
"Bibi tinggal di sini juga?" tanya Lily.
"Tidak non, cuma untuk keperluan memasak dan bersih-bersih," jawab Bi Sumi.
Lily mendorong Naina kekamar utama diikuti Bella.
"Wow.... cantiknya...."Lily terpesona dengan interior kamar yang bergaya klasik lengkap dengan sebuah ranjang tiang empat berkelambu putih, sebuah sofa menghadap balkon dan lemari kayu besar enam pintu. Bella sengaja membuka pintu lemari untuk menunjukkan pakaian-pakaian indah nan mahal yang sudah ia siapkan.
"Apakah Anda suka Nyonya?" tanya Bella memamerkan hasil kerjanya. Naina mengangguk dan mencoba tersenyum. Bella bahkan menyiapkan satu rak kaca setinggi tiga meter berisi tas-tas mahal berbagai ukuran.
"Tuan Arkana yang menyuruhmu melakukan ini semua?" meski sudah tau jawabannya tapi Naina tetap saja bertanya.
"Tentu saja nyonya, nona Lily juga mendapat perlakuan yang sama."
"Benarkah?"
Lily tampak berbinar.
"Kak, aku mau lihat kamar ku dulu ya," ijinnya. Ia langsung kabur begitu mendapat ijin kakaknya.
"Ini dari tuan Arkana,"Bella memberikan dua kartu kredit berwarna hitam dan platinum ketangannya.
"Bella, aku ingin istirahat. Bisakah kau tinggalkan aku sebentar?" pinta Naina sambil menatap kartu-kartu ditangannya.
"Baik nyonya," Bella meninggalkannya dengan kening berkerut. Perempuan mana yang tak senang dengan perlakuan seperti ini, tapi nyonya nya itu malah terlihat seperti orang yang tertekan.
Naina menggerakkan kursi rodanya ke arah balkon.
Tatapannya menerawang jauh.
Angin mempermainkan helai rambutnya.
Apartemen mahal.
Barang-barang mewah.
Pakaian indah.
Tas bermerk.
Kartu kredit tanpa batas.
Air mata mengalir ke pipinya yang pucat.
Mengapa kau memberikan ini semua...
Kau pikir aku wanita macam apa...
Kau anggap aku sebagai apa...
Serendah itu kah penilaian mu padaku...
Mengapa disaat terluka dan kecewa pun aku masih menginginkan mu ada disini..
Aku tidak menginginkan sangkar emas yang kau ciptakan ini...
Aku tidak menginginkan kemewahan ini...
Aku hanya ingin ada disamping mu...
Suamiku...
Namun sebanyak apapun ia meminta..
Sekeras apapun hatinya menjerit...
Arkana tetap tidak mendengarnya.
Lelaki itu semakin jauh meninggalkannya..
Hanya desir angin yang perlahan menghapus air mata dipipinya....
Kasih..
Betapa sakitnya patah hati....
maaf ya thor itu cuma pendapat q 🙏