Ketika dosa, ego & cinta saling ingin unjuk diri di waktu yg sama, maka takdirlah yg akan menjadi hakimnya!!
Elleanor berkisah seorang gadis muda yang sudah mulai memasuki usia matang untuk sebuah pernikahan. Ayahnya mulai mencarikan jodoh untuk dirinya.
Namun, begitulah darah muda. Tak mau di atur, tak mau di kekang. Elleanor menolak & memilih seorang pria yg dia kenal di lapangan golf.
Tetapi, pilihannya salah, dia malah terjebak menjadi orang ketiga saat dia mengetahui jodoh pilihan ayahnya sudah kembali dari luar negeri.
Entah siapa yg akan Elleanor pilih kali ini. Terus terjebak dalam hubungan toxic yg menjanjikan kenikmatan tetapi di todong rasa bersalah atau memulai hubungan baru dengan si pria misterius yg nampak tak kenal kata ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehamilan Ellea
Dengan menahan pusing di kepalanya, Ellea berjalan perlahan ke kamar mandi. Mencoba tes kehamilan itu. Sedangkan Maria, Bibi Lung, Dokter Joseph dan Alan menunggu dengan harap-harap cemas. Berdoa agar hasilnya positif.
Di dalam kamar mandi, Ellea duduk sejenak di closet yang dia tutup. Entah harus berharap apa, positif atau negatif. Dia rasa sangat ingin memiliki bayi, tetapi entah kenapa dia juga merasa belum siap sekarang.
Tetapi Ellea pikir, kemungkinan besar hasilnya adalah positif. Karena selama berhubungan dengan Damian, mereka tak pernah memakai alat kontrasepsi apapun.
Akhirnya, Ellea mencoba alat itu, dia memejamkan kedua matanya sambil menunggu hasil. Dan.. Ya benar saja, hasilnya positif. Garis dua.
Seketika Ellea menangis terharu, tak menyangka jika dirinya akan di beri kepercayaan ini begitu cepat, meski merasa tidak siap sekarang, tetapi dia yakin, Damian pasti akan senang mendengar kabar baik ini.
"Nyonya, anda baik-baik saja?" Tanya Maria sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Ellea keluar dari sana sambil memegang testpack nya. Semua orang tegang menunggu hasilnya.
"Bagaimana?" Tanya Dokter Joseph.
Ellea memberikan testpack itu pada Dokter Joseph.
"Positif!" Dokter Joseph girang.
Semua orang senang mendengar kabar itu, semua bersyukur akhirnya tuan mereka yang terkenal dingin dan kejam itu akan memiliki seorang anak. Tetapi tidak dengan Alan, pria itu nampak kesal dan meninggalkan kamar Ellea begitu saja.
"Wahhh.. Selamat nyonya, Tuan Damian pasti akan senang sekali mendengarnya!" Ucap Bibi Lung yang membantu Ellea kembali duduk di tepi ranjang.
"Jadi, kesehatan ku sekarang berkaitan dengan kondisi kehamilan ku, dok?" Tanya Ellea.
"Ya, betul. Trimester pertama memang yang paling berat, tubuh mu masih perlu adaptasi dengan adanya benda baru di dalam rahim! Mual dan pusing itu biasa! Yang penting kau harus tetap menjaga kebutuhan gizinya!" Jelas Dokter Joseph.
"Aku akan meresepkan obat untuk mengurangi rasa mual dan pusing, agar kau tidak terlalu lemas juga! Dan jangan lupa minta Damian menemanimu untuk melakukan USG!" Tambah dokter itu.
Ellea mengangguk. "Hmm.. Tapi.. Tolong jangan beri tau Damian dulu, ya! Biar aku saja yang memberitahunya!" Pinta Ellea pada Bibi Lung dan Maria.
"Siap, nyonya!" Jawab Maria dengan tersenyum.
Ellea senang sekali kehadiran buah hatinya di sambut hangat oleh semua orang. Terkecuali Alan. Dia tak perduli soal itu. Yang penting bagi Ellea sekarang adalah bagaimana caranya menjaga agar janinnya sehat dan selamat sampai hari kelahirannya.
Setelah semua orang keluar dari kamar Ellea. Ellea memasukkan testpack itu ke dalam sebuah kotak berwarna maroon genap dengan pita hitamnya. Dia meletakkan itu di samping lampu tidur.
Karena merasa bosan terus berada di dalam kamar akhir-akhir ini, Ellea memutuskan untuk pergi ke halaman belakang. Menikmati senja dengan segelas teh hangat. Kondisi perutnya terasa lebih baik setelah meminum obat dari Dokter Joseph.
Terlihat Bibi Lung dan Maria datang dengan wajah yang sumringah. Mereka menyembunyikan sesuatu di belakang punggung. Ellea jadi penasaran, apa itu?
"Selamat sore, nyonya." Sapa Bibi Lung.
"Sore, bi.. Kenapa kalian berdua senyum-senyum seperti itu?" Tanya Ellea memperhatikan keduanya.
"Kami punya hadiah untuk Baby Cool!" Ucap Bibi Lung.
Ellea keheranan, "Siapa Baby Cool?"
"Itu, calon bayi Nyonya Ellea!" Jawab Bibi Lung.
"Kenapa Baby Cool?" Tanya Ellea.
"Bibi Lung bilang, karena ayahnya itu kan orang yang dingin dan kita belum tau jenis kelaminnya, jadi Bibi Lung memutuskan memanggilnya Baby Cool, nyonya." Jelas Maria.
Ellea tertawa mendengar itu. Bagaimana bisa hal itu terpikirkan oleh Bibi Lung. Bibi Lung ini memang orang yang menyenangkan sekali, rasanya tidak bosan jika terus bersamanya.
"Tarraaaa... Ini kado dari kita berdua, nyonya! Untuk Baby Cool!" Ucap Bibi Lung menunjukkan sebuah box berwarna coklat tua.
Ellea tersenyum menerima itu. "Apa ini?"
"Buka saja, nyonya. Itu saya yang pilihkan, bahannya dari sutra, jadi aman untuk bayi!" Ucap Maria.
"Heiii.. Tapi kan itu ide saya! Kamu hanya bertugas membeli saja!" Bibi Lung tak mau kalah.
"Sama saja kan, bi! Saya juga punya ide seperti itu!" Maria juga tak mau kalah.
Ellea terkekeh mendengar pertengkaran kecil itu. "Sudah! Sudah! Kalian ini.. Ngomong-ngomong ini terimakasih ya, bagus sekali, pasti lucu jika di pakaikan!"
"Iya, nyonya. Sama sama." Jawab Bibi Lung dan Maria.
"Ya sudah, saya kembali ke dalam dulu ya, nyonya. Saya akan siapkan makan malam spesial untuk menyambut Tuan Damian!" Ucap Bibi Lung sambil membuat bulatan besar dengan tangannya.
Sontak Ellea tertawa lagi melihat itu. Sedangkan Maria segera mengusirnya agar tidak mengganggu ketenangan Ellea.
"Tidak papa, Maria!" Ucap Ellea.
"Biar saja, nyonya! Biar dia pergi, dia berisik sekali!" Maria menutup telinganya.
Drrtttt!! Ponsel Ellea berdering. Panggilan telpon dari seseorang yang tidak di kenal. Ellea penasaran siapa itu. Dia menjawab panggilannya.
"Ellea! Nampaknya kau senang sekali ya dengan kehamilan mu! Sedangkan aku disini hancur sendirian karena kehilangan Diana!" Ucap pria itu di telpon yang tak lain adalah Alan.
Sontak kehangatan yang di rasakan Ellea hilang seketika.
"Aku hancur, Ellea! Aku sakit sendirian menahan cemburu setiap kali melihat mu bersama Damian! Sekarang apa? Kau hamil? Gugurkan anak itu atau aku yang akan melakukannya sendiri!" Ancam Alan.
"Cobalah kalau bisa!" Ucap Ellea dengan tenang seakan dia tau, Alan bukanlah tandingannya sekarang. Saat Damian tau soal kehamilannya, suaminya itu tak mungkin akan membiarkan seorang pun menyentuh dirinya.
"Ternyata kau hanya benalu selama ini! Menumpang hidup dengan mengatasnamakan cinta! Cihhh!! Murah sekali dirimu!" Ellea langsung menutup panggilan telpon itu.
Maria memandangnya penasaran. Siapa yang menelpon Ellea hingga membuat Ellea berbicara seperti itu.
Drrrttttt!!! Drrrttttt!!!
Ponselnya berdering lagi. Alan menelpon lagi. Tetapi kali ini Ellea tak menjawabnya. Membiarkan saja ponsel itu berdering disana, Ellea tak perduli dengan pria itu.
"Maria!" Panggil Ellea.
"Ya, nyonya."
"Pastikan tidak ada orang yang masuk ke kamar ku setelah ini! Aku akan berada disana sampai Damian kembali!" Ucap Ellea.
"Baik, nyonya."
Bersambung...
.
good luck authorrr